
"Kamu, Mondi Alvano kan?.."
"Ya."
"Kamu, sayang gak sih sama diri kamu sendiri?"
"Sayanglah.."
"Sama, Aku juga sayang sama kamu."
•••
Tringggg.....
Bunyi lonceng berbunyi, seorang pembeli masuk ke dalam cafe, membuat beberapa pasang mata refleks menatap ke arahnya.
Kedua mata raya tak lepas menatap ke arah seorang pria berseragam dengan earphone terpasang di telinganya.
"Mbak, mau pesan menu seperti biasa?" Seru pria tersebut tanpa menatap ke arah kasir di depannya.
"Mbak, Kok lama bener si?.." ucap pria tersebut yang sudah cukup lama berdiri di depan kasir.
Setelah cukup lama tidak ada Jawaban dari sang kasir, pria tersebut pun segera melepaskan sebelah earphone dari telinganya.
Wajah pria tersebut mendadak kaku, saat kini sang kasir wanita tersebut justru malah menyodorkan sebuah ponsel ke arahnya.
Pria tersebut lantas bingung, apa maksud dari tindakan sang kasir wanita tersebut.
"KAMU, MONDI KAN..?."
Sebelah alis Mondi terangkat.. menatap bingung sang wanita kasir tersebut.
"Kok, Gak di ambil sih?.." tanya wanita kasir tersebut sedikit tak sabaran .
Setelah cukup lama tak ada respon sama sekali dari pria yang berada tak jauh darinya.
"Maaf , mbak saya pesan makanan bukan pesan ponsel bekas!"
"Boleh minta nomor Ponselnya?" Raya menampilkan senyum terbaiknya, mengabaikan kata-kata tak mengenakan Mondi barusan.
Saat ini fokus utama nya adalah mendapatkan nomor ponselnya.
"Mbak, pesanan saya mana?" Pria tersebut yang bernama Mondi Justru kini terlihat kesal saat pesanan nya tidak kunjung di layani.
"Nomor ponselnya dulu dong, Mon?"
"Maaf, mas lama banget si ini antrian nya sudah panjang." Protes salah satu pembeli di cafe tersebut yang sudah cukup lama mengantri, serta merasakan pegal di kakinya.
Mondi menoleh dan tersenyum kikuk merasakan malu, "Maaf, pak . Saya sudah selesai kok, silahkan."
Tanpa menunggu lagi pesanannya Mondi pun langsung pergi begitu saja meninggalkan meja kasir.
"Eh, Ray mau kemana?" Tanya Mbak Tina sedikit berteriak, saat melihat raya kini hendak berlari keluar dari cafe.
Raya Anindita sang kasir wanita yang akan menjadi pemeran utama di cerita ini.
"Mbak, gantiin dulu bentar ya."
Mbak Tina yang melihat hal tersebut pun lantas geleng-geleng kepala.
Raya segera melihat ke sekeliling setelah ia keluar dari cafe tersebut, ia mendesah kasar saat tak menemukan sosok seseorang yang kini tengah ia cari.
Hanya lalu lalang mobil, pemotor dan para pejalan kaki yang tidak dia kenali sama sekali.
"Kok cepet banget si ilangnya, Masa iya dia bisa menghilang dalam sekejap seperti di film-film superhero." Gumam raya ia mendesah kecewa.
Dengan persaan sedih ia pun kembali lagi ke dalam cafe. Dengan wajah yang masih menunjukkan ekspresi kusut ia pun berjalan lagi menuju meja kasir.
"Ketemu orangnya?" Tanya Mbak Tina.
Saat melihat ekspresi kusut raya, ia bukannya tak tahu apa yang terjadi namun naluri kepo nya berkata jika ia harus bertanya untuk mendapatkan info semuanya.
__ADS_1
Raya hanya menggeleng kan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan mbak tina.
"MONDI, Kan?.." tanya Mbak Tina.
"Kok Mbak tau sih? Mbak kenal?."
"Kenal, Orang kita tetanggaan kok." Jawab mbak tina sambil sesekali melayani para pembeli.
"seriusan mbak?" Tanya raya yang terlihat begitu antusias, matanya berbinar-binar seperti mendapatkan emas satu gunung besar.
"Iya. Kenapa memangnya?"
"Minta Nomor ponselnya dong, mbak?" Pinta raya sambil memasang muka baby face nya.
Mbak Tina yang melihat hal tersebut lantas hanya tersenyum geli.
"Sayangnya, mbak gak punya Ray." Balasnya sambil tersenyum cekikikan.
"Masa sih, mbak. Tadi katanya tetanggaan masa sih gak saling tukar nomor ponsel." Raya memayunkan bibirnya.
Raya menatap horor ke arah Mbak Tina, ia kesal Kenapa mbak Tina tak mau memberikan nomor ponsel Mondi kepadanya.
"Ya, kalau nomor papanya mbak Tina punya Ray. " Ucap mbak Tina sambil melihat ke arah raya.
"Mau?" Tanya Mbak Tina lagi.
"Mbak jangan bercanda ,Raya serius ini."
"Mbak juga serius kok!"
"Mana ponsel mbak Tina ,sini biar raya catat sendiri nomornya." Raya menyodorkan tangannya ke arah Mbak Tina.
Dengan ekspresi geli mbak Tina pun menyerahkan ponselnya.
"Kalau Mbak Tina bohong, awas ya . Tak bilangin papa." Ancam raya, selaku anak dari pemilik cafe tersebut.
Ia akan berada di cafe tersebut untuk membantu saat waktu libur sekolah Tiba.
Setelah beberapa detik berlalu raya degan perasaan kesal menyerahkan kembali ponsel milik mbak Tina .
"Gak ada kan?"
Raya hanya diam.
"Gak percaya sih!"
"Au ah mbak Tina nyebelin."
Akhirnya Raya meninggalkan cafe tersebut.
"Tenang Ray, kamu harus yakin bakalan bisa dapetin Mondi. Ya pasti kamu bisa semangat." Raya menyemangati dirinya sendiri.
•••
Tiga Hari kemudian......
Kedua mata Raya membulat sempurna, ketika netra matanya tidak sengaja melihat ciptaan tuhan yang paling sempurna kini berada tidak jauh dari tempatnya.
"Waaahh! Dia MONDI kan?" Ucap raya begitu antusias.
"Siapa sih?" Tanya salah seorang gadis bernama Reva Ayudia putri yang kini ikut refleks membalikkan badannya untuk melihat sosok yang baru saja di katakan sahabatnya itu.
"Maksud loe, si hati batu itu Ray. " Reva kembali mengalihkan pandangannya, ia segera menyeruput ice-capuccino di depannya.
"Ya, Ganteng banget kan?"
"Loe, kenal Mondi dimana ray?" Harus Reva akui Mondi termasuk siswa yang banyak di gemari di sekolah ini, tapi untuk sekolah lain rasanya mereka tidak terlalu mengenal sosok Mondi.
"Loe inget gue pernah cerita nah dia cowok yang gue ceritain Beberapa Minggu lalu sama loe itu." Seru raya menopang dagu dengan kedua tangannya di meja sembari menampilkan raut wajah yang terlihat seperti ice cream yang meleleh.
"Yang loe kata cowok dingin,datar,cuek irit bicara tapi baik hati itu yang selalu membantu sesama sewaktu loe ikut di sebuah acara relewan bencana bukan sih?"
__ADS_1
"Yes, loe bener banget." Balas raya tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok Mondi tersebut.
"BAIK hati dari mana nya si. Dari tong sampah sih iya kali. "
"Reva, Raya gak suka Reva ngomongnya kayak gitu gak baik tahu re. Ngomongin orang ganteng kayak gitu "
Reva hanya bisa mendesah berat.
"Ye, terserah kamu aja Ray." Reva hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Idaman banget gak sih?" Tanya raya masih fokus pada Mondi yang kini tengah duduk di sebuah bangku ia terlihat sedang menikmati makan siangnya dengan earphone yang selalu terpasang di tangannya.
"siapa?"
Rayaa menoleh menatap tajam ke arah Reva, ia melayangkan tatapan membunuh jika saja hanya dengan menatap bisa langsung membunuh seseorang maka bisa di pastikan sekarang kepala Reva sudah terpisah dari tubuhnya.
Melihat tatapan membunuh dari sahabat nya raya, Reva terlihat menelan ludahnya kasar. "Matilah dia kali ini." Begitulah kira-kira isi pikiran dari Reva.
"Ya, Mondi lah re. Siapa lagi! Dari tadi kita itu lagi bahas dia kan."
"Jadi itu alsan loe pindah ke sekolah ini, bener gitu?" Reva menatap raya intens.
"Yap, betul ."
"What, gila loe."
Raya segera mengeluarkan ponsel dari tas nya dengan sangat tergesa-gesa ,reva yang melihat hal tersebut lantas kebingungan dan menatap sahabatnya itu penuh kecurigaan.
Hal gila apa lagi yang akan di lakukan raya kali ini.
"Mau kemana loe?.."
"Mau minta nomor ponselnya mondi, waktu di acara amal itu kan gue cuma bisa jadi pengagum rahasia dia doang nih. Nah sekarang waktunya gue terang-terangan buat deketin dia. "
"Doain gue, oke."
Raya segera berdiri dari duduknya, dengan cepat ia segera berjalan menuju ke arah Mondi.
"Eh!!"
Reva hanya bisa melongo, mulutnya terbuka lebar, ia memang selalu di buat geleng-geleng kepala oleh tingkah sahabatnya sejak dari kecil itu, Harus Reva akui raya orangnya nekatan.
Namun Reva kemudian membalikkan badannya ia ingin melihat aksi sahabatnya tersebut, Reva yakin 100% raya akan di tolak mentah-mentah oleh Mondi.
•••
Raya kemudian melangkah mendekati Mondi, jantung raya berdetak lebih cepat saat kini ia ada di hadapan Mondi, Refleks raya memegangi dadanya .
Ia pun berdoa dalam hati semoga usaha nya kali ini berjalan lancar.
"Minta nomor ponsel loe dong?" Ucap rayaa menyodorkan ponsel nya pada Mondi.
Raya menunggu, namun tak ada respon sama sekali dari mondi.
"Mondi, minta nomor ponsel loe dong" teriak raya cukup keras.
Namun bukannya merespon ucapan dirinya, justru Mondi terlihat lebih asik dengan ponselnya terbukti dirinya kini ikut bersenandung ria mengikuti alunan musik yang terpasang di telinganya melalui earphone yang masih bisa di dengar raya dengan jelas kali ini.
"VOLUME nya kencang banget, apa gak bikin budeg kuping kali ya?" Raya bergumam.
Dengan sedikit keberanian yang entah muncul dari mana ,raya meraih earphone yang terpasang di telinga Mondi dan berhasil menariknya .
Mondi pun terkejut, ia lantas menatap tajam ke arah wanita yang kini ada di hadapannya.
"Minta nomor hp loe?"
Mondi terlihat bengong, ia menatap bingung wanita yang kini berdiri di depannya.
"Loe..Si.. siapa?" ..
Tbc
__ADS_1