Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Pertengkaran


__ADS_3

Aydan dan Diandra duduk berdampingan. Seolah sengaja dipasangkan. Sayangnya, selama acara makan malam bersama suasana tampak canggung dan dingin. Meskipun lelaki itu berusaha mencairkan suasana dengan mengajaknya mengobrol.


Bahkan sesekali tangan Aydan mencoba menggenggam tangannya di bawah meja, tapi segera ditepis oleh Andra. Ia menaikkan kedua tangannya di atas meja agar lelaki itu tak bisa menyentuh tangannya lagi. Aydan pun kecewa.


"Kenapa kalian berdua undang Mas Aydan, sih? Kan udah gue minta untuk jangan mengundang dia! Gue tuh lagi bete sama dia," cecar Andra pada kedua sahabatnya. Ketiganya tengah berada di dalam toilet.


"Bukan gue yang ngundang, tapi Mas Yuda. Aku gak tau apa-apa," kilah Widia.


"Elo bete kenapa, sih? Bukannya malah seneng ya punya kesempatan di luar kantor jadi bisa dekat sama gebetan elo?" selidik Ivane.


"Iya nih. Aneh," timpal Widia heran.


"Yeee bukan begitu. Ini urusan kerjaan," bantah Andra.


"Yaelah urusan kerjaan doang. Biasa aja kali. Kita juga beban kerjanya banyak dari atasan. Kata elo harus profesional. Jangan bawa-bawa hati dong," tukas Widia.


"Duh, kalian berdua gak tau, sih," ujarnya resah.


"Soal apa?" tanya Widia.


"Ada hal yang gak kita tau ya?" tebak Ivane.


Andra menggigit bibirnya gelisah. Antara ingin memberi tahu, tapi ragu. Kedua sahabatnya memang belum tahu jika dia dan Aydan sudah bersatu di Bali.


"Ayo cerita ada apaan!" desak Widia curiga.


"Ingat ya! Gak boleh ada rahasia di antara kita!" tegur Ivane mengingatkan. Keduanya tampak serius menunggu Andra bercerita.


Akhirnya setelah didesak, mau tak mau ia memberitahukan semuanya. Tentang teman chatting-nya selama kuliah, tentang penyusulan Aydan ke Bali, sampai akhirnya keduanya resmi menjalin kasih. Bahkan tentang Kalina. Widia dan Ivane terkejut mendengar tentang tunangannya Aydan yang membuatnya gerah.


"Jadi beneran kalau Mas Aydan itu udah tunangan?" cecar Widia tak percaya.


"Gak nyangka. Pantesan elo bete banget. Eh, tapi kan dia cintanya sama elo, kan?" tukas Ivane.


"Ya, tapi cewek itu nempel melulu kayak perangko. Gue eneg liatnya di kantor. Mana mereka tinggal satu apartemen juga. Gue harus gimana coba? Manja sekali dia. Pengen gue remas-remas aja," ungkapnya geram. Widia dan Andra terkikik menyadari sahabatnya sedang cemburu berat.


"Kok bisa sih tinggal satu atap gitu? Gak boleh, kan?" protes Widia ikutan kesal. Andra angkat bahu dengan sambil mencebik.

__ADS_1


"Ya udah tenang. Makanya malam ini elo manfaatin buat baikan dengan dia. Mumpung gak ada Kalina. Nanti kita cari cara biar pertunangannya batal. Kita akan bantu cari kakaknya Mas Aydan," cetus Ivane yang tumben sekali jadi sedikit dewasa.


"Terus gimana tuh biar dia mau pergi dari apartemen Mas Aydan? Rumahnya jauh di Palembang," ungkap Andra bingung.


"Ya kita usir dia aja biar pulang," jawab Widia.


"Ya gimana caranya? Gak mungkin gue ngomel-ngomel suruh dia pergi, kan?"


"Nanti kita pikirin bareng-bareng, deh. Pokoknya malam ini elo nikmati dulu waktu sama Mas Aydan. Sana gih!" seru Widia.


Andra tampak enggan keluar dari toilet. Namun, kedua sahabatnya mendorong dia keluar. Pas sudah di luar toilet, rupanya ada Aydan yang juga baru saja keluar dari toilet laki-laki. Andra terkejut. Secepatnya Widia dan Ivane meninggalkan keduanya sambil terkikik.


"Nitip Andra ya, Mas!" pinta Ivane. Kedua sahabatnya melambaikan tangan dengan senyum menyeringai dari balik punggung Aydan. Andra sebenarnya ingin ikut mereka kembali ke meja, tapi Aydan sudah lebih dulu menggenggam tangannya. Memintanya untuk ikut bersamanya ke suatu tempat yang lebih sepi untuk berbicara.


Sebuah meja di pojok cafe akhirnya terpilih. Keduanya duduk dan Aydan mulai mengajaknya bicara dengan harapan kekasihnya tidak marah lagi.


"Diandra. Please jangan cemberut terus dong! Jelek tau," goda Aydan.


"Bodo amat!" jawabnya ketus. Aydan menghelas napas. Berusaha sabar.


"Aku mau minta maaf soal Kalina selama beberapa hari ini," ujar Aydan lembut.


"Aku tau kamu marah. Cemburu juga, kan?" sambung lelaki dengan rambut menutupi dahinya yang lebar.


Andra masih malas menanggapi.


"Tolong ngertiin posisi aku, Sayang. Aku tuh bingung harus gimana lagi sama dia? Aku sudah berusaha menyuruh dia pulang ke apartemen bahkan ke Palembang, tapi dia gak mau terus," ungkap Aydan.


"Telepon aja ibunya biar disuruh pulang!" usul Andra geram.


"Justru ibunya malah nitipin anaknya sama aku selama di sini. Aku udah pernah cerita kan, kalau keluarga kami akrab."


"Seharusnya kamu kasih tau kalau kamu sudah punya aku, Mas! Biar dia sadar posisi," titahnya.


"Suatu hari nanti juga aku akan bilang yang sebenarnya, tapi gak bisa mendadak."


"Kenapa gak bisa mendadak? Kamu khawatir sama dia?" cecarnya curiga.

__ADS_1


Kali ini Aydan yang termenung. Ia bingung bagaimana menjelaskan hubungannya dengan Kalina. Meskipun ia hanya menganggapnya sebagai adik, nyatanya perempuan itu sudah pindah haluan ke hatinya. Sejak kakaknya kabur dan tidak mau bertanggung jawab. Kalina seperti menemukan tempat singgah yang nyaman untuk hatinya yang hancur. Sikap baik dan peduli Aydan membuatnya tersentuh perlahan-lahan. Ia jadi tak tega harus menyakiti hatinya lagi.


"Kenapa gak bisa mendadak?" cecar Andra sekali lagi. "Kenapa harus nanti? Semakin ditunda justru akan semakin mempersulit hubungan kita. Kamu tau kan, aku bertahan selama ini karena berharap banyak padamu, Mas. Kalau kamu malah lebih memikirkan cewek itu, lalu aku bagaimana?" cecar Andra sangat keberatan.


"Aku paham, tapi gak semudah itu ngasih tau yang sebenarnya sama dia. Kalina itu anaknya gampang depresi, gampang nge-down, gampang mewek dan gampang ...."


"Dan gampang ditiduri juga?" ledek Andra geram.


Aydan terkesiap mendengar hinaan Andra yang terbakar cemburu itu. Sampai ia tak tahu harus bagaimana menanggapinya lagi.


"Mungkin di mata kamu dia memang salah. Kakakku juga salah. Seandainya kamu tau bagaimana kehidupan aslinya dia, pasti kamu bakal mengerti," ungkap Aydan.


"Kok Mas malah kayak ngebelain dia, sih?"


"Bukan membela dia, tapi ...." Aydan menghela napas. Bingung.


"Ya sudahlah kalau Mas merasa lebih kasihan dengannya, nikahi saja dia. Toh, segelku masih utuh. Masih ada cowok lain yang mau sama aku, kok," balas Andra kecewa. Ia beranjak pergi dengan perasaan terluka. Air matanya pun siap meluncur di pipi. Andra buru-buru menyekanya. Ia tak mau terlihat lemah.


Aydan terperangah melihat kekasihnya malah pergi begitu saja tanpa ada penyelesaian. Ia jadi makin merasa bersalah.


"Andra, tunggu! Aku tuh belum selesai ngomongnya," tukas Aydan sambil menyusulnya.


"Tapi aku udah. Aku mau pulang!"


"Jangan pulang dulu! Ayo kita selesaikan ini. Bantu aku! Tolong ngertiin, dong!" pinta Aydan putus asa. Ia menarik lengan Andra, tapi ditepisnya.


Dengan langkah cepat ia meninggalkan Aydan di belakang. Bergabung kembali bersama yang lain. Widia dan Ivane yang masih di meja makan tak menyadari jika keduanya masih berselisih paham. Keduanya saling diam dan tak banyak bicara. Sampai akhirnya kedua sahabatnya menyadari itu saat Aydan terus menerus memperhatikan Andra yang tampak acuh tak acuh padanya. Apalagi raut wajahnya yang berpura-pura senang saat ada seseorang yang mengajaknya bicara.


"Kayaknya mereka masih berantem ya?" bisik Widia pada Ivane.


"Iya. Kayaknya sih gitu," balas Ivane.


"Apa perlu kita turun tangan?"


"Kalau perlu. Gue gak suka teman kita disakiti gitu. Udah susah payah dia memendam rasa selama ini, pas udah berhasil nyatu malah ngecewain. Kan gak banget," protes Widia.


Ivane mengangguk-angguk setuju. "Tapi gimana caranya?"

__ADS_1


Sesaat Widia termenung memikirkan sebuah ide. Lalu ia menyeringai setelahnya. Sebuah ide berhasil ia dapatkan dan tak lama lagi pengganggu hubungan sahabatnya itu akan menyingkir. Pikirnya senang.


***


__ADS_2