
Di depan sebuah warnet langganan Diandra, motor Aydan akhirnya berhenti. Teringat dengan motornya yang masih tertinggal di kampus, ia berubah pikiran dan memilih untuk diantarkan ke sana. Aydan menuruti terus maunya.
Beberapa orang yang masih di kampus melihat kedatangan mereka berdua terheran-heran. Termasuk Sekar dan juga Nindita yang masih anteng duduk di depan gedung A.
"Kok mereka berdua naik motor bareng ya? Habis dari mana?" tanya Nindita pada Sekar.
"Gak tau tuh. Aku baru tahu ternyata mereka akrab. Selama ini aku jarang lihat Mas Aydan jalan bareng cewek. Paling juga sama Mbak Imelda atau teman seangkatannya."
"Lha sama aku juga lihatnya begitu. Kok tumben banget ya dia jalan sama adik kelasnya."
"Tadi aku lihat dia gandeng tangan Andra di perpustakaan waktu Merry ngomongin dia. Entah karena kesel lihat kelakuan mereka, kasihan atau apa. Tapi mudah-mudahan sih gak lebih dari itu," ungkap Sekar. Air mukanya tampak cemburu dan khawatir.
"Wuah, ana sing cemburu," ledek Nindita.
"Ora. Kok cemburu?" dalihnya.
"Ojo ngapusi aku?" goda Nindita lagi.
"Suwer. Tenan."
Walau temannya tak percaya dengan pengakuan Sekar, tapi dalam hatinya memang ada rasa kecewa yang menelusup hati melihat Andra dan Aydan naik motor berdua.
***
Pulang dari kampus, Andra langsung mampir ke warnet Mas Jo. Widia dan Ivane pun ikutan. Rupanya tadi mereka mencari keberadaan temannya itu yang mendadak menghilang sejak siang.
"Hei, cari bilik sendiri dong!" seru Andra keberatan saat kedua sahabatnya malah nebeng main internet di biliknya. Ruangan sempit itu jadi makin sempit.
"Barengan aja ya. Gue cuma mau ngecek Friendster doang kok," kilah Widia. Begitu juga alasan Ivane.
"Males ah. Sana main internet sendiri. Gue butuh privasi tau gak?" protesnya.
"Alaaah pake privasi segala. Kita kan udah temenan sejak 3 tahun lalu. Ayolah barengan aja," rayu keduanya.
"Bilang aja mau ngirit."
Keduanya tertawa meringis.
Namun, Andra tetap mengusir mereka berdua. Ia tak mau obrolannya dengan 'cheeky_tarou terbaca. Dengan sangat terpaksa keduanya pindah ke bilik di belakangnya.
Setelah memastikan tak ada lagi gangguan, ia mulai berselancar di dunia maya. Membuka situs miRC seperti biasa lalu log in secepatnya.
Dengan hati senang ia mulai mengajak akun 'cheeky_tarou' yang ternyata sedang online juga.
hai cheeky.
hai juga. bagaimana hari elo?
not bad. ada sedihnya, senangnya, nyeseknya juga ada.
__ADS_1
kok bisa? mau cerita?
iya. jadi tadi gue masuk kuliah kan. ternyata gosip tentang gue makin parah. gue dikira AC DC. sialan. terus gue jadi lebih suka diam di perpus. di sana gue lebih nyaman. sialnya ada Merry. tau gak mereka ngomongin gue lagi.
terus? elo diam aja atau ngelawan mereka?
enggak keduanya tapi gue sempet nangis. tiba-tiba gue dibawa pergi sama senior gue.
siapa itu? pasti cowok.
kok tau?
asal nebak aja sih. hehehe.
ooh kirain elo cenayang. hihihi.
ya kalau bener gue cenayang pasti gue gak bakal penasaran lagi tampang elo kayak gimana. mudah-mudahan cantik.
hahaha. emang gue cantik. kalau enggak, gak mungkin banyak yang naksir.
iya deh percaya daripada gue gak diajak chatting lagi. terus gimana lanjutannya?
iya gue diajak pergi lumayan jauh sama dia.
pergi ke mana? elo seneng gak diajak dia pergi?
ke bukit cinta Rawapening. awalnya sih gue seneng. sempat GR juga. gue sempat ngira senior gue itu ada rasa sama gue. gak taunya ...
gak taunya?
iya. gak taunya ternyata dia cuma kasihan sama gue karena gue suka dibully dan dighibahi temen sendiri. menyedihkan banget kan gue. 😞
Sesaat tak ada balasan lagi dari lawan bicaranya. Beberapa menit kemudian ia membalas.
itu juga bentuk dari kepedulian dia kan? orang peduli karena pasti ada sesuatunya kan?
gue rasa pedulinya dia bentuk dari simpati dan empati aja. gak lebih.
jadi elo maunya lebih? gimana kalau ternyata itu bentuk perhatian dia ke elo?
gak tau deh. gue bingung. gue takut. berharap lebih, tapi gue takut jatuh lagi. apalagi kayaknya dia udah punya cewek deh. apalagi ternyata temen gue juga ngefans sama dia? gue jadi gak enak sama temen gue.
wow. tunggu dulu. dia punya fans?
yup. temen kuliah gue.
dia juga udah punya cewek? tau dari mana?
gak yakin juga sih, tapi aku pernah lihat dia makan bareng sama temen cewek satu angkatannya. mereka berdua dekat banget.
__ADS_1
hahaha. jadi kamu beranggapan mereka pacaran? terus kamu jealous gitu? belum tentu itu.
Andra terkekeh sendiri. Dia merasa bodoh. Benar juga apa katanya. Cuma karena kejadian yang ia lihat belum tentu kenyataannya sesuai dengan pikiran kita bukan.
hihihi... iya juga sih. jadi gue harus gimana?
sekarang gue tanya? bagaimana perasaan elo ke dia?
Pertanyaan itu membuat Andra terdiam. Berpikir apa yang sebenarnya ia inginkan? Hati kecilnya mulai menyadari sesuatu yang sudah lama ia rindukan, tapi ia takut mengakuinya. Mengingat janjinya pada diri sendiri tak mau ia ingkari.
gak tau ah. kayaknya gue bakal tetap begini.
maksudnya?
sama seperti temen gue itu. gue bakal tetap dan hanya akan menjadi pengagum rahasianya.
kalau ternyata dia ada perasaan juga sama elo gimana?
itu gak akan mengubah apapun. ingat, gue punya tujuan dan janji pada diri sendiri yang harus ditepati.
ooh gitu. I see.
Belum kelar chatting itu, tiba-tiba Widia dan Ivane menerobos masuk. Mereka membaca percakapannya itu.
"Siapa itu 'cheeky_tarou'?" cecar Widia ingin tahu.
"Kayaknya cowok nih. Cieee Andra chattingan sama cowok. Pantesan aja pake rahasia segala," ledek Ivane.
"Yeee jangan salah sangka. Dia cuma temen curhat doang. Lagian gue juga gak tau siapa dia," kilahnya.
Tak mau ketahuan lebih banyak lagi tentang obrolan itu, Andra pamit pergi pada lawan bicaranya lalu log out.
Selama perjalanan pulang menuju kost, Diandra diinterogasi mereka. Menanyakan siapa senior yang sedang dibahasnya dan siapa teman seangkatan yang dia maksud.
Mulut Andra tetap bungkam. Ia tak mau rahasia hatinya terbongkar. Meskipun sahabatnya itu tak seember mulutnya Merry and The Gengs.
"Apa mungkin ya senior yang dimaksud itu Mas Aydan yang udah beliin dia nasi Padang?" tebak Ivane.
Ketika ketiganya berpisah di persimpangan jalan, Widia dan Ivane kembali membahas lewat telepon begitu sampai kost masing-masing.
"Bisa jadi."
"Bener kan kata gue. Dia pasti ada rasa sama senior satu itu. Makanya gue ngajakin elo buat comblangin mereka berdua," usul Ivane. "Elo sih malah gak setuju."
"Bukan gitu. Gue takut Andra marah. Yang udah-udah aja dia keberatan kan? Usul kita tentang pacar pura-pura aja dia tolak. Sampai Riko ditonjok segala."
"Terus kita kudu gimana?"Â
"Ya udah biarin aja deh. Beri dia privasi. Kita harus menghormatinya. Gue cuma gak mau disalahin karena terlalu ikut campur urusan pribadinya."
__ADS_1
Terdengar helaan napas Ivane. Nampak ia kecewa, tapi pasrah juga pada akhirnya.
***