
"Aydan! Aydan!" Seruan dari ibunya di sambungan telepon terdengar kencang. Ia lupa bahwa pembicaraan di telepon dengan ibunya masih berlangsung saat menginterogasi kurir makanan itu.
"Iyo, Mak. Maaf," sahutnya.
"Laju cakmano? (Jadi bagaimana?)" tanya ibunya.
"Pokoknya jangan biarkan Kalina kembali datang ke Jakarta. Aku gak mau dia tinggal di apartemenku lagi. Bahaya. Nanti aku akan cari Bang Irvan secepatnya, Mak," beber Aydan keberatan.
"Iyo, Dan. Mak satuju. Awak dan Kalina lum kua de. (Iya, Dan. Mama setuju. Kamu dan Kalina belum ke pelaminan)."
"Itulah, Mak."
Lalu pembicaraan terpaksa disudahi karena ia harus segera pulang. Sesampainya di apartemen, ia segera mengeluarkan beberapa potong pakaian dari lemari ke atas kasur. Lalu mengemasi pakaiannya ke dalam koper.
Sementara itu Andra yang baru saja selesai cuci muka dan berganti baju tidur dikejutkan dengan kiriman makan malam dari seseorang lagi.
"Dari siapa, Pak?" tanyanya pada penjaga kosan, Pak Juned.
"Aduh lupa nanya, Mba. Emangnya di situ gak ada keterangannya?" ucap Pak Juned sambil menunjuk kresek makanan.
Andra mencari keterangan yang dimaksud di dalam kresek itu, tapi tak ada apapun selain kotak makanan dengan logo restoran ternama. Ia menggelengkan kepala.
"Orang yang ngirimnya sama dengan yang kemarin?"
"Orangnya sih beda. Kan dia mah cuma kurir."
"Oh gitu ya. Ya udah makasih, Pak. Nanti lain kali kalau ada lagi tolong tanyain ya, Pak!"
Pak Juned mengangguk lalu pergi kembali ke pos di depan kosan. Tinggallah Andra yang penasaran dengan sosok misterius pengirim makan malam selama dua hari ini.
"Kok dia bisa tahu kapan saja aku pulang?" gumamnya sambil duduk di atas kasur.
Tak lama kemudian Ivane dan Widia datang ke kamarnya mengajaknya beli makan malam selepas maghrib.
"Gue udah punya makan malam, nih," ungkapnya sambil menunjukkan bingkisan nasi kiriman itu.
"Eh, kok udah beli duluan?" protes Ivane.
__ADS_1
"Gue gak beli, tapi ada yang ngirimin ini."
"Wah, Mas Aydan baik banget suka kirim makanan," sambung Ivane iri.
"Bukan dia. Gak tahu siapa, nih."
"Masa, sih? Terus siapa dong?" Widia menimpali. Andra angkat bahu.
"Iya itu dia. Dari kemarin ada yang ngirim makanan buat gue, tapi gue gak tahu siapa," ungkap Andra.
"Tanyain dong!" usul Widia.
"Yang nerima Pak Juned. Kayaknya dia cuma kurir, deh."
"Hhmmm jadi penasaran. Pasti dia lagi pedekate sama elo, Ndra," lanjut Widia lagi.
"Jangan-jangan pemuja rahasia?" tebak Ivane antusias.
"Wuah kayak zaman kuliah dulu, dong. Yang suka ngirimin elo bunga sama cokelat. Siapa ya namanya? Lupa," ujar Widia. Andra malah memutar kedua bola matanya tak ingin mengingat itu lagi.
"Si Agung anak jurusan Teknik Elektro, " jawab Ivane semangat.
"Bodoh amat, deh. Mau anak jurusan apa. Orangnya juga gak tahu ke mana. Mana mungkin yang ngirim makanan itu dia. Mungkin saja dia sudah nikah," ujar Andra sebal jadi teringat saat Agung menyatakan cinta saat inagurasi kampus.
Widia dan Ivane terkekeh. "Gak usah sewot gitu. Kali saja dia tinggal di Jakarta juga terus ngelihat elo gitu. Jadi CLBK."
"Idih. Males banget. Kalau beneran dia yang ngirim makanan, mau gue buang saja." Bungkus makanan yang baru didapatkannya itu akan di buang ke tempat sampah, tapi langsung dirampas oleh Ivane.
"Jangan dibuang. Buat gue saja. Gue laper. Lumayan bisa ngirit. Hehehe." Gadis bersuara cempreng itu menyeringai senang.
"Gih, ambil sana! Gue mau beli makanan yang lain saja," balas Andra seraya mengambil dompetnya lalu pergi keluar kamar. Diikuti kedua sahabatnya.
Ivane yang sudah mendapatkan makan malam gratis pun tetap ikut Andra dan Widia membeli makanan sambil jalan kaki.
"Ngomong-ngomong teman-teman seangkatan kita sudah banyak yang nikah ya. Kalian sadar gak, sih?" celetuk Widia.
"Aduh jangan bahas nikah, dong! Calonnya saja gue belum ada," keluh Ivane.
__ADS_1
"Tenang, Ne. Kita yang sudah ada saja belum mau nikah. Jadi masih ada waktu buat elo cari calonnya," ucap Andra menyemangati.
"Gue juga baru beberapa minggu jadian. Mana mungkin Mas Yuda langsung ngelamar. Beda cerita kalau Andra. Kayaknya Mas Aydan sudah siap ngelamar elo, tuh," timpal Widia.
"Gue masih pengen menikmati masa-masa sebelum menikah dulu. Nikmati gaji dan senang-senang menikmati hidup tanpa harus mikirin tanggung jawab ngurus anak, rumah, dan suami. Puas-puasin dululah. Sikonnya juga belum siap. Walaupun Kalina sudah pulang, tapi kakaknya Mas Aydan belum ketemu. Kalina masih ngeyel pengen nikahnya sama Mas Aydan. Kan nyebelin banget tuh bocah. Yang enak-enak siapa. Yang kena getahnya siapa. Eh, btw, gue jadi ingat harus cari kakaknya Mas Aydan juga. Gimana caranya ya?" cerocos Andra.
"Nah, itu dia. Tugas kita satu lagi. Elo ada fotonya?" cecar Widia. Andra menggeleng.
"Terus gimana mau nyarinya?"
"Mas Aydan pernah nunjukin fotonya, tapi gue lupa," jawab Andra. Kini ia merasa menyesal tidak terlalu memperhatikan rupa kakaknya Aydan. Seingatnya wajahnya jauh lebih ganteng dan tipekal bad boys dibandingkan Aydan yang manis dan kalem.
"Kira-kira kalau kakaknya gak berhasil ditemukan, nasib Mas Aydan gimana ya?" gumam Andra cemas. Bagaimana tidak. Hal itu akan berimbas pada kelangsungan hubungannya.
"Tenang saja. Jodoh gak akan ke mana. Itu kan yang selalu elo bilang," ujar Widia memberi semangat. Andra tersenyum lega. Ia jadi berpikir tak seharusnya risau sebab urusan jodoh sudah ada yang mengatur. Sayangnya, dalam hati kecilnya tetap saja berharap jodohnya itu adalah Aydan seorang.
Paginya ketika akan mengeluarkan motor ke luar kosan, lagi-lagi Andra dikejutkan dengan kehadiran Aydan. Pria berwajah manis itu tersenyum menyapa.
"Ayo kita berangkat bareng lagi!" ajaknya.
"Kok tumben banget, sih? Gak ngerepotin, nih?"
"Gak sama sekali. Demi kamu apa sih yang enggak," gombal Aydan dengan wajah bersemu.
"Dasar! Pasti ada sesuatu kan?" tebak Andra curiga. Ia menghampirinya.
"Cuma pengen lebih dekat sama kamu saja, kok," dalihnya.
"Tiap hari kan kita sudah ketemu di kantor, Mas. Masih kurang?" Bagi Andra tetap saja rasanya ada yang tak biasa.
"Iya, kurang. Sudahlah. Ayo masuk mobil. Nanti terlambat. Jalanan kan macet terus."
Meski belum puas dengan alasan Aydan, Andra tak bisa memaksanya lagi untuk memberitahu apa yang sebenarnya. Ia segera masuk mobil dan pergi bersama atasannya itu. Di bagian belakang mobil, Andra melihat ada satu koper dan tas besar.
"Mau pergi ke luar kota, Mas?" selidiknya.
Aydan tidak menjawab. Ia pura-pura tak mendengar dan tetap fokus menyetir di jalanan macet itu. Membuat Andra jadi merasa ada sesuatu dengan kekasihnya itu.
__ADS_1
༺༻