
Di kursi penonton, Andra menghempaskan tubuhnya dengan kasar lalu menghela napas perlahan. Mencoba mengusir kekesalan dan kecewa yang masih bersemayam sejak beberapa hari yang lalu.
Aydan masih bersikap tenang terhadapnya. Menawarkan sekotak popcorn dan minuman soda yang hanya ada satu. Andra hanya melirik sinis pada minuman itu, lalu menggeleng untuk menolak tawarannya. Sampai film pun dimulai keduanya hanya terdiam. Meskipun Aydan berusaha mengajaknya bicara, tapi gadis itu tetap bungkam.
"Kamu gak haus?" celetuk Aydan.
Andra menggeleng lagi.
"Tenang aja. Minumannya gak ada racun atau peletnya, kok. Aku beli cuma buat kamu. Aku gak minum juga enggak apa-apa," sambungnya.
Andra masih tak acuh. Matanya terus tertuju pada layar bioskop yang sedang memutar film horor dari Jepang. Aydan menghela napas kecewa. Akhirnya ia makan popcorn sendirian.
Sampai akhirnya ada adegan film di mana sang hantu tiba-tiba muncul. Andra menjerit kaget dan secara spontan memeluk bahu Aydan. Pria itu pun sama kagetnya, tapi bukan karena hantunya. Melainkan karena pelukan gadis pujaan di sebelahnya. Hatinya senang. Ia biarkan hal itu sampai Andra sadar sendiri dan menarik tubuhnya kembali seperti semula. Wajahnya bersemu merah karena malu. Untungnya suasana bioskop gelap, jadi Aydan tak mengetahuinya.
Lalu Aydan kembali menawarkan minuman sodanya lagi pada Andra. Karena salah tingkah dan mendadak canggung, akhirnya minuman itu diambilnya, diminum cepat lalu dikembalikan lagi. Dan, tentu saja Aydan pun meminumnya juga setelahnya. Andra tercengang. Lelaki itu malah mesem-mesem merasa taktiknya berhasil.
Andra mendengkus kesal. Tiba-tiba saja dia pergi. Aydan pikir gadis itu akan pergi ke toilet, tapi yang kembali malah Yuda.
"Lho, kamu ngapain ke sini?" tanyanya heran.
"Aku di suruh Andra tukeran kursi. Dia mau deketan sama temannya. Enggak apa-apa, kan?" ungkap Yuda.
"Yaaah. Ya udah deh," jawab Aydan pasrah.
"Gak ada masalah sama dia, kan?" tanyanya lagi.
Pria itu menggeleng sambil memberikan senyum seolah baik-baik saja.
Yuda menepuk-nepuk bahu atasannya lalu kembali menonton film.
Pasrah dan kecewa. Itulah yang dirasakan Aydan hingga film berakhir. Penonton pun segera pergi satu persatu. Rombongan yang lain sudah beranjak lebih dulu. Aydan dan Yuda menyusul belakangan.
Dari belakang, tampaklah Andra dan teman-temannya saling bersenda gurau. Termasuk mengobrol akrab dengan Dika. Hati Aydan jadi panas dan jengah.
"Duh, perutku jadi lapar. Kita makan dulu, yuk!" ajak Anton sambil mengusap perutnya.
"Setujuuuu. Aku juga lapar. Terakhir makan tadi saat istirahat siang doang," ungkap Widia sedih.
"Aku juga, Say," ujar Ivane sambil memeluknya.
"Ya udah. Kalau gitu kita makan bareng dulu sebelum pulang!" usul Andra.
Semuanya menjawab setuju. Mereka segera mencari restoran yang masih buka mengingat waktu operasional Mall akan segera berakhir. Sepanjang jalan di koridor Mall, tak henti-hentinya mata Aydan mengamati Andra yang asyik bercengkerama dengan sahabat dan teman barunya. Ia sedih diabaikan oleh gadis itu.
Hanya dia yang terlihat tidak bersemangat saat itu dibandingkan yang lainnya. Masing-masing tampak sibuk mengobrol dengan temannya. Aydan hanya bisa menghela napas.
Akhirnya mereka memutuskan makan bersama di sebuah restoran yang sepi pengunjung. Setelah mendapatkan tempat duduk masing-masing, memesan makanan, makan, saling berbincang-bincang lagi, lalu pulang. Aydan lebih banyak diam dan hanya berbicara seperlunya saja. Ia malah sibuk mematikan panggilan telepon berkali-kali. Entah telepon dari siapa. Andra pun sempat memperhatikannya.
"Paling si Kalina yang telepon," batin Andra melirik sebal.
"Elo kok malah jauhan sama Mas Aydan?" celoteh Widia heran.
"Kalian lagi berantem, ya?" tebak Ivane.
"Enggak, kok," jawab Andra dingin.
"Serius gak ada apa-apa?" cecar Widia tak percaya.
"Iya."
"Kalian berdua aneh. Seharusnya acara ini jadi kesempatan bagus buat kalian berdua," beber Widia.
"Gue kira kalian bakal cepet jadian setelah ketemu lagi, tapi ternyata masih sama-sama jaim rupanya," imbuh Ivane.
"Nah, gue kira juga gitu. Malam ini harusnya kalian bisa saling pedekate tanpa jaim. Kan ini bukan jam kantor," ucap Widia.
"Pedekate kenapa harus malam ini? Kalau gue mau, di kantor juga bisa. Setiap hari gue ketemu dia," ungkap Andra sinis.
__ADS_1
"Terus apa masalahnya?" tanya Ivane heran.
Belum sempat Andra menjelaskan, seseorang menyela obrolan mereka.
"Hmmm Andra, boleh minta pin BBM-nya?" tanya Fabian mengalihkan perhatian.
"Oh, boleh. Nih catat baik-baik ya," jawab Andra senang bisa menambah jumlah teman di BBM.
Keduanya sibuk saling bertukar pin BBM. Saat memeriksa inbox, ada pesan dari Cheeky yang belum terbaca sejak tadi.
Andra sempatkan untuk membalasnya.
Cheeky : Elo lagi ngapain?
Andra : Gue lagi nobar sama teman-teman. Elo sendiri lagi ngapain?
Cheeky : Gue lagi boring. Lagi pengen chatting sama elo. Tapi kayaknya elo lagi sibuk ya? Dari tadi pesan gw baru dibaca.
Andra : Iya. Sorry ya baru baca. Gue juga sama. Ada yang mau gue ceritain. Nanti kita chatting kalau gue udah sampai kosan ya. Sebentar lagi gue pulang.
Cheeky : Okay. Hati-hati ya.
Andra : Tenang aja. Gue pulang bareng temen kok.
Selesai membalas BBM dari Cheeky, Andra kembali mengobrol dengan Fabian. Sementara Aydan pun memasukkan HP BB-nya ke saku celana sambil melirik Andra.
Acara nobar dan makan bersama akhirnya selesai juga. Masing-masing ada yang sudah pulang. Aydan menawarkan diri untuk mengantarkan Andra pulang, tapi ia menolaknya.
"Gak usah, Mas. Makasih. Aku pulang sama Widia dan Ivane," dalihnya.
"Eh, jangan nolak! Lumayan tau bisa hemat ongkos taksi," sela Ivane.
"Tapi ...."
"Iya. Ini udah kelewat malam. Gue juga takut pulang sendirian pakai metromini," sambung Widia.
"Kita kan satu kosan, Wid. Ya pulang barenglah. Masa sendirian? Ngaco aja elo," bantah Andra kesal.
Akhirnya tanpa permisi lagi, Widia dan Ivane langsung masuk mobil Aydan. Duduk di jok belakang. Andra terpana melihat tingkah sok irit temannya kambuh lagi seperti saat jadi mahasiswi.
Dengan sangat terpaksa, ia duduk di depan lagi bersama seniornya itu. Aydan sendiri tampak senang sepanjang perjalanan. Suasana jadi ramai dengan segala perbincangan. Sedangkan Andra, ia lebih banyak mendengarkan saja. .
Begitu sampai di rumah indekos mereka, Widia dan Ivane segera turun. Andra turun terakhir. Saat akan membuka pintu mobil, tangan Aydan menahannya keluar.
"Tunggu sebentar. Jangan keluar dulu. Ada yang mau aku omongin," pintanya mengiba.
"Tapi ini udah hampir tengah malam. Ada jam malam, lho," ucap Andra beralasan.
"Bohong dia. Ini kan kosan karyawan. Gak ada jam malam di sini, Mas. Emangnya kosan mahasiswa," bantah Ivane sambil terkikik. Andra langsung melirik sinis padanya.
"Besok kan libur. Tidur malam-malam juga gak apa-apa. Silakan ngobrol sampai shubuh," imbuh Widia ikut mengompori. Kedua sahabatnya malah terkekeh lalu masuk ke dalam indekos.
"Sialan kalian berdua!" umpat Andra sebal. Ia sebenarnya malas berbicara lagi dengan seniornya itu, tapi Aydan terus memohon. Akhirnya ia memberikan kesempatan untuk berbicara.
"Mau ngomongin apa, sih? Soal kerjaan?" desaknya dengan wajah tidak bersahabat.
"Ya bukan soal itu, dong. Aku mau bahas soal kita," paparnya berusaha tenang.
Sudut mata Andra hanya meliriknya sekilas lalu membuang muka ke jalan. Ia tahu pasti pria di sebelahnya akan membahas lagi tentang apa yang ia dengar di pantry kantor.
"Diandra ...." ucap Aydan ragu.
"Apa?!" jawabnya ketus.
"Lihat ke sini dong! Aku kan di sebelah kananmu," gerutu Aydan.
"Tapi aku masih bisa dengar. Jadi ngomong aja!"
__ADS_1
"Gak enak kalau bicara gak saling lihat."
"Ya dibikin enak aja. Gitu aja kok repot!" Ia mendengkus kasar.
Tampaknya Andra masih keras kepala dan kesal. Aydan hanya bisa bersabar dan menghela napas.
"Ya udah. Dengerin aku ya. Waktu kamu lihat aku terima telepon di pantry, apa aja yang udah kamu dengar?"
"Harus ya bahas itu malam-malam begini?" tanyanya dingin.
"Ya. Kapan lagi? Nanti aku malah gak bisa tidur."
Andra malah tersenyum menyeringai.
"Terus apa hubungannya denganku?"
"Aku cuma gak mau kamu salah paham."
"Biar apa?"
"Biar hubungan kita gak ada masalah."
"Emangnya hubungan kita ada masalah? Itu kan urusan pribadimu, Mas. Aku gak berhak ikut campur. Lagian, aku kan bukan siapa-siapamu," ungkap Andra sembari menahan perih di hati.
"Jangan bilang begitu! Untuk saat ini memang betul, tapi suatu hari nanti nanti aku mau ...."
Dddrrrttt ....
Tiba-tiba dering telepon di ponsel Aydan berbunyi. Pria itu mematikannya segera. Baru juga akan bicara lagi, telepon itu berbunyi lagi. Aydan tampak gelisah melihat nama di layar ponselnya adalah Kalina. Bahkan Andra pun melihatnya juga.
"Tuh pacarmu telepon terus, Mas. Angkat aja! Aku masuk kosan, ya," sindir Andra kecewa berat.
Secepatnya ia membuka pintu mobil dan pergi. Aydan tak sempat menahannya lagi karena sibuk mematikan panggilan telepon Kalina. Ia buru-buru menyusulnya keluar, tapi Andra sudah lebih dulu masuk ke halaman kosan dan pagarnya langsung ditutup rapat.
"Andraaaa. Diandraaaaa. Aku belum selesai ngomongnya," teriak Aydan dari balik pagar.
Namun, tak ada sahutan dari juniornya itu selama beberapa menit. Kosan begitu hening dan sepi. Sampai penjaga kosan keluar dan mengusirnya. Aydan mendesah kecewa karena terpaksa pergi tanpa menyelesaikan urusannya.
Di dalam mobil, Kalina kembali menelpon. Aydan menjawab telepon itu dengan perasaan jengkel.
"Ada apa lagi, sih?" tanyanya kesal.
"Kok tiba-tiba galak gitu?"
"Kamu udah ganggu urusanku. Sekarang ada apa lagi?"
"Aku cuma mau tahu keadaanmu. Sejak tadi aku dicuekin terus."
"Aku ada acara dengan teman-teman tadi."
"Oh gitu. Kirain lagi selingkuh."
Aydan tertawa mengejek. "Aku gak pernah selingkuh dengan siapa pun. Lagipula kamu kan bukan pacarku."
"Lagi-lagi kamu ngomongnya begitu. Kamu kan calon suamiku, Dan," rajuk Kalina.
"Tidak akan sampai kakakku ditemukan."
"Memangnya kalau dia ditemukan pasti mau tanggung jawab?" tanyanya ragu.
"Aku akan memaksanya apapun yang terjadi."
"Yakin bisa?"
"Harus bisa. Kalau enggak, aku gak akan bisa menikahi pemilik sepatu itu," ungkap Aydan berusaha berpikir positif.
"Kalau ... aku maunya nikah sama kamu aja, gimana?" tanya Kalina dengan suara ragu-ragu di seberang sana.
__ADS_1
Perasaan Aydan jadi makin resah mendengar pengakuannya. Ia tak mau itu sampai terjadi. Pikirannya dipenuhi oleh sosok Diandra yang marah padanya. Ia sedih di saat keduanya bertemu lagi, ada penghalang lain yang menghalangi hubungan mereka.
***