
Andra segera membuka pintu kosannya dan begitu melihat kasur langsung menghempaskan diri di atasnya. Tubuhnya sangat lelah. Bahkan hatinya pun merasakan hal yang sangat tidak nyaman. Kesal, sebal, kecewa, dan cemburu menjadi satu. Perempuan bernama Kalina berhasil mengoyak asanya. Membuatnya ingin menangis, tapi ia tahan karena tiba-tiba dua orang perempuan baru saja masuk kamar tanpa permisi dan langsung duduk di kanan kirinya.
"Gimana tadi?" tanya Widia dengan wajah begitu antusias.
"Apanya?" Andra balik bertanya.
"Ya elo tadi sama Mas Aydan. Kalian habis ngapain hayo duaan di mobil," selorohnya.
"Enggak ngapa-ngapain. Cuma ngomong bentar terus udah."
"Lho kok gitu? Gak mesra-mesraan kayak dulu?" cecar Ivane ikut nimbrung.
"Iya. Kayak waktu kalian nonton konser band di kampus tuh, mesra banget. Sampai pegangan tangan segala," ungkap Widia mengenang masa lalu.
Dahi Andra mengernyit heran. "Kok kalian tahu? Kalian menguntit kami ya, waktu itu?"
Keduanya malah terkekeh-kekeh.
"Bukan menguntit, sih. Cuma kepo aja sama hubungan kalian berdua waktu itu. Pacaran apa enggak," terang Widia.
"Dan ternyata cuma TTM-an doang. Bahkan sampai sekarang pun masih HTS-an. Payah," komen Ivane.
"Kita gak ada hubungan apa-apa, tahu. Cuma sebatas rekan kerja. Atasan dan bawahan doang. Gak lebih dan gak akan lebih dari itu," balas Andra sembari menahan gemuruh hatinya lagi.
"Kenapa begitu? Kan, elo udah dikasih izin buat punya pacar sama mamamu. Gak ada halangan lagi, kan?" selidik Ivane.
"Ah, kalian gak tau, sih," gerutu Andra sebal.
"Apa ada sesuatu? Ayo kasih tahu kita!" seru Widia merajuk dan makin antusias. Ivane pun memasang wajah penasaran.
"Nih, ya. As you know. Mas Aydan itu udah tunangan," ungkap Andra akhirnya.
"Ah, yang bener?" tanya kedua sahabatnya kompak.
"Beneran. Serius. Dari sejak pertama gue datang ke kantornya. Itu cincin tunangan sudah bertengger di jarinya. Dan, kata teman kantor juga, dia sudah tunangan sejak beberapa bulan lalu."
"Tapi ... tadi gue gak lihat cincin di jarinya, tuh," ucap Ivane.
"Iya. Gue juga gak lihat," sambung Widia.
"Ya iyalah. Tadi sebelum berangkat dia lepas dulu cincinnya di depan gue. Dia bilang itu bukan cincin tunangan. Ngakunya masih sendiri. Anehnya, ceweknya malah ngehubungi dia terus sampai tadi nganterin gue pulang pun masih aja menelepon," papar Andra jengkel. "Bohong banget, kan?"
"Astaghfirullah. Masa Mas Aydan yang kalem itu begitu, sih? Padahal tadi gue perhatiin ya, dia masih naksir sama elo, Ndra. Keliatan banget, lho. Matanya memperhatiin elo terus," berondong Widia.
Ivane mengangguk membenarkan. "Iya. Dia malah sempat nanya-nanya sama gue, setelah dia lulus, Andra ngapain aja di kampus? Ada cowok yang deketin Andra lagi gak?"
Gadis berambut lurus itu mematung memikirkan pendapat mereka. Ia sendiri memang kadang-kadang masih merasakan perhatian dari seniornya itu saat di kantor. Namun, semuanya jadi meragukan saat informasi yang ia dapat berkata sebaliknya.
"Ah, masa bodoh, deh. Buktinya dia malah udah punya pacar. Gak bisa dipercaya omongannya!" gerutu Andra lagi.
__ADS_1
"Pasti ada alasan kenapa dia begitu," tebak Ivane.
"Nah, itu dia. Mungkin dia dijodohkan kali dan terpaksa menerima perjodohan itu. Bisa aja, kan?" Widia juga memberikan kemungkinan lain.
Sayangnya, Andra tidak mau tahu lagi dengan pemikiran mereka. Baginya, Aydan sudah sangat membuatnya kecewa. Sejak seniornya itu lulus, ia tetap menyendiri hingga lulus di tahun berikutnya. Bahkan hingga ia mulai bekerja, ada beberapa teman kantor yang mendekatinya, tapi Andra berusaha menjaga jarak dan menolak mereka. Di dalam hatinya, ia masih sangat mengharapkan seniornya itu dan merajut kembali hubungan yang sempat kandas tanpa kejelasan.
"Lebih baik kalian balik ke kamar masing-masing, deh! Gue mau tidur, nih. Capek," perintahnya tak tahan lagi ingin segera istirahat.
Meski masih ingin melanjutkan obrolan, Widia dan Ivane mengalah dan pergi. Setelah bersih-bersih badan, salat, dan memakai skincare malam, Andra baru bisa merebahkan tubuhnya dengan tenang.
Ketika matanya hampir terpejam, terdengar nada 'PING!' di BBM. Matanya langsung melotot. Ia mengambil ponsel BB yang tergeletak di meja. Ternyata Cheeky baru saja mengirim pesan. Waktu tidurnya pun tertunda lagi.
Cheeky : PING! Udah sampai kosan ya? 😁
Andra : Iya.
Cheeky : Kirain udah tidur. Soalnya ditungguin kok gak balas-balas.
Andra : Oh, iya. Sorry. Gue lupa. Tadi hampir aja gue mau tidur. 🙏🏻
Cheeky : Ya udah gak apa-apa. Aku juga baru mau tidur. Tapi tiba-tiba inget elo tadi katanya mau cerita. Jadi ada kisah apalagi, nih?
Andra : Kisah cinta gue yang buruk terus. 😣
Cheeky : 🤔 Seburuk apa itu? Biar gue menilai sendiri.
Andra : Pokoknya buruklah. Sampai gue males ceritanya. Mending tidur aja.
Andra menarik napas dulu sejenak.
Andra : Jadi ... tadi gue nobar bareng temen kantor. Awalnya gue males, tapi demi menghibur hati yang lagi bete, ya udah ikut aja deh. 😓
Cheeky : Bete kenapa?
Andra : Bete sama senior gue itu. Ternyata dia benar-benar udah tunangan dan bentar lagi mau married. Gue patah hati. 🥺
Cheeky : Tahu dari mana? Sudah tanya langsung ke orangnya?
Andra : Gak sengaja gue denger obrolan dia di telepon sama ceweknya. Namanya Kalina.
Cheeky : Sabar. Pasti ada yang salah.
Andra : Salah di mananya? Mungkin dia udah lupa sama janjinya untuk setia nungguin gue sampai lulus. Pasti dia udah tergoda sama cewek lain. Di Jakarta kan ceweknya cantik-cantik. Sementara gue, selalu tampil casual apa adanya. 😣
Cheeky : Buat gue sebagai cowok, penampilan itu bukan prioritas utama dalam memilih pasangan. Zaman sekarang banyak cewek yang cantiknya palsu.
Andra : Terus gue harus gimana? Anehnya, dia ngaku kalau dia masih sendiri. Pasti dia bohong.
Cheeky : Sebaiknya elo tanyakan langsung, gih. Daripada menebak-nebak malah salah paham. Elo masih cinta dia, kan?"
__ADS_1
Andra : Hhmmm ....
Cheeky : Kok Hhmmm doang?
Andra : Gak tahu deh. Gue lagi males mikirin perasaan gue. Pengennya gue nyari gebetan baru aja. Atau gue fokus ke karier dulu, deh. Atau barangkali, elo mau jadi cowok gue? Hahaha ...
Cheeky : Enggak mau ah. Gue cuma buat pelarian elo doang.
Andra : Hihihi. Gue juga cuma bercanda. Masa iya gue pacaran sama cowok gak jelas kayak gimana tampangnya.
Cheeky : Ya udah kalau gitu gimana kalau kita ketemuan besok Minggu?
Andra : Males. Gue mau seharian di kosan. Cucian menggunung, Bro. Lain kali aja ya.
Cheeky : Kan bisa di laundry?
Andra : Enggak ah. Gue mau nyuci sendiri biar ngirit. 😅
Cheeky : Hadeeeuh. Gue bayarin deh laundry-nya. Asal kita ketemuan.
Andra : Nanti gue pikirin lagi. Eh, btw nama asli elo siapa sih?
Cheeky : Bambang.
Andra : Yang bener?
Cheeky : Joko.
Andra : Ah, bercanda melulu. Serius dong.
Cheeky : Mulyadi.
Andra : Gue jitak nih dari jauh.
Cheeky : Hahaha. Nanti gue kasih tahu kalau kita udah ketemu. Okay? 😁
Andra : Curang. Udah ya. Gue mau tidur. 😑
Cheeky : Oh, oke. Met tidur, my Angel. Mimpiin gue ya. 😚
Andra : Ngegombal nih. Gak mempan. Bye. 😋
Cheeky : Habisnya elo cantik alami. 😘 😘
Andra : Nyesel deh pasang foto profil gue. Sementara PP elo malah gambar kucing. 🙄🤦🏼
Percakapan di BBM itu berakhir. Andra memutuskan untuk tidur. Ia sudah lelah hati dan pikiran. Untungnya, Cheeky mampu menghiburnya malam itu. Ia senang sekali punya teman dunia Maya yang perhatian padanya. Walaupun sebenarnya begitu penasaran seperti apakah orangnya.
"Apa sebaiknya gue terima ajakan dia buat ketemuan?" gumamnya bingung.
__ADS_1
***