
"Mbak Andra, gubahan massa di maketku kira-kira cukup oke gak?" tanya adik kelas angkatannya yang sedang menunggu jadwal asistensi STUPA di koridor kampus. Dia adalah Tari anak Jakarta, junior 2 angkatan di bawahnya yang masih satu kostan.
Gubahan massa sendiri merupakan sesuatu yang kompleks dalam perwujudan desain secara fisik sekaligus mengekspresikan fungsi, ruang, dan citra tertentu. Ditunjukkan sebagai ide awal dalam desain bangunan.
Andra memperhatikan maketnya dengan seksama. Sedikit menyentuh di sana sini untuk tahu bentuk apa sajakah itu. Ada kotak besar yang masif menyatu dengan segitiga yang terpotong-potong seperti irisan nasi onigiri.
"Hmmm kelihatannya sih bakal menarik, Ri," ujar Andra.
"Beneran? Aku gak ada ide nih. Gak tahu kenapa tadi malam pas bikin mendadak jadi gak yakin. Ya udah deh aku bikin seadanya karena udah keburu pagi," ungkapnya sedih. Terlihat jelas ada mata panda di wajah Tari yang manis.
"Ya udah coba aja dulu. Nanti tinggal dikembangin lagi jadi lebih keren," usul Andra memberi semangat.
Tampaknya Tari tak puas dengan dukungan seniornya itu.
"Kalau mau cari ide-ide gitu enaknya di mana ya, Mbak?"
"Kalau aku sih di perpustakaan sama di internet lihat karya-karya arsitek terkenal luar negeri. Bagus buat nambah-nambah referensi."
"Wuah iya ya. Ya udah temenin aku yuk Mbak ke perpustakaan. Mumpung masih ada waktu nih sebelum kuliah mulai!" ajak Tari bersemangat.
Sebenarnya Andra ingin menolak. Ia takut bertemu dengan Aydan di sana, tapi karena Tari terus mendesaknya akhirnya ia terpaksa menuruti.
Begitu memasuki ruangan luas penuh rak buku dan meja kursi itu, seketika perasaannya berubah jadi harap-harap cemas. Seperti seseorang yang suka makanan pedas, tapi takut dengan resiko lidah terbakarnya.
"Wuah sepi nih, Mbak," ujar Tari senang.
Sekali lagi mata Andra menyisir ruangan itu untuk memastikan tak ada lelaki yang sudah membuatnya resah. Dan benar saja. Aydan tak ada di sana. Akhirnya ia menghela napas lega.
Beberapa buku karya arsitek luar negeri diambil dari rak buku lalu memberikannya pada Tari. Junior itu duduk di meja tengah. Sekarang giliran dirinya yang mengambil beberapa buku materi kuliah untuknya.
Sebuah buku dengan sampul putih dan tebal ditarik di antara jejeran buku tebal lainnya. Saat buku itu sudah kosong dari ruangnya, Andra terperanjat. Ada Aydan di belakang rak buku itu sedang mencari buku juga, tapi ia membelakanginya.
'Duh kenapa ketemu dia lagi sih?' batin Andra cemas.
Ia bergegas pergi menyusuri rak buku tinggi itu, hingga di ujung rak malah bertabrakan dengan seseorang. Bukunya berjatuhan. Seseorang itu pun terkejut dan makin terperangah menyadari bahwa Andra lah yang menabraknya.
"Diandra!" pekiknya.
Andra yang sedang memunguti buku langsung mendongak dan mematung. Ada Aydan yang sedang memandanginya. Lelaki itu membantunya memunguti buku di lantai.
"Maaf, Mas. Gak sengaja. Permisi," ucapnya mencoba kabur.
Namun, lengannya dicengkeram lebih cepat dari langkah kakinya. Aydan menahannya pergi.
"Jangan pergi dulu! Bisa gak aku ngobrol sebentar sama kamu?" lirihnya.
"Gak bisa, Mas. Mau nemenin Tari cari bahan," dalih Andra dengan perasaan mulai dag dig dug.
"Tari!" seru Aydan pada gadis berambut pendek itu. Dia mendongak.
"Ya?!"
__ADS_1
"Aku pinjam dulu ya temanmu. Kamu ditinggal sendiri gak apa-apa kan?"
"I-iya. Gak apa-apa, Mas." Tari tak kuasa menolak.
Andra langsung dibawa pergi ke meja paling pojok. Mereka duduk berduaan dalam satu meja. Gadis itu jadi gugup dan terus membuang muka saat Aydan menatapnya.
"Andra, apa aku ada salah denganmu?" cecar Aydan tanpa basa basi.
"Gak ada," jawabnya dingin.
"Kalau gitu apa kamu yang ada masalah denganku?" cecar Aydan lagi tak puas.
"Aku rasa gak ada juga," balasnya tanpa menoleh sedikitpun.
Sikap acuh tak acuh gadis di depannya membuat Aydan kesal. Ia sentuh bahunya, lalu memutar tubuhnya agar mereka bisa saling berhadapan. Kini keduanya saling beradu mata. Andra terpana dengan mata sendunya yang memikat hati.
"Bisa gak kamu jujur?" pinta Aydan.
"Jujur? Soal apa?" Andra angkat bahu.
"Hanya kamu yang tahu soal apa. Aku hanya merasa sikapmu ada yang aneh. Kamu seperti menjaga jarak denganku? Makanya aku tanya, 'apa aku ada salah denganmu?' tapi kamu bohong."
"Memang Mas Aydan gak ada salah denganku. Yang salah itu aku. Aku yang gak bisa konsisten dengan diri sendiri. Aku hanya takut menjilat ludah sendiri. Aku yang gak mau melanggar sumpahku sendiri," beber Andra.
"Soal apa itu? Soal kamu gak mau pacaran sampai lulus?" tebaknya.
Andra tercekat.
"Jadi benar ya soal itu?" sambungnya puas.
Gemas melihat sikapnya, Aydan malah membawanya pergi ke luar perpustakaan. Di lantai dasar keduanya berpapasan dengan Widia dan Ivane. Aydan tersenyum pada dua sahabat Andra itu. Keduanya kompak mengangkat jempol.
***
Dua hari yang lalu.
Di kost Widia siang itu sepulang dari kuliah. Andra duduk seperti orang pesakitan di sidang pidana. Widia dan Ivane mencoba menginterogasinya tentang Aydan, tapi gadis itu tetap bersikukuh tak ada hubungan apa-apa dengannya. Walaupun itu memang benar secara kasat mata. Sampai mereka membongkar isi tas dan buku sketsanya yang membuktikan sebaliknya.
Andra membisu ketika buku itu menampilkan berbagai pose seorang pria memakai kacamata, dengan tas di bahu kiri. Ada pose dengan tas di punggungnya. Pose hanya sekedar duduk sambil membaca buku. Bahkan yang sedang naik motor pun ada. Ia tak bisa membantah lagi saat ada begitu banyak figur sketsa Aydan di buku gambarnya.
***
Jam kuliah baru saja selesai untuk angkatan 2001. Aydan dan kedua temannya segera ke luar ruangan. Berjalan di koridor dari gedung B menuju gedung A. Namun, di tengah jalan dua orang mahasiswi menghalangi jalannya. Aydan mengenalnya sebagai teman dekat Diandra.
Ia geser ke sisi kanan untuk memberi mereka jalan. Tapi mereka pun ikut bergeser ke arah yang sama. Ia geser lagi ke sisi kiri. Mereka pun ikut bergeser ke arah yang sama lagi. Entah apa maunya. Akhirnya ia memutuskan berhenti melangkah. Bahkan kedua temannya yaitu Yoga dan Ryan pun ikut berhenti.
"Kalian berdua sebenarnya mau ke mana sih?" tanyanya kesal.
"Kami mau kamu ikut kami," balas Ivane dengan suara cemprengnya yang khas.
Sontak ketiga lelaki itu terkejut.
__ADS_1
"Kami bertiga?" tanyanya heran.
"Bukan lah. Cuma Mas Aydan doang."
Tanpa persetujuannya, kedua gadis itu kompak menarik paksa seniornya yang tampak kebingungan.
"Wah ... wah ... wah .... Kenapa si Aydan mendadak jadi rebutan cewek-cewek ya?" komentar Yoga.
Ryan cuma angkat bahu. "Mungkin pesonanya dia baru nongol," jawabnya asal sambil terkekeh.
Di suatu tempat yang sepi di ruang kuliah yang kosong, Aydan malah dipelototi oleh dua adik kelasnya.
"Kalian itu mau apa sih?" tanyanya heran.
"Kami mau Mas Aydan jujur," titah Widia dengan tatapan serius.
"Jujur? Soal apa?"
"Soal Diandra. Teman kami. Ada hubungan apa antara kalian berdua?" cecar Ivane kali ini.
"Hubungan? Kami gak ada hubungan apa-apa." Jawaban yang sama seperti yang dilontarkan Andra.
"Maksudnya ... Apakah kalian berdua ada rasa satu sama lain?" tekan Widia.
"Apa hubungannya sama kalian?" Aydan terkekeh geli.
"Jelas ada. Karena kami sahabatnya Andra."
"Tapi ini kan masalah pribadinya," sanggah Aydan.
"Memang. Tapi kami gak suka kalau sahabat kami itu selalu terlihat sedih. Jadi sebaiknya Mas Aydan jujur kalau enggak ...." ancam Widia sambil memicingkan matanya.
Aydan sudah siap-siap mendengar ancaman apa yang akan dihadapinya. Tapi ...
Dua gadis itu tiba-tiba bertekuk lutut di lantai dengan kedua tangan memohon padanya. Wajahnya mengiba begitu menyedihkan seolah akan dihukum pancung.
"Tolong jangan sakiti perasaan Andra, Mas. Kami kasihan sama dia," lirih keduanya kompak tanpa komando.
Dahi Aydan mengernyit. "Memangnya siapa yang mau menyakiti perasaan dia?"
"Mas Aydan lah."
"Aku? Bukannya sebaliknya? Justru dia yang gak mau jujur dan terbuka," balasnya.
"Lho kok gitu?" Widia dan Ivane saling lempar pandangan.
"Iya. Aku tahu alasan dia apa. Latar belakangnya apa dan mengapa memilih menutupi. Aku tahu semuanya. Aku hanya bisa diam menunggu. Sampai dia lulus," ungkapnya dengan perasaan sedikit tertekan.
Kali ini wajah kedua gadis itu makin kebingungan. "Kok kayaknya Mas Aydan jauh lebih tahu tentang dia ya daripada kami?"
Bukannya menjelaskan, lelaki yang kerap mendengarkan lagu lewat iPod itu malah terkekeh-kekeh.
__ADS_1
"Sekarang kalian mau apa dariku?" lanjutnya lagi.
***