Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
(Bukan) Sepatu Cinderella


__ADS_3

Kali ini meskipun motor sport itu mengebut di jalanan sekencang apapun, tetap saja Diandra tak mau memeluk pinggang lelaki di depannya. Cukup dengan berduaan dalam satu motor saja sudah membuat hatinya kacau. Aydan pun tak memintanya. Kebisuan menemani keduanya selama perjalanan.


Barulah ketika sampai di sebuah rumah indekos bertingkat 2 lantai, Diandra mulai angkat bicara. Ia penasaran. Indekos siapakah itu?


"Aku ngekost di sini. Asal kamu tahu aja," ungkap Aydan sambil menutup pintu gerbang.


"Kenapa aku dibawa kemari?"


"Aku sudah tau kos-kosanmu. Sekarang giliranmu," jawabnya.


"Buat apa?"


Aydan terus berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dasar. Ada banyak kamar berjejer rapih dengan nomor berurutan di tiap pintu. Terasnya pun tak terlalu luas. Hanya berukuran 1,5 meter saja. Cukup untuk menerima tamu di depan kamar walaupun sudah disediakan ruangan khusus untuk menerima tamu di bagian depan. Namun, Aydan meminta Andra duduk di teras depan  kamarnya.


Setelah tamu perempuannya duduk di teras, Aydan membuka pintu dan masuk kamar. Andra jadi penasaran seperti apakah isi kamarnya. Ia berusaha mengintip ke dalam, tapi Aydan sudah kembali ke luar dengan membawa sebuah minuman dingin dan juga cemilan.


"Gak usah repot-repot, Mas. Aku ke sini bukan untuk bertamu," ujar Andra ketus.


"Aku tahu, tapi tetap saja kamu tamuku karena aku yang membawamu kemari."


Penjelasannya tak bisa Andra bantah lagi. Ia diam menunggu sesuatu hal yang akan terjadi berikutnya. Karena dia sendiri bingung mau apa. Sebenarnya ia merasa takut dibawa ke kos-kosan laki-laki. Kecuali untuk mengerjakan tugas kuliah bersama.


Aydan pun tak melakukan sesuatu. Hanya duduk di sebelah Andra sambil memandanginya. Membuat suasana jadi canggung. Lama-lama Andra jadi kesal juga. Ia bangkit.


"Kalau kita cuma duduk diam doang lebih baik aku pulang aja deh," protesnya.


Dipikirnya senior itu akan menahannya pergi, tapi ternyata tidak. Aydan hanya menyuruhnya meminum minuman yang sudah disediakan lalu Andra boleh pergi. Oke. Gadis bertubuh langsing itu setuju. Ia minum minuman manis itu lalu siap pergi. Tapi tunggu dulu. Ia tak melihat tasnya.


"Tasku ada di mana ya?" tanyanya sambil mencari-cari.


"Tasmu ada di dalam kamar. Silakan ambil sendiri," jawab Aydan santai. Ia sendiri sibuk bermain ponsel.


"Katanya aku ini tamunya, tapi kok malah dicuekin? Dasar aneh!" gerutu Andra kecewa.


Dengan hati-hati ia masuki kamar berukuran 3x4 meter itu. Belum termasuk kamar mandi dalam. Untuk ukuran kamar kos tergolong cukup luas.


Ia terkesima melihat isinya. Ternyata cukup rapih dan bersih untuk ukuran kamar laki-laki. Tempat tidur ukuran nomor 4, lemari pakaian 2 pintu dengan cermin di depannya. Meja belajar dengan komputer di atasnya. Rak buku setinggi 1,5 meter lengkap dengan peralatan menulis. Keranjang plastik tempat pakaian kotor di depan kamar mandi dan juga ada maket STUPA di bawah tempat tidur. Bahkan kamar Ivane yang seorang perempuan masih kalah berantakan. 


Tasnya sendiri tergeletak di atas kasur. Entah kapan Aydan membawanya masuk ke dalam. Secepatnya diambil tas gendong itu. Saat berbalik matanya melihat sesuatu yang sangat tidak asing di atas lemari pakaian. Ialah sepatunya sendiri.


Andra berusaha menggapainya, tapi tak cukup sampai. Lalu Aydan mendekat. Tepat di depannya lelaki itu membantu mengambilkan sepatu itu. Jarak tubuh mereka hanya 5 sentimeter. Begitu rapat hingga indera penciumannya bisa merasakan aroma maskulin. Sama seperti saat dibonceng. Namun, kali ini tubuh keduanya jauh lebih intim dan perasaan berdebar itu seketika menghantamnya.

__ADS_1


Setelah sepatu itu berada di tangan Aydan, bukannya segera memberikan pada Diandra, ia malah mengacungkannya di depan wajah gadis itu.


"Kamu tahu siapa pemilik sepatu ini?" tanyanya dengan ekspresi serius.


Andra bingung mau jujur apa tidak. Sebab dialah yang sudah melempar sepatu itu dan tepat mengenai kepalanya saat di tempat parkir kampus. Ia tak menyangka bahwa orang itu adalah Aydan. Ia tidak ingat bagaimana warna motor dan jenisnya, termasuk helmnya saat peristiwa terjadi. Khawatir pria itu marah, Andra memilih pura-pura tidak tahu.


"A-aku gak tahu, Mas. Emangnya kenapa ya?"


"Kalau aku tahu aku mau dia ngambil sendiri sepatunya."


"Terus?" Andra mendongak ke wajah Aydan yang lebih tinggi posisinya. Sedangkan Aydan sedikit menunduk ke arah Andra.


"Terus aku mau marah-marah sama dia. Kepalaku sakit banget dilempar sepatunya. Aku salah apa? Padahal masih pakai helm. Sakitnya sampai membekas di hati," ungkapnya sambil menatap Diandra.


Andra menelan salivanya. Tenggorokannya terasa tercekik.


"Cuma mau marah-marah doang? Kalau dia gak sengaja dan mau minta maaf gimana?" Mata Andra membulat dan ia merasa menyesal.


"Gak sengaja lagi? Mau minta maaf lagi?" Aydan menyeringai.


"Lagi?" tanya Andra bingung.


Seolah pria itu tahu bahwa pemilik sepatu itu sering melakukan hal-hal yang tak sengaja dilakukan padanya. Mungkinkah sebenarnya dia tahu sesuatu?


Semburat malu kini bersemai di wajah Andra. Seniornya itu mencondongkan wajahnya tepat di depan wajah Andra yang bersemu merah. Kedua netra mereka saling tatap. Bayangan dirinya tampak di retina lelaki itu. Jantung memompa darah lebih kencang menghadirkan irama detak yang seperti genderang perang.


Lalu sebuah kecupan kecil menyentuh bibirnya selama beberapa detik. Terasa hangat dan lembut. Dunia seakan berhenti sejenak. Rasanya ia ingin pingsan saat lelaki itu nekat melakukannya tiba-tiba meski hanya beberapa detik. Lalu ia tersenyum dengan mata berbinar-binar bahagia.


"Maaf gak sengaja," katanya sambil mengedipkan sebelah mata.


Rasa bahagia yang tadi menjalar hingga ke seluruh sendi kini berubah jadi kekesalan. Andra memukul gemas dada Aydan.


"Ih apaan sih, Mas? Nakal banget!" protesnya kesal.


Tangan yang memukul-mukul itu ditangkapnya. Lalu tangan Aydan yang satu lagi mengacungkan kembali sepatu kets itu.


"Jadi kamu tahu gak siapa pemilik sepatu ini?"


Andra masih tak mau mengaku. Ia geleng-geleng kepala.


"Sayang sekali. Padahal kalau tahu aku mau ngasih dia hadiah."

__ADS_1


"Hadiah? Kok hadiah sih?" tanya Andra heran. Baginya terasa aneh.


"Iya. Gara-gara sepatu ini aku jadi bisa cium kamu dan ..."


Kembali netra mereka saling beradu makin dalam.


"Dan ...?" Andra dibuat penasaran. Debaran jantungnya makin menggila. 


"Dan ... menemukan Cinderellaku. Jadi aku mau ngajak dia nikah nanti."


Gadis itu tercengang hingga mulutnya menganga tanpa sadar.


"Mas ... Jangan bercanda deh!"


"Apa aku terlihat sedang bercanda?" Memang wajah Aydan begitu serius. Tidak seperti sebelumnya.


"Ta-tapi aku ...." Pikiran Andra terasa kosong. Ia tak bisa berpikir jernih. Yang dirasakannya hanya detak jantung yang bertalu-talu dan perasaan bahagia yang tak terkira. Kakinya pun mulai lemas. Andra ambruk ke lantai. Aydan cemas.


"Kenapa? Kamu sakit?"


"Tolong antar aku pulang, Mas. Gak baik juga kita berduaan di dalam kamar. Nanti ada yang lihat dan mikir yang enggak-enggak gimana?" ujar Andra khawatir.


"Tapi urusan kita belum selesai kan?"


"Urusan apa? Aku bukan pemilik sepatu itu," kilahnya.


Ada percikan kekecewaan di mata Aydan.


"Serius kamu masih gak mau terbuka?" kecam Andra. Ia meraih tangan Andra lalu menempelkan di dadanya. Terasa denyut jantung yang cepat di dalam sana. Sama seperti dirinya.


"Apa kamu gak bisa merasakannya? Setiap kali bersamamu detak jantungku jadi cepat. Kamu tahu apa artinya?" ungkap Aydan sambil memandangi Andra yang mulai gelisah.


"Itu artinya aku senang bersamamu. Semakin ke sini semakin sering memikirkanmu. Ternyata aku jatuh cinta padamu, Diandra. Asal kamu tahu. Kalau boleh jujur, aku begitu cemburu dan kesal saat Agung menembakmu. Aku juga kesal saat temanmu si Riko pura-pura jadi pacarmu. Kesal juga saat mereka bilang kamu itu 'jeruk makan jeruk'. Dan juga makin kesal saat kamu gak mau mengakui perasaanmu padaku. Gak mau terbuka dan jujur. Padahal aku tulus. Apa susahnya sih mengakui itu?" beber Aydan kecewa.


Semua pengakuan itu membuat Andra terperanjat. Tentu saja jauh di dalam hatinya ia merasa begitu bahagia, tapi sebuah janji kembali mengingatnya. Rasanya akan memalukan jika ia gagal mewujudkannya. Apalagi dia sudah terlanjur berjanji bukan hanya pada dirinya sendiri, tapi juga ibunya.


Dengan sangat terpaksa Andra tetap tak mau mengakui perasaannya. Ia memilih pergi dari kos-kosan itu. Meninggalkan Aydan yang kecewa dalam kamarnya.


***


Thanks bgt yang masih berlanjut bacanya.

__ADS_1


Support dengan memberikan like, vote, atau gift.


__ADS_2