
"Ndra, gue pergi dulu ya," ujar Widia yang sudah berdandan rapih dan cantik.
"Eh, mau ke mana lo?" Andra yang masih sibuk mencuci pakaian di belakang kosan langsung menghentikan pekerjannya.
"Mau jalan-jalan sama Mas Yuda. Hehehehe ...." Wajah Widia tampak malu.
"Lho? Gak nyangka kalian jadi lebih akrab gitu."
"Iya dong. Udah ya. Caooo ...," balasnya sambil melambaikan tangan dan tersenyum semringah.
Andra pun kembali mengucek pakaian kerjanya. Tak berapa lama Ivane yang centil juga menghampiri. Ia sudah tampil kece dengan rok 3/4 berwarna peach, blouse lengan panjang, dan tas selempang. Dia tampak begitu feminim.
"Mau ke mana udah gaya begitu? Kondangan?" seloroh Andra.
"Enak aja. Gue mau ngedate lah," jawabnya sambil merapihkan baju.
"Hah?! Sama siapa? Emang elo udah gak jomblo lagi?"
"Ya masih jomblo, sih. Tapi gue lagi proses menuju tidak jomblo lagi. Hehehe ...," ungkapnya sambil malu-malu kucing.
"Emang ada yang mau sama elo? Pecicilan begitu."
"Ya adalah. Tega banget ngomongnya. Gue kan cantik dan lucu. Minum teh tanpa gula aja kalau lihat gue jadi manis," bantahnya dengan senyum lebar. Menampilkan gigi putihnya yang berkilauan.
"Alhamdulillah kalau begitu. Gue ikut senang deh ada cowok yang mau sama elo. Btw, siapa dia?"
Ivane menggoyangkan tubuhnya bagai tersapu ombak ke sana kemari. Wajahnya bersemu merah.
"Itu lho. Cowok yang kemarin. Temen kantor elo juga. Mas Dika yang ganteng. Hihihi ...," ungkapnya malu.
"Ya ampun. Kenapa kalian berdua jadi pada pedekate sama temen kantor gue semua?" tanya Andra sambil terkekeh.
"Lho kan, emang tujuannya itu. Untuk mencari jodoh dan pacar. Kalau enggak, ya ngapain gue mau ikutan. Gue juga kan pengen punya ayang. Masa jomblo melulu statusnya dari sejak masih anak sekolah."
"Jomblo bukan aib kali, Ne. Jomblo itu pilihan. Biarkan jodoh datang sendiri," papar Andra sok bijak.
"Iya ngerti gue, tapi jodoh juga kudu dicari, Neng. Masa kita mau diem aja. Udah ah. Elo nyuci aja sana! Siapa tahu ketemu jodoh elo di ember. Tuh ada duit lima ratus di ember, jodoh elo tuh," kelakarnya sambil berlalu pergi. Andra melirik ke ember ada uang hijau bergambar orang utan yang terselip di saku celana kerjanya.
"Sialan!" Ia melempar gayung berisi air ke arah Ivane yang sudah ngacir sambil terbahak-bahak.
"Jangan lupa pulangnya bawain gue martabak telor. Pake telor dinosaurus biar kenyang," teriak Andra.
"Dinosaurus udah punah. Adanya telor cicak," teriak Ivane juga. Suara cemprengnya begitu membahana di rumah indekos itu. Ia melambai-lambai tangan dari kejauhan lalu menghilang di balik pagar kosan.
Kini tinggal Andra saja dari Trio Jomblowati itu yang masih bertahan di kosan. Sibuk dengan pekerjaan cuci mencuci dan bersih-bersih kamar kosannya. Ajakan dari Cheeky semalam untuk bertemu jadi kepikiran lagi. Ia melamun di kamar sambil beristirahat di kasur.
"Enaknya gue terima ajakannya apa enggak ya? Garing banget di kosan sendirian," gumamnya.
***
Deretan rak buku berisi novel-novel dari penulis luar negeri tertata rapih di depan Andra. Ia kebingungan ingin membeli yang mana untuk bahan bacaan di kala senggang. Salah satu penulis favoritnya adalah Jane Austen. Semua novel klasiknya sudah ia miliki. Bahkan filmnya pun sudah ia tonton. Jadi kini ia harus mencari novel karya penulis lain. Novel genre romansa selalu jadi yang paling ia suka, selain romansa religi seperti karya Habiburrahman El Shirazy untuk penulis lokal dan juga novel misteri karya Sir Arthur Conan Doyle dan Agatha Christie. Satu lagi ia suka karya-karya Stephen King juga.
__ADS_1
Sambil mencari-cari novel, ia pun sedang menunggu seseorang di sana. Berkali-kali matanya melirik ke jam tangannya. Menghitung sudah berapa lama teman misteriusnya itu terlambat datang dari perjanjian.
Saat di kamar kosan, akhirnya Andra berubah pikiran. Ia memutuskan menerima ajakan Cheeky untuk bertemu. Agar tidak salah orang, keduanya kompakan memakai out fit berwarna merah. Cheeky memakai topi merah dan Andra memakai blouse berwarna merah marun.
Namun, sampai ia menemukan novel apa yang akan dibeli lalu dibayar di kasir, sosok pria misteriusnya belum juga tampak. Setiap ada pria yang memakai topi walaupun bukan warna merah, Andra akan segera mendekati dan bertanya, "Kamu Cheeky?"
"Chiki? Saya gak jualan Chiki, Mba," jawabnya.
"Eh, bukan snack itu maksudnya, Mas. Itu nickname di akun mIRC," terangnya.
"Akun mIRC? Apaan tuh, Mba?"
Pria-pria yang ditanya seperti itu akan kebingungan saat ditanya. Jelas mereka tidak pernah bermain di situs online itu sepertinya. Memang sudah mulai ketinggalan zaman di saat aplikasi BBM sedang trend, pikir Andra. Ia hanya bisa menghela napas kecewa.
"Ya udah maaf, Mas. Salah orang kayaknya."
Pria itu hanya mengangguk lalu pergi. Sementara Andra mulai merasa kesal dan bosan. Akhirnya ia pergi dari toko buku itu. Mengingat waktu sudah semakin sore dan jam pertemuan mereka untuk bertemu sudah terlampau terlambat. Padahal ia sudah berulang kali mengirim pesan, tapi belum juga dibaca. Akhirnya Andra pulang dengan rasa kecewa berkali-kali lipat.
Beberapa puluh menit sebelumnya. Seorang pria bertopi merah bersembunyi di balik rak buku. Memperhatikan Andra yang tengah sibuk membaca sampul belakang novel. Pria bertopi merah itu tampak ragu-ragu ingin mendekatinya. Ketika kakinya baru melangkah, ia malah melihat sesosok pria yang sedang melintas tak jauh darinya. Matanya terbelalak menyadari siapa pria yang memakai jaket berwarna biru itu.
"Bang Arvin?" gumamnya.
Sekarang ia menjadi bimbang. Antara ingin menemui gadis yang memakai blouse berwarna merah marun itu atau mengejar pria memakai jaket biru dongker itu. Akhirnya ia memutuskan untuk mengejar pria itu dan segera beranjak dari tempatnya. Meninggalkan Andra yang masih setia menunggu dirinya.
Pria bertopi merah terus mengawasi ke mana pria berjaket biru yang pergi bersama seorang wanita sampai ke luar toko buku di dalam Mall. Ramainya pengunjung Mall di akhir pekan itu membuatnya sedikit kesulitan mengejar. Berkali-kali ia berteriak memanggil namanya, tapi pria itu tak mendengar. Terus saja berjalan. Hingga menghilang di antara kerumunan pengunjung.
Pria bertopi merah itu mendesah kecewa. Akan tetapi, ia pantang menyerah dan tak kurang akal. Ia hampiri meja CS Mall dan meminta CS-nya untuk memanggil pria bernama Arvin Saskara melalui pengeras suara.
"Selamat sore. Pengumuman bagi pengunjung Mall Artha Gading. Ada panggilan untuk pengunjung Mall bernama saudara Arvin Saskara, ditunggu oleh saudaranya di meja CS segera. Sekali lagi ada panggilan untuk pengunjung Mall bernama saudara Arvin Saskara ditunggu saudaranya di meja CS segera. Terima kasih atas perhatian Anda dan selamat menikmati waktu Anda bersama keluarga."
Sekali lagi suara denting itu terdengar sebagai penutup pengumuman.
"Sudah, Pak. Silakan ditunggu saudaranya," ujar CS ramah itu dari balik meja.
"Terima kasih, Mba."
Lalu pria bertopi merah itu bersembunyi di balik pilar tinggi di lobi utama Mall. Ia menunggu datangnya umpan. Sesuai harapannya, pria berjaket biru dongker bersama seorang wanita yang tadi ia kejar akhirnya muncul dan mendatangi meja CS.
"Mba, tadi aku dengar pengumuman katanya ada yang nyari aku, ya?"
"Anda yang bernama Arvin Saskara?" tanya CS itu.
"Iya betul. Siapa yang sudah mencariku, Mba?"
"Katanya saudara Bapak. Tadi dia nungguin di sini, Pak." CS itu celingukan mencari sosok pria bertopi merah tadi yang sudah tidak ada.
"Beneran saudaraku, Mba? Namanya siapa?" Ia tampak serius dan penasaran.
"Mohon maaf, Pak. Dia tidak mau menyebutkan nama. Katanya pasti Bapak akan tahu siapa saudaranya. Mungkin dia masih ada di sekitar sini," jawabnya.
Merasa dikerjai seseorang, pria berjaket itu memilih pergi saja.
__ADS_1
"Memangnya kamu ada saudara di Jakarta?" tanya teman wanitanya.
"Enggak ada. Ayo kita pulang saja!" ajaknya sambil merangkul pinggang wanita itu. Keduanya segera pergi.
Diam-diam pria bertopi merah itu menguntit keduanya hingga ke tempat parkir Mall di dalam gedung.
Pintu mobil dibukakan oleh pria berjaket itu untuk teman wanitanya. Ia sendiri segera membuka pintu satunya. Tetapi, belum juga masuk, tiba-tiba bahunya ditepuk oleh seseorang dari belakang. Ia menoleh dan matanya terbelalak. Seorang pria bertopi merah dan memakai kacamata sangat tidak asing baginya.
"Kamu? Ada di sini juga?"
"Ayo kita pulang, Bang!" pintanya tegas sambil mencengkeram tangan pria itu.
"Pulang ke mana? Rumahku di sini sekarang dan aku lebih suka di sini." Ia menepis tangan pria bertopi itu.
"Ini bukan masalah suka atau enggak. Ada tanggung jawab yang harus kamu lakukan, Bang."
"Tanggung jawab apanya? Dia yang menjebakku. Aku gak mau!" tekannya geram.
"Tapi kasihan ayah dan ibu, Bang. Mereka jadi pusing mikirin Abang."
"Nanti aku akan pulang kalau sudah waktunya," tekannya sambil masuk ke mobil.
Merasa urusannya belum selesai, pria bertopi merah itu menarik paksa keluar pria itu. Dia pun berang.
"Mau apalagi, sih?" bentaknya.
"Masalahmu harus diselesaikan, Bang! Jangan kabur dari masalah," teriak pria bertopi itu mulai habis kesabaran.
"Ini caraku menyelesaikan masalah."
"Dengan cara pengecut begini? Dengan kabur dari tanggung jawab dan malah senang-senang dengan cewek lain?" bentaknya geram.
Wanita di dalamnya merasa tersinggung. Ia mendengkus kasar.
"Kalau kamu merasa lebih baik dariku, silakan ambil cewek itu. Aku sudah muak dengan dia."
"Mana bisa begitu, Bang! Dia hamil anakmu. Kamu yang harus menikah dengannya. Bukan aku!"
"Kalau kamu gak mau juga ya sudah. Tinggalkan saja dia! Dan, jangan sok jadi pahlawan!" Pria berjaket itu kembali masuk mobil, tapi ditahan oleh pria bertopi.
"Jangan pergi, Bang!" teriaknya.
"Pergilah! Jangan cari aku lagi!"
"Bang, kumohon jangan pergi! Aku jadi repot karenamu. Aku gak bisa menikahi dia," ungkapnya gusar.
Sialnya, pria berjaket itu malah menghajar wajahnya begitu keras hingga ia tersungkur. Masuk mobil buru-buru dan pergi. Pria bertopi itu berusaha mengejar mobil itu sambil menggedor-gedor kaca mobil, tapi gagal.
"Sialan!" umpatnya sambil membanting topi merahnya ke lantai. Amarahnya makin meledak dan ia putus asa.
"Aku harus kembali," ujarnya teringat pada gadis berbaju merah marun di toko buku. Ia segera berlari kembali masuk ke dalam toko buku dan mencarinya ke setiap lorong rak buku. Sayangnya, gadis itu sudah tidak ada. Ia kecewa dan makin kesal.
__ADS_1
***