Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Bertemu Lagi


__ADS_3

"Iya. Kamu diterima kerja di sini. Selamat. Mau mulai kerja hari ini atau besok terserah kamu, tapi kamu harus tahu dulu siapa rekan kamu nanti," jawabnya.


Hati Andra berbunga-bunga, tapi mendadak teringat sesuatu. "Emm maaf, Mas. Mengenai gajinya gimana?" tanya Andra malu-malu.


Pria itu terkekeh. "Kita bahas nanti ya. Yang pasti gak receh."


Imam mengajak Andra berkeliling kantornya yang mulanya sebuah rumah tinggal. Ia diperkenalkan dengan beberapa karyawan yang berada di sana. Didominasi oleh pria. Rata-rata masih dibawah 30 tahun. Tidak berbeda jauh dengan usianya.


Saat ia diajak berkeliling kantor, karyawan pria di sana beberapa kali menggodanya. Walaupun hanya sekedar bercanda dan hiburan untuk menghilangkan penat dari beban tugas mereka, Andra tak merasa terganggu akan hal itu.


"Asyik, bisa cuci mata. Ada yang segar juga akhirnya," celetuk salah satu dari mereka.


"Mba, masih jomblo kan? Kami semua siap jadi calon imam, lho," seloroh mereka sambil terkekeh.


"Iya. Bikin rumah keren aja bisa, apalagi bikin rumah tangga bahagia sejahtera," canda mereka lagi.


Dan, candaan-candaan lainnya yang hanya ditanggapi sambil lalu oleh Andra. Ia begitu paham jiwa-jiwa kesepian dan haus hiburan itu butuh selingan di tengah-tengah jadwal deadline. Tak jauh berbeda saat ia masih menjadi mahasiswi.


"Nah, berhubung kamu masih sebagai junior arsitek. Desain yang kamu buat akan dipandu oleh senior arsitek kami. Aku akan memperkenalkan kalian," tutur Imam sambil mengajaknya ke sebuah ruang kerja.


Pintu kaca dibuka. Nampak seorang pria sedang sibuk di belakang layar monitor yang cukup panjang hingga menutupi wajahnya. Andra penasaran siapa atasannya itu.


"Masih belum beres?" tanya Imam pada pria itu.


"Iya, nih. Banyak banget revisinya," jawabnya tanpa menoleh.


"Bisa minta waktunya sebentar? Kita ada karyawan baru lho."


"Sudah dapat ya? Jangan cowok lagi. Bosen. Gak ada pemandangan indah banget di sini," keluhnya.


"Iya, makanya sini dulu sebentar, Bro," tekan Imam kesal.


Sementara Andra sudah bertanya-tanya dan menunggu siapa senior arsitek yang akan jadi atasannya itu.


Pria itu mengintip dari balik monitor. Ia terkesiap selama beberapa saat. Andra heran melihat sikapnya. Lalu pria itu mencari sesuatu di meja. Ia balik badan memunggungi keduanya. Lalu perlahan berdiri dan balik badan lagi dengan sebuah kacamata yang sudah dipasang. Kini Andra yang terkejut melihatnya hingga mulutnya menganga. Ia tak menyangka akan bertemu kembali dengan seniornya yang telah meruntuhkan dinding hatinya beberapa tahun terakhir.


Andra terpesona pada penampilan baru seniornya. Pria itu tampak elegan dengan setelan kemeja abu-abu yang menempel sempurna di badan atletisnya, celana panjang hitam di kaki jangkungnya, rambut hitam klimis tertata rapih, aroma wangi maskulin, dan jam tangan besar berwarna hitam di pergelangan tangan kiri.


"Nah, silakan kalian ngobrol-ngobrol dulu. Biar lebih mengakrabkan diri. Aku mau keluar dulu," celetuk Imam. Sebelum pergi ia tersenyum pada Andra.


Di pintu, Imam bicara lagi, "Selamat reunian ya." Lalu ia pergi. Pintu ditutup rapat.


Tinggallah mereka berdua. Jantung Andra berdetak hebat. Apalagi saat pria itu memperhatikannya dan menatap dalam-dalam padanya. Andra jadi canggung sendiri hingga ia mengusap tengkuknya. Ia merasa tidak percaya diri. Penampilannya tidak banyak berbeda saat di kampus. Tetap casual memakai celana panjang biru, blouse lengan pendek, flat shoes, dan tidak terlalu modis. Hanya rambut panjangnya yang biasa diikat, kini sedikit lebih pendek tanpa poni di dahi.

__ADS_1


"Apa kabar, Diandra?" tanyanya lembut.


"Ba-baik, Mas."


"Silakan duduk dulu!" pintanya tenang.


Andra duduk ragu-ragu di depan meja kerja. Pria itu pun duduk di depannya. Menyingkirkan monitor besar yang menghalangi di antara mereka. Kini keduanya saling berhadapan. Desiran di hati terasa lagi seperti saat di kampus.


"Andra, pasti kamu kaget kan?"


"I-iya, Mas."


"Sama aku juga. Gak nyangka banget kamu ngelamar kerja di sini. Yang aku tahu kamu kerja di kontraktor BUMN. Kenapa keluar?"


"Udah habis kontraknya, Mas."


"Oh gitu."


'Kok dia bisa tahu tentang aku ya?' batin Andra heran. Padahal sudah 3,5 tahun sejak foto-foto itu dikirimkan ibunya mereka tidak pernah saling berhubungan lagi.


"Ya udah. Semoga kamu betah kerja di sini. Maaf kalau nanti mereka agak usil. Maklum tadinya di sini cowok semua. Jadi kalau ada karyawan cewek jadi pada baper dan salting," ungkapnya.


Andra mengangguk kecil. Sekilas ia melihat ada cincin di jari manis seniornya itu.


Tidak berani bertanya, Andra hanya bisa menebaknya. Perasaan sedih dan kecewa merangsek masuk. Terbesit ide untuk membatalkan kontrak kerjanya, tapi ia bingung. Sementara ia butuh pekerjaan baru.


Setelah berbasa-basi sedikit dalam kecanggungan, akhirnya Andra diantarkan pada meja kerjanya. Yang posisinya tepat berada di depan ruangan seniornya itu. Setelah mengantarkannya, senior itu kembali masuk ke ruang kerjanya.


Di kursi kerjanya, debaran jantung gadis itu masih berpacu cepat. Ia berusaha menghela napas berkali-kali agar lebih tenang. Nyatanya, hati gadis itu malah belingsatan saat seniornya itu tiba-tiba tersenyum manis padanya dari dalam ruangannya di depan sana.


Andra berusaha fokus pada layar monitor di depan. Namun, matanya terus saja melirik ke arah di mana seniornya itu berada. Sampai akhirnya, seniornya itu bangkit, keluar ruangan, dan berjalan ke arahnya.


'Mau apa dia kemari lagi?' batinnya cemas.


Kini, pria itu sudah berdiri di depannya dengan tatapan yang membuat jantung Andra berdebar-debar lagi.


"Aku lupa mau ngasih tahu tentang proyek yang sedang kami kerjakan sekarang. Proyek yang dikerjakan oleh karyawan sebelumnya. Semua berkas proyek ada di Drive D," ungkapnya.


"Oh gitu. Oke. Nanti aku cari, Mas. Nama proyeknya apa?" tanya Andra sambil berusaha tetap kalem. Sementara tangannya yang masih memegang mouseĀ  di meja langsung bergerak membuka Drive D.


"Nama proyeknya Rumah Cendrawasih Mr. Bowo," jawabnya.


Sayangnya, karena grogi dengan kehadiran senior di sampingnya yang terus mengawasi, file proyek yang dicari tak kunjung ditemukan. Ada puluhan file folder yang berderet di layar dengan nama berbeda-beda dan nama yang hampir sama.

__ADS_1


Menyadari kebingungan Andra, seniornya itu berinisiatif membantunya dengan ikut memegang mouse yang masih dipegang Andra. Begitu kedua tangan kanan mereka saling bersentuhan dan bertumpuk, terasa seolah ada aliran listrik yang merambat ke seluruh tubuhnya. Tubuh Andra mendadak kaku dan ia tak bisa melepaskan diri saat tangannya digenggam oleh pria itu. Terasa hangat dan lembut hingga ke hati.


Aroma maskulinnya begitu lekat di indera penciumannya. Andra makin tersihir oleh pesonanya. Sementara pria itu terus sibuk mencari folder yang dimaksud.


"Duh, anak itu taruh di mana ya?" gumamnya bingung.


"Biar aku cari sendiri, Mas," ujar Andra gelisah karena tangannya masih di genggam erat.


"Udah aku aja. Kamu belum terbiasa dengan komputer ini, kan?" balasnya sambil menoleh ke wajah Andra hingga kedua mata mereka saling beradu dan wajah mereka begitu dekat.


Tenggorokan Andra terasa kering. Ia sampai menelan ludahnya. Ia berusaha membuang muka ke arah lain, tapi matanya malah kembali melihat cincin di jari manis kiri pria itu. Ada sayatan tipis di hatinya. Hingga ia tak tahan lagi karena jantungnya juga serasa mau loncat dan memilih pergi ke keluar ruangan sambil berlari. Sedangkan seniornya itu malah tertegun melihat reaksinya. Sedetik kemudian ia malah senyum-senyum sendiri.


***


Tanpa pikir panjang lagi, Andra pergi ke luar untuk menghubungi kedua sahabatnya dalam grup telepon dengan napas tersengal-sengal. Dadanya masih berdegup kencang.


Menceritakan kepada mereka tentang apa yang baru saja terjadi. Andra tampak girang, tapi sedih dan khawatir bila teringat cincin yang tersemat di jari manis seniornya.


"Ah, bukan cincin tunangan barangkali," pikir Ivane berusaha menenangkan Andra melalui telepon.


"Kalau bukan cincin tunangan, terus apalagi? Cincin kawin? Mana ada cowok pakai cincin biasa tanpa ada maksudnya? Kecuali cincin batu giok." bantah Andra kesal.


"Kalau begitu mudah-mudahan aja cuma cincin tunangan. Selama janur kuning belum melengkung, masih ada kesempatan bersama kan?" komentar Widia tanpa mengetahui bahwa perasaan Andra sudah resah sekali.


"Iya, kalau dia masih mau sama gue? Buktinya dia begitu mudah melupakan gue. Omongannya gak bisa dipercaya. Sama kayak Nathan," gerutu Andra kecewa.


"Hei! Jangan samain dengan cowok itu. Waktu itu kalian emang udah berkomitmen, tapi kalau kamu dan dia beda. Kalian gak ada hubungan khusus, kan? Salahmu juga kenapa waktu itu gak nerima dia," omel Widia di telepon.


"Kenapa elo jadi nyalahin gue, sih? Kan kalian berdua tahu gue terlanjur janji sama ibu gue. Kan kalian tahu gue terpaksa menjauhi dia?" dalih Andra kesal.


Bukannya merasa lebih baik setelah berbicara dengan dua sahabatnya, perasaan Andra malah makin jengkel. Kini ia merasa separuh menyesal sudah diterima kerja di jasa konsultan itu.


"Apa ada masalah?" celetuk seseorang di belakang.


Andra menoleh cepat. Ia terkejut sudah ada seniornya di belakang dengan tatapan cemas. Lalu ia berpura-pura baik-baik saja.


Andra hendak melangkah kembali ke dalam kantor, tapi ketika melintas di depan seniornya itu, tangannya malah ditarik olehnya. Gadis itu terkesiap.


"Emmm, nanti siang kita makan bareng ya. Aku yang traktir," ajaknya.


Lidahnya kelu. Ia bingung harus jawab apa. Sementara tatapan mata pria itu tampak berharap ia mau menerima ajakannya.


***

__ADS_1


__ADS_2