
Andra kebingungan menjawab tawaran dari Aydan, seniornya itu. Ingin sekali menerima ajakan makan siangnya dan kembali mengobrol seperti dulu. Membahas tentang hubungan mereka yang merenggang dan mengapa ia terpaksa mengabaikannya.
Namun, belum juga memutuskan, sebuah panggilan telepon dari seseorang di ponsel pria itu mengacaukan rencana makan siang mereka. Seraut wajah kecewa tampak jelas di sana.
"Maaf. Kayaknya ajakan makan siangku terpaksa ditunda," ungkapnya menyesal.
"Gak masalah, Mas. Santai aja lagi. Aku juga udah ada janji dengan dua temanku," balas Andra sembari tersenyum untuk membuktikan dia tidak keberatan.
"Ooh. Dua temanmu itu Ivane dan Widia, kan?"
"Yup. Siapa lagi coba?"
"Mereka kerja di Jakarta juga?"
"Ya begitulah. Mereka selalu ingin mengekor di belakangku. Gak bisa jauh-jauh," beber Andra terkekeh.
"Keren juga persahabatan kalian. Kalau begitu nanti aku traktir kalian semua makan siang bareng suatu hari nanti. Gimana?"
"Boleh. Mereka memang paling senang kalau ditraktir makan dari dulu walaupun udah bukan mahasiswi kere lagi," jawab Andra sambil terkekeh lagi.
Aydan pun terkekeh mendengar kelakarnya. Perasaan Andra senang ketika ia bisa melihat tawa renyah itu. Lalu tawanya mengurai saat salah satu karyawan memanggilnya masuk. Mereka berdua pun masuk ke kantor bersama dan kembali ke meja kerja masing-masing.
***
Sebulan sudah ia mulai bekerja di sana bersama Aydan. Hatinya masih gelisah memikirkan status Aydan. Apakah sudah bertunangan atau yang lebih parah apakah sudah menikah? Apalagi ternyata perasaannya masih tetap sama seperti dulu ia mengenalnya dan berharap pertemuannya dengan senior idamannya itu bisa memberikan semangat baru. Ternyata makin hari justru makin tersiksa sendiri menyadari bahwa hubungan mereka kini tidak jauh berbeda seperti dulu.
Apalagi tatapan Aydan saat ia menjelaskan desainย bangunan secara detail dalam jarak yang begitu dekat seringkali membuatnya salah tingkah dan berdebar-debar terus.
Andra menghela napas lelah di kursi kerjanya. Baru kerja hampir sebulan, tapi rasanya sudah begitu berat. Bukan hanya karena pesona Aydan yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan saat masih menjadi mahasiswa, tapi juga segudang pekerjaan desain yang dikejar waktu tanpa ampun. Ia juga tersiksa dengan aura pria itu sepanjang hari. Sialnya, kedua sahabatnya malah terus memberikan dorongan agar tetap bertahan di sana saat Andra mengeluh.
Tiba-tiba sebuah email baru masuk dari perusahaan jasa konsultan lain. Ia dipanggil untuk wawancara kerja. Terbesit ide untuk pindah kerja lagi, tapi ada sebuah email lain yang sudah sangat lama yang belum terbaca terlihat di layar. Email dari teman online-nya yang dia sendiri tidak tahu kapan masuknya.
Isinya hanya menanyakan kabar. Dengan cepat Andra membalasnya dan mengajaknya untuk bertemu. Dua hari kemudian ia mendapatkan balasan setuju.
Sepulang bekerja, ia mampir ke sebuah kedai kopi di Mall besar tidak jauh dari kantornya. Ia tidak sabar menantikan kedatangan 'cheeky_tarou' dan penasaran dengan rupanya seperti apa.
Sayangnya, setelah sekian lama menunggu, teman misteriusnya justru tidak pernah datang sesuai janji. Tentu saja Andra kecewa berat. Ia pulang dengan wajah lesu.
Besoknya, sebuah email baru berisi permohonan maaf dari teman misteriusnya itu dikirimkan. Ia mengaku tidak bisa datang karena tiba-tiba harus lembur di kantor dan berjanji akan menepati datang lain hari.
Mau tak mau Andra harus memakluminya. Untuk menebus kesalahannya, teman misteriusnya itu kembali mengajaknya untuk chatting online lagi melalui sebuah aplikasi lain selain mIRC yaitu BBM. Sayangnya, tidak ada foto profil yang bisa mengungkapkan siapa 'cheeky_tarou' sebenarnya. Foto profilnya hanya sebuah foto sepasang sepatu olahraga berwarna biru yang tampak sedikit usang.ย
Dengan senang hati, Andra menerima pertemanannya. Ia bahagia bisa bernostalgia dan berbincang-bincang lagi dengan teman dunia mayanya kapan pun tanpa harus pergi ke warnet seperti dulu. Kini kemudahan berkomunikasi dengan siapa pun melalui teknologi telepon seluler terbaru saat itu membuat orang-orang beralih meninggalkan ponsel lama mereka yang sebelumnya hanya menggunakan SMS dan telepon saja.
Sebuah pesan BBM baru saja masuk di tengah-tengah kesibukannya mendesain. Andra tersenyum mengetahui siapa pengirimnya.
Cheeky : PING! Hai. Ganggu gak nih?
Andra : Gak juga. Gue lagi ngedesain seperti biasa. Hei, kapan kita bikin planning ketemuan lagi?
Cheeky : Wuah gak sabar ya pengen ketemu gue?
Andra : Iya lah. Tenang aja. Gue akan tetap nerima elo jadi temen gue walaupun jelek. ๐
Cheeky : Aih. Justru gue takut elo bakal jatuh cinta sama gue. ๐
__ADS_1
Andra : Ha-ha-ha. Pede juga elo ya? Emang bisa mengalihkan perasaan gue dari senior gue itu?
Cheeky : What? Jadi elo masih ada perasaan sama dia? Setelah sekian lama? ๐ณ
Andra : Sayangnya begitu. ๐ Tapi ...
Cheeky : Tapi apa?
Andra : Tapi dia kayaknya lupa sama omongannya dia sendiri yang bilang mau nungguin gue sampe lulus.
Cheeky : Maksud elo?
Andra : Dia udah tunangan. Atau malah udah menikah. โน๏ธ
Cheeky : Tau dari mana?
Andra : Gue liat cincin di jari manis dia.
Cheeky : Elo yakin? Udah konfirmasi? Udah tanya langsung?
Andra : Mana berani gue. Gue takut jawabannya malah bikin gue sakit hati. Jadi lebih baik gak usah nanya.
Cheeky : Elo masih mengharapkan dia?
Andra : Tadinya. Sekarang sedang usaha buat menghapus rasa ini. Gue tersiksa kerja bareng dia.
Cheeky : Beneran gak mau coba tanya langsung ke dia? Jangan berasumsi sendiri dulu.
Andra : Gak ah. Biarin semuanya terungkap sendiri. Gue gak mau berharap terlalu banyak lagi. Gue takut patah hati.
Andra : Udah ah jangan bahas gue. Btw, elo gawe di mana sih?
Cheeky : Masih jadi operator warnet. ๐
Andra : Ah. Jangan bohong. Masa jauh-jauh kerja di Jakarta cuma jadi operator warnet.
Cheeky : ๐คฃ
Andra : Hayo ngaku kerja di mana? Biar gue bisa samperin tempat kerja elo.
Cheeky : Gak usah repot-repot. Biar nanti kita ketemuan aja kalo udah waktunya.
Andra : Yah, kok gitu?
Cheeky : Udah gak sabar ya pengen ketemu gue?
Andra : Pastinya. Nanti elo gue kenalin sama dua sahabat gue.
Cheeky : Apa mereka tau soal gue?
Andra : Dulu nyaris ketahuan. Tapi sekarang mereka udah gak pernah kepo lagi.
Cheeky : Syukur deh. Sebaiknya gak usah tahu ya.
Andra : Btw, boleh tahu gak nama asli elo siapa? Kayaknya curang deh elo bisa tahu nama asli gue di profil. Sementara nama elo sama dengan nickname di mIRC.
__ADS_1
Cheeky : ๐ Apalah arti sebuah nama.
Andra : Ya ampun. Elo beneran curang deh. Untung foto profil gue udah gue ganti tadi sebelum gue terima pertemanan elo. ๐
Cheeky : Gpp. Nanti juga gue tahu muka elo gmn. ๐
Andra terus tersenyum selama chatting dengan Cheeky. Pekerjaannya jadi sedikit terabaikan. Hal itu disadari oleh Imam, pemilik konsultan arsitek tempatnya bekerja yang tak sengaja melihatnya. Andra ditegur dan hanya bisa meminta maaf.
"Cewek kalau udah ngobrol suka lupa waktu. Mau secara langsung, di telepon, ataupun di HP," gerutu Imam saat ia masuk ke ruang kerja Aydan.
Aydan terkejut melihat partner kerjanya baru saja masuk tanpa mengetuk pintu. Secepatnya ia menyimpan ponsel di saku celana dan langsung merubah posisi duduk lebih tegap dan serius.
"Ngomong apa tadi?" tanyanya.
Imam malah terpana ternyata Aydan pun tidak sedang fokus pada pekerjaannya dan tampak canggung.
"Jangan-jangan kamu tadi sibuk mainan HP juga saat jam kerja begini?" tuduhnya sambil tetap berdiri di hadapan Aydan.
"Ah, enggak. Aku cuma cek sebentar soalnya tadi ada yang misscall," dalihnya.
"Siapa yang misscall? Cewek itu lagi, ya?" tanya Imam lagi. Kini ia duduk di kursi dan tampak penasaran.
"Iya." Aydan menghela napas harus mengakuinya.
"Abangmu masih belum ketemu juga?"
Aydan menggeleng sedih.
"Yang sabar ya, Bro. Aku yakin pasti akan ada jalan keluarnya." Imam menepuk-nepuk bahu Aydan yang berusaha tegar.
Tak berapa lama sebuah pesan BBM masuk di ponsel Aydan. Dari seorang wanita bernama Kalina. Ia terkejut membaca isinya.
Kalina : Aydan, kenapa teleponku gak diangkat terus? Aku cuma mau ngasih tahu. Minggu depan aku akan datang ke Jakarta untuk membahas pernikahan kita sama Mama.
Aydan : Kenapa mendadak begini? Tunggu sampai Abangku ketemu.
Kalina : Gak perlu. Aku dan keluargaku sudah memutuskan untuk menikah denganmu saja.
Aydan : Bukan begini kesepakatannya.
Kalina : Aku tahu, tapi bayiku gak bisa menunggu lebih lama lagi. Mau sampai kapan aku harus menunggu dia pulang?
Aydan : Tolong jangan seenaknya membuat keputusan sendiri!
Kalina : Ingat! Kakakmu juga seenaknya saja mencampakkan aku, Dan.
Aydan : Tapi aku sudah ada janji dengan seseorang.
Kalina : Dan kamu juga sudah berjanji pada keluarga besarku untuk bertanggung jawab menggantikan dia.
Membaca pesan terakhir wanita itu membuat perasaan Aydan cemas. Raut wajahnya pun jadi tegang. Imam merasakan temannya sedang tertekan.
"Kenapa lagi, Dan?" tanyanya ikut khawatir.
Pria muda itu hanya bisa diam membisu. Tak sanggup menjelaskan beban masalah yang sedang dihadapinya. Matanya melirik sedih pada sosok Diandra melalui dinding kaca ruang kerjanya. Gadis itu tengah sibuk di depan layar monitor tanpa tahu sedang diperhatikan oleh seniornya.
__ADS_1
***