
Diandra duduk termenung sembari diam-diam memperhatikan cincin di jari manis Aydan saat pria itu sibuk memeriksa desainnya melalui iPad. Mereka berdua tengah duduk di sofa tamu di ruangan Aydan. Hati Andra masih begitu penasaran. Apakah itu cincin tunangan atau cincin pernikahan?
Hingga pernah suatu hari diam-diam mencari tahu pada teman kantornya saat makan siang bersama di warung dekat kantor.
"Btw, kata Mas Imam, kalian masih pada jomblo ya?" celetuk Andra.
"Iya. Kecuali beberapa di antara kami udah ada yang punya. Kenapa? Lagi cari jodoh yaaaa?" sahut Yuda menyeringai. Dia karyawan bagian render desain 3D yang tugasnya mempercantik tampilan desain bangunan 3D agar tampak nyata.
Andra hanya tersenyum simpul. "Kebetulan temenku ada yang lagi cari pasangan, sih, Mas," dalihnya.
"Termasuk kamu juga, gak?" serobot Anton, karyawan drafter yang tugasnya membuat gambar kerja teknik.
"Aku?" tanya Andra kaget sambil menunjuk hidungnya sendiri.
"Iyalah. Kamu juga, kan?"
"Ya, kalau ada yang mau. Aku kan orangnya suka jutek dan galak," ungkap Andra tidak percaya diri.
"Eh tau gak, kadang-kadang ada cowok yang suka cewek seperti itu, lho. Lebih gemesin dan menantang untuk ditaklukkan. Apalagi kamu cantik," beber Anton.
"Masa, sih?"
"Iya. Serius. Nah, kalau temanmu gimana orangnya? Kalau aku, sih, ya sukanya yang kalem dan keibuan, tapi itu bukan harga mati. Selama klik dan cocok walaupun agak menyimpang dari kriteria, ya masih diberi toleransi lah," ungkap Anton sambil menyuap makanan terakhirnya.
"Toleransi? Kayak apaan aja Lo, Ton," komentar Yuda sambil terkekeh.
"Terus, yang udah punya pasangan itu siapa aja?" lanjut Andra penasaran sambil menyeruput es teh manisnya.
"Mas Imam udah tunangan. Dia bentar lagi mau nikah. Mas Aryono, bagian administrasi keuangan, udah punya bini. Maklum dia paling tua di sini. Sama satu lagi, Mas Aydan. Dia juga udah tunangan beberapa bulan lalu," ungkap Yuda.
Sontak saja Andra tiba-tiba batuk-batuk mendengar itu. Mukanya sampai pucat.
"Mas Aydan su-sudah tunangan?" tanyanya tak percaya.
"Iya. Kayaknya, sih. Soalnya dia udah pakai cincin," jawab Yuda.
"Masa, sih? Kok tunangan gak ngundang kita, ya?" selidik Anton.
"Mana aku tau. Kali aja pengen privasi," imbuh Yuda.
Perasaan Andra seketika sedih dan tak menentu. Jelas ia kecewa. Perkataan Aydan saat di kosannya tiga setengah tahun lalu masih ia ingat. Janjinya yang akan setia menunggu hingga lulus, ternyata hanyalah omong kosong belaka bagi Diandra.
Sementara dia sibuk dengan kegalauan hati, Anton dan Yuda malah asyik merencanakan sesuatu.
"Gimana kalau malam Minggu nanti, kita nobar? Ajak teman-temanmu juga. Biar makin rame," usul Yuda semangat.
"Nah, boleh, tuh. Udah lama aku gak nonton di bioskop," sahut Anton tak kalah semangat.
"Nanti kita ajak yang lain juga. Kamu mau ikut kan, Ndra?" tanya Yuda.
Diandra yang melamun terkesiap ketika tangannya disenggol Anton. Kedua rekan sejawatnya berharap dia setuju dengan usul nobar itu. Dengan sedikit terpaksa ia menyetujuinya.
"Oke. Nanti aku ajak dua temanku juga," jawab Andra.
Senyum kedua bujangan itu langsung merekah.
Kejadian saat di warung makan itu masih sangat membekas karena rasa kecewa itu belum juga sirna. Andra malah melamun saat Aydan mengajaknya berdiskusi. Matanya menerawang lantai granit. Wajahnya pun tampak murung.
"Andra!" tegur Aydan.
Gadis itu masih terdiam. Sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Diandra! Are you still here?" tegur Aydan lagi. Tangannya melambai-lambai di depan wajah Andra yang masih melamun.
Sayangnya, ia masih belum sadar juga sampai tangan pria itu menyentuh lembut bahunya lalu berbisik di telinganya dan berkata, "kalau gak sadar juga, aku cium, nih."
Bisikan nakal itu berhasil membuat Andra melonjak kaget. Ia segera menggeser kursinya dan menatap tajam seniornya.
"Apaan, sih?" protesnya.
"Ya, habis dari tadi kamu ngelamun aja. Lagi mikirin apa, sih?" keluhnya.
"Gak mikirin apa-apa, kok. Sorry. Jadi tadi gimana? Masih ada revisi?" tanyanya dengan jantung berdebar. Ia berusaha tampak tenang mengetahui akan dijahili lagi seperti saat di kosan.
Lelaki itu kecewa karena sejak tadi Andra tidak menyimak penjelasannya setelah panjang lebar menjelaskan. Akhirnya ia hanya memberikan iPadnya yang sudah diberi coretan sana sini pada desain yang dikerjakan Andra.
__ADS_1
"Tuh di situ ada revisinya. Baca sendiri!" titah Aydan dingin. Ia kembali duduk ke balik meja kerjanya. Matanya sibuk menatap layar monitor berlogo apel.
"Sorry, Mas. Tadi aku cuma sedang mikirin sesuatu aja," ungkap Andra menyesal karena telah membuat atasannya kecewa.
"Oke. Gak masalah. Aku harap kamu gak mikirin yang aneh-aneh," balasnya tetap dingin.
"Justru Mas Aydan yang mau aneh-aneh tadi," bantahnya dengan bibir cemberut.
"Aku cuma bercanda. Sorry." Pria itu cuma melirik sekilas dengan tatapan dingin, lalu kembali sibuk menatap layar.
Andra hanya bisa menghela napas dan akhirnya pamit pergi. Ia duduk lesu di kursinya. Menatap layar iPad yang penuh coretan digital.
Ia merasa semakin lama, jarak di antara dirinya dengan seniornya entah kenapa semakin jauh. Meski satu kantor dan sering berinteraksi, tapi hanya sebatas rekan kerja. Tak pernah ada lagi kedekatan yang melibatkan kedua hati seperti dulu. Seolah-olah Aydan memang berusaha tetap profesional dan menjaga sikap selama di kantor. Atau memang perasaannya perlahan berubah?
***
Sabtu sore yang sangat dinantikan akhirnya tiba. Yuda, Anton, dan dua orang karyawan pria lainnya yaitu Dika dan Fabian sudah mematikan komputer kantor dan siap-siap pulang.
Mereka menghampiri meja Diandra. Gadis itu rupanya masih sibuk dengan pekerjaannya sampai tak menyadari ada empat pria mendekatinya.
"Ehem ... masih sibuk aja, nih?" tegur Yuda.
"Eh, Mas Yuda. Kok kalian semua ada di sini?" tanya Andra heran melihat empat rekan kerja pria tengah menatapnya.
"Wah lupa ya? Kan malam Minggu ini kita mau nobar," jawabnya.
"Eh, jadi ya?" Duh, aku lupa ngabarin temenku."
"Ya, jadi dong Aku udah pesan tiket, lho. Awas kalau sampai batal. Mubazir nanti tiketnya."
"Hihihi. Iya, Mas Yuda. Andra cuma bercanda. Tenang aja. Dua temanku juga udah nungguin. Sebentar ya, aku beres-beres kerjaan dulu. Kalian tunggu di depan aja!" pintanya.
Akhirnya keempat pria itu beranjak ke lobi kantor. Buru-buru Andra mematikan komputer dan merapikan mejanya. Dari dalam ruangan Aydan, pria itu memperhatikannya diam-diam. Lantas ia mengekor Andra saat gadis itu pergi menyusul ke depan.
"Aku sudah siap," ujarnya di depan mereka dengan senyum merekah.
Meskipun awalnya ia terpaksa ikut, tapi setelah dipikir-pikir tak ada ruginya pergi bersenang-senang bersama mereka untuk menghilangkan rasa kecewanya pada Aydan. Ia berharap bisa menyingkirkan perasaannya pada lelaki itu dengan mencoba mencari tambatan hati yang baru. Apalagi kata Widia dan Ivane, dia juga akan membawa teman kantor pria juga biar makin ramai.
"Kalian semua mau ke mana?" sela Aydan tiba-tiba dari belakang ketika rombongan siap keluar kantor. Mereka semua kompak menoleh.
"Kami semua mau nobar, Mas. Ini kan malam Minggu. Itung-itung refreshing," jawab Yuda.
"Waduh, maaf, Mas. Acara ini khusus para jomblo. Yang udah punya pasangan harap menyingkir dulu," kelakar Anton.
Seketika itu juga raut wajah Aydan berubah masam. Termasuk Diandra yang sedikit menahan rasa kecewanya.
"Siapa bilang aku udah punya pasangan?"bantah Aydan.
"Lho, itu cincinnya? Itu cincin tunangan, kan?" selidik Yuda.
Seperti baru disadarkan setelah sekian lama dengan cincin titanium di jari manisnya yang selalu membuat Andra penasaran, akhirnya ia melepaskan cincin itu begitu saja. Memasukkannya ke saku celana. Mereka semua terperangah melihatnya. Termasuk Andra.
"Ini bukan cincin tunangan. Ini cuma cincin biasa aja. Gak ada artinya. Cuma buat koleksi aja," ungkap Aydan sambil melirik ke Andra. Gadis itu cuma terdiam.
"Ooh. Kirain. Kalau mau, pakai cincin batu giok aja, Mas. Lebih keren buat cowok," usul Fabian.
"Iya, kayak aku, nih," imbuh Dika sambil menunjukkan cincin batu giok di jarinya.
Aydan hanya terkekeh. "Iya, deh. Nanti aku hunting itu."
"Siip. Jadi rombongan nambah satu lagi, nih? Mas Aydan mau ikut juga?" tanya Yuda.
"Eh?! Emang boleh?" Aydan jadi kebingungan sendiri. Apalagi melihat reaksi Andra yang juga kaget.
"Ya, bolehlah, Mas. Tadi aku cuma bercanda aja, Mas. Mau udah punya pasangan atau masih jomblo boleh ikut. Barangkali Mas Imam mau gabung juga?" tanya Yuda pada Imam yang baru datang dari belakang.
Semuanya menoleh ke belakang Aydan. Ada Imam yang tampak keheranan melihat kerumunan karyawannya sedang bersiap-siap pergi.
"Ada apaan, sih? Kalian mau demo, ya?" tanya Imam bingung.
***
Alunan musik pop dari radio di mobil Aydan mengiringi perjalanan Diandra menuju Mall. Pria di sebelahnya tak banyak bicara sejak tadi seperti dirinya. Ia menumpang dengan seniornya itu. Padahal awalnya ingin menumpang di motor Yuda menuju bioskop. Namun, Yuda malah menyarankan naik mobil bersama Aydan hanya karena dia perempuan.
Dengan terpaksa ia menerima usulnya. Apalagi Aydan juga memintanya begitu. Meskipun ia lebih suka naik motor. Kenangan naik motor bersama Aydan langsung terlintas di kepalanya kini.
__ADS_1
"Motor sport-nya masih ada, Mas?" celetuknya memecah kebisuan mereka.
"Oh, masih ada di rumah. Sekarang dipakai sama adikku. Kenapa?"
"Enggak apa-apa. Cuma mau keadaannya aja. Jadi kangen naik motor itu," ungkap Andra akhirnya menahan rindu.
"Kalau sama pemiliknya kangen juga, gak?"
Andra hanya tersenyum kecil sambil membuang muka ke jendela mobil. Perasaan bahagia mendadak hadir. Padahal ia tak mau berharap banyak lagi pada seniornya itu, tapi keadaan ini malah membuatnya berharap lagi.
Saat mobil berhenti karena lampu merah, Aydan menggenggam tangannya. Andra terperanjat. Ia menoleh ke samping. Aydan sedang menatapnya.
"Kamu lagi mikirin apa, sih?" tanyanya.
"Gak mikirin apa-apa," jawabnya sambil menarik tangannya sendiri dari genggaman itu.
"Jangan bohong. Jangan-jangan sebenarnya kamu mikirin cincin itu ya?" tebaknya.
"Enggak, kok. Ngapain mikirin cincin itu. Mau itu cincin koleksi, kek. Cincin tunangan atau cincin kawin, bukan urusanku, Mas," dalihnya.
"Beneran gak peduli?" Mata Aydan makin dalam menatapnya.
Membuat jantung Andra berdebar-debar. Ia menelan ludahnya karena tenggorokan terasa kering mendadak.
"Mas udah lampu hijau!" serunya mengalihkan pembicaraan.
Mobil pun melaju lagi. Andra kembali membisu, tapi Aydan terus mengajaknya bicara.
"Kamu ngapain sih ikutan nobar segala sama mereka? Kalau mau nonton tinggal bilang aku aja."
"Emang siapa gue, Mas? Masa ujug-ujug minta nonton sama Mas Aydan," dalihnya keheranan.
"Emang kudu gimana dulu, sih? Dulu juga kita suka nonton bioskop berdua, kan? Suka nonton konser band di kampus bawah. Suka ke Mall bareng. Suka naik motor berdua terus pergi ke Danau Rawapening. Dan ... dulu kita masih saling suka walaupun kamu gak mau ngaku seperti sekarang," ungkapnya.
Perkataan Aydan berhasil membuat Andra makin terpojokkan. Semua kenangan itu kini terbuka semuanya. Keadaan mereka kini sama seperti beberapa tahun lalu. Meskipun dekat, tapi belum ada kejelasan status.
"Jangan samain yang dulu dengan yang sekarang, Mas. Dulu kita cuma senior dan junior. Sekarang kita bawahan dan atasan. Kita harus profesional bukan?" dalih Andra. Aydan malah tertawa.
"Iya, aku tahu. Tapi sekarang ini bukan jam kantor. Jadi aku mau kita balik lagi kayak dulu."
"Balik lagi kayak dulu gimana maksudnya?" Dahi Andra mengernyit.
"Dulu kamu gak mau kita pacaran, kan? Tapi sekarang kamu sudah lulus. Udah gak ada alasan lagi. Mau sampai kapan kamu berpura-pura terus?"
"Aku yang berpura-pura atau Mas Aydan yang justru berpura-pura sekarang?" sindirnya.
Kali ini malah dahi Aydan yang mengernyit keheranan. "Aku berpura-pura apa?"
"Berpura-pura kalau Mas Aydan enggak tunangan," jawab Andra kecewa.
Aydan terperanjat sekarang.
"Ndra, aku memang enggak tunangan dengan siapa pun. Aku belum punya pasangan. Aku masih sendiri. Aku masih nungguin kamu sampai kamu tiba-tiba datang sendiri padaku. Aku senang bukan main waktu tahu kamu kerja di kantor," ungkapnya serius.
"Bohong!"
"Aku gak bohong! Gak lihat apa wajahku serius begini?"
Andra mengamati kedua bola mata Aydan yang memang tampak jujur, tapi dia masih ada keraguan di hatinya.
Sampai mobil sampai di Mall dan berhenti di parkiran. Aydan masih berusaha meyakinkan gadis itu. Ia menggenggam tangannya lagi.
"Tatap mataku, Ndra!" pintanya.
"Sudahlah, Mas. Ayo keluar! Udah ditungguin, tuh."
Rasa canggung membuat Andra tak nyaman dan ingin segera keluar dari mobil, tapi Aydan masih mengunci pintu mobilnya.
"Enggak, sampai kamu percaya."
"Percaya apa lagi, sih? Percaya kalau Mas Aydan gak tunangan? Padahal aku dengar nama Kalina saat kamu menerima telepon," ungkapnya.
"Ka-Kalina? Kamu dengar di mana?"
"Di pantry waktu aku mau bikin kopi. Jadi jelas kan, kalau kamu bohong. Dia itu tunangan atau pacarmu, Mas. Aku juga tahu."
__ADS_1
Pria itu terperangah. Kelengahannya dimanfaatkan Andra untuk membuka kunci sentral mobil. Ia langsung membuka pintu mobil dan pergi begitu saja dengan perasaan kesal.
***