
Beberapa hari lalu sebelum acara nonton bareng terjadi. Diandra dan rekan kerjanya, Anton, sedang mendiskusikan revisi desain yang tengah mereka kerjakan di ruang diskusi bersama. Banyaknya perubahan dan ketidakcocokan dengan keinginan klien membuat mereka harus bekerja keras merubahnya dari nol.
Tiba-tiba Anton menguap siang itu. Ada lingkaran hitam di bawah mata. Tampaknya ia kurang tidur dan lebih banyak melembur.
"Duh, aku jadi ngantuk, nih," ungkapnya lesu.
"Aku bikinin kopi ya? Aku juga lagi gak mood," ujar Diandra.
"Boleh, deh, kalau gak ngerepotin. Tolong ya!" jawab Anton sembari tersenyum senang.
"Santai aja."
Andra langsung beranjak dari duduknya dan segera ke pantry di belakang kantor. Ia melewati meja kerjanya dan ruang kerja Aydan. Bahkan tak melihat ada seniornya di dalam ruangan itu. Ia tak ambil pusing ke mana pria itu pergi. Mungkin ke ruangan Mas Imam, pikirnya.
Saat langkah kakinya makin mendekati pantry, sayup-sayup telinganya mendengar seseorang tengah berbicara. Andra mengintip ke dalam. Ternyata ada Aydan di sana yang tengah menerima telepon sendirian.
"Apa gak bisa diundur saja? Aku sedang banyak kerjaan dan aku masih mencari dia," ujar Aydan tampak kesal.
"Hhhmmm, dia sedang bicara dengan siapa ya?" gumam Andra penasaran sembari terus mengintip dari balik pintu.
"Iya, aku tahu, tapi please, jangan mendadak begini, Kal. Apalagi Minggu depan aku harus keluar kota. Gak bisa diundur pertemuan dengan klienku ini. Kalau untuk membahas pernikahan kita, gak perlulah sampai harus datang ke Jakarta. Bisa kan dibicarakan lewat BBM atau telepon seperti ini atau melalui keluargaku?"
Mendengar kata 'pernikahan kita' membuat jantung Andra serasa mau copot. Ia sampai ternganga dan menutup mulutnya.
"Dengar, Kalina. Aku sudah bilang aku akan bertanggungjawab. Aku tidak akan lari juga. Jadi, please, beri aku waktu sebentar untuk menyelesaikan masalahku di sini," tekan Aydan yang tampak makin kesal.
"Kalina? Apakah dia pacar atau tunangannya?" gumam Andra tak percaya.
Mendengar langkah kaki menuju pintu, buru-buru Andra pergi dan bersembunyi di ruangan sebelah pantry. Setelah melihat Aydan keluar, dia segera masuk ke pantry dan membuat dua cangkir kopi dengan pikiran yang tak menentu dan perasaan kecewa yang semakin besar.
"Benar kata Mas Yuda. Itu cincin tunangan. Dia sudah punya tunangan dan akan segera nikah," batin Andra sedih. Kini ia menyesal telah mendengarnya.
Maka ajakan nonton bareng itupun akhirnya ia terima meskipun awalnya enggan ikut. Andra berharap bersenang-senang dengan temannya dan bertemu dengan orang baru khususnya laki-laki lain bisa menyembuhkan luka di hatinya lagi. Namun, hati kecilnya ragu jika bertemu laki-laki baru dan jatuh cinta lagi apakah bisa membuatnya bahagia lagi.
***
Langkah cepat dengan sedikit hentakan penuh kekesalan itu hanya untuk menghindari emosi yang lebih besar lagi terhadap Aydan. Andra segera masuk ke Mall menyusul teman-temannya yang telah masuk lebih dulu.
__ADS_1
Sementara Aydan berjalan setengah berlari menyusulnya sembari memanggil nama Andra berkali-kali. Sayangnya, gadis itu pura-pura tak mendengar dan terus saja berjalan cepat. Hingga keduanya sampai di bioskop dengan napas tersengal-sengal.
"Akhirnya kalian datang juga," ujar Yuda senang.
Di sana sudah berkumpul teman-temannya dari kantor yang sama. Bahkan Widia, Ivane, dan dua pria teman kerjanya pun ikut hadir.
Kedua sahabat Andra bersorak kegirangan melihat Aydan, senior angkatannya yang sudah lama tidak bersua. Mereka langsung menyalami dan menanyakan kabar begitu antusias. Aydan jadi salah tingkah dibuatnya.
"Mas Aydan, gimana kabarnya? Masya Allah jadi ganteng gini, sih? Pantesan aja Diandra betah," ujar Ivane sambil memperhatikan seniornya itu dari kepala hingga kaki dengan tatapan takjub. Aydan sendiri cuma bisa tersenyum menahan malu.
"Jelas Andra betah. Walaupun capek juga, tetep dilakoni. Demi siapa coba?" imbuh Widia berusaha mencomblangi mereka berdua lagi.
"Apa-apaan, sih, kalian ini? Bisa diam gak?" protes Andra malu saat teman-temannya langsung melirik tanda tanya padanya. Ia mencubit kedua sahabatnya berbarengan. Dua gadis cerewet itu meringis kesakitan.
"Gimana kerjanya Andra? Becus apa enggak?" cecar Ivane masih tak mau diam.
"Emmm ... dia baik kerjanya, kok," jawab Aydan.
"Bisa diam gak, sih? Jangan bikin malu gue, dong!" kecam Andra mulai kesal pada dua sahabatnya.
"Kita mau mendukung hubungan elo sama Mas Aydan. Waktu dulu kan gak sempat jadian," bisik Ivane.
"Udahlah. Percuma. Gue mau fokus sama karier dulu," dalih Andra sebal.
Ivane dan Widia langsung terkejut mendengarnya. "Kok gitu?" tanya mereka kompak.
Percakapan ketiga sahabat itu masih terdengar jelas oleh Aydan. Dia hanya bisa terdiam dan menahan diri untuk menjelaskan yang sebenarnya pada Andra yang tampak masih kesal.
Merasa telah mengabaikan teman-teman yang lain, Andra mencoba mengalihkan perhatian dengan memperkenalkan diri pada kedua teman kerja sahabatnya. Begitu pula sebaliknya pada teman kerjanya.
Dua teman laki-laki Widia dan Ivane bernama Bagas dan Indra. Keduanya terlihat baik dan menyenangkan saat diajak bicara. Andra merasa cocok bicara dengan mereka dan langsung nyambung. Apalagi ternyata Bagas senang berkelakar. Membuat suasana hatinya jadi lebih baik dari sebelumnya.
Sementara itu, diam-diam Aydan terus memperhatikan juniornya, walaupun dia sendiri sedang sibuk berbicara dengan Widia dan Ivane yang cerewetnya minta ampun menanyakan ini dan itu.
"Hai semuanya. Maaf, aku terlambat. Tadi aku jemput Isna dulu dan Aisya," teriak seseorang, berhasil mengalihkan perhatian semuanya. Yang ternyata adalah Imam, pemilik konsultan arsitek Ruang Kita.
"Wah makin banyak aja, nih, yang gabung," kata Anton senang. Dia tersenyum manis untuk menyapa adik bosnya, Aisya. Gadis manis itu balas tersenyum.
__ADS_1
Imam memperkenalkan calon istri dan adiknya pada mereka. Perkenalan singkat pun terjadi lagi karena setelah itu Yuda mengajak rombongan untuk segera masuk bioskop, tapi dia lupa bahwa tiket masuk bioskop kurang dua karena ada tambahan peserta yaitu Isna dan juga Aisya.
"Kalian masuk aja duluan! Kekurangan tiketnya biar aku yang beli. Aku dan Andra biar terakhir aja," usul Aydan.
Andra terkesiap mendengarnya. Padahal tadi ia hendak masuk duluan bersama Widia dan Ivane juga.
Paham dengan rencana Aydan, Widia dan Ivane menyuruh Andra tetap di luar menemani seniornya. Sementara yang lain segera masuk karena film sudah diputar.
Kini tinggallah mereka berdua di lobi bioskop. Bibir manyun Andra begitu jelas terlihat.
"Kenapa jadi aku yang terakhir masuk? Harusnya Mas Imam dan pacarnya yang beli tiket lagi," protesnya kesal.
"Sudahlah. Toh, kita masih ada waktu buat beli tiket, kok. Tunggu sebentar ya!" pinta Aydan. Ia segera berlari menuju loket. Tak lupa membeli minuman dan popcorn.
Dengan perasaan gondok, Andra terpaksa mengikuti Aydan masuk yang sudah membawa dua tiket.
"Kita duduk di mana? Bukan di depan banget, kan?" tanyanya ketus.
"Bukan. Tenang aja. Pokoknya nyaman buat kita," jawab Aydan tampak bahagia.
Seorang wanita cantik memakai seragam mengantarkan keduanya ke kursi penonton sesuai nomor tiket. Andra melihat teman-temannya duduk di barisan tengah bangku penonton. Ia pikir, ia akan duduk tak jauh dari mereka. Nyatanya, wanita berseragam itu malah membawa mereka ke barisan paling atas.
"Nah, di sini kursi kalian. Selamat menonton," ucapnya ramah sambil menunjuk dua kursi kosong paling pojok kiri. Sejurus kemudian dia pergi.
Andra terperanjat dan tak menyangka seniornya akan membeli tiket di tempat yang sedikit privasi. Lebih tepatnya cocok untuk orang yang sedang memadu kasih.
"Kok, di sini duduknya?" protes Andra keberatan. Aydan cuma tersenyum.
"Emangnya gak ada kursi kosong yang lain?" Andra menyisir deretan bangku-bangku lainnya dan ada beberapa kursi kosong di bagian tengah.
"Aku maunya di sini. Toh, sama aja kan? Udahlah ayo duduk!" dalih Aydan santai. Ia menarik tangan gadis itu agar cepat duduk.
"Sialan! Kenapa jadi begini, sih? Ini namanya bukan nobar, tapi ngedate maksa. Mending kalau sama gebetan. Ini mah sama tunangan orang lain. Nyebelin!" gumamnya sambil mendengus kasar.
***
Hai, readers. Habis baca jangan lupa kasih like, gift, atau komen ya. Biar apa coba? Biar cemungud dong. 🙏🏻😁😋
__ADS_1