
Entah kenapa Aydan merasa tidak senang saat tamu lelaki berparas rupawan itu menjabat tangan kekasihnya. Ada sesuatu yang membuatnya khawatir. Sampai ia memperhatikan keduanya diam-diam.
"Silakan duduk, Pak!" seru Andra sopan.
"Jangan panggil aku Pak. Panggil namaku aja. Erik."
"Ah, jangan dong. Kan lebih tua dariku," sanggah Andra merasa tak sopan.
"Cuma beda beberapa tahun aja. Seumuran dengan kakakmu, kok. Kalian beda berapa tahun?"
"Kami selisihnya empat tahun," ungkap Andra.
"Nah, berarti kita cuma beda empat tahun juga. Panggil aja Erik." Pria itu tetap bersikukuh, tapi Andra tetap enggan. Apalagi dia adalah calon klien istimewanya. Orang yang sudah banyak berjasa terhadap Ibnu dan masalah keuangan keluarganya selama ini. Akhirnya Andra memanggilnya dengan sapaan sopan seperti pada umumnya.
"Kalau begitu aku panggil Mas Erik aja. Masih oke, kan? Gak terkesan tua, kan?" cetus Andra.
"Oke. It's better." Senyum Erik mengembang.
"Soal sapaan aja dibikin lebay," gumam Aydan sebal dari balik pintu kaca pembatas ruang antara lobi dan ruang karyawan.
Kemudian keduanya duduk bersama di sofa panjang yang sama. Andra mulai bertanya maksud kedatangannya ke kantor konsultan milik Imam itu. Sesuai dengan obrolan di acara lamaran Ibnu kemarin, Erik bermaksud menggunakan jasanya untuk merancang kantor sekaligus FO (Factory Outlet) baru di daerah Kota Bogor.
Karena ini calon klien baru, Andra berniat memperkenalkan Erik pada atasannya. Ia pamit masuk sebentar. Begitu membuka pintu kaca, betapa terkejutnya dia ternyata ada Aydan di balik pintu.
"Eh?! Ngapain di sini, Mas?" selidiknya. Dahi Andra mengernyit keheranan.
"Gak lagi apa-apa. Kebetulan aja mau keluar pas kamu buka pintu," dalihnya.
Andra menatap curiga pada seniornya itu. Lalu ia meneruskan langkahnya hendak ke ruangan Imam di lantai dua.
"Kamu mau ke mana?" tanya sambil berjalan mengekor di belakang Andra.
"Ke ruangan Mas Imam. Mau ngenalin tamu tadi."
"Dia lagi pergi," ungkap Aydan. Langkah Andra terhenti. Begitu juga Aydan.
"Hah?! Pergi ke mana? Perasaan tadi masih ada," balas Andra tak percaya.
__ADS_1
"Tadi kan kamu di ruanganku jadi gak tahu. Kalau mau memperkenalkan tamu itu, lebih baik padaku aja. Kan aku wakil direktur juga di sini. Masa gak tahu?" papar Aydan sambil telunjuknya menunjuk hidung. Andra menggeleng dengan polosnya.
Mulanya Andra setengah tak percaya jika seniornya itu ternyata merangkap sebagai wakil direktur juga. Yang ia tahu Aydan cuma senior arsitek yang bekerja sebagai project designer atau lebih mudahnya yaitu kepala arsitek yang bertanggung jawab atas konsep utama desain.
"Ya udah kalau gitu. Ayo!" serunya karena tak ada pilihan lain. Akhirnya keduanya kembali ke lobi. Badan Aydan dibuat tegap dan melangkah mantap. Ia ingin memberikan kesan gagah dan berwibawa di depan lelaki itu.
"Mas Erik, perkenalkan ini kepala arsitek di sini sekaligus wakil direkturku. Kebetulan bos besar lagi ke luar," beber Andra sambil mempersilakan keduanya berjabat tangan.
Aydan meremas tangan Erik agak keras dan memaksakan sebuah senyuman. Erik berusaha menahan sakit cengkeraman itu dengan tetap tersenyum ramah. Namun, kedua mata mereka saling beradu tajam. Andra tampak tak mengerti dengan sikap aneh kedua orang itu.
"Mau sampai kapan kalian berdua berjabat tangan?" celetuk Andra heran karena dirasakan itu sudah terlalu lama.
Kedua lelaki mapan itu segera melepaskan tangan masing-masing dan langsung duduk di sofa. Sekali lagi Andra memperhatikan ada sesuatu yang aneh dengan aura mereka. Namun, ia mengabaikannya.
Kemudian pembicaraan mengenai maksud dan tujuan kedatangan sangat tamu diungkapkan lagi oleh Erik pada Aydan. Ketiganya mulai membahas hal-hal penting lainnya seperti mengenai lokasi calon proyek di mana, kebutuhan ruangan apa saja yang diperlukan, gaya arsitektur, luas tanah, dan lain sebagainya. Andra mencatat itu semua sebagai data awal.
Selama sesi diskusi berlangsung tak henti-hentinya mata Aydan memperhatikan penampilan Erik. Mulai dari bentuk tubuh dan otot-ototnya yang menonjol dibalik kemeja ketatnya. Jam tangan merek Oris seharga dua atau tiga kali gajinya di pergelangan tangan kiri Erik. Sepatu kulit asli yang begitu mengkilap. Ponsel Apple keluaran teranyar yang diletakkan di meja. Serta aroma parfum maskulin dari merek mahal lainnya yang baunya tak juga memudar sejak awal datang. Perasaan Aydan jadi makin gerah.
"Jika ada data-data lain yang dibutuhkan, tanyakan saja. Soal fotokopi sertifikat tanah nanti akan aku berikan saat kita survey ke lokasi. Bagaimana?" ujar Erik setelah diskusi selesai.
"Baik, Mas. Untuk jadwal survey, kita akan mengikuti waktu luang Mas Erik saja. Bukan begitu, Mas Aydan?" Andra mendelik pada seniornya yang ternyata sedang melamun.
"Sorry. Jadi tadi sampai mana?" tanyanya dengan senyum menyeringai. Andra menatap sebal padanya.
༺༻
"Kok bisa kamu dapat klien seperti itu?" tanya Aydan di dalam mobil. Keduanya sedang dalam perjalanan untuk makan siang.
"Seperti itu gimana?" Dahi Andra mengernyit.
"Ya seperti itu. Macam lelaki metropolis. Semua yang ada di badannya bermerek."
Satu alis Andra naik merasa aneh dengan pertanyaan pacar sekaligus atasannya itu. "Bukannya itu udah biasa. Rata-rata klien kita berpenampilan seperti itu, kan? Mereka orang-orang berduit. Kalau gak, ya gak bakalan mampu bayar jasa konsultan kita."
"Soal itu aku tahu. Maksudnya tadi dia berbeda."
"Apanya?" desak Andra tak mengerti arah pembicaraan Aydan.
__ADS_1
"Ah, lupain aja, deh. Aku belum ada bukti. Ini cuma insting lelaki aja. Udah gitu kamu ramah banget sama dia. Gak biasanya begitu," ungkapnya dengan wajah masam.
"Insting apaan, sih? Aneh-aneh aja, nih. Gak usah cemburu ya, Mas. Dia itu teman baik kakakku. Kemarin waktu di Bandung, kami bertemu. Aku diminta kakakku untuk melayani dia dengan baik karena kami berhutang budi padanya. Lagipula bersikap ramah sama klien kan wajar."
Aydan malah terdiam memikirkan sesuatu. Ia tak bisa membantah lagi perkataan Andra. Meskipun sebenarnya ia merasa khawatir akan sesuatu.
"Seharusnya aku yang ngomel-ngomel begini dan cemburu sama kamu, Mas. Urusan Kalina gimana? Kalian masih tinggal dalam satu apartemen, kan?" cecarnya sengit.
"Aku masih mikirin caranya menyuruh dia pulang, Sayang."
"Gak usah. Aku dan kedua sahabatku yang cerdik sudah dapat ide. Kita cuma butuh dua orang berbadan kekar, bertato, dan berotot saja. Kamu punya kenalan seperti itu?"
"Kok serem amat? Buat apaan? Mau gebukin Kalina?" tebak Aydan khawatir.
"Gak sampai segitunya. Pokoknya tolong carikan secepatnya dua orang itu. Aku sudah gatel ingin memisahkan kalian berdua. Takut keburu ada setan masuk apartemen kalian," ungkap Andra geram.
"Oke, deh. Nanti aku carikan," jawab lelaki berkacamata itu pasrah.
"Dan satu lagi. Kita harus traktir Widia dan Ivane makan. Soalnya sekarang mereka sudah tahu kalau kita sudah jadian, tapi kamu yang bayarin ya, Mas, " sambung Andra sambil menyeringai nakal.
"Apa?!" Aydan terperanjat.
"Kenapa kaget? Kan kamu sendiri yang pernah bilang mau bayarin traktiran mereka setelah kita jadian. Nah, sekarang aku tagih janjimu. Hihihi." Gadis berumur 26 tahun itu terkikik senang.
Sementara itu di tempat yang berbeda di dalam sebuah mobil mewah juga, ada seorang lelaki yang sedang menerima telepon sambil menyetir. Dialah Erik.
"Nu, tadi aku sudah ketemu adikmu," ujarnya di sambungan telepon.
"Oh ya. Syukurlah kalau begitu," jawab Ibnu di seberang sana.
"Ngomong-ngomong adikmu sudah punya pacar belum?"
"Hmmm belum kayaknya. Sejak kuliah jomblo terus setahuku, sih. Emangnya kenapa?"
"Ah, gak apa-apa," jawab Erik seraya tersenyum misterius.
Ia kembali teringat pertemuan pertama dan kedua kalinya dengan adik sahabatnya yang memberikan kesan tersendiri di hatinya. Ia tak mengerti kenapa. Padahal sikap Diandra tergolong biasa saja. Malah sedikit jutek. Tidak seperti setiap perempuan lain yang ia temui. Selalu mencoba menarik perhatiannya dengan tingkah yang berlebihan dan justru jadi menyebalkan di mata Erik. Kini ia jadi tak sabar ingin segera bertemu lagi dengannya.
__ADS_1
༺༻