
Selesai presentasi, Andra diajak makan oleh Erik. Ingin menolak, nyatanya ia memang kelaparan sore itu karena melewatkan jam makan siangnya. Walaupun saat presentasi tadi dihidangkan kudapan ringan, ternyata tak berpengaruh apapun. Ia tetap merasa sangat lapar. Energinya terkuras banyak saat bicara panjang lebar tadi.
Dengan sangat terpaksa karena Erik terus memintanya, akhirnya ia menyerah juga. Seketika wajah lelaki berdarah Sunda dan Jawa itu semringah. Tanpa diminta, ia segera mengambil alih tas laptop yang dibawa Andra.
"Eh, gak usah dibawain, Mas," tolak Andra merasa sungkan.
"Nyantai aja. Kayaknya kamu kecapean, deh," balas Erik.
Sekali lagi ia terpaksa menyerah dan mengikuti ke mana Erik melangkah. Saat menuju lobi kantor, mata Andra melihat sekilas lelaki berambut agak gondrong yang diikat rapih saat presentasi tadi di dalam ruang kerjanya. Lelaki itu sedang menerima telepon di telinga kanan. Ia menyadari saat Andra memperhatikannya dan hanya tersenyum tipis. Lalu kembali sibuk dengan berbicara di telepon. Andra berusaha mengingatnya seperti pernah bertemu entah di mana. Ia lupa.
Erik rupanya menyadari itu dan ia berdehem untuk mendapatkan perhatian Andra lagi. Gadis itu menoleh. "Kamu mau makan apa? Atau mau makan di mana?" tanyanya.
"Terserah Mas Erik aja."
"Tadi ke sini naik motor ya?"
"Iya."
"Gak apa-apa kan kalau kita perginya naik mobilku?" tanyanya lagi sambil berjalan menuju halaman parkir.
Andra melirik ke arah motornya yang masih terparkir rapih di dekat pos satpam. Sekarang sudah sore dan sebentar lagi jam kerja akan selesai.
"Tenang aja. Motormu aman kok di sini. Kan ada satpam juga di depan," ujar Erik seperti mengerti kekhawatirannya.
"Hehehe. Iya, Mas," jawab Andra merasa malu. Mana mungkin motornya hilang, padahal jelas-jelas ada satpam yang akan berjaga sampai malam.
Alarm mobil berbunyi nyaring. Erik baru saja membukakan pintu mobilnya untuk Andra. Ia dipersilakan duduk di depan. Sementara barang bawaannya diletakkan di jok belakang. Meski agak canggung dan sungkan, Andra berusaha tetap sopan. Setelah memastikan gadis itu masuk mobil, Erik menutup pintunya dan berjalan memutar ke arah satunya. Tak lama ia pun masuk mobil dan duduk di sebelah Andra.
"Jadi beneran nih terserah aku makannya di mana?" tanyanya sekali lagi.
Andra menganggukkan kepala. Menurutnya tak sopan jika ia request ke tempat tertentu kepada kliennya. Ditraktir makan saja sudah bagus.
"Baiklah. Nanti jangan protes ya!" ucap Erik sebelum menyalakan mobilnya. Setelah mesin mobil menderu, ia segera tancap gas dan masuk ke jalanan ibukota yang ramai.
Suasana di dalam mobil tak secanggung sebelumnya. Erik memutar lagu di radio mobil dan banyak bertanya padanya tentang keadaan keluarga. Itu adalah basa basi permulaan. Obrolan berlanjut membahas hal lain. Seperti pertemanan Ibnu dan Erik yang dimulai sejak keduanya masih SMA. Meski keduanya memiliki status sosial dan ekonomi yang sangat berbeda, tapi mereka tak pernah mempermasalahkannya. Lalu Andra bertanya bagaimana ia banyak membantu Ibnu saat menjadi tulang punggung keluarga sekaligus membantu ibunya yang single parent. Erik enggan membahas itu. Ia merasa tak enak hati sebab khawatir dianggap riya, tapi Andra terus mendesaknya karena kakaknya tak pernah cerita kesulitan mereka. Mau tak mau Erik pun menjelaskan semuanya dengan wajah malu-malu. Andra makin merasa berhutang budi dan kagum pada lelaki baik hati itu.
"Tolong, kamu jangan cerita pada Ibnu kalau aku sudah membocorkan masalah keuangan dia ya!" pintanya cemas.
"Justru aku ingin berterima kasih, Mas. Kalau bukan banyak dibantu olehmu, mungkin aku gak akan lulus kuliah," ungkap Andra merasa sangat beruntung.
"Aku hanya ingin menolong selagi mampu. Untung aja ternyata adiknya Ibnu manis," godanya sambil melirik.
__ADS_1
"Jadi kalau gak manis gak bantuin gitu?" tebak Andra dengan bibir mencebik. Erik terkekeh.
"Ya enggaklah. Tetap dibantu. Dia kan sahabatku. Hanya aja aku jadi makin merasa senang sudah membantumu kuliah sampai selesai." Senyum Erik makin melebar.
"Senang karena apa? Karena kami jadi punya banyak hutang uang dan hutang budi?" cecar Andra blak-blakan. Erik tersentak awalnya, lalu ia tertawa.
"Jangan-jangan hutang keluarga kami mau digantikan dengan hal lain ya?" Entah kenapa tiba-tiba saja terpikirkan hal aneh semacam itu di otak Andra.
"Digantikan hal lain? Maksudnya?" Dahi Erik mengernyit tak mengerti.
"Eh?! Ma-maksudnya... bu-bukan apa-apa, Mas. Maksudnya barangkali mau digantikan dengan kerja di kantormu tanpa gaji. Secara hutang kami sangat besar. Entah berapa tahun baru akan lunas," jawab Andra segera mengoreksi dan gugup. Ia merasa konyol sudah berpikir yang tidak-tidak.
'Apa yang kamu pikirkan, Andra? Mana mungkin Erik akan meminta dirimu sebagai pembayaran hutang,' batin Andra dalam hati.
"Jadi kamu pikir aku akan sekejam itu?" cecar Erik.
"I-iya, mungkin aja, Mas. Eh, tapi tadi cuma bercanda. Aduh, maaf aku agak ngaco ngomongnya. Maklum suka mendadak tulalit kalau lagi laper," dalihnya. Andra menyeringai kaku.
Untuk beberapa detik Erik mengamati Andra yang kini salah tingkah. Lalu ia tersenyum misterius. "Kamu lucu juga ya."
"Eh? Lucu apanya?" Andra tersipu malu. Pujian itu membuat wajahnya merona tanpa bisa dikendalikan. Ia mencoba menyembunyikannya dengan memalingkan wajah ke jendela mobil. Sementara Erik kembali menghadap ke depan dengan perasaan senang dalam dada.
"Andra kenapa, sih? Teleponku gak diangkat terus?" gumam Aydan khawatir. Sejak tadi rupanya dia terus mencoba menghubungi kekasihnya begitu meeting dengan klien usai. Ia sangat ingin tahu keadaannya, tapi sudah sejak siang tak ada satu pun pesan atau teleponnya mendapatkan tanggapan. Membuatnya resah bukan kepalang karena bersama Erik. Setelah dicoba lagi berkali-kali dan tetap tanpa respon, akhirnya Aydan berinisiatif untuk menyusulnya ke kantor Erik. Diambilnya kunci mobil di meja dan segera berjalan tergesa-gesa keluar ruangan.
Mobil Erik baru saja berhenti di sebuah hotel bintang lima. Andra terbelalak begitu menyadari baru saja dibawa ke mana. Jantungnya langsung berdebar berdebar-debar lagi.
"Kok ke hotel, Mas?" tanya Andra ketakutan.
"Kan tadi katanya terserah aku? Ya udah kita ke sini aja. Gak apa-apa, kan?" jawabnya santai. Erik keluar mobil lebih dulu lalu segera membukakan pintu Andra. Ia mempersilakan Andra berjalan lebih dulu. Dengan langkah ragu-ragu, Andra berjalan ke pintu masuk hotel yang mewah itu. Erik berjalan di sisinya.
Seorang lelaki berseragam hotel menyapa seraya tersenyum pada Erik saat keduanya masuk. "Apa kabar, Pak Erik?"
"Baik," jawabnya ramah.
Rupanya Erik cukup dikenali oleh beberapa pegawai hotel itu selain pegawai pertama tadi. Terbukti setiap ia melangkah disapa oleh mereka. Andra sampai terheran-heran.
'Apa mungkin karena terlalu sering kemari jadi mereka semua hapal dengannya?' batin Andra lagi.
Tiba di meja resepsionis, seorang wanita muda nan cantik kembali menyapanya dengan bibir merah menyala. "Selamat sore, Pak Erik. Apakah seperti biasa?" tanyanya.
"Yup. Betul sekali.
__ADS_1
"Baik. Tunggu sebentar ya." Sejurus kemudian resepsionis itu mengetik sesuatu di keyboard dan menatap layar monitor. Andra berdiri menunggu dengan perasaan cemas dan bertanya-tanya.
"Baik. Terima kasih sudah menunggu. Kamarnya sudah disiapkan. Silakan ini kuncinya. Selamat menikmati. Semoga harimu indah, Pak, " ujar wanita cantik itu.
'Apa?! Jadi aku mau dibawa ke kamar hotel?' ucap Andra dalam hati ketakutan.
Erik mengambil kunci itu dari meja dan meminta Andra mengikutinya dengan wajah begitu senang. Ia ingin menolak, tapi lagi-lagi merasa tak bisa melakukannya. Kini keduanya sudah masuk ke lift dan naik ke lantai atas. Degup jantung Andra makin kencang. Di tengah jalan, lift berhenti dan beberapa pengunjung hotel masuk. Membuat ruangan sempit itu jadi penuh. Andra dan Erik berdiri berhimpitan di pojok. Hingga tak sengaja tubuh Erik terdorong orang lain di depannya. Ia putar arah agar tubuh Andra tidak terjepit oleh tubuhnya yang besar. Kedua tangan Erik terlentang ke dinding lift untuk menahan tubuhnya. Keduanya saling berhadapan dalam jarak yang begitu dekat. Hingga desah napas keduanya saling terasa. Andra tak berani menatap Erik yang terus menatapnya. Ia terus menunduk dan berharap segera sampai.
"Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Erik cemas. Andra mengangguk.
"Tahan ya, sebentar lagi kita akan sampai," ungkapnya.
Dan, benar saja. Begitu sampai di lantai 30, pintu lift terbuka dan keduanya segera minta jalan agar bisa keluar. Kini keduanya bisa bernapas lega.
"Maaf, atas ketidaknyamanannya tadi," ucap Erik menyesal.
"Lain kali lebih baik aku naik tangga aja," balas Andra merasa sebal dengan orang-orang di lift tadi yang memaksa masuk meski sudah penuh.
"Silakan kalau sanggup." Erik merasa geli dengan tanggapannya.
Erik mulai berjalan lagi ke koridor, tapi Andra ragu untuk mengikutinya.
"Kenapa?" tanya Erik.
"Apa gak salah milih tempat makan, Mas?" selidiknya heran.
"Enggak, tuh."
"Katanya mau makan, tapi kenapa ke kamar hotel? Harusnya kan kita restoran atau warung," protes Andra curiga.
"Emangnya gak boleh makan di dalam kamar hotel? Ada larangan?" sanggah Erik.
"Ya, gak ada, sih. Cuma kan biasanya orang-orang ke kamar hotel buat be...." Andra tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya. Ia sudah parno duluan dan membayangkan sesuatu hal yang menakutkan.
"Be apa?"
Andra membisu tak berani berspekulasi dan menuduhnya tanpa ada bukti bahwa Erik akan berbuat jahat padanya. Dalam keadaan bimbang dan takut itu, tangan Erik justru menariknya untuk kembali melangkah tanpa dilepas sedikitpun. Sampai akhirnya berhenti di sebuah kamar bernomor 3075.
Kini Andra merasa benar-benar merasa menyesal telah mengatakan kata 'terserah'. Seharusnya tadi ia meminta makan di restoran ayam bakar favoritnya saja atau di fastfood terdekat jika seandainya dia tahu akan dibawa ke kamar hotel oleh lelaki tampan berpenampilan metropolis itu.
❁❁❁
__ADS_1