
...
...
"yang suka siapa? dia kan?" Ucap Mondi dingin ."
•••
Raya memasukan seragamnya ke dalam loker, jam pelajaran pertama hari ini adalah mata pelajaran olahraga raya terlihat begitu semangat 45 untuk berlari pagi .
badannya terasa sangat kaku, ia butuh kesegaran untuk sekedar memulihkan tenaganya.
"Ray, loe tahu gak?"
"Apaan?"
"Kelas kita barengan sama kelas 11-A, Loh!!" Reva memberitahu raya, yang tampak sedikit berpikir apa maksud dari sahabatnya itu.
"Masa si loe gak ngerti, katanya loe siswi tercerdas tapi kok lemot ya?" Heran reva yang kini tengah bersandar di lemari loker.
"Mondi__" ucap raya seketika tersadar, mulutnya bahkan sampai membentuk huruf O.
Reva mengangguk.
"Barengan dong__" ucap raya girang.
"Iyapppp__"
"Eh, Ray pelan-pelan dong, jangan tarik-tarik." Sela Reva yang kini ikut di seret dan terlihat berlari terpincang-pincang akibat genggaman tangan raya.
"Harus cepet re, nanti ayang Mondi di deketin cewe yang lain dan gue nanti patah hati. Emang loe tahu obatnya?"
"Gini nih kalau udah urusan Mondi. " Ucap Reva mulai pasrah ikut berlari, Tidak lebih tepatnya di paksa untuk berlari.
Dan ia hanya bisa Pasrah.
•••
Lapangan SMA DWi bangsa sangat luas dan setiap harinya akan ada kelas yang berolahraga, secara bersamaan dengan guru yang berbeda.
Pandangan raya mengedar mencari sosok yang begitu dia incar.
"Mondi?__" pangil raya girang, semangat 45-nya semakin bertambah berkali-kali lipat.
Berbeda dengan Mondi , Teman-teman Mondi seketika menoleh ketika mendengar nama sahabatnya di panggil.
Mondi merasa MUSIBAHNYA telah datang.
"Pacar loe, Mon?" Sikut Ares, sambil menggoda.
"Paan si loe." Mondi melotot tak suka.
"Ada yang baru nih?" Seru Rey ikut nimbrung.
"Oreo kali yang baru? Hahaha." Tawa Ares ikut menggoda Mondi .
Mondi hanya mendelik, yang langsung di sambut senyum takut dan tangan di atas oleh Rey dan Ares.
Sudah Mondi duga dengan di adakannya kelas olahraga gabungan dengan kelas 11-B di karenakan salah satu guru tidak bisa masuk hari ini akan pasti ada sebuah musibah untuknya.
Pasti itu....
Dengan cepat raya segera berbaris di sebelah Mondi setelah ketua kelas menginstruksikan untuk segera berbaris dan melakukan pemanasan.
"Mondi??" Goda raya saat kini mereka terlihat merentangkan kedua tangan, raya sengaja mencolek tangan Mondi.
Mondi tak bergeming atau sekedar menoleh, ia hanya fokus mendengarkan Bu dewi yang sedang menjelaskan kegiatan mereka hari ini, sebelum melakukan pemanasan.
"Mon, Jangan diemin raya." Ucap raya memohon.
"Mon, jangan cuekin raya begitu dong? Gak kasian?" Sahut raya lagi merengek.
"Mondiiii" Desis raya pelan penuh penekanan.
Mondi tetap diam .
"Mon, jangan diem-diem terus dong. Oke raya minta maaf karena raya kita berdua di hukum."
"Mon, Jangan diem-diem dong"
"MONDI ALVANO MAAFIN,GUE. gue kan cuma suka sama loe Mon "
Mondi menundukkan kepalanya dalam, kedua mata nya terpejam erat tangan nya terkepal erat.
MAMPUSLAH DIA!!!!!
Seketika aktivitas pemanasan pun terhenti, Semua orang menoleh ke arah raya, tak terkecuali Bu dewi yang kini menatap marah ke arah raya dan Mondi setelah mendengar teriakkan raya yang begitu membahana mengalahkan penyanyi papan atas Syahrini.
mereka berdua pun kini menjadi pusat perhatian.
Bu dewi terlihat melotot tajam, semua orang meringis melihat raut wajah Bu Dewi kecuali raya. Yang kini terlihat salah tingkah.
"Mampus loe, Ray." Ucap Reva pelan berbisik.
"Kamu, anak baru kenapa teriak-teriak?" Tanya Bu Dewi dengan raut wajah galak.
"Anu Bu saya!____"gagap raya.
"Kalian mengobrol?"
"Tidak Bu." Jawab Mondi cepat.
"Kalian pacaran? Di saat jam pelajaran saya?"
"Ehh, tidak Bu. Kami tidak pacaran kok"
"Kamu juga Mon, apa kamu lupa peraturan di kelas saya siswa-siswi dilarang berbicara, berbincang di luar konteks pelajaran. Ngerti kamu?"
Mondi hanya diam, kali ini dia yakin musibah akan datang lagi padanya kali ini.
Sial___
"Kalian berdua saya hukum lari keliling lapangan sebanyak lima belas kali, sebagai pelajaran untuk anak-anak yang lain jika melanggar peraturan saya akan bernasib sama seperti kalian."
"Loh, Bu saya kan gak ada ngomong apa-apa. Kok saya juga ikut di hukum." Protes Mondi tidak terima.
"Lari keliling lapangan Lima belas kali sekarang juga.' teriak Bu Dewi murka.
"Loh ini gak adil dong, Bu."
"Sekali lagi kamu berbicara saya tambah hukuman kamu menjadi lari tiga puluh puteran keliling lapangan ini. Mau?"
"Jangan, Bu ."
Mondi mendesah berat.
__ADS_1
"Ya, sudah sana. Ingat saya mengawasi kalian." Plotot Bu Dewi.
Dengan berat hati Mondi segera keluar dari barisan di ikuti dengan raya, menurut raya di hukum pun tak menjadi masalah sama sekali baginya asalkan ia bisa berada dekat dengan Mondi .
KAWAL TERUS SAMPAI DAPAT...
Begitulah kira-kira pemikiran yang saat ini memenuhi setiap ruang kosong di otak raya, tak peduli bagaimana pun caranya.
"Ayo, yang lain teruskan." Perintah Bu Dewi keras dan tegas.
"Baik, Bu." Jawab mereka bersamaan.
•••
Bagi seorang MONDI ALVANO ini adalah sejarah dan sebuah penghinaan untuk nya, ini ke-dua kalinya ia di hukum untuk hal yang sama sekali bukan salahnya.
Bahkan sejak saat ia masuk di bangku TK, SD, SMP, sampai sekarang SMA ia tak pernah mengenal yang namanya hukuman, dan ini adalah ke-dua kalinya ia merasakan yang namanya hukuman dan itu sebuah musibah untuknya.
"Mondi tungguin,Raya." Raya berusaha mengejar Mondi, ia mempercepat larinya.
hingga raya akhirnya bisa mensejajarkan ke-dua kakinya dengan mondi.
"Raya, senang loh bisa Deket terus sama Mondi. walupun harus di hukum kayak gini."
"Tiap hari juga gak papa kok raya rela, rela banget malahan asal sama mondi."
"Mondi seneng gak bisa barengan kayak gini sama raya?."
"Mon, jangan cuekin raya dong."
"Mon, jangan diem aja. Respon dikit kek raya kan suka sama Mondi!"
"Mon, tungguin raya!!!!" teriak raya yang melihat justru kini Mondi malah menambah kecepatan berlarinya.
"Mon, tungguin gue. Nafas gue sesek mon, jangan kencang-kencang larinya."
"MON___"
GUDUBRAK....
"Raya? Ray." Teriak Reva begitu keras saat melihat temannya terjatuh.
Mondi memperlambat laju larinya saat ia tak lagi mendengar ocehan dari gadis di sampingnya, Mondi mengerutkan keningnya saat kini justru teriakan Reva lah yang memenuhi Indra pendengaran mondi.
"Astaghfirullah__" kaget Mondi, ketika berhenti dan menoleh ke belakang melihat raya yang kini berbaring di atas lapangan, ia pun berlari mendekat ke arah raya.
"Loe kenapa?" Tanya Mondi heran.
"Ini udah putaran ke berapa?" Tanya balik raya pelan sambil terlihat kehabisan nafas, ia memejamkan matanya.
"Sepuluh!!!!"
"Gue, gak tahan lagi. Mondi jangan cepet-cepet larinya." Ucap raya begitu pelan, ia merasakan dadanya sakit sekali ,kepalanya juga memberat.
Raya mencoba kembali berdiri, sekuat tenaganya untuk menyelesaikan masa hukuman mereka.
Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Mondi, ia mengabaikan rasa pusing yang kini mulai mendera di kepalanya.
"Ayo, kita masih punya lima putaran la__"
Brukkk.....
Belum sempat raya menyelesaikan kata-katanya, ia kembali terjatuh dan tak sadarkan diri.
"RAYA..."
Mondi pun ikut mematung di tempat, ia melihat wajah pucat milik raya dan juga bibirnya yang terlihat putih yang tertutupi sebagian helai rambutnya.
"Mon, kok diem aja?" sahut Reva.
"Ya, terus gue harus ngapain?"
Reva merasa gemas dengan jawaban simpel Mondi.
"Ya, gendonglah!!!" Titah Reva.
"GUE? Gendong, Ogah."
Reva semakin gemas. "Loe Bener-bener hati batu ya Mon."
"Salah dia sendiri, kok yang repot gue!!!" Ucap Mondi tidak ingin di salahkan.
"Mondi, please???" Seru Reva semakin kesal.
"Kan bisa nyuruh yang lain? Kenapa harus gue?"
"Ini semua kan gara-gara loe, gak peka banget sih jadi cowok!!!" Geram reva.
Mondi menatap datar Reva.
"Dia yang duluan cari masalah, sedang gue gak Ngapa-ngapain kok. "
"Mon, please . Bawa raya Sekarang ke UKS ini anak orang bisa mati loh gara-gara loe. mau loe tanggung jawab sama orang tuanya, Raya ini punya penyakit magh sama anemia akut. Setidaknya loe tunjukkin rasa kemanusiaan loe!!!! Bisa ????"
"Ini pasti gara-gara dia gak sarapan lagi!" keluh Reva.
"loe seriusan???."
Reva menatap Mondi jengkel, "Loe kira gue lagi latihan drama apa!!!. Cepet angkat buruan. "
"iya, iya. "
Mondi yang sedikit terkejut mendengar perkataan reva, refleks dirinya pun segera membawa raya ke UKS.
Di ikuti Reva dan beberapa siswa-siswi yang juga sangat penasaran dengan hubungan ke-dua nya , yang kini menjadi buah bibir dan menjadi bahan perbincangan kontroversional dan sensasional semenjak kehadiran raya
Mondi memasuki ruang UKS, ada dua orang PMR dan satu dokter di sana. Mondi membaringkan raya di salah satu kasur kabin, ia masih tidak sadarkan diri.
"Kenapa dia?" Tanya dokter adriana mendekat, segera memeriksa kedua mata raya dengan pen-light.
"Dia habis lari sepuluh putaran dok, katanya punya penyakit magh sama anemia kronis." Jelas Reva terlihat khawatir.
"Ambilkan rebreathing mask sekarang juga" suruh dokter adriana kepada dua petugas PMR yang segera melaksanakan perintahnya.
"Ini dok" ucap salah seorang anak PMR, menyerahkan alat tersebut.
"Apa perlu panggil ambulance, Dokter ana?" Tanya Mondi .
Dokter adriana segera memasangkan alat tersebut, ia juga memeriksa beberapa kali pernapasan raya yang mulai sedikit teratur.
"Gak usah, Dia hanya kehilangan sedikit oksigen dan tenaga. Apalagi magh nya kambuh karena mungkin ia melewatkan sarapannya tadi pagi!!!"
"Biarkan dia istirahat, mungkin sebentar lagi dia akan segera siuman. Kalian tenang saja" Jelas dokter ana lebih tepatnya dokter Adriana namun ana lah sebagai nama panggilannya.
"Baik dok terima kasih." Ucap Reva dan mondi
__ADS_1
"Sama-sama , Ya sudah saya permisi dahulu. "
Dokter Adriana dan ke-dua petugas PMR pun segera meninggalkan ruang UKS .
"Gue gak mau tau, loe harus tanggung jawab .Habis raya sadar loe harus anterin dia pulang Ke rumah"
Reva menatap tajam Mondi.
"Kenapa harus gue lagi?" .
"Ini semua berawal dari elo, dan ini semua juga gara-gara loe. Jadi loe harus tanggung jawab."
"Loe harus Anterin raya pulang." Reva menekan setiap kata-kata nya.
"Ogah!"
Reva berdiri dari duduknya, menghadapi manusia batu dan tak punya hati memang membutuhkan kesabaran yang super tinggi dan Reva sedang melakukan hal itu sekarang .
Jika tidak mungkin saat ini reva akan memberikan sedikit pelajaran untuk cowok berhati batu di hadapannya ini.
"Loe jadi cowok jahat banget si Mon, hati loe terbuat dari batu apa? Raya kayak gini gara-gara loe. Loe nyadar gak sih?"
"Itu bukan gara-gara gue, harus berapa kali gue bilang!!." Mondi mendengus tak suka mendengarkan perkataan reva yang selalu menyalahkan dirinya.
"Kalau bukan karena raya suka sama loe, dia mungkin gak akan ngelakuin hal bodoh kayak gini, dia pingsan gara-gara loe dan itu cuma buat bisa deketin loe. Dan sekarang apa yang dia dapat NOTHING."
"Yang suka siapa? Dia kan? Jadi salahin aja dia."mondi menjawab dengan dingin.
"Pokonya gue gak mau tahu loe harus anterin dia pulang! Titik!"
"Ogah!!!!"
"Astagfirullah, Mondi Alvano!!! Loe beneran gak punya hati banget, jahat banget, ini anak orang hampir mau mati gara-gara loe. Setidaknya loe tunjukkin sedikit hati nurani loe, Mon?"
"Ahhhh, Apa jangan-jangan Loe gak punya hati nurani lagi?"
Saat hendak menjawab perkataan reva tiba-tiba Ares dan Rey masuk ke dalam UKS, mereka yang sejak tadi kepo pun akhirnya memutuskan untuk memasuki ruang UKS.
"Gimana keadaan pacar loe?" Tanya Ares
"Dia bukan pacar gue!!!!" Jawab Mondi ketus.
"Galak amat!!!" Komentar Rey di sebelah.
"Gimana re, si raya gak kenapa-kenapa kan?"
Reva menatap tajam ke dua teman Mondi tersebut
"Temen loe ini harus mau tanggung jawab?" Ucap Reva memberi isyarat melalui wajahnya.
Rey dan Ares menatap sahabatnya.
"LOE, Buat dia hamil. Mon?"
Mondi melayangkan tatapan tajamnya, sedangkan Ares segera menjitak kepala Rey dengan cukup keras.
"Aduhh!!!! Apaan sih res? Sakit nih? Ah elu?"
Rey memegangi kepalanya.
"Otak lu lagi gak beres kayaknya? nih Minum Aqua biar Lo gak gagal fokus. " Ares memberikan sebotol air putih pada sahabatnya.
"Kan si Reva tadi bilang tanggung jawab, biasanya itu kan di tujukan untuk wanita yang ha___"
Ares dengan cepat segera menutup mulut sahabatnya itu.
"Pokonya loe harus anterin raya titik!!!!"
"Sorry, gue gak bawa kendaraan!!!"
"Loe, bisa minjem salah satu kendaraan dari kedua teman loe!!!"
"Ogah!!!"
"Masyallah, Mon loe Bener-bener hati batu!!! Dimna hati nura__"
Mondi menatap Reva dengan jengah!!!
Kenapa sih kini dirinya yang harus repot-repot seperti ini? Raya pingsan juga itu bukan karena dirinya.
"Iya iya gue Anterin pulang nanti, minjem motor Rey. PUAS LOE!!!!." Mondi menyerah, ia tidak ingin berdebat dengan seorang perempuan yang pastinya tak ingin kalah. Bahkan sampai esok hari pun mungkin kaum perempuan masih akan kuat jika di ajak berdebat.
"Nah, gitu dong. Dari tadi kek__ngabisin tenaga gue aja!!."
Reva segera melangkah ke arah pintu ruangan UKS.
"Loe, mau kemana?"
"Masuk kelas lah, gue masih ada pelajaran Bu sindi."
"Loe, gak mau jagain teman loe?" Tanya Mondi.
"Gue? Ya harusnya loe lah, loe kan pelakunya!!! Dan ini gara-gara loe, jadi loe yang harus tungguin temen gue sampe sadar nanti ."
Mondi Mematung? Kenapa harus dirinya lagi? Apakah ini musibah? Tentu saja ini sebuah musibah untuk seorang Mondi Alvano.
"Titip temen gue ya!! Jaga baik-baik. Bye!!!"
Belum sempat Mondi membalas perkataan reva, gadis tersebut kini sudah menghilang di balik pintu.
Mondi kini terlihat mengacak-acak rambutnya prustasi ia begitu terlihat kesal.
"Jadi bener loe hamilin dia, Mon? Wah Bener-bener loe ?? Terus Gita gimana Mon?" Rey nampak menggeleng-gelengkan kepalanya, membayangkan bagaimana reaksi Gita.
Ares yang mengetahui gelagat tak baik yang di tunjukan Mondi pun dengan terpaksa menyeret paksa Rey keluar, sebelum mereka berakhir menjadi debu di tangan seorang Mondi.
"So..sorry Mon, kita duluan."
"Duh, res loe kenapa tarik-tarik gue."
"Udah loe diem aja!"
"tapi res si mondi belum jawab pertanyaan gue, apa bener raya ha...."
Ares segera menutup mulut biadab Rey dengan salah satu tangannya yang lain.
"Bye, Mon___" Ares melambaikan tangannya.
Blammm....
Terdengar suara pintu yang tertutup, Mondi menghela nafas beratnya, sungguh hari yang buruk untuk Mondi .
Apalagi kini ia harus terjebak di UKS dan menunggu gadis aneh tersebut siuman!!!
"Ya'allah, apakah ini salah satu ujian mu? Jik iya hamba tidak kuat lagi ya'allah. Ini sebuah MUSIBAH BUKAN LAGI UJIAN KESABARAN!!!!"curhat Mondi.
__ADS_1
Tbc___