
Malam itu, usai resepsi pernikahan kakaknya berakhir, Andra tampak termenung sendiri di kamarnya. Masih lekat dalam ingatannya sebuah peristiwa memalukan dan rasa kesal yang mendera tadi siang.
Selesai adegan nyatakan cinta yang berakhir dalam penolakan, Erik meminta waktu Andra untuk berbicara empat mata. Dengan perasaan ragu-ragu, Andra mengikuti kemauannya. Di tempat sepi keduanya berbicara. Ia harap Aydan tak akan tahu.
"Sorry ya, Ndra. Tadi udah bikin malu kamu," ujarnya dengan wajah sedikit merona. Erik sendiri juga merasa malu sebenarnya. Terbukti berkali-kali ia mengusap tengkuknya merasa gelisah.
"Iya, Mas. Nyantai aja."
"Aku gak tahu kalau ternyata kamu udah punya pacar. Tahu gitu, aku gak bakalan nembak kamu, deh. Soalnya kata Ibnu, kamu masih jomblo," dalihnya. Padahal ia sempat menduga jika gadis itu memiliki perasaan yang sama dengannya. Apalagi hadiah kalungnya dipakai kemudian. Siapa sangka, ternyata kecurigaannya terhadap Andra dan Aydan memang benar.
Andra menyeringai. Memang salahnya juga yang belum cerita apa pun tentang Aydan. Ia masih khawatir jika hubungannya akan ditentang lagi oleh ibunya. Meskipun larangan itu sudah tak berlaku lagi sejak ia lulus kuliah. Namun, rasa cemas terlanjur melekat mengingat ibunya dulu kurang suka pada senior angkatannya itu.
"Salahku juga, kok. Aku emang gak pernah cerita sama keluarga soal cowok. Aku cuma gak mau bikin mereka khawatir. Soalnya dulu pernah ada kasus," ungkap Andra. Ia teringat perselingkuhan mantannya, Nathan, dan juga perselingkuhan almarhum ayahnya dulu.
Erik manggut-manggut berusaha mencerna maksudnya. Sedikit banyak dia tahu masalah apa yang sempat menerjang keluarga sahabatnya itu. Bahkan soal Nathan yang kini sudah jadi masa lalu.
Suasana kikuk makin terasa saat keduanya sama-sama diam. Erik bingung mau bicara apalagi. Otak cerdasnya yang piawai dalam bisnis kini seperti buntu saat patah hati. Erik hanya bisa pasrah.
"Ya udah. Kalau gitu good luck ya. Semoga hubunganmu langgeng dengan Aydan." Ia berusaha tersenyum agar terlihat legowo. Lelaki tegap itu hendak berbalik pergi. Ia merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.
"Tunggu sebentar!" seru Andra. Erik menoleh cepat.
"Anu, Mas. Aku harap hubungan kita akan tetap baik-baik aja. Nggak akan menganggu dalam hal kerjasama proyek nanti," pintanya ragu-ragu.
"Oh, itu sudah pasti. Aku orang yang cukup profesional, kok. Tenang aja." Sekali lagi Erik berusaha memberikan senyum terbaiknya. Andra membalas senyuman itu. Setidaknya ia merasa lega tidak ada ganjalan lagi. Perhatian Erik selama ini ternyata memang ada maksud tertentu seperti dugaan Aydan.
Dan, begitu acara resepsi selesai, Andra diminta Ibnu dan Alfian untuk memperkenalkan Aydan pada mereka. Bahkan Ningsih, sudah menunggu sejak tadi.
Andra menarik lengan Aydan mendekat. Lelaki berwajah manis dan kulit sawo matang itu, tampak gugup dengan jantung berdegup kencang.
__ADS_1
"Ma, Kak Ibnu, Kak Al, ini Mas Aydan. Dia senior angkatanku waktu kuliah," ungkap Andra memberanikan diri.
Kedua kakak lelaki Andra segera menyalaminya dengan tatapan dingin. Aydan pun segera sungkem pada Ningsih.
"Perkenalkan aku Aydan dari Palembang," ucapnya ramah.
"Hmmm...." Hanya deheman dari mulut Ningsih.
Andra duduk berhadapan dengan ibu dan kedua kakaknya. Mereka bertiga menatap tajam pada kekasihnya yang menunduk merasa gugup.
"Kata Mama, kalian dulu pernah pacaran ya waktu kuliah. Terus putus dan sekarang nyambung lagi," cecar Ibnu dengan kedua tangan bersedekap.
"Eh, kata siapa kami pacaran? Nggak, kok!" protes Andra gelagapan. "Iya, kan? Kita gak pacaran, kan? Cuma dekat aja, kan?" Andra melirik pada Aydan meminta dukungan.
Lelaki berkacamata itu mengangguk setuju. "Betul kata Andra. Kami gak pernah punya hubungan khusus. Kalau cuma sekedar dekat sih, betul. Hanya hubungan akrab antara senior dan junior aja," dalihnya.
"Ah, masaaa?" goda Alfian. Andra menyikut pinggang kakaknya dengan mata melotot.
"Ya terus apa hubungannya dengan sekarang? Dulu aku memang sempat dekat, setelah Mama protes sampai datang ke kosan, aku udah gak berhubungan lagi dengan Mas Aydan, kok. Terus sekarang aku udah lulus kuliah. Apa masih dilarang juga?" keluh Andra mulai kesal. Ia merasa obrolannya sudah tidak relevan lagi.
"Dasar bego! Kalau masih dilarang, ngapain aku mau comblangin kamu sama Erik," sahut Ibnu sambil menyelentik dahi adiknya.
"Terus dari tadi diinterogasi mau ngapain?? Mau protes kenapa aku balikannya sama dia? Bukannya menerima Erik aja, gitu?" tukas Andra sewot.
"Dih, ada yang sewot," ledek Alfian terkekeh.
"Siapa yang sewot?!" bantahnya dengan wajah jutek. Ibnu dan Alfian malah tertawa.
Ningsih yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya angkat bicara.
__ADS_1
"Dian, kenapa kamu gak cerita kalau udah punya gandengan?" tanya Ningsih.
"Emangnya mobil truk?" sahut Andra kesal. Ia mencebik. Aydan yang banyak diam tak berani bersuara jadi salah tingkah sendiri.
"Bukan begitu, Dian. Mama kan perlu tahu juga. Kamu anak gadis Mama satu-satunya. Harus dijaga baik-baik. Kalau sudah punya pacar sebaiknya cepat dikenalkan. Biar kita mengenal lebih baik," lanjut Ningsih lembut.
"Ya maaf, Ma. Andra belum sempat. Kan sibuk terus. Andra juga takut kehadiran Mas Aydan ditolak lagi kayak dulu. Makanya perlu waktu yang tepat untuk cerita. Nggak kayak gini malah dadakan," dalihnya.
"Ya udah. Sekarang kami semua sudah tahu. Sekarang kamu sudah cukup dewasa. Mama gak akan ngelarang kamu cari pacar atau jodoh lagi. Nah, karena sudah ada, jadi kapan kira-kira Aydan akan meresmikan Dian?" cecar Ningsih.
Mata Aydan dan Andra sama-sama membulat. Keduanya kaget dan saling pandang.
"Ma-maksudnya, Bu?" Kali ini Aydan bersuara.
Alfian menepuk bahunya. "Maksudnya kami ingin kamu segera melamar adik kami. Kalau sudah merasa sama-sama cocok. Jangan kelamaan pacarannya. Nggak baik juga," papar Alfian sembari tersenyum. Kali ini wajah tidak ramahnya sudah sirna. Begitu juga Ibnu. Rupanya mereka hanya sedang berpura-pura galak.
"Melamarku?" timpal Andra tak percaya dengan permintaan keluarganya.
"Iya, Adekku. Makanya aku mau comblangin kamu sama Erik, biar kamu segera menikah. Ibnu juga sedang cari calon istri. Dia sudah sangat mapan." beber Ibnu.
Mendengar kata mapan membuat Aydan sedikit merasa tersentil. Ia memang tidak sekaya Erik. Walaupun sudah punya mobil dan apartemen sendiri. Dia juga bukan bos muda. Hanya karyawan swasta di perusahaan temannya.
"Kaya sih, tapi kan Andra gak suka. Kekayaan seseorang gak bisa jadi jaminan rumah tangganya bahagia. Tuh, lihat Mama contohnya. Dulu Papa kaya raya, tapi ujun-ujungnya selingkuh juga," ungkap Andra tanpa bermaksud mengorek kembali luka lama. Ningsih terdiam, lalu ditegur kakaknya.
"Maaf, Ma. Andra cuma mau ngasih contoh nyata aja. Andra belajar dari pengalaman Mama." Andra langsung memeluk ibunya karena merasa bersalah. Ningsih mengusap kepalanya dengan senyum tipis.
"Jadi, gimana, Dan? Kapan kamu akan melamar Diandra," todong Ibnu tanpa basa-basi lagi.
Seketika Aydan makin kebingungan. Mengingat situasinya sendiri yang masih belum menemukan solusi untuk masalah kakaknya. Seandainya ia tidak ada masalah lain, pasti sudah lama akan melamar Andra sejak jati dirinya sebagai teman online Andra terbongkar.
__ADS_1
❀❀❀