Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Prasangka


__ADS_3

Plakat nomor 3075 di depan sebuah pintu kamar hotel membuat Andra khawatir dan dadanya berdebar-debar. Matanya beralih mengamati pintu hotel yang masih tertutup rapat itu dan sosok Erik di sebelahnya. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Membayangkan akan berduaan di dalam sana bersama seorang lelaki yang belum lama ia kenal sungguh menakutkan.


"Ada apa?" tanya Erik sembari menatapnya.


"A-anu, Mas Erik. Aku mau toilet dulu sebentar. Ada di mana ya?" dalihnya. Ia mencoba untuk mengulur waktu dan mencari alasan untuk pergi.


"Di dalam kamar kan ada toiletnya. Ayo masuk!" usul Erik.


'Aduh! Bener juga. Di sana kan ada toilet. Aku harus kasih alasan apalagi?' batin Andra bingung hingga seorang pria melewati mereka dengan membawa satu buket mawar merah. Tiba-tiba terbesit ide lain.


"Aku harus ke warung dulu. Mas Erik duluan aja. Nanti aku nyusul," ujar Andra lagi sambil hendak meloyor pergi.


"Eh, eh. Mau ke mana?" teriak Erik panik berusaha menahannya.


"Aku mau pergi beli pembalut. Mau ikut?" tanya Andra dengan senyum menyeringai. Ia yakin lelaki itu pasti enggan.


"Beli pembalut? Kamu lagi...?" Satu alis Erik naik ke atas. Dengan mantap Andra mengangguk. Akhirnya ia dibiarkan pergi. Sementara Erik menatapnya dengan pandangan kecewa. Andra terkekeh dalam hati.


Dengan langkah terburu-buru, ia segera masuk lift dan turun ke lantai dasar sambil menyalakan ponsel. Begitu jaringan seluler itu aktif, rentetan pesan BBM dan notifikasi miscall berdatangan. Hampir semuanya dari Aydan. Tanpa menunggu lagi ia segera menghubunginya.


"Halo, Mas Aydan!" serunya begitu dijawab.


"Andra! Ada di mana kamu? Aku menyusulmu ke kantor Erik, tapi kamu udah gak ada. Bahkan motormu masih di sini."


"Aku diajak makan sama Mas Erik. Sekarang aku di hotel."


"Di hotel?! Kalian makan di restoran hotel mana?"cecar Aydan tak sabar.


"Hotel XXX, tapi kami bukan di restorannya."


"Apa maksudmu?"


"Dia... dia... akan membawaku ke kamar hotel, Mas," ungkap Andra ragu-ragu. Sebenarnya Andra takut Aydan akan cemburu dan salah paham jika memberi tahu, tapi dia sendiri butuh bantuannya.


"Apa?!" teriak Aydan lantang. "Mau apa dia membawamu ke kamar hotel? Pasti mau berbuat kurang ajar!" hardiknya geram.


"Mana aku tahu. Makanya aku butuh bantuanmu, Mas. Aku mau kabur, tapi aku takut dia marah dan proyek kita akan dibatalkan," terang Andra.


"Aku gak peduli soal proyek darinya akan gagal. Pokoknya aku akan menyusulmu. Sekarang posisimu di mana? Biar aku menjemputmu."


"Aku sedang di lobi hotel."

__ADS_1


"Jangan masuk kamar sebelum aku datang!" tekan Aydan serius.


"Oke."


Aydan segera menyudahi telepon itu. Ia segera masuk mobil dan tancap gas. Emosinya memuncak dengan cepat. Sejak ia bertemu Erik, perasaannya memang sudah tidak suka. Kini ia semakin tidak suka. Sementara itu Andra duduk dengan perasaan gelisah di sofa lobi. Termenung memikirkan apa yang akan terjadi nanti jika ia tetap masuk ke kamar hotel itu. Lalu sebuah bayangan Erik yang tengah memeluknya dari belakang dengan penuh hasrat tiba-tiba muncul dalam benaknya. Membuat bulu kuduknya berdiri. Andra menggelengkan kepala berulang kali. Menyingkirkan adegan gila itu. Berharap Aydan cepat datang menyusul, sehingga dapat membatalkan apapun yang akan dilakukan Erik di kamar hotel nantinya.


Beberapa menit berlalu. Aydan belum juga datang. Ia semakin resah. Beberapa kali pula Erik menelpon menanyakan keadaannya mengapa begitu lama. Dengan alasan toko serba adanya jauh, Andra bisa mengulur waktu lebih lama. Untuk membuktikan bahwa dia tidak berbohong, Andra benar-benar pergi membeli pembalut di toko terdekat.


Di saat tengah memilih pembalut, Ibnu pun menelepon dan bertanya apakah dia sudah makan siang. Ia terpaksa berbohong.


"Aku sedang makan siang dengan Mas Erik, Kak. Tadi aku habis presentasi di kantornya," terangnya.


"Serius sedang makan? Soalnya kamu suka telat makan. Jangan sampai maagh kamu kambuh lagi kayak dulu," pesan Ibnu mengkhawatirkan adiknya.


"Iya, Kak. Iya. Gak percaya banget, sih."


"Bagaimana mau percaya? Dulu waktu kuliah tiap ditanya katanya sudah makan, ternyata cuma ngemil doang. Dan, kamu sering melewatkan jam makan saat banyak tugas. Apalagi kamu suka begadang dan doyan minum kopi. Masih ingat kan kamu sampai harus masuk IGD?" ungkapnya.


"Iya. Aku ingat," jawab Andra lesu.


Bagaimana mungkin ia lupa. Setiap menjelang akhir semester, semua tugas kuliah harus dikumpulkan dengan selang waktu cuma satu dua hari. Meskipun ada tugas berkelompok, tetap saja tugas pribadinya tak kalah banyak. Terpaksa ia rajin begadang demi mengejar waktu yang tersisa. Ia tak mau mendapatkan nilai jelek gara-gara terlambat mengumpulkan tugas.


"Untung saja di sana ada Erik. Aku sudah minta tolong padanya untuk menjagamu. Dia sudah mau repot-repot memberikanmu makanan. Jadi, tolong jangan kecewakan dia."


"Ya iyalah. Dia selalu bertanya tentangmu. Dia juga pernah cerita kalau dia sama khawatirnya sepertiku kepadamu."


Andra termenung mendengar pengakuan kakaknya. Kecurigaannya terhadap Erik sedikit memudar. Mungkinkah Erik perhatian padanya sebagai seorang kakak?


Pembicaraan di telepon pun terpaksa diakhiri karena Andra harus segera kembali ke hotel. Sepanjang jalan pikirannya tak pernah berhenti memikirkan Erik.


'Jika benar Mas Erik begitu khawatir dan perhatian padak sebagai kakak, apa mungkin dia akan berbuat jahat padaku?' batin Andra ragu.


"Andraaa!" teriak Aydan membuyarkan lamunanannya. Lelaki berkacamata itu baru saja keluar dari mobilnya yang baru saja sampai. Aydan melihat kekasihnya sedang berjalan sendirian dengan kresek hitam di tangan menuju pintu hotel. Matanya langsung berbinar bahagia.


"Mas! Akhirnya datang juga," sahut Andra senang. Ia menyusul Aydan di tempat parkir.


"Ayo kita pulang aja!" titah Aydan sembari menarik tangan Andra.


"Jangan, Mas." Gandengan tangan itu dihempaskan. Seketika Aydan terpana.


"Katamu kamu takut? Ya udah kita pulang aja. Biar aku yang akan menjelaskan padanya."

__ADS_1


"Bukan begitu, Mas. Setelah aku pikir-pikir, aku gak mau dia kecewa terus proyek ini gagal dan malah mempermalukan kakakku. Lagipula belum tentu juga dia akan berbuat nakal di dalam kamar itu, kan?"


"Mana mungkin seorang lelaki mengajakmu ke hotel tanpa berbuat apa-apa. Hari gini? Aku aja nyaris tergoda padamu saat di Bali," protes Aydan.


Andra berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kamu ikut juga bersamaku?" sarannya.


"Apa gak akan terasa aneh kalau tiba-tiba aku muncul?"


"Terus gimana lagi, dong? Belum ada bukti jika dia akan berbuat senonoh padaku, Mas."


"Jadi kamu mau bukti dulu? Kamu mau dia berbuat nakal dulu? Begitu?" gerutu Aydan kesal.


"Jangan marah, dong. Aku hanya gak mau kita berasumsi buruk pada klien."


"Terus maumu apa? Jangan bilang kalau kamu tetap ingin masuk ke kamar itu bersamanya demi melancarkan proyek itu!" hardik Aydan.


"Mas! Aku gak semurahan itu!" balas Andra tak terima dengan tuduhannya.


"Lantas apa? Kalau gitu ayo kita pulang aja!"


Di tengah perdebatan itu, dering ponsel Andra berbunyi. Erik meneleponnya lagi dan berkata bahwa dia ada di lobi dan akan menyusulnya ke toko. Dari tempat parkir ia bisa melihat sosok Erik sedang berjalan keluar sambil menelepon. Andra dan Aydan panik.


"Bagaimana ini?" tanya Andra bingung.


"Ya udah. Kamu tetap ikuti apa maunya. Nanti aku akan mengikutimu diam-diam. Teriak saja jika ada apa-apa. Aku akan berjaga di depan pintu," usul Aydan akhirnya.


"Baik, Mas."


Andra segera melanjutkan langkahnya ke teras hotel di mana ada Erik sedang menantinya. Lelaki itu tersenyum lega melihat Andra sudah kembali.


"Kok, lama sekali?" tanyanya.


"Maaf, Mas." Andra menyeringai.


"Aku sempat berpikir kalau kamu diam-diam pulang," ujarnya sedih.


"Oh, bukan begitu. Tadi pembalut favoritku pada kosong jadi aku muter-muter dulu," jawabnya berbohong lagi.


"Ya sudahlah. Ayo masuk! Aku sudah kelaparan. Mereka sudah menyiapkan makanan istimewa untukmu," papar Erik sembari merangkul pinggang Andra sedikit untuk menggiringnya masuk. Kelakuannya itu jelas terlihat di mata Aydan yang mengamati dari balik pohon. Ia mendengus kesal.


"Awas aja kalau sampai macam-macam!" gumam Aydan dengan dada bergemuruh dan tangan mengepal kuat-kuat.

__ADS_1


❁❁❁


__ADS_2