
Aydan terbengong-bengong dengan suasana yang ada di Suite Room itu. Ia berusaha mencerna yang baru saja terjadi tadi. Andra yang tadi menangis, bahkan air matanya masih belum kering terpana melihatnya karena memukul klien mereka penuh amarah. Erik yang berdarah dan lebam wajahnya pun menatapnya dengan ekspresi separuh jengkel. Dua orang pria yang ia duga adalah teman Erik, berusaha melerainya sekuat tenaga. Widia yang berpenampilan seperti kuntilanak dan Ivane yang berpenampilan seperti pocong pun tertegun dengan wajah cemas.
Sebuah tulisan 'Happy Birthday Diandra' di dinding dan kue tart ulang tahun membuatnya semakin bingung.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanyanya masih belum mengerti.
"Mas Aydan!" seru Widia. "Maaf, kami gak ngajak Mas Aydan bergabung untuk mengerjai Andra. Soalnya kata Mas Imam, Mas Aydan sedang meeting. Hari ini kan dia berulang tahun," ungkap Widia.
"Ulang tahun Andra hari ini?" gumamnya. Ia sama sekali tak ingat sekarang tanggal berapa dan hari apa. Semua kesibukannya membuatnya lupa hari penting kekasihnya sendiri. Termasuk Andra juga.
"Iya, Mas. Aku juga lupa ulang tahunku sendiri. Pantas aja rasanya ada yang aneh," ucap Andra sambil melirik orang-orang yang telah berhasil mengerjainya hingga ia ketakutan setengah mati sampai menangis.
"Jadi, kamu tadi gak diapa-apain sama Erik, kan?" tanya Aydan lagi untuk memastikan. Ia memeriksa seluruh tubuh Andra dengan perasaan cemas. Mulai dari kepala hingga kaki.
"Mas, aku baik-baik aja. Maaf, sudah membuatmu khawatir," bisik Andra pada Aydan yang kini berwajah tak karuan. "Sekarang kamu harus minta maaf pada Mas Erik. Dia nyaris babak belur dihajarmu," usulnya sembari melirik Erik yang masih tertegun melihat keakraban keduanya.
Erik sendiri menatapnya dengan senyum canggung karena kejadian tadi, ia jadi korban prank juga dan merasa bersalah. Dua orang pria yang tadi menahan Aydan kini terkekeh-kekeh. Dua orang pria itu adalah Ibnu dan Alfian, kakaknya Andra.
"Maafkan aku, Erik. Aku benar-benar hilang kendali tadi. Aku sudah panik saat Andra teriak-teriak minta tolong," terangnya.
"Gak apa-apa, Dan. Aku memakluminya. Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama," jawabnya.
"Dan kita sama sekali gak nyangka kalau Mas Aydan bakalan nyusul Andra kemari. Kita pikir masih meeting di kantor. Tau gitu kan kita ajakin gabung aja buat ngerjain Andra tadi," timpal Widia.
"Iya. Pasti gak akan kacau kayak gini," imbuh Ivane.
"Siapa dia, Dek?," tanya Ibnu penasaran yang sejak tadi hanya menyimak
"Dia... senior arsitek di kantorku, Kak," jawab Andra mendadak gugup. Andra baru sadar jika keluarganya belum kenal dengan Aydan, atasannya yang kini sudah jadi kekasihnya.
"Mas Aydan, perkenalkan ini kakakku, Kak Ibnu dan Kak Alfian. Mereka seharusnya ada di Bandung, tapi entah kapan datang ke Jakarta," ungkap Andra.
Ibnu dan Alfian tersenyum pada Aydan yang kini jadi kikuk dan benar-benar merasa malu. Ia menganggukkan kepala pada kedua kakak kandung Andra.
__ADS_1
"Ya udahlah. Karena prank-nya udah ketahuan jadi bagaimana kalau kita melanjutkan acaranya dengan meniup lilin dan potong kue," usul Ibnu mencoba mencairkan suasana.
"Setujuuuu!" jawab mereka kompak.
"Cepatan, Ndra. Gue udah laper, nih," ungkap Ivane tanpa rasa malu. "Baju pocong ini bikin gerah lagi." Ivane melepaskan kostum pocong itu. Widia juga melakukan hal yang sama pada kostum kuntilanaknya.
Lantas kue tart yang sudah tersaji sejak tadi di atas meja dinyalakan lilinnya. Semuanya berkumpul dan menyanyikan lagu 'Happy Birthday' dengan ceria. Sebelum meniup lilin, Andra memejamkan mata untuk berdoa. Lalu api lilin itu terhembus angin dari mulutnya dan mati. Semuanya bertepuk tangan dan bersorak.
Acara potong kue langsung dilakukan. Potongan pertamanya ia berikan kepada kakak tertuanya, Ibnu. Berikutnya pada Alfian, Aydan, Erik, Widia, dan Ivane. Erik terkejut saat Andra menyuapi Aydan kue itu dari sendoknya dengan wajah semringah. Ada perasaan nyelekit di hatinya.
Setelah memakan kue tart, masing-masing sibuk mengobrol di sofa sambil makan makanan lain. Widia dan Ivane mengobrol dengan Aydan. Alfian dan Ibnu sibuk mengobrol dengan Erik. Andra sendiri di kamar mandi untuk sedang memperbaiki penampilannya yang tadi kacau balau.
Di depan cermin, ia teringat kata-kata kakaknya yang bilang kalau Erik menyukainya. Kini ia paham untuk apa semua kiriman makanan itu diberikan. Dan, mengapa sikapnya begitu baik dan penuh perhatian. Semula ia pikir, Erik hanya bersikap baik selayaknya kakak pada adiknya, tapi ternyata lebih dari itu. Kini ia tak tahu harus bersikap bagaimana.
"Mungkin sebaiknya gue berpura-pura gak tahu aja, deh," gumam Andra di depan cermin kamar mandi.
"Jangan sampai Mas Aydan tahu. Dia bisa makin cemburu," ucapnya khawatir.
Saat Andra keluar dari kamar mandi, ia nyaris saja bertabrakan dengan Erik yang baru saja datang ke arahnya. Rupanya ia ingin masuk ke dalam kamar tidur di samping kamar mandi. Suasana canggung pun terjadi. Keduanya hanya saling senyum. Erik segera masuk ke kamar tidur dan Andra hendak kembali ke ruang makan, tapi tiba-tiba Erik memanggilnya.
"Iya, Mas."
Erik segera menyusul sambil membawa sebuah kotak yang dibungkus kertas kado berwarna merah marun dengan hiasan pita berwarna emas.
"Ini hadiah untukmu dariku," ucapnya sambil menyodorkan kotak kado itu pada Andra.
"Makasih banyak. Padahal gak usah repot-repot seperti ini, Mas."
"Aku gak merasa repot, kok. Justru senang bisa ikut merayakan ulang tahunmu. Bahkan Suite Room ini aku pesan khusus untukmu, Andra."
"Wow. Aku jadi merasa tersanjung. Ini benar-benar pesta ulang tahun luar biasa, lho, " ungkap Andra merasa bahagia.
"Kita ngobrol di balkon aja, yuk!" ajak Erik. Keduanya beralih tempat.
__ADS_1
Di balkon kembali melanjutkan obrolan sambil menikmati indahnya pemandangan kota Jakarta malam hari yang seperti kerlip bintang di langit.
"Oh iya, Mas. Sekali lagi tolong maafkan Mas Aydan ya. Aku harap gak mengganggu kerjasama kita dalam proyek FO. Tadi sepenuhnya salahku juga. Aku kelewat panik dan sudah negative thinking padamu," lanjut Andra merasa bersalah. Luka lebam dan sobek di bibir Erik masih jelas di wajah tampannya.
"It's okay. Aku sudah memaafkan dan memaklumi. Memang tujuan prank ini membuatmu ketakutan, kok."
"Ide siapa ini?"
"Ini ide Alfian dan temanmu yang memakai kostum pocong itu." Erik menunjuk pada Alfian dan Ivane yang kini sedang mengobrol berduaan.
"Hmmm pantesan aja. Mereka berdua emang paling suka usil dari dulu," ungkapnya jengkel.
Erik terkikik saat Andra menceritakan semua keisengan dua orang itu pada dirinya. Ia menyimak begitu antusias semua cerita Andra saat masih berkuliah bersama Widia dan Ivane. Keakraban itu tentu saja disadari oleh Aydan. Ia yang sedang mengobrol dengan Widia dan Ibnu, hanya mendengarkan sambil lalu. Matanya terus saja memperhatikan Andra yang terlihat senang berbicara dengan klien tampan itu.
"Hebat banget persahabatan kalian masih bertahan sampai sekarang," timpal Erik.
"Mas Erik dan Kak Ibnu juga sama. Masih tetap berteman baik sejak SMA."
"Iya, benar. Kakakmu orang yang asyik dan baik. Dia tulus berteman denganku. Kebanyakan karena ada maunya," paparnya sembari melirik Ibnu yang asyik mengoceh dengan Aydan.
"Oh iya. Aku lihat kamu dan seniormu itu terlihat sangat dekat," sambungnya.
Kini Andra yang melirik pada Aydan yang ternyata sedang melirik ke arahnya juga. Wajahnya menyiratkan ketidaksukaan pada Erik, tapi disembunyikannya.
"Kami memang akrab karena satu almamater. Sama dengan Widia dan Ivane," terang Andra.
"Akrab hanya karena satu almamater dan satu kantor? Ataukah ada sesuatu yang lain?" selidik Erik curiga.
"Eh?!" Andra terkesiap dan entah mengapa jadi merasa gugup. Apalagi saat kedua mata Erik menatapnya begitu dalam. Mencari tahu isi hatinya.
"Tadi aku lihat kamu menyuapinya. Seorang rekan kerja biasa gak akan melakukan itu pada rekan kerja lainnya. Apalagi itu atasanmu. Aku menduga ada hubungan istimewa di antara kalian. Iya kan?" cecar Erik. Andra terkekeh untuk menutupi perasaan malunya.
"Jangan-jangan kalian pacaran ya?" tebak Erik.
__ADS_1
Andra terkejut dengan tebakan pria itu. Ia hanya tersenyum simpul dan entah mengapa merasa enggan untuk mengakuinya. Hingga seruan dari Widia menyelamatkannya. Ia segera masuk dan berhasil menghindari pertanyaan itu.
❁❁❁