
"Loe, si ..siapa?"...
•••
"Kenalin gue raya Anindita, siswi baru di SMA Dwi bangsa ini, Umur gue baru 16 tahun dua hari yang lalu gue ulang tahun pengen ngundang Mondi tapi gak tahu harus ngundang kemana gak tahu Alamat nya sih dan gue masih JOMBLO kok!." Raya menekan kata JOMBLO di akhir kalimatnya.
Mondi tampak kebingungan.
"Kita pernah ketemu kok, Raya ingetin lagi satu hari lalu kita ketemu di cafe kenangan dan beberapa Minggu lalu kita juga gak sengaja ketemu pas acara amal yang di adakan dengan di ikuti berbagai siswa-siswi relawan dari berbagai sekolah, itu pertama kali nya raya ketemu Mondi, sejak itu juga raya jadi selalu kepikiran Mondi." Jelas raya panjang lebar.
Tanpa menjawab pertanyaan raya Mondi kembali memasang earphone di telinganya.
Ia mengabaikan kehadiran perempuan tersebut di depannya.
"MONDI, kok gitu sih!" Ucap raya masih dengan nada kalemnya.
"Mondi, Lo denger gue gak sih?" Raya masih berusaha sabar saat tak ada respon sama sekali.
"please Mon katakan sesuatu, Say something."
Dengan perasaan dongkol raya kembali menarik earphone milik Mondi dari telinganya dan berhasil, ia membuat perhatian laki-laki tersebut kini beralih kepadanya.
bahkan raya kini tampak tersenyum tanpa dosa.
"Gue gak kenal loe, sorry." Mondi kembali fokus dengan ponselnya.
"Loe beneran gak ingat gue?"
"Nggak." Ucap Mondi dingin, yang mampu membekukan tubuh raya.
"Ya udah, Minta nomor ponsel loe dong?" Raya kembali menyodorkan ponselnya ke arah Mondi.
"Nggak..!!!"
"Isshh.." desis raya sebal, kakinya ia hentakan beberapa kali, raya mulai gregetan dengan sikap yang di tunjukan Mondi.
"sabar, raya sabar."
"Cepet kasih nomor loe dong." Pinta raya setengah cemberut.
"Buat apa?" Tanya Mondi yang mulai terlihat risih dengan kehadiran raya.
"Buat deketin Mondi, raya suka sama Mondi." Ucap raya terang-terangan tanpa malu lagi, ia menyatakan niat dan tujuan nya tanpa basa-basi.
Raya pikir dirinya takut kalah Start dengan gadis lain, jadi ia akan selangkah lebih maju dari beberapa gadis yang lain yang hanya bisa diam-diam menggagumi.
Tentu saja hal itu juga membuat Mondi kaget, dengan tingkah gadis di depannya ini yang dengan terang-terangan mengatakan jika gadis tersebut menyukai dirinya.
"Lo bilang apa?"
"gue suka sama Lo."
"Lo cewek aneh!!."
Biasanya gadis-gadis lain hanya akan sekedar tersenyum, curi-curi pandang, atau pun sekedar memberi coklat, hadiah maupun sepucuk surat yang selalu mereka taruh di kolong bangku meja nya.
Mondi mendesah berat, kemudian berdiri dari duduknya, Ia kini sudah kehilangan nafsu makannya.
"Mon,Loe mau kemana?" Tanya raya yang mulai cemas.
Mondi mengabaikan raya, ia kembali memasang wajah dingin dan datar , kemudian berjalan melewati raya begitu saja.
" Loe belum ngasih nomor loe ke gue." Ucap raya setengah berteriak.
"Mondi.."
"Gue pastiin,gue bakal dapet nomor loe. "
"Gue pastiin juga ,loe bakaalan jadi milik gue seorang. "
"AWAS LOE NANTI JATUH CINTA SAMA GUE, MONDI ALVANO."
Raya mengatur nafasnya yang berat , akibat berteriak begitu kencang, ia menatap punggung tegap Mondi yang kini hilang tertelan tembok sekolah..
Reva yang memang sudah yakin jika sahabatnya itu akan di tolak oleh mondi, ia menenggelamkan wajahnya dan menutupi wajahnya dengan buku bahasa Inggris yang sedari tadi dia baca.
Oh, sungguh kali ini Reva merasakan malu saat orang-orang di kantin sekolah menatap ke arah raya dengan berbagai ekspresi.
"oh ,, ya Allah andaikan aku bisa menghilang dari sini secepat mungkin."
"Raya, Loe GILA YA....." TERIAK REVA yang juga kini justru mengundang lebih banyak perhatian dari orang-orang yang berada di sana.
__ADS_1
•••
Langkah Mondi mendadak terhenti padahal hanya beberapa langkah lagi ia akan sampai di dalam kelas.
Namun kedatangan seorang gadis, yang entah datang dari mana membuat Mondi mengehentikan langkahnya.
"Mondi..." Pangilnya manja.
Mondi mengerutkan keningnya, ia mencoba mengingat wajah gadis di depannya. Ia terasa begitu familiar di ingatan Mondi tapi entah siapa?????
"Loe siapa?"
Raya di buat ternganga tak percaya dengan dua kata yang barusan Mondi ucapakan, ia mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menguasai kembali dirinya .
"Lo gak inget sama gue?" tanya raya speechless.
"enggak!!!."
"Mondi loe lupa sama gue?" Ucap raya tak percaya, senyumnya perlahan memudar.
"loe siapa?"
"Kita dua jam yang lalu baru aja ketemu, loe yakin gak ingat siapa gue gitu?"
"Mmmmmm...Siapa?"
Raya mendesah kasar, entah kenapa Mondi seperti memiliki daya ingat yang tidak begitu baik, padahal setahu raya dia adalah siswa teladan dan yang paling cerdas di sekolah ini .
Oh demi tuhan, raya ingin sekali mencubit wajah polos Mondi saat ini.
"Gue Raya Anindita, umur gue baru aja 16 tahun dua hari lalu gue ulang tahun, aku ngundang Mondi tapi gak tahu mau ngundang nya kemana? Gue siswi baru di sini dan alasan raya pindah ke sini karena raya suka sama___" ucapan raya terhenti.
" Sudah cukup?"
Raya mengatupkan bibirnya yang baru saja terbuka lebar.
"Loe udah inget, syukurlah . Gue takut loe amnesia." Ucap raya kegirangan.
"Loe berisik banget, bisa diam gak sih?"
Mondi ingat sekarang, gadis yang ada di hadapannya adalah gadis yang beberapa jam yang lalu dia temui, gadis yang kurang waras mungkin, dengan mengatakan jika gadis tersebut menyukai dirinya.
"Raya bakalan diam, kalau Mondi kasih nomor Mondi buat raya. "
"MONDI,minta nomor ponsel loe dong."
Mondi menutup kedua kupingnya saat teriakan nyaring dari raya begitu menusuk Gendang telinganya .
"LOE, sakit ?"
"Nggak!!!"
"loe gila?"
"enggak, raya masih normal kok."
"Terus??"
Raya tersenyum, menatap Mondi.
"Raya suka sama Mondi, pada pandangan pertama. Itu ajah"
"Loe gak waras..!!!!" Decak Mondi ,berjalan melewati raya dengan menyenggol bahunya.
Raya menyentuh bahunya, ia mencium bahunya. "Wangi banget si, sampai-sampai tu parfum nempel di baju gue." Ucap raya seperti orang gila.
"Gue bakalan tungguin loe di depan kelas, gue gak bakalan pergi sebelum loe kasih nomor loe ke gue. " Teriak raya .
Langkah Mondi terhenti, ia menoleh ke belakang .
Menatap raya dingin.
"Loe beneran mau nomor ponsel gue?" Tanyanya
membuat raya akhirnya mengganguk, mengiyakan perkataan mondi.
Senyum di wajah raya kembali merekah ,semangat 45 nya kembali membara, ia seperti seekor kucing yang di berikan makan ikan .
Raya menggangukan kepalanya dengan cepat.
"Sini, Ponsel loe." Pinta mondi akhirnya.
__ADS_1
Raya kemudian menyerahkan ponselnya, diam-diam ia tersenyum saat melihat Mondi kini tengah mendial beberapa nomor di ponsel raya.
"Nih, loe ketik sendiri aja nama nya!"
Raya segera meraih kembali benda pipih miliknya ,ia kini tersenyum cerah.
"gue kasih nama pacar boleh?"
"gak, gue bukan pacar lo!." tolak Mondi datar
"kalau, Love!."
"gue gak cinta sama Lo!"
"kalau sayang?"
"sini biar gue sendiri yang kasih nama!." Mondi merebut kembali handphone raya dari genggamannya, membuat raya kembali menahan senyumnya.
"nih?" Mondi menyerahkan kembali handphone raya.
"Terima kasih, Mon."
Mondi hanya menatap datar dan dingin ke arah raya, Ia pun lantas meninggalkan raya di depan kelasnya.
"Tutup pintu kelasnya." Perintah Mondi kepada teman sekelasnya, tanpa banyak tanya mereka pun menuruti semua perkataan Mondi .
Jika tidak maka mereka tidak akan mendapatkan contekan pelajaran matematika,kimia, dan fisika dari siswa tercerdas di SMA Dwi bangsa ini.
Raya menatap bahagia pintu kelas Mondi yang kini telah tertutup rapat.
"Gue pastiin loe bakalan suka sama gue, mon!!!..." Teriak raya nyaring.
"Gue pastiin loe bakalan suka sama gue."
"Gue pastiin loe juga bakalan jadi pacar gue."
"AWAS LOE NANTI JATUH CINTA JUGA SAMA GUE RAYA ANINDITA.."
Raya tersenyum lega setelah mengatakan hal tersebut, ia mengabaikan tatapan aneh dari beberapa orang yang berada di sana.
Sedangkan Reva, lagi-lagi dirinya menyembunyikan wajahnya di balik buku bahasa Inggris yang sedari tadi di pegang nya.
"Oh tuhan, bantu gue menghilang dari sini secepatnya. "
"Atau kalau enggak, buat aku pingsan di sini juga tak apa-apa aku ikhlas ya Allah."
"RAYA LOE GILA BANGET." Reva berteiak kemudian bergegas pergi dari sana.
Orang-orang menatap raya dan Reva dengan tatapan aneh.
"Yes, akhirnya...." Ucap raya begitu kesenangan.
•••
"SUMPAH ,ya Ray loe bikin malu gue di kantin tadi dengan tingkah loe." Reva mengungkapkan kekesalannya kepada raya saat kini mereka tengah sampai di rumah raya.
Raya dan Reva memang bertetanggaan, bahkan orang tua mereka pun sahabatan dari semenjak mereka bayi dan hal itu pula lah yang kini terjadi di antara raya dan Reva.
"Tingkah gue kenapa?" Tanya raya polos.
"Ya, ampun Ray loe masih gak nyadar juga." Reva menepuk jidat nya pelan. "Muka loe emang tebal banget kayaknya. "
"berapa cm tebal muka lo?"
"Apaan sih, loe kali yang kenapa?"
"Kok gue?" Tanya balik Reva, menunjuk dirinya sendiri.
"Lo yang aneh!!."
"enak aja."
"Dah lah pusing pala gue, gue masuk duluan bye re.." tanpa berkata apa-apa lagi raya segera berjalan memasuki rumahnya.
Reva hanya mendesah lelah, melihat kelakuankuan sahabatnya itu .
"senekat ini Lo Ray!!!." desah Reva datar.
NOTE :
Mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, tempat ,unsur cerita, dan alur cerita Karena unsur ketidaksengajaan....
__ADS_1
TBC...