Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Biang Kerok


__ADS_3

Langkah-langkah besar dan terburu-buru dilakukan Diandra menuju rumah indekosnya. Ia memilih pulang sambil berjalan kaki. Tak terpikirkan sama sekali untuk memberhentikan mobil angkutan umum. Pikirannya kacau sejak seniornya mendadak menyatakan perasaan. Apalagi motornya masih terparkir di kampus.


Namun, baru setengah jalan, sebuah motor sudah menghadangnya. Aydan datang menyusul dengan wajah cemas.


"Ayo naik motor! Aku antar pulang," titahnya dari balik helm.


"Gak usah, Mas. Biar aku pulang sendiri. Aku mau ke kampus dulu ambil motorku," jawab Andra berusaha ramah. Meski rasa berdebar itu bergejolak lagi dengan melihatnya.


"Aku yang sudah membawamu pergi, jadi aku juga yang harus membawamu pulang. Ayo cepat naik! Ini bukan permintaan, tapi perintah!" tekannya.


Andra tetap  bersikukuh memilih jalan kaki. Aydan pun mengekor di belakang dengan motor.


"Ngapain sih ngikutin aku?" protesnya.


"Kan aku harus nganterin kamu pulang. Kalau gak mau jalan kaki, ya udah aku akan ngikutin di belakang."


"Ya udah terserah," balasnya dingin. Ia merasa risih.


Mereka berdua berjalan seperti itu hingga sejauh 200 meter. Lama-lama kaki Andra pegal juga. Sementara Aydan terus merayunya agar mau kembali naik motor.


Hingga karena kecerobohan kakinya terperosok masuk ke lubang kecil di pinggir jalan. Andra merintih kesakitan. Aydan segera memarkirkan motor dan menolong gadis itu. Pergelangan kakinya keseleo, lecet dan berdarah.


"Tuh kan jadi begini. Coba tadi ikut naik motor," cibir Aydan sambil memapah gadis itu.


Memang benar apa katanya. Mungkin Andra tidak akan sial seperti itu. Dengan terpaksa ia dibonceng lagi dan diantar pulang ke kos-kosan. Kesialan Diandra justru jadi keuntungan bagi Aydan. Gadis itu hanya bisa cemberut, tapi sejurus kemudian ia juga tersenyum senang diam-diam.


Sebelum sampai ke kos-kosan Andra, Aydan mampir lebih dulu ke apotek. Membeli obat antiseptik, obat luka dan perban. Jadi begitu sampai di indekos juniornya, ia langsung mengurut dan mengobati pergelangan kakinya yang terluka dengan telaten. Andra sampai terpana.


"Sekarang mana kunci motormu? Biar aku ambilkan," terang pemuda manis itu.


Sebuah kunci motor dengan gantungan kelinci Bugs Bunny langsung diserahkan padanya. Kalau sudah begini, Andra hanya bisa pasrah harus menerima bantuannya.


"Ya Allah, Mbak Andra!" pekik Tari – adik kosnya yang nampak baru pulang dari kampus. "Kenapa kakinya, Mbak?"


"Kejeblos lubang di jalan," jawabnya sedih.


"Kok bisa? Kurang hati-hati ya?" Adik kelasnya itu langsung mengamati lukanya yang sudah diperban.


"Ya begitulah."


"Ini siapa yang ngerjain? Tadi udah ke puskesmas?" tunjuknya pada luka itu.


"Enggak. Tadi Mas Aydan yang ngobati."


"Wah. Bisaan ya rapih gini," balas Tari kagum.


Bagaimana tidak ceroboh. Pikirannya sedang bingung saat itu. Memikirkan Aydan, lelaki yang baru saja menyatakan cinta sekaligus janjinya pada sang ibu. Andaikan tidak ada janji itu, mungkin Andra sudah menerima cintanya dengan rasa bahagia tak terkira.


Beberapa menit kemudian, Aydan sudah kembali membawakan motor matiknya di garasi kos-kosan. Andra masih setia menunggunya di teras.


"Ini kuncinya. Lain kali kalau jalan hati-hati jangan sambil mikirin aku ya," ledek Aydan sambil menyerahkan kunci lalu ia mengacak-acak rambut Andra dan tersenyum geli.


"Siapa yang mikirin kamu?" bantahnya tak mau mengaku.


Tari yang tidak paham dengan situasinya hanya bisa terpana dengan sikap senior laki-laki itu. Aydan akhirnya pamit pulang.

__ADS_1


"Ya terserahlah. Aku akan menunggu, kalau kamu berubah pikiran," balasnya sambil berlalu. Ia pun pergi. Meninggalkan rasa hangat di hati Diandra.


"Kalian berdua pacaran ya?" selidik Tari curiga.


"Enggak," jawab Andra cepat. Sebelum Tari bertanya lebih banyak lagi, secepatnya Andra masuk rumah dengan jalan tertatih-tatih.


Di dalam kamar, Andra tersenyum-senyum. Terbayang kembali peristiwa tadi dari sejak di perpustakaan, diculik Aydan ke indekosnya, melihat sepatunya masih disimpan baik, sebuah pernyataan cinta, hingga kakinya keseleo dan diobati olehnya. Semuanya memberikan kesan yang mendalam dan sangat berharga. Hingga ia tak sabar lagi ingin segera pergi ke warnet dan menceritakan semuanya pada 'cheeky_tarou'.


Esok pagi, tanpa diduga ketika Andra pergi ke luar kosan untuk berangkat kuliah, nampak Aydan sudah menunggunya di depan rumah. Lelaki kalem itu langsung tersenyum menyapanya.


Seolah sudah tahu apa yang akan ditanyakan gadis itu, Aydan menjawab lebih dulu.


"Kakinya masih sakit kan? Makanya aku jemput kamu. Daripada naik motor sendirian," ungkapnya.


'Benar juga sih,' batinnya.


Tadinya ia akan meminta Widia datang ke kosannya lalu mereka pergi bersama dengan Widia sebagai supir. Kini rencananya batal. Pangerannya sudah datang menjemput lebih dulu. Akhirnya keduanya berangkat bersama menuju kampus.


Melihat punggung Aydan yang bidang, pikirannya berkelana. Membayangkan jika kepalanya disandarkan di punggung itu sambil merasakan desah napas yang sama. Memeluknya dari belakang. Hanyut dalam suasana romantisme dan terbuai oleh hasrat bergejolak masing-masing. Sayangnya, hal itu tak berani ia lakukan.


Widia dan Ivane yang sudah datang lebih dulu memekik tak percaya melihat sahabat mereka datang bersama Aydan. Keduanya melonjak kegirangan. Sampai saling berpelukan seolah baru saja dapat kupon undian.


"Apa mereka baru saja jadian?" tanya Ivane semangat.


"Mudah-mudahan. Eh, tapi kenapa kaki Andra? Kok ada perban di kakinya?" Widia cemas melihat sahabatnya jalan tertatih-tatih bersama Aydan.


"Hai, gals. Tumben pada datang duluan. Biasanya mampir ke kosan gue dulu," sapa Andra begitu sampai di depan kedua sahabatnya. Sementara Aydan melanjutkan langkahnya menyusul kedua temannya di tempat yang berbeda.


Rona bahagia begitu terpancar di wajah Aydan dan Andra di masing-masing tempat. Senyum sumringah pun begitu kentara. Kadang-kadang keduanya saling lirik beberapa kali lalu tersenyum samar. Hanya beberapa orang yang menyadari kesamaan itu. Apalagi jika tahu mereka datang bersama. Membuat Merry dan kawanannya mengendus akan sesuatu. Termasuk Sekar dan Nindita di pojok sana yang sejak tadi mengamati.


"Kayaknya kalian makin akrab aja nih?" cibir Sekar saat kelas kuliah dimulai. Ia sengaja duduk di sebelah Andra. "Yakin gak ada hubungan apa-apa?"


Andra mendelik. Ia hanya bisa tersenyum. Tak sanggup jika harus mengatakan jika idolanya baru saja menembaknya kemarin. Terbayang rasa sakit hati yang akan dirasakan Sekar seperti apa.


"Andra habis keseleo gara-gara senior itu, jadi dia bertanggungjawab harus mengantar jemput Andra," papar Widia menutupi.


"Ooh gitu. Kok bisa keseleo gara-gara dia?" tanyanya makin penasaran.


Sayangnya, belum sempat menjawab itu dosen sudah lebih dulu datang dan Andra bersyukur akan hal itu. Ia harap Sekar tidak tahu yang sebenarnya. Ia tak mau menyakiti perasaannya.


Nyatanya, kedekatan mereka semakin sering terlihat di kampus. Beberapa orang menyadari itu. Walaupun hubungan itu masih belum resmi terjalin. Namun, bagi keduanya terasa menyenangkan. Merasakan debaran yang sama tiap kali bersama. Saat ke perpustakaan berdua, ke kantin, makan malam bersama di warung penyet, sampai mengajak Andra ke Bukit Cinta Rawapening lagi. Apalagi Aydan yang masih berharap lebih dan Andra mau berubah pikiran menerimanya sebagai kekasih resmi.


"Katanya gak ada hubungan apa-apa, tapi kenyataannya bilang sebaliknya. Piye toh?" desak Sekar kesal suatu hari.


Ia mengajaknya bicara saat kampus sepi dan kebetulan Andra sedang duduk sendiri menunggu Aydan.


"Memang gak ada hubungan apa-apa kok," jawab Andra agak ketus.


"Tapi kalian ke mana- berduaan terus. Udah kayak orang pacaran aja. Gak tahu apa ada hati yang cemburu?"


"Sorry, Kar. Gue gak ada maksud begitu. Kami cuma dekat, tapi kalau kamu pikir kami pacaran itu gak benar. Lagian mana mungkin gue nerima dia jadi pacar," ungkap Andra.


"Memangnya kenapa?" Kening Sekar mengerut keheranan.


"Gue sudah pernah bilang kan, gak akan punya cowok sampai lulus. Ya itu alasannya. Apalagi gue sudah berjanji sama nyokap gue sendiri. Jadi kalau elo mau deketin Mas Aydan ya silakan."

__ADS_1


"Serius?"


"Iya. Silakan aja kalau mau deketin dia."


Ketika Andra mengatakan itu, ia baru saja menorehkan luka pada hatinya sendiri. Mirisnya perkataan itu didengar jelas oleh Aydan dan kedua temannya.


"Bro, elo beneran gak pacaran sama Andra?" tanya Yoga yang ikut mendengar percakapan itu.


Aydan hanya tersenyum kecut dengan wajah kecewa.


"Kan gue udah bilang, Bro. Dia itu 'jeruk makan jeruk'. Ngapain sih elo deketin dia?"


"Elo salah. Dia gak kayak gitu. Dia itu suka gue juga, cuma ya karena ada prinsip itu aja makanya dia menolak semua cowok termasuk elo," candanya. "Gue kebetulan yang beruntung bisa dekat sama dia."


"Cih. Jadi sombong gitu. Baru juga deket doang. Seharusnya gue bikin isu lebih parah lagi ya biar makin banyak yg ilfeel sama dia," ungkap Yoga keceplosan.


Sontak Aydan dan Ryan terperanjat.


"Jadi elo yang udah nyebarin gosip itu?" bentak Aydan marah.


Teriakan Aydan mengalihkan perhatian Andra, Sekar dan Nindita yang berada tak jauh dari sana.


"Eh, bu-bukan gitu, Bro. Gue cuma berasumsi aja waktu itu," kilahnya gugup.


"Asumsi apanya? Itu namanya fitnah, Bro. Elo tau gak, Andra sampai stress dan bolos kuliah. Sempat ketinggalan materi kuliah. Beruntung dia cukup kuat gak sampai bunuh diri karena depresi akibat rumor yang elo buat," hardiknya teramat kesal.


Andra terperangah mendengarnya.


"Sorry, Bro. Gue cuma ... cuma ... gue cuma kesal dan patah hati." Yoga nampak kebingungan, khawatir dan ketakutan.


"Jangan jadikan patah hati elo sebagai alasan mem-bully dia. Bukan berarti bisa seenaknya fitnah orang lain juga. Elo cemen banget, Bro!" sindir Aydan.


Sindiran Aydan membuat Yoga terpancing emosi. Sementara Andra mencoba mendekati mereka.


"Elo jangan songong begitu. Belum diterima jadi pacarnya aja udah belagu begini. Elo tuh belum jadi siapa-siapanya," sindir Yoga juga.


Balasan itu membuat Aydan geram. "Lebih baik daripada elo sudah ditolak sejak awal. Pake nyebarin fitnah segala buat balas dendam. Cih!" hardiknya geram.


"Brengsek lo!" umpat Yoga marah sambil meninju wajah Aydan.


Pukulan itu ia balas dan mengenai wajah Yoga. Andra, Sekar, dan Nindita terperanjat. Ryan mencoba melerai perkelahian kedua temannya.


Pergulatan sengit pun tak bisa dihindari. Andra menjerit khawatir saat pukulan keras mendarat di sudut bibir Aydan. Seketika darah segar mengucur.


Suara gaduh itu memancing perhatian dari mahasiswa lain. Mereka berdatangan satu persatu untuk menyaksikan apa yang terjadi. Tentu saja berkumpulnya orang-orang di satu tempat meminta perhatian pihak sivitas.


Setelah didekati oleh beberapa staff Tata Usaha dan dosen barulah perkelahian itu berhenti. Keduanya diminta ikut ke kantor dosen untuk dimintai keterangan.


Dengan wajah lebam dan berdarah, Aydan pamit pergi menyusul dosen Pak Ridwan yang menyuruhnya ikut ke kantor.


"Mas, maaf ya gara-gara aku jadi begini," lirih Andra menghawatirkan senior itu saat Aydan melewatinya.


Aydan hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambutnya seolah dia tidak merasakan sakit sama sekali.


***

__ADS_1


Support penulis dengan like, vote, atau gift. 😁


Thanks udah baca.


__ADS_2