Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Sebuah Janji


__ADS_3

Entah sudah berapa kali pintu kamar berbahan kayu jati coklat itu diketuk oleh Ningsih. Wanita paruh baya itu cemas melihat putri bungsunya terus mengurung diri di dalam hampir sepanjang hari. Ia hanya keluar untuk makan dan buang hajat. Selebihnya sibuk sendiri di dalam kamar.


Setiap kali ditanya tentang apa yang sebenarnya terjadi sejak kepulangannya dari rumah Nathan, Diandra selalu bungkam. Lalu tiba-tiba terdengar suara isak tangisnya di dalam kamar. Dari yang awalnya lirih, lalu makin keras seperti meraung-raung penuh emosi, hingga tersedu sedan seperti orang yang putus asa. Kadang terdengar barang-barang jatuh di lantai. Tentu saja hal itu makin membuat Ningsih khawatir. Pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan Nathan. Pikirnya.


Akhirnya Ningsih biarkan putrinya yang baru lulus SMA itu menenangkan diri. Menunggu sampai ia mau bercerita tentang apa yang telah terjadi sebenarnya. Sambil terus menjahit pakaian pesanan orang lain yang uangnya akan ia kumpulkan untuk bekal daftar ulang ke PTN di Semarang nanti.


Mungkin karena lelah dan bosan terus mengurung diri di kamar, Diandra memutuskan untuk keluar kamar. Dengan wajah kusut, mata berkantung, sembab, dan tampak menyedihkan, gadis berusia 18 tahun itu tiba-tiba merangsek masuk kamar ibunya yang baru saja selesai salat.


Ningsih terkejut melihat putrinya tiba-tiba bersimpuh di pangkuan. Memeluknya seolah sudah lama tak berjumpa. Ia usap kepalanya penuh kelembutan dan kasih sayang.


"Ada apa, Dian?" tanya Ningsih lembut.


"Nathan, Ma," jawabnya lirih.


"Kenapa dengan dia? Kalian habis bertengkar?"


Diandra mengangguk lemah.


"Dia brengsek, Ma. Dia sudah bohong selama ini. Andra benci dia! Pengen rasanya kuinjak-injak dia seperti menginjak kecoa di lantai. Lalu kulempar dia ke mulut buaya kelaparan."


"Waduh kok jahat benar? Ada apa sih sebenarnya?" Ningsih makin penasaran.


Andra terdiam sejenak. Ada buliran air mata yang menetes di sudut mata. Ia menyekanya dengan cepat. Lelah menangisi lelaki yang ia pikir setia itu.


Lalu dengan terbata-bata diiringi isak tangis yang menggema, gadis itu bercerita lagi tentang apa yang dilihatnya di kamar Nathan. Tentang gadis lain yang bersama kekasihnya selama setahun tanpa diketahuinya dan betapa hancurnya perasaannya yang telah dikhianati.


Ningsih menghela napas sedih. Ia bisa merasakannya juga. Pengkhianatan yang pernah dialaminya dulu kini terulang pada putrinya. Teringat saat sang suami pernah mendua selama 7 tahun lamanya. Menikahi wanita lain tanpa seijinnya dan baru terungkap saat sebuah kecelakaan terjadi.


Seorang wanita muda yang tidak dikenalnya datang menjenguk suami yang sekarat. Dia mengaku sebagai istri suaminya juga. Ningsih terperanjat mendengar pengakuan wanita itu. Keduanya sempat bertengkar di rumah sakit sebelum didamaikan sanak saudara.


Belum sempat meminta penjelasan langsung dari sang suami, pria itu terlanjur menghembuskan napas terakhir. Ningsih begitu terpukul. Dia sempat mengalami depresi. Apalagi istri simpanan itu menuntut warisan juga.


Anehnya istri muda itu tiba-tiba datang membawa sepucuk surat wasiat yang dibuat oleh sang suami sebelum meninggal. Ningsih merasakan ada kejanggalan. Sayangnya, tulisan tangan dan tanda tangan sang suami menunjukkan keasliannya.


Kini hampir seluruh harta warisan jatuh ke tangan istri muda. Yang tersisa hanyalah sebuah rumah beserta perabotannya. Sementara rumah kontrakan, villa, mobil, usaha dan deposito resmi menjadi milik istri muda itu.


Ningsih menjalani hidup penuh keterbatasan. Apalagi ia harus membiayai ketiga anaknya. Anak pertama masih kuliah tingkat 3. Anak kedua pun baru masuk kuliah. Sedangkan Diandra masih kelas 1 SMA kala itu. Hidupnya penuh dengan kejaran para rentenir demi menyambung hidup terpaksa dilakoni.


Seorang diri Ningsih berjuang membesarkan mereka. Ia pun banting setir dari seorang ibu rumah tangga biasa yang dulu serba berkecukupan kini berubah menjadi penjahit di pabrik konveksi. Tak sanggup dengan banyaknya tuntutan kerja dan sering lembur, Ningsih jatuh sakit. Akhirnya ia memilih menjadi penjahit rumahan. Tak lama kemudian anak pertama lulus dan mulai membantu Ningsih dalam hal keuangan.


Perlahan-lahan kondisi keuangan sedikit lebih baik dari sebelumnya. Ia selalu menekankan pada ketiga anaknya untuk selalu sabar, kerja keras, pantang menyerah, dan fokus. Ketika Diandra merasakan indahnya jatuh cinta, Ningsih sempat khawatir. Ia takut pelajaran sekolahnya akan terganggu. Tak mau kerja kerasnya sia-sia. Untunglah putrinya itu selalu berhasil menjadi juara kelas. Kekhawatiran Ningsih perlahan sirna. Ia mengijinkannya memiliki kekasih asalkan masih tetap dalam batas-batas norma.


Hingga hari ini putrinya merasakan sebuah pengkhianatan. Sejujurnya Ningsih merasa sangat kecewa dan marah pada Nathan. Tak rela jika putri satu-satunya itu disakiti. Berharap nasib buruk seperti dirinya tak akan terulang lagi pada anaknya sendiri.


"Dian ...." ujar Ningsih lembut. Ia membelai kepala Andra.


"Hhhmm ...."


"Kamu tahu kan, Mama sudah bekerja keras membiayai dan menghidupi kalian bertiga. Mama gak mau usaha Mama jadi sia-sia. Mama ingin kalian jadi orang sukses. Jangan seperti Mama yang hanya jadi tukang jahit," ungkapnya.

__ADS_1


"Mama jangan ngomong begitu. Bagi Andra, Mama itu hebat. Walaupun hanya penjahit. Andra bangga kok." Andra merubah posisi duduknya menghadap ibunya.


"Mama begini karena tidak ada pilihan lain. Kemampuan Mama cuma menjahit, Sayang. Papamu dulu tidak pernah mengijinkan Mama bekerja. Bahkan Mama belum pernah merasakan wisuda."


"Jadi dulu Mama pernah kuliah juga?" tanya Andra terhenyak. Ia mendongak pada ibunya.


"Iya. Dulu Mama sempat kuliah, tapi berhenti sebelum lulus. Ini semuanya gara-gara papamu. Dia meminta Mama tidak usah melanjutkan kuliah. Papamu dulu anak orang kaya. Dia menjamin kemapanan dan kebahagiaan jika bersamanya. Mama bodoh saat itu. Terperdaya oleh cinta. Kini Mama menyesal saat tahu papamu ternyata berselingkuh. Ia sengaja membuat Mama nyaman dan sibuk di rumah mengurus anak-anak. Sementara papamu bisa bebas di luar sana. Setelah papamu pergi, Mama jadi pincang. Hidup kita yang serba ada dan mudah kini berubah total. Kamu masih ingat kan betapa enaknya hidup kita dulu?" papar Ningsih dengan matanya yang berkaca-kaca. Teringat betapa bahagia dulu lalu berubah drastis dalam sekejap.


"Iya, Ma. Andra tahu. Sekarang semua milik papa direbut sama wanita ****** itu," balas Andra geram.


"Iya, Sayang. Mama merasa dibodohi selama ini. Makanya Mama begitu takut saat kamu punya pacar. Takut kamu dikecewakan laki-laki. Mama takut kamu dan juga kedua kakakmu gagal menjadi orang sukses. Makanya Mama pinta sama kamu ya, Sayang. Tolong berjanjilah untuk fokus kuliah dulu sampai lulus," pinta Ningsih sambil terisak juga.


"Iya, Ma. Andra janji."


"Bukannya Mama melarang kamu untuk jatuh cinta. Bukan. Mama hanya gak mau pengalaman buruk Mama terulang sama kamu, Sayang. Jangan pacaran dulu. Cinta bisa membuat siapapun menjadi tidak logis dan terlena. Mama ingin perjuangan dan harapan Mama selama ini tidak sia-sia untuk masa depan kalian. Kamu mengerti kan, Sayang?" Kedua tangan Ningsih menyentuh lembut wajah putrinya. Menatapnya penuh harapan.


"Insyaa Allah. Andra berjanji gak akan pacaran dulu, Ma. Andra akan fokus kuliah dulu sampai lulus," ujar Andra mantap.


Manik mata Ningsih berkaca-kaca. Ia merasa terharu dan dadanya terasa sesak. Lalu sebuah senyuman tersungging di wajahnya yang makin menua.


"Maafkan kalau Mama terkesan memaksa. Mama yakin kamu pasti bisa mewujudkan cita-cita kamu jika kamu fokus. Ingatlah selalu bahwa laki-laki yang baik tidak akan tega menyakitimu. Jadi kamu hanya perlu bersabar," sambungnya lagi.


Andra mengangguk paham. Kini rasa sakit itu perlahan terasa mereda. Tidak sesakit sebelumnya. Ia merasa sedikit lebih baik. Namun, kenangan menyakitkan itu masih tetap tertanam dalam benaknya.


"Jadi apa kamu sudah membereskan semua pakaianmu?" tanya Ningsih dengan wajah bahagia. Sisa air matanya masih ada.


"Belum."


"Iya, Ma. Andra siap-siap dulu. Tapi ... apa Mama sudah ada uangnya?" tanyanya ragu.


"Tenang aja. Mama punya tabungan untuk biaya kuliah kamu." Ningsih mengusap lagi kepala putrinya.


"Makasih banyak, Ma. Insyaa Allah. Andra gak akan mengecewakan Mama."


Dipeluknya Ningsih begitu erat oleh Andra. Ia merasa bersalah atas kesedihannya hanya karena cinta yang tak pasti. Masa depannya masih panjang. Mungkin akan ada cinta baru yang lebih baik suatu hari nanti. Pikirnya.


Sebuah janji pun dibuat demi menyenangkan hatinya. Ibu dan anak itu tersenyum. Berharap nasib baik masih berpihak pada mereka agar bisa merubah keadaan.


***


Dua bulan kemudian, Andra menjalani OSPEK. Berbagai atribut aneh dan dengan seragam hitam putih dipakainya selama beberapa hari. Sebuah nama aneh pun disematkan di dadanya.


Kegiatan yang melelahkan itu dari pagi hingga menjelang petang terpaksa dilaluinya. Beruntunglah Andra memiliki kondisi tubuh yang kuat. Selama seminggu Ningsih menemani dan membantunya mengurus semua keperluan OSPEK.


Pada hari terakhir sebuah insiden terjadi. Salah seorang mahasiswi baru tiba-tiba pingsan di depannya. Jatuh menimpa Andra yang berada di belakangnya. Karena banyaknya yang pingsan, senior pun kewalahan. Andra diminta untuk memapahnya agar bisa dipindahkan ke ruang istirahat. Dibantu dengan mahasiswi lain.


Ketiganya berjalan terseok-seok. Mengingat dia sendiri juga merasa lelah. Belum juga sampai di ruang istirahat, mahasiswi lain yang membantunya pun pingsan juga. Ia panik. Lalu mencari bantuan.


Sayangnya, siang itu entah kenapa kampus sedang sepi. Padahal biasanya banyak mahasiswa lain hilir mudik menonton acara OSPEK itu. Hingga matanya melihat seseorang sedang melintas. Dipanggilnya seseorang itu yang ternyata seorang mahasiswa juga.

__ADS_1


"Maaf, Kak. Bisa minta tolong bantu aku?" pintanya.


Mahasiswa itu terkejut melihat ada dua gadis tergeletak di lantai.


"Kenapa mereka? Pingsan?"


"Iya, Kak. Aku disuruh bawa mereka ke ruang istirahat, tapi aku gak kuat kalau bawa sendirian. Bisa bantu aku gak gotong mereka?"


Tidak tega melihat mahasiswi baru itu kerepotan dengan wajah kusam dan lelah, akhirnya ia mencoba membantu. Satu-persatu digotongnya kedua mahasiswi baru itu ke ruang istirahat.


Hingga Andra pun merasa begitu lemas tak bertenaga. Ia pun ambruk di depan ruangan.


"Kamu mau pingsan juga?" tanya mahasiswa itu.


"Enggak. Aku cukup kuat kok. Cuma lemas aja. Mau istirahat sebentar," dalihnya. Padahal wajahnya sudah pucat pasi.


Lelaki itu terkekeh lalu mengacak-acak rambutnya yang dikuncir dua.


"Sok kuat ya kamu. Kalau gak kuat lambaikan tangan ya ke arah kamera," ledeknya. Ia pun melangkah pergi.


"Eh, Kak. Tunggu dulu!" teriak Andra.


"Ada apa?" Ia menoleh.


"Makasih banyak bantuannya."


"You're welcome." Ia tersenyum lalu pergi sambil menarik tas Adidasnya di bahu kiri. Di kedua telinganya ada kabel iPod panjang membentang ke dalam celana.


Andra sempat terpana melihatnya pergi. Seniornya itu terlihat kalem dan baik. Entah siapa namanya. Lalu seseorang memangilnya. Andra menoleh ke belakang.


Kedua temannya yang tadi pingsan rupanya sudah siuman.


"Wah kalian cepat banget sadarnya. Tahu gitu tadi gak usah gue gotong ke dalam. Biarin aja di sini sampai sadar sendiri. Berat tau," gerutunya.


"Maaf. Eh, tapi makasih ya udah bawa kita kemari," ujar salah satunya.


"Iya makasih juga ya," kata yang satunya lagi.


"Iya sama-sama deh. Untung tadi ada yang bantuin."


"Oh iya namaku Ivane dari Banten.  Kamu siapa?"


"Gue Diandra, lahir di Depok, tapi tinggal di Bandung."


"Kalau aku Widia dari Sragen."


"Oke deh. Sekarang kalian mau balik lagi ke lapangan atau masih mau pura-pura sakit?" usul Andra sambil tersenyum penuh arti.


Ketiganya saling lirik dan tersenyum licik. Akhirnya diputuskan untuk melanjutkan sakitnya dan kembali masuk ke ruang istirahat dengan wajah memelas.

__ADS_1


***


__ADS_2