Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Cemburu


__ADS_3

"Cieee cieee cieee. Yang baru jadian. Traktir kita dong, Mba," goda Ivane di depan Widia yang tengah asyik bermain HP di kamar kosan malam itu. Gadis berambut ikal itu mesem-mesem.


"Akhirnya Trio Jomblowati ada yang pecah telor juga ya setelah sekian tahun, sekian purnama, sekian lebaran, sampai Bang Toyib gak pulang-pulang," imbuh Andra sembari terkikik geli. Ia ikut merasa senang. Termasuknya dirinya, tapi ia belum cerita tentang hubungannya dengan Aydan pada dua sahabatnya itu.


"Alhamdulillah. Semoga kalian berdua cepat menyusul. Aku doakan. Terus langsung married. Gak usah lama-lama," balas Widia.


"Aamiin. Doain aku dapat yg kece dan mapan ya. Yang mirip dosenku itu," pinta Ivane sambil duduk di kursi. Ia gagal mendekati dosen Pak Ridwan saat masih kuliah karena ternyata Pak Ridwan sudah punya gandengan.


"Aamiin," jawab Andra dan Widia kompak dengan suara lantang.


"Jadi kapan nih kita ditraktirnya?" cecar Ivane tak sabar.


"Yeee dasar mental pengemis, Lo. Soal gratisan paling gercep," ejek Andra seraya mendorong bahunya.


"Buah pepaya, buah kedongdong. Ya iya dong," balas Ivane tanpa malu-malu.


Ketiganya tertawa terbahak-bahak.


"Terserah kalian deh bisanya kapan. Gue mah ngikut aja," usul Widia.


"Baiklah. Malam Minggu aja ya. Setuju?" tanya Andra.


"Harus bawa pasangan ya!" imbuh Widia.


"Pasangan?!" jerit Ivane tampak keberatan.


"Ya masa gue doang yang bawa pasangan. Ntar hati kalian jadi panas dingin kan gue jadi gak enak. Boleh bawa siapa aja, kok. Bawa teman cowok Nemu di jalan juga boleh. Teman di kantor juga boleh. Anak kosan sebelah juga boleh. Bokap elo juga boleh," usul Widia lagi. Ia berusaha menahan tawa saat Ivane kebingungan memikirkan siapa yang akan dibawanya.


"Kalau elo siapa, Ndra?" tanya Ivane pada Andra.


"Ada deh. Liat aja nanti." Ia tersenyum misterius. Membuat kedua sahabatnya saling pandang keheranan.


***


Esok hari, Diandra sudah mulai masuk kerja lagi seperti biasa. Ia langsung menggarap pekerjaan barunya yaitu mendesain villa bersama Yuda. Keduanya tampak akrab bila sudah membahas konsep desain di ruang diskusi bersama. Membuat hati Aydan jadi panas.


"Andra, Yuda, kalian berdua ke ruanganku sekarang!" titahnya saat melewati meja kerja mereka.


"Baik, Mas," jawab Yuda sigap.


Keduanya segera mengikuti langkah Aydan menuju ruangannya, lalu duduk di kursi pojok ruangan dengan buku sketsa di tangan.


"Udah bikin konsepnya mau seperti apa?" tanya Aydan memulai diskusi.


"Ini sedang dibuat bareng Mas Yuda," jawab Andra cepat.


"Nanti diserahkan padaku dulu ya. Villa dan restoran Pak Aditya tanggung jawabku. Kamu juga bikin konsep restorannya," ungkap Aydan dingin.


"Lho? Aku garap restoran juga?" Andra terbelalak.


"Iya," jawab Aydan masih dingin.

__ADS_1


"Tapi kerjaanku sebelumnya aja masih belum selesai, Mas," protes Andra.


"Jadi kamu keberatan?" Aydan mendelik pada Andra yang mulai resah.


"Ya ... sebenarnya, sih, begitu. Rumah klien sebelumnya masih ada revisi lagi, kan?"


"Udah aku benerin. Udah aku ajuin ke Bu Maryam. Mereka sudah setuju. Tinggal lanjut gambar kerjanya. Itu bagian Anton. Makanya sekarang kamu garap 2 proyek ini," papar Aydan.


"Langsung bikin 2 konsep?" cecarnya tak percaya. Yuda pun terbelalak mendengarnya. Ia juga tak menyangka karyawan baru langsung dibebankan 2 pekerjaan baru sekaligus.


"Iya bawel. Nanti aku bantu. Kamu pikir aku juga gak ada kerjaan lainnya?" ungkap Aydan tak mau kalah.


"Seharusnya Mas Imam nambah karyawan lagi," usul Andra sebal. Ia makin pusing dengan banyaknya beban kerja. Belum lagi sisa pekerjaan sebelumnya selain rumah Bu Maryam, masih dalam pekerjaan lain yang dalam proses juga.


"Kamu kok protes terus, sih? Malah ngatur-ngatur segala. Baru juga kerja beberapa bulan. Kalau gak suka ya sudah pindah aja!" Aydan memprotes balik. Gadis itu mencebik. Yuda yang sejak tadi hanya diam mengamati hanya tertegun dengan sikap keras keduanya.


Akhirnya gadis berambut hitam dan panjang itu diminta untuk menjelaskan ide-idenya. Andra menjelaskan sambil menahan gemuruh di dada.


Setelah mengkritik dan memberi saran,  Aydan menyuruh keduanya kembali ke meja masing-masing. Akan tetapi, saat Andra baru di mulut pintu, pria muda itu kembali menyuruhnya masuk lagi.


"Kamu, Diandra!" teriaknya. Keduanya menoleh cepat ke belakang.


"Urusan kita belum selesai. Kamu masih di sini! Yuda silakan melanjutkan kerjaannya!" titah Aydan.


Kedua rekan kerja itu saling melirik. Yuda memberikan semangat padanya. Akhirnya dengan perasaan jengkel, Andra kembali duduk.


"Mau apa lagi? Kerjaanku banyak, nih," tanyanya ketus.


Andra pun terperangah. "Biar apa? Biasanya juga gak kayak gitu?" tanyanya sambil menatap tajam.


"Biar apa coba?"


Gadis itu angkat bahu.


"Biar mereka gak tau kita pacaranlah. Seru kan?" Pria yang biasa kalem itu terkikik geli sendiri.


"Itu sih lebay, Mas. Padahal seperti biasanya aja kali. Tuh, Mas Yuda sampai melongo aja liat kita berdebat tadi." Wajah kesalnya masih belum sirna juga meski Aydan senyum-senyum.


"Habisnya aku jealous liat kalian akrab banget," ungkap Aydan.


"Ya ampun. Ngapain cemburu sama dia? Kan aku udah bilang kalau Mas Yuda itu udah nembak Widia. Mereka udah jadian."


"Aku pikir itu cuma alasan kamu doang biar pulang cepat kemarin."


"Ye enggaklah. Persahabatan aku tuh penting banget. Makanya aku harus segera pulang. Bukannya gak mau berlama-lama denganmu. Toh, di kantor juga bisa ketemu lagi, kan?" beber Andra ada benarnya.


"Oh, jadi aku gak lebih penting?" Aydan merajuk.


"Ya bukan begitu, Mas. Kamu juga penting, tapi liat sikonnya dong. Aih, kok jadi gantian situ yang ngambek?" sindir Andra sambil mencubit pipinya. Aydan hanya tersenyum simpul. Biasanya ia terlihat dewasa, tapi kali ini ia malah seperti anak kecil.


"Ya udah, aku balik ke mejaku ya," usul Andra seraya bangkit dari duduknya. Namun, dengan sigap Aydan menarik tangannya hingga ia terhempas ke kursi.

__ADS_1


"Aku belum selesai denganmu!"


"Mau apalagi? Mau bahas kerjaan? Kan udah tadi."


"Mau bahas tentang kita."


"Nanti aja setelah pulang kerja. Jangan buang waktuku, Mas!" keluh Andra.


Aydan mendengkus kecewa. "Ya udah sana, gih. Nanti pulangnya kita bareng ya!"


"Motorku bagaimana?"


"Taruh aja di kantor."


"Terserah deh," balas Andra cuek. Ia jadi kesal karena pria itu jadi aneh. Tak mau membuang waktu, Andra segera keluar ruangan.


Akan tetapi, telinganya mendengar ada seseorang di ruang tamu kantor. Ia segera ke depan untuk memeriksa. Alangkah terkejutnya begitu mengetahui siapa tamu itu. Kalina tiba-tiba ada di kantor.


"Eh, kamu! Yang waktu itu ke apartemen, kan? Ada di sini juga?" ujarnya senang melihat sosok Andra di ruang tamu.


"I-iya. Kan aku kerja di sini?" Lupa ya?" Andra meringis.


"Oh iya. Maaf lupa."


"Mau ngapain ya dia? Kata Mas Aydan, dia sudah pulang, tapi kok malah ada di sini?" batinnya heran.


"Aku mau ketemu Bang Aydan. Apa dia ada?" tanyanya seolah tahu pertaannya Andra.


"A-ada," jawab Andra canggung.


"Syukurlah. Aku takut dia pergi ke proyek. Ruangannya di mana, ya?" Wajah Kalina tampak senang.


"Masuk aja. Ruangannya di dekat tangga," jawab Andra cemas.


"Oke. Makasih ya," balas Kalina ramah. Ia melenggang masuk dengan gemulai. Andra mengikutinya di belakang dengan perasaan curiga dan bertanya-tanya.


"Mas Aydan bohong! Katanya cewek ini udah pulang, ternyata masih di Jakarta. Awas ya kalau macam-macam sama gue," batin Andra khawatir setengah mati.


Kalina mengetuk pintu ruangan Aydan. Pria di dalamnya segera membuka pintu. Ia pikir Andra kembali lagi, tapi alangkah terkejutnya melihat Kalina sudah ada di depan pintu. Apalagi saat Andra pun ada di belakang gadis itu dengan tatapan sinis dan kedua tangan bersedekap di dada.


"Kaget ya liat aku, Bang?" tanyanya dengan wajah berseri-seri.


Aydan menelan salivanya susah payah. Ia cemas saat Andra beranjak pergi dengan wajah ditekuk.





Cast model

__ADS_1


***


__ADS_2