Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Pengakuan


__ADS_3

Lagi asyik-asyiknya menikmati kudapan ringan, Andra tersentak mendengar suara kakaknya di podium venue. Dipikirnya sang kakak, Ibnu, akan menyumbangkan sebuah lagu, ternyata bukan. Yang lebih mengagetkan lagi ada Erik di sebelahnya. Lalu Ibnu langsung menjelaskan maksudnya secara gamblang di depan para tamu undangan, yaitu mempersilakan sahabatnya menyatakan cinta pada adiknya. Sontak saja Andra terperanjat. Ia langsung bangkit hendak kabur, tapi ditahan oleh kedua sahabatnya.


"Jangan kabur lagi!" tekan mereka.


"Gue malu, tahu," keluhnya.


"Tahan sebentar malunya. Pokoknya elo harus merespon dia," usul Widia.


Andra merasa tidak enak dengan Aydan yang duduk di seberangnya. Raut wajahnya sendiri sudah tidak karuan. Namun, ia sendiri tidak merespon apa pun. Hanya diam dan seolah tidak mau tahu. Hanya matanya saja yang berbicara jika dia sebenarnya cemburu, kesal, dan khawatir.


"Mas, ayo kita pergi!" pinta Andra pada Aydan.


"Untuk saat ini aku gak bisa bantu kamu kabur lagi. Sebaiknya jawab saja pernyataan cintanya," jawabnya dingin.


Andra tak menyangka Aydan akan berkata seperti itu. Padahal dia tahu jika Aydan sebenarnya sangat cemburu.


Mendengar namanya disebutkan berkali-kali oleh Ibnu dan Erik di depan sana, semua orang yang mengenalinya langsung menoleh ke tempat dia duduk. Alfian, kakak keduanya malah menarik paksanya agar mau maju ke depan. Widia dan Ivane malah kegirangan melihatnya diseret. Meskipun sudah menolak, tetap saja ia tak berdaya.


Dengan langkah malu-malu akhirnya Andra naik juga ke venue. Semua tamu dan keluarga besarnya memandangi. Ada yang terkekeh-kekeh. Ada yang berbisik-bisik. Ia melirik ke arah Aydan yang menatapnya tajam. Ia sadar lelaki itu sedang cemas.


"Dek, lihat sini, dong!" seru Ibnu.


Ia meringis merasa kikuk jadi tontonan. Sementara Erik sendiri tampaknya sudah menghilangkan rasa malunya. Terbukti ia terlihat begitu senang ada Andra di depannya.


"Nih, ngomong sendiri!" Ibnu menyodorkan mikropon pada Erik sambil menyeringai nakal.


"Hmmm ... Andra, mohon maaf kalau kami berdua sudah bikin kamu jadi ... tontonan banyak orang. Ini benar-benar diluar ekspektasiku. Walaupun begitu, sejujurnya aku senang. Di kesempatan baik ini, izinkan aku kembali menyatakan perasaanku padamu lagi seperti waktu di hotel," ungkap Erik malu-malu.


"Hah?! Di hotel? Jadi si Andra udah pernah ditembak sebelumnya?" celetuk Ivane tak menyangka.


"Berarti waktu kita nge-prank dia di hotel, dong? Kok, gak cerita, sih?" tanya Widia memastikan lagi. Ivane angkat bahu.


Obrolan itu terdengar oleh Aydan dan Yuda. "Stay cool, Bro!" seru Yuda mencoba menenangkannya. Aydan cuma mendehem.


Di venue, Andra tampak gelisah. Wajahnya tegang. Apalagi ketika Erik kembali menyatakan cintanya. Andra makin berdebar-debar dan canggung.

__ADS_1


"Andra atau Diandra. Seperti yang sudah kamu tahu sebelumnya. Emm... sebenarnya aku masih menunggu jawaban dari kamu setelah malam itu. Sampai aku gak bisa tidur. Sayangnya, waktu itu kamu gak langsung jawab. Mungkin kamu kaget. Aku juga kaget karena gak nyangka sama sekali bisa jatuh hati sama adik sahabatku sendiri. Kayaknya aku ini jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali kita bertemu di saat pesta pertunangan Ibnu. Jadi....," Erik mengusap tengkuknya. Ia tampaknya gelisah juga, "to the point aja, deh. Sekali lagi. Aku suka sama kamu. Aku juga cinta sama kamu. Biasanya gak secepat ini aku suka sama seseorang. Emmm... pokoknya... mau gak... kamu jadi pacarku?" Erik masih tegang. Ia terus menatap gadis di depannya dengan jantung berdegup kencang.


Ia sangat berharap Andra memiliki perasaan yang sama. Seharusnya ini hal yang mudah. Banyak perempuan yang mudah jatuh cinta padanya. Dan dengan sukarela mau memberikan jiwa dan raganya demi mendapatkan simpatinya. Meskipun ia sering bersikap acuh tak acuh pada mereka. Apakah Andra juga sama?


Gadis itu melirik pada kedua sahabatnya. Keduanya menyoraki penuh semangat. Seolah-olah ini tontonan reality show. Aydan sendiri masih ditekuk wajahnya dengan tatapan tajam ke arahnya. Andra tahu, Aydan sebenarnya marah, tapi dia bisa apa. Hak orang lain untuk menyatakan cinta. Kuncinya ada pada Diandra sendiri.


"Dek, ngomong dong!" Ibnu menyerahkan mikropon lain pada adiknya yang malah diam mematung dengan wajah seperti mau menangis.


Ibnu dan Erik, bahkan semua orang menunggu jawaban darinya. Alfian, ibunya, dan pengantin wanita pun memandanginya. Bahkan ada yang sudah berteriak menyuruhnya segera menjawab. Andra jadi makin kalang kabut.


"Dek!" seru Ibnu sekali lagi. Ia melolot. Erik pun masih lekat memandanginya.


"Emmm... sebelumnya makasih banyak udah repot-repot jatuh cinta sama gue, eh, aku." Andra menyeringai. Wajah Erik masih serius dan menunggu.


"Tapi... mohon maaf juga. Sayangnya, aku gak bisa menerima perasaan Mas Erik," sambungnya. Sinar mata Erik seketika berubah.


"Lho, kenapa, Dek? Dia kurang ganteng? Kurang kaya? Kurang baik?" cecar Ibnu keheranan. "Dia best of the best, lho, Dek." Ibnu mengangkat kedua jempolnya.


"Bukan begitu, Kak. Aku tahu dia ganteng. Dia baik dan perhatian. Makasih banyak sudah sering ngirimin makanan ke kosan dan kantor. Dia kaya sepertinya. Tapi ... aku tetap gak bisa menerima Mas Erik jadi pacarku," lanjut Andra.


"Aku kan gak tahu seberapa besar kayanya dia," bisik Andra ketus.


"Terus apalagi alasannya?" desak Ibnu penasaran. Erik sendiri masih tetap menunggu penjelasan walaupun raut wajahnya yang tadi antusias kini telah berubah.


"I-iya. Soalnya... aku sudah punya pacar sebenarnya," ungkap Andra akhirnya.


"Sudah punya pacar?" sahut semua orang di sana. Tak terkecuali keluarganya juga. Erik pun terkejut.


"Beneran? Sejak kapan? Kok, gak bilang-bilang?" protes Ibnu sambil mencengkram bahu adiknya kuat-kuat.


"U-udah beberapa bulan yang lalu, Kak," jawab Andra gugup. Ia jadi merasa bersalah.


"Ya ampun. Tahu gitu gak akan aku comblangin sama Erik. Emangnya siapa pacarmu, Dek?" cecarnya. Ibnu pun merasa tidak enak pada Erik.


Andra langsung melirik ke meja teman-temannya. Ibnu dan Erik pun melirik ke arah yang sama. Lalu Widia dan Ivane memaksa Aydan untuk berdiri sambil cengengesan.

__ADS_1


"Ini orangnya!" teriak Widia dengan suara lantang.


"Wid, apa-apaan, sih?" protes Aydan malu. Ia ingin kembali duduk, tapi ditahan keduanya. Kini semua mata beralih ke arahnya.


"Dia siapa, Dek?" selidik Ibnu.


"Kayaknya Mama pernah lihat, deh," celetuk Ningsih, ibunya Andra yang duduk di sebelah pengantin perempuan.


"Mama kenal?" tanya Alfian.


"Iya. Dulu. Tapi gak tahu di mana dan kapan. Lupa."


Erik terlihat kecewa. Ia mencoba tetap menyunggingkan senyum meski patah hati. Sebenarnya ia sudah curiga pada kedekatan sikap Andra dan atasannya itu. Namun, selalu ia tepis.


"Jadi beneran dia pacar kamu? Dia siapa, sih?" Sekali lagi Ibnu meminta penjelasan.


Dengan ragu-ragu Andra mencoba menjelaskannya. "Namanya Mas Aydan. Dia itu seniorku waktu kuliah. Dia juga atasanku di kantor. Maaf, gak sempat bilang. Soalnya takut ketahuan, kan gak boleh pacaran sesama karyawan," dalihnya.


"Oh iya. Dia kakak kelasnya Andra waktu kuliah. Waktu itu ada yang ngirim foto Andra sama dia lagi duaan. Mama langsung sewot jadinya. Ooh, jadi kamu masih berhubungan sama dia?" timpal Ningsih.


Andra, Ibnu, dan Erik terkejut mendengar cerita Ningsih.


"Jadi ada orang yang ngirim foto Andra dan Mas Aydan waktu itu?" selidiknya baru tahu.


"Iya," jawab Ningsih datar.


"Pantesan aja! Siapa orangnya, Ma?" cecar Andra dengan perasaan kecewa.


"Eh, udah, udah. Kita sudahi dulu ya. Dilanjutkan di rumah aja," usul Ibnu yang menyadari suasananya sudah tidak menyenangkan lagi. Akhirnya para tamu undangan kembali melanjutkan makan-makan dan mendengarkan musik.


Sementara Andra mencecar ibunya perihal foto yang dimaksud tadi. Karena kejadiannya sudah lama, Ningsih tidak ingat dan tidak tahu siapa pengirimnya karena di amplop tidak disertakan nama pengirimnya. Bibir Andra mencebik kecewa. Mengapa ibunya tidak pernah cerita soal itu.


Erik yang masih berduka karena ditolak hanya bisa diam dan termenung setelah bergabung di meja tamu bersama teman-temannya lagi. "Tenang, Bro. Masih banyak cewek lain." Hibur mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2