
"Yes akhirnya gue dapet juga nomor loe Mon..yes,yes,yes.." seru raya kegirangan sambil tersenyum menatap layar ponselnya.
Setelah beberapa detik berselang raya segera mendial nomor yang Mondi berikan tadi siang, PACAR RAYA itu lah yang kini raya sematkan untuk nomor ponsel tersebut.
Raya segera merebahkan tubuhnya saat kini panggilan nya telah diangkat, ia tersenyum.
"hallo, Pacar. Eh bukan pacar.. "
"ini siapa? Pacar siapa?"
Raya tertegun saat menyadari ada sesuatu yang salah. "Kok, suaranya beda?" Tanya raya pelan.
"Ini__Mondi kan???"
"Lah siapa Mondi, Ini mah saya Asep satpam kompleks di perumahan gading asri."
Raya membulatkan matanya, ia menjauhkan ponsel dari telinganya. Menatap beberapa detik layar ponselnya
"ini bener kok, nomor nya Mondi. Tapi kok ___ " ucap raya menggantung.
"ASTAGHFIRULLAH___" raya seakan tersadar dan segera mematikan sambungan telpon tersebut. Ia segera bangun dari tidurnya.
"Mondi ngerjain gue__ seorang RAYA ANINDITA, Gak bisa di biarin .Bener-bener tuh cowok bikin raya gregetan. lihat aja seorang raya bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan Mondi. " .
Raya tersenyum licik , kemudian menatap horor Nomor Ponsel tersebut yang tanpa pikir panjang lagi raya hapus.
•••
KEESOKAN PAGINYA
"Mon, Habiskan sarapannya. " Perintah wanita paruh baya yang kini tengah menikmati perannya sebagai seorang ibu rumah tangga.
"Mondi, udah kenyang mah."
"Gak baik sisain makanan gitu, kamu tahu ada lebih dari miliyaran orang di luaran sana yang bahkan gak bisa makan sama sekali. Jadi hargain makananmu." Seru mama rianti sebagai mamanya Mondi yang kini telah duduk di samping suaminya bimo.
Dengan terpaksa Mondi kembali duduk dan menghabiskan makanan nya. "iya ma."
"Gimana band kamu Mon??" Tanya Bimo .
"Baik-baik aja pah.." jawab Mondi seadanya.
"Gak ada niatan buat belajar bisnis aja, kayak kakak kamu" tanya Bimo yang terdengar mulai serius.
"Mondi pikirin dulu pah.."
"JANGAN Banyak mikir Mon, bisnis kan sudah Jadi bahan turun temurun sejak kakek dan nenek moyang keluarga ALVANO. Loe lupa?" Seru Daniel sang kakak yang kini sudah berdiri di samping meja makan.
"Apaan sih, udah seribu kali kakak selalu bilang kalimat itu. "
" Kakak nginginten kamu loh Mon, kalau cuman ngaband aja mau jadi apa kamu?"
Mondi menatap kakaknya dengan perasaan kesal. "Mama sama papa aja gak keberatan kok, kok kak Daniel yang sewot terus."
Daniel tertawa mengejek dan sedikit sinis. " Gak keberatan, mereka nya aja yang gak bilang sama loe. "
"Maksud ka Daniel apa?"
Mondi menatap bergantian ke arah kedua orangtuanya yang kini tampak hanya diam, dan hanya terlihat seperti pendengar saja.
"Tanya aja?" Ucap Daniel mengisyaratkan ke arah kedua orang tua mereka.
Mondi sedikit membulat kan matanya untuk meminta jawaban dari kedua orangtuanya.
"Sudahlah, Daniel kita bahas ini lain kali saja. Nanti Mondi jadi telat loh.." Ucap Rianti enggan berdebat pagi ini.
"See..." Ucap Daniel merasa menang dengan jawaban ibunya, meskipun ia sedikit tidak puas. "Selalu aja begitu." Daniel menatap kesal ke arah kedua orangtuanya.
"Mondi berangkat.. assalamualaikum. "
Mondi mencium kedua telapak tangan orangtuanya secara bergantian, namun ia segera melangkah melewati Daniel begitu saja.
"Dasar adik durhaka loe , ya Mon. " Teriak Daniel saat ini sosok Mondi telah hilang tak terlihat lagi.
•••
"HAI, MONDIII_good morning."
"Astaghfirullah____" kaget Mondi mundur beberapa langkah kebelakang.
Ia kaget dengan sesosok penampakan seorang gadis di depan rumahnya pagi-pagi buta seperti ini, dengan senyum yang khas menampilkan deretan giginya yang putih dan rapih .
"Loe, Ngapain pagi-pagi di rumah gue. "
"Mau , berangkat sekolah bareng pacar. " Ucapnya cengengesan. "Ehh, salah ya. " Seru raya sembari menutupi mulutnya dengan gaya yang manja.
Yang justru membuat Mondi merasa jijik dan mual, bukan malah terpesona.
__ADS_1
"gue bukan pacar loe. " elak Mondi.
"Tapi bakal jadi pacar raya kok, Pasti. " Seru raya tersenyum begitu manis
"Sarap loe__" seru mondi yang kini justru telah berjalan hendak menaiki motornya.
"Pasti Mondi mau tanya kenapa raya bisa tahu alamat rumah Mondi?"
"Jawab dong Mon? Gak penasaran? Gak pengen tahu apa?"
"Gak! Gak penting." Ucap Mondi tepat di hadapan muka raya, raya Refleks memejamkan matanya .
"Ngapain, ngikutin. " Tanya Mondi yang kini tengah memakai helm dan menghentikan langkahnya.
"Mau naik motorlah bareng Mondi, masa mau ngojek si. " Ucap Raya segera meraih helm yang satunya lagi.
"Nggak__ lepasin sekarang helm nya." Perintah Mondi galak. Hendak merebut kembali helm tersebut dari kepala raya.
"Nggak mau." Spontan raya memegangi helmnya.
"Lepas nggak_"
"Nggak mau."
"Loe, lepas sekarang juga. " Ucap Mondi sambil menarik helm tersebut dari tangan raya, dan terjadilah tarik menarik.
"Lepasin, gue bilang lepasin."
"Nggak mau" jawab raya cepat.
"Mon, ada tamu yah___" teriak rianti dari dalam rumah.
Mondi yang mendengar suara ibunya terperanjat kaget, ia segera menutup mulut raya saat melihat perempuan itu hendak menjawab pertanyaan ibunya.
"Gak ada kok ma, Mondi berangkat duluan . assalamualaikum. "
"Waalikum salam."
Mondi akhirnya bisa bernafas lega, ia menatap horor kearah raya, Sedangkan raya kini hanya bisa tersenyum puas.
"Gak usah deket-deket_" peringat Mondi saat kini badan mereka begitu menempel, raya sengaja melakukan hal tersebut yang justru membuat Mondi risih dan merasa tak nyaman.
"Kalau jauhan itu namanya bukan boncengan apalagi naek motor dong." Jawab raya.
"Lepasin tangan loe, Ngapain pegang-pegang segala." Protes Mondi, mulai melepas tangan kiri raya dari pinggangnya.
"Lepas atau gak sama sekali."
"Gak mau" tolak raya manja.
"Kalau gitu cepet turun."
"Gak mau."
Akhirnya dengan sangat emosi Mondi segera turun dari motornya ia segera berjalan meninggalkan raya yang kini juga tengah mengikuti Mondi dari belakang.
"Mon, tunggu dong. Jalannya jangan kecepatan gitu." Seru raya setengah berlari mengejar Mondi.
Duaagghhh..
Raya mengangkat wajahnya saat kini Mondi telah menghentikan langkah kakinya, raya celingkuan saat mereka kini tengah berada di sisi jalan raya.
Raya hanya diam menunggu sambil menatap Mondi dengan tersenyum, Mondi yang melirik raya sekilas berpikir jika gadis di depannya ini sakit jiwa.
Raya segera mengikuti langkah Mondi saat kini mereka tengah menaiki angkot, raya kini duduk dengan tenang saat angkot mulai berjalan.
Berbeda dengan raya Mondi nampak gelisah, ia terus melirik jam tangannya.
Sekitar setengah jam kemudian akhirnya mereka sampai di gerbang sekolah yang sudah tertutup.
"Yahh ,Telat." Seru raya .
"Gimana dong Mon?" Tanya raya lagi. "Pak bukain pintu nya dong."
"Ini semua gara-gara loe."
Raya melihat ke arah mondi." Kok gue?" Tanya raya balik.
"Ya kalau loe gak ngikutin gue ,gak bakal gini ceritanya. Ribet kan? Musibah sih ini mah."
"WHAT...ini jelas salah loe juga lah, Kalau loe tadi naek motor gak bakalan gini ceritanya ."
"Heh__apa loe bilang."
Mondi menatap raya tajam. "Ini semua gara-gara loe?"
"Kok loe malah nyalahin gue." Ucap Mondi tak terima
__ADS_1
"Ya, mau nyalahin siapa? Gak mungkin kan pak security yang ada di depan." Sungut raya kesal.
"Heh_ harusnya loe sadar diri. Yang pantas di salahin itu loe ,kalau loe gak datang kayak jelangkung dan ngerecokin gue. Gue pasti Sekarang gak telat."
"Loe__" tunjuk raya tepat di wajah Mondi
"Emang bener kan? loe kayak JELANGKUNG datang tidak undang pulang juga gak di antar. "
"Mon__" kesal raya.
"Apa??" Mondi memasang wajah paling menyebalkan andalan dirinya, raya yang melihat ekspresi Mondi hanya menggeram kesal dan mengepalkan tangannya kuat.
Ingin sekali raya menggelamkan Mondi ke dasar laut yang paling dalam.
"Mondi_ apa yang kalian lakukan di sana?" Tegur seorang guru pria yang kebetulan sedang berpatroli mengelilingi sekolah untuk menghindari murid-murid yang suka mangkir dari pelajaran.
"Habis nih gue." Seru mondi berbisik yang masih bisa di dengar raya, raya menatap Mondi heran.
"Saya telat pak, maaf." Jawab Mondi seadanya.
"Kok bisa kalian telat?" Tanyanya dengan tatapan garang tak bersahabat, Mondi sedikit meringis.
"Motor saya mogok pak, dan tadi harus nunggu agak lama untuk naik angkot. "
"Kalau kamu? Siapa? Anak baru?"
Raya tersenyum." Iya pak nama saya Raya Anindita saya baru dua hari di sekolah ini, dan ini pertama kali saya kesiangan pak. Maaf." Raya memelankan suaranya di akhir kalimat.
"Kalian barengan??" Tanyanya menatap ke arah dua orang yang kini ada di hadapannya dengan mata melotot.
Dengan serempak Mondi dan raya menjawab
"Nggak Pak."
"IYA,pak"
"Kata siapa?"
"Jadi, kalian barengan?" Tanya guru tersebut lagi
"Enggak pak!." "Iya Kok pak." Jawab mereka barengan tanpa sadar meski kalimat mereka berbeda.
"Mondi, jangan bohong kita berangkat barengan kok"
"Apaan si loe."
"Dosa Loh Mon. "
"Gila ya loe. "
"Mon, please jangan kata-kata in raya kasar gitu dong." Ucap raya sedih.
"Dan ini semua gara-gara loe. "
"Apa loe."
"Elo"
"Elo"
Mereka pun saling menyalahkan.
"Stop__,stop.kalian bikin syaa pusing saja."
"Maaf pak." Ucap Mondi takut-takut.
Raya dan Mondi saling memberi tatapan membunuh satu sama lain.
"Kok jawaban kalian gak kompak?"
"Kita gak datang barengan kok pak." Jawab Mondi
"Barengan kok pak malah saya kerumah nya dulu?" Cengir raya tanpa berdosa.
"Kalian gak bisa masuk."
"Yah pak saya kan murid baru pak, pasti ada keringanan dong pak . Saya janji gak bakalan telat lagi pak . Please kali ini aja." Raya menangkup kedua tangannya di dada memohon dan memasang wajah memelas.
"Iya pak saya juga baru pertama kali ini telat, jadi ijankan kami berdua masuk pak."
"Baiklah ,kalian boleh masuk tapi ingat kalian akan mendapatkan hukuman setelah ini. Sebagai bagian dari pelajaran Agar kalian tidak mengulanginya lagi."
"Baik pak terima kasih." Jawab Mondi dan raya bersama an.
Security sekolah pun segera membuka gerbang saat mendengar keputusan tersebut.
Tbc...
__ADS_1