
"Duh, mereka berdua ke mana sih?" Andra mulai gelisah menyadari kedua sahabatnya tak juga kembali dari toilet.
Ia tenggak lagi minumannya hingga tandas. Hanya menyisakan balok kecil es batu yang mulai mencair. Makanannya pun sudah habis. Duduk sendiri di kantin kampus jurusan lain terasa tak nyaman baginya. Walaupun ada beberapa yang dikenalnya karena satu kostan. Namun, mereka hanya berbincang basa basi kecil lalu pergi.
Pengunjung kantin sebenarnya tidak terlalu peduli apakah Andra anak kampus itu atau bukan. Sayangnya ia merasa sebaliknya. Selama beberapa menit masih tetap bertahan di kursinya. Makin lama makin bosan. Kekesalan pun datang. Akhirnya Andra bangkit dan membayar makanannya. Ia mendesah pasrah ketika ibu kantin menagih makanan kedua sahabatnya juga.
"Lagi-lagi gue harus bayarin makan mereka. Dasar! Awas aja kalau gue lagi bokek gak gantian," gerutunya.
Ia hendak menyusul ke toilet kampus Sipil itu. Berjalan sendiri di koridor gedung di antara para mahasiswa yang tak dikenalnya menghadirkan rasa tak nyaman lagi. Beberapa pasang mata mahasiswa memperhatikannya. Bahkan ada yang tersenyum. Andra berusaha tak menghiraukan. Ia ingin segera pergi dari situ kalau saja tak ingat dengan temannya yang menghilang.
Braaakk!!!
Tubuhnya tiba-tiba menabrak seseorang saat akan berbelok ke kanan. Sebuah minuman bersoda jatuh dan berceceran isinya dari botol plastik. Andra mendongak. Ada mahasiswa dengan kemeja abu-abu dan celana jeans hitam sedang ternganga.
"Ma-maaf, Mbak. Maaf. Gak sengaja," ujarnya gugup.
"Iya, Mas. Gak masalah. Gue, eh aku juga gak sengaja."
Mahasiswa itu mengambil botol sodanya dari lantai lalu membuangnya ke tong sampah terdekat. Andra jadi merasa bersalah.
"Biar aku ganti minumannya, Mas," pinta Andra.
"Oh gak usah, Mbak. Gak seberapa kok. Salahku juga lagi jalan melongo aja." Mahasiswa itu terkekeh sendiri.
"Ya syukurlah. Kalau gitu aku permisi dulu, Mas," ujar Andra sambil melenggang.
"Eh, tunggu! Mau ke mana, Mbak?" seru mahasiswa itu cepat.
Baru dua langkah, kaki Andra terhenti.
"Mau ke toilet? Mau ikut?" balas Andra agak jutek.
"Ya enggak dong. Masa ke toilet cewek ikut. Cuma mau bilang. Kalau Mbaknya gak keberatan beliin aku minuman soda lagi ... ya aku sih ... gak nolak, Mbak," ungkapnya sambil mesem-mesem.
'Dasar! Tadi katanya gak usah,' batin Andra.
"Ya udah. Kalau gitu aku beliin di kantin kampus aja ya? Tapi nanti, aku mau cari temanku dulu. Dari tadi ke toilet kok gak balik-balik."
Langkah Andra berlanjut, tapi mahasiswa itu menarik cepat lengannya. Andra langsung mendelik tak suka. Ia menepisnya cepat. Mahasiswa itu jadi merasa sungkan.
"Eh, maaf, Mbak. Cuma mau bilang, toiletnya lagi rusak yang di situ. Aku antar ke toilet lain aja kalau mau. Gimana?" tawarnya. Masih dengan senyum ramah yang agak canggung.
__ADS_1
"Aku bukan mau ke toilet. Cuma mau cari dua temanku, Mas."
"Yang dua orang itu?"
"Iya. Masnya lihat gak?"
"Aku lihat mereka pergi ke kampus Arsi. Kalian anak Arsi kan?"
"Iya. Jadi mereka sudah balik ke kampus?" tanya Andra kecewa.
Mahasiswa itu mengangguk.
"Sialan. Kenapa gue ditinggalin sih?" gerutunya kesal.
Ketika Andra Bali badan siap pergi, mahasiswa itu menahannya.
"Maaf, Mbak. Minuman sodaku jadi gak mau dibeliin?" selanya sambil nyengir.
Dengan gusar, Andra kembali ke kantin diikuti mahasiswa itu yang tersenyum diam-diam. Sebotol minuman bersoda rasa cola langsung diberikan padanya.
"Makasih ya, Mbak," ucapnya begitu botol soda ditangannya. Ia tampak bahagia.
Belum juga langkah kaki Andra terayun pergi, lagi-lagi mahasiswa itu mengajaknya bicara.
"Opo meneh?" balasnya ketus.
"Boleh kenalan gak? Namaku Sugeng. Angkatan 2000." Ia menjulurkan tangan kanannya sembari tersenyum.
Andra menyipitkan mata ke arah tangan lelaki itu. Tiba-tiba ia merasa jijik. Lelaki berambut pendek rapih itu tak sabar menunggu uluran tangan lawannya.
"Maksudnya apa ya ini? Jadi tadi tuh modus ya?"
Raut wajah Andra sudah mulai tak bersahabat. Membuat Sugeng menarik tangannya. Batal mengajaknya berkenalan.
Sementara itu, tampak dua gadis sedang mengamati Andra dan mahasiswa itu dari balik tanaman hias berukuran besar.
"Duh, Andra. Lagi-lagi galaknya keluar. Lihat deh. Jadi ciut kan tuh cowok!" celetuk Widia cemas.
"Dianya aja yang payah. Baru segitu aja udah nyerah.
"Eh, dia pergi tuh. Ayo kita harus kembali ke kampus!" Ivane menarik tangan Widia pergi saat menyadari Andra tengah menyebrang ke gedung kampus Arsitektur.
__ADS_1
"Hai kalian berdua! Tega ya gue ditinggalin gitu aja!" teriak Andra dari belakang.
Rupanya mereka ketahuan sedang menyebrang. Sontak saja Widia dan Ivane berlari makin kencang. Mereka tertawa terbahak-bahak dikejar Andra yang kesal.
Geram dengan keusilan sahabatnya yang sengaja meninggalkannya sendiri, akhirnya sebuah sepatu melayang ke arah mereka. Untung saja keduanya cepat menghindar saat sepatu itu melesat cepat melewati tubuh. Naasnya sepatu olahraga itu malah mengenai seorang mahasiswa yang baru turun dari motor. Tepat di kepalanya yang untung saja masih memakai helm.
Pletak!!!
Lelaki itu terhuyung sejenak. Ia merasa pusing dan nyeri. Sebuah sepatu jatuh di bawah kakinya tiba-tiba. Diambilnya sepatu itu lalu matanya berkeliling mencari siapa pemiliknya di sekitar parkiran. Tak ada siapapun. Hanya dia yang terlihat.
Sementara Andra yang bersembunyi di balik salah satu motor orang lain merasa cemas dan berdebar-debar. Takut akan dimarahi.
Widia dan Ivane yang menyaksikan itu justru makin terkekeh. Mereka segera melesat pergi masuk kelas sebelum Andra berhasil mengejar.
"Sialan kalian berdua. Kalau ketemu gak bakal gue kasih tumpangan lagi," hardiknya sambil berjalan terpincang dengan satu sepatu. Sepatu yang dilemparkan tadi ternyata dibawa pergi oleh mahasiswa itu.
Kuliah sudah dimulai. Andra terlambat meski hanya dua menit. Ketika ia muncul di pintu kelas, semua orang di dalam sana tertawa terbahak-bahak melihatnya hanya dengan satu sepatu. Sementara kaki satunya tanpa alas kaki. Termasuk dosen Ridwan yang terpana.
"Ada apa dengan satu sepatumu? Kamu tahu kan, peraturan di civitas ini bagaimana?" tanya Pak Ridwan heran.
"Tahu, Pak. Ceritanya panjang. Kalau Bapak penasaran bisa sih diceritain, tapi nanti waktu kuliah Bapak jadi berkurang. Nanti temanku yang namanya Ivane malah ngambek karena waktu ngajar Bapak jadi berkurang. Dia lebih suka mendengar Bapak bicara daripada aku yang bicara, Pak," beber Andra menahan kesal sambil menatap sinis kedua sahabatnya yang duduk di bangku depan. Mereka berdua pura-pura tak melihatnya.
"Ooh kalau begitu bisa disingkat saja ceritanya!" pintanya penasaran. Ia menatap tajam Andra. Begitu pula seluruh mahasiswa di kelas itu. Kini ia jadi pusat perhatian. Andra tak suka itu.
"Jadi ... tadi aku ... kesel dengan ...."
Mata Pak Ridwan masih terus menatap tajam Andra yang gelisah. Ia ingin segera pergi saja kalau bisa.
"Jadi ... tadi sepatuku itu ... aku pakai buat nimpuk anjing. Bapak tahu kan kadang-kadang di lingkungan kampus ini suka ada anjing liar. Bahkan sapi-sapi punya warga juga ada. Nah, aku takut digigit jadi biar anjingnya pergi ya aku lempar aja pakai sepatu, Pak," kilah Andra dengan jantung berdebar.
"Terus kena anjingnya? Berdarah enggak?"
"Kena sih, tapi ... kok Bapak malah lebih khawatir anjingnya daripada aku, Pak?" Kening Andra mengernyit.
Pak Ridwan malah terkikik.
"Ya udah duduk aja sana! Udah telat malah berbohong."
"Eh, kok?" Andra terperangah.
Ia pun melangkah masuk dengan perasaan malu. Lalu duduk di belakang Ivane dan Widia. Sebagian teman-temannya pun masih memperhatikan dia. Sementara kedua sahabatnya hanya tersenyum simpul.
__ADS_1
"Urusan kita belom kelar!" bisik Andra geram di belakang mereka.
***