
Hatinya panas, tapi kepala harus tetap dingin. Begitulah yang tengah dihadapi Diandra saat Kalina, tunangan sementara Aydan tiba-tiba datang ke kantor konsultan arsitek tempatnya bekerja.
Ia berusaha fokus bekerja di balik mejanya, meskipun matanya diam-diam mengawasi kegiatan di ruangan Aydan. Dari tempat duduknya, ia bisa melihat gerak gerik Kalina yang manja. Duduk di sofa sambil merangkul lengan Aydan. Sementara pria itu sendiri tampak gelisah diperhatikan terus oleh Andra dan juga risih digelayuti oleh Kalina.
"Kenapa kamu mau ke sini gak bilang dulu, sih?" keluh Aydan keberatan.
"Kan aku mau bikin surprise." Kalina berdalih.
"Iya. Kamu sukses bikin aku kaget setengah mati," batin Aydan jengkel.
"Gak suka ya aku ke sini?" tanya Kalina kecewa.
"Aku gak enak sama teman-teman di sini, Kal. Mendingan kamu pulang aja, deh!" titah Aydan.
"Gak mau ah."
Sayangnya, Kalina menolak untuk pulang lagi meski sudah dibujuk. Ia mengaku bosan di apartemen sendirian. Mau pergi jalan-jalan ke Mall pun tak punya teman. Akhirnya memutuskan menyusul Aydan ke kantornya. Hatinya bahagia bisa melihat secara langsung bagaimana tunangannya bekerja. Ia merasa kagum.
Karena ruang kerja Aydan yang separuh kaca tanpa gorden itu, akhirnya satu persatu karyawan kantor jadi tahu ada tamu perempuan di ruangannya. Mereka menebak-nebak siapa perempuan cantik itu.
"Itu siapa, Ndra?" tanya Yuda kepo. "Tunangannya ya?"
"Auk ah gelap," jawab Andra cuek. Ia pura-pura sibuk membuat zoning mikro pada kertas seperti yang diminta Aydan untuk konsep restoran.
"Cakep juga ya itu cewek," puji Anton yang tiba-tiba sudah ada di depan meja Andra.
"Cakep mukanya belum tentu cakep akhlaknya," sahut Andra jutek.
Yuda dan Anton terkejut melihat reaksi ketusnya. Tak biasanya Andra bersikap sinis seperti itu.
"Kamu kenapa?" tanya Yuda curiga.
"Enggak apa-apa. Cuma bete aja banyak kerjaan. Jadi makin banyak aja beban pikiran gue," kilahnya dingin.
"Tiap hari juga begini, kan? Tapi gak biasanya kamu sentimen begitu," ungkap Yuda.
"Lagi PMS kali dia," tebak Anton ngasal.
"Iya PMS. Pengen Masak Seseorang," jawab Andra lagi.
Kedua temannya terkekeh. Dikira ia sedang bercanda, padahal memang ia sedang geram dengan seseorang seakan-akan ingin memasaknya hidup-hidup saat Kalina masih bertahan di sana bersama kekasihnya.
Berulang kali Aydan meminta mantan pacar kakaknya itu pulang, tapi dia menolak terus dan akan tetap di sana sampai Aydan pulang kerja. Mau tak mau ia terpaksa membiarkannya. Meskipun merasa bersalah terhadap Andra yang sejak tadi masih memelototinya.
"Eh, cincinnya kok gak ada?" celetuk Kalina baru sadar saat Aydan menggeser mouse.
Ia terkesiap. Baru sadar jika cincin tunangannya sudah dilepaskan dan belum dipakai lagi sejak nobar.
"Oh, iya. Sengaja aku lepas. Aku gak biasa pakai emas perhiasan," dalih Aydan.
"Tapi itu kan bukan emas. Cuma titanium, Bang. Ayo dong dipakai lagi!" rayu Kalina.
Ia tersenyum terpaksa "Nanti ya! Aku juga lupa taruh di mana."
"Taruh di kantor apa di apartemen? Biar nanti aku carikan."
"Ya itulah masalahnya. Aku lupa." Sebenarnya Aydan enggan memakai lagi. Ia menyimpannya di lemari.
Hingga jam kerja berakhir, ternyata Kalina memang betah di dalam sana. Ia terus memantau pekerjaan Aydan. Membuat perasaan Andra bergemuruh tak karuan menyaksikan keduanya terus menerus dalam satu ruangan.
"Ndra, ayo pulang!" ajak Anton.
"Sebentar!" jawabnya sambil berpura-pura merapikan meja kerja. Padahal ia menunggu dua manusia itu keluar ruangan lebih dulu.
Begitu keduanya membuka pintu dan keluar, Andra cepat-cepat mengekor di belakang. Matanya yang tajam menusuk terasa hingga ke jantung Aydan. Ia gelisah. Merasa bersalah, tapi tak bisa apa-apa.
"Lho? Ada Kalina rupanya?" Tiba-tiba Imam muncul di belakang juga saat mereka di lobi kantor.
__ADS_1
"Iya, Bang Imam. Enggak apa-apa kan aku main ke sini? Bosan di apartemen terus," ungkapnya.
"Boleh. Boleh. Silakan. Mau bantuin kerjaan kita juga enggak apa-apa," balasnya terkekeh.
"Mana bisa gambar, Bang. Aku kan cuma lulusan SMA. Kalau gambar alis, baru aku pandai," ucap Kalina bangga. Ia memang pandai berdandan. Terlihat jelas cetakan alisnya begitu sempurna.
Andra mencebik mendengarnya. "Bisa gambar alis aja bangga," gumamnya sebal.
"Eh, ngomong apa, Mba?" Rupanya Kalina mendengar juga. Aydan dan Imam langsung menoleh ke arah dua gadis itu.
"Gak ngomong apa-apa," dalih Andra.
"Aku dengar, kok. Jelas. Telingaku ini gak budeg. Tadi bilang gini, 'Bisa gambar alis aja bangga'. Gitu kan?" cecarnya. Aura sengit mulai terendus.
Andra menggeleng. Ia tetap tak mau mengaku. "Orang aku cuma ngomong sendiri."
"Iya ngomong sendiri, tapi yang diomongin itu aku," hardik Kalina judes.
Malas adu mulut. Andra hanya bisa menghela napas kasar, lalu pergi mendahului untuk pulang. Aydan tertegun melihat sikapnya yang jelas-jelas sedang kesal.
"Gawat, nih, Andra ngambek lagi," batinnya khawatir.
Di halaman kantor, gadis pujaannya sedang bersiap pulang dengan motor matiknya. Raut wajahnya menahan emosi. Sementara Kalina meminta Aydan untuk segera masuk mobil agar cepat pergi. Sedangkan Aydan sendiri masih terus memperhatikan Andra yang jengkel. Ia berusaha untuk memberitahu agar tidak marah, tapi sia-sia. Andra mengabaikannya. Sampai gadis itu pergi sambil menarik gas kuat-kuat. Ia meluncurkan dengan kecepatan tinggi tanpa permisi. Meninggalkan jejak bising di telinga.
"Kenapa tuh bocah? Rada aneh," ujar Yuda heran yang juga sudah naik motornya.
"Namanya juga lagi PMS, kan?" sambung Anton.
"Ngeri ya cewek kalau lagi PMS. Marah-marah gak jelas gitu," lanjut Yuda. "Semoga Widia gak kayak gitu."
Obrolan kecil itu terdengar oleh Aydan. Ia makin merasa bersalah pada Diandra.
"Pasti dia jealous, deh," batinnya sedih.
"Bang, ayo buruan nyalain mobil! Bengong aja. Sebelum pulang, mampir dulu ya ke supermarket. Mau beli stok makanan. Isi kulkasmu kosong," pinta Kalina.
"Wah perhatian banget, nih Mbaknya," celetuk Anton merasa iri. Ia yang masih ada di sebelah mobil Aydan tak sengaja menguping.
"Bisa diam gak, sih?" hardik Aydan.
Bentakan itu membuatnya terperanjat. Tak biasanya Aydan bersikap kasar. Hatinya jadi perih hingga air mata mulai menggenang. Kalina menunduk sedih. Secepatnya Aydan meminta maaf. Sebab perempuan itu tidak tahu apa-apa jika ia sedang resah dengan Andra.
***
Malamnya Aydan mencoba meminta maaf melalui telepon dan pesan. Sayangnya hanya ditanggapi dingin oleh Andra. Hingga esok hari ujian kesabaran itu datang lagi. Kalina datang kembali menjelang makan siang sambil membawa makan siang untuk Aydan.
Alih-alih ingin makan siang bersama Andra pun gagal. Aydan malah makan berdua dengan Kalina di kantor hanya karena merasa tak tega. Kejadian itu terus berlanjut hingga setiap hari. Membuat komunikasi Andra dan Aydan menjadi kaku dan dingin. Hanya sebatas rekan kerja saja. Aydan makin dibuat tak karuan.
"Besok udah Sabtu aja. Asyiiik. Saatnya ditraktir," celetuk Ivane senang saat dia, Andra, dan Widia tengah berkumpul di ruang bersama indekos pada malam hari.
"Jadi elo bawa siapa besok?" tanya Widia penasaran.
"Paling juga bawa teman kantor gue aja, deh," jawabnya pasrah.
"Kalau elo siapa, Ndra?"
Andra yang tengah menonton televisi dengan wajah malas, hanya mengangkat bahu saja.
"Kok gak tahu? Bawa teman kantor elo aja. Si Anton atau siapa gitu. Atau Mas Aydan," usul Widia terkikik.
"Liat nanti, deh. Mungkin gue bakal datang sendirian."
"Eh, gak bisa. Peraturannya harus bawa pasangan. Kalau gak, batal ditraktir," ancam Widia tegas.
"Ya udah gak usah ditraktir aja. Gak masalah, kok," sahutnya malas.
"Kok elo gitu, sih?" selidik Ivane merasa ada yang tak biasa.
__ADS_1
"Lagi ada masalah ya?" tebak Widia.
"Ah, biasa. Cuma urusan kerjaan. Jadi gue bawaannya bete terus," dalihnya.
"Nah, karena itu elo harus ikut kita senang-senang. Biar gak bete lagi. Gimana kalau gue ajak Mas Aydan juga?" usul Widia lagi sambil mengeluarkan ponselnya dari saku.
Sontak saja Andra gelagapan. Ia merampas ponsel Widia buru-buru. Ia tak mau Aydan ikut. Kalaupun terpaksa ikut, ia ingin datang sendirian atau bersama teman lainnya.
"Oke, deh. Nanti gue datang juga, tapi gue gak mau elo ngundang Mas Aydan juga. Gue lagi bete sama dia," ungkapnya lagi.
"Kalian lagi berantem?" tanya Widia dan Ivane kompak.
Andra menggeleng cepat. Untuk menghindari pertanyaan sahabatnya, dia kabur ke kamar kosan. Berpura-pura tidur cepat.
***
Sabtu sore pun tiba. Andra sudah bersiap-siap untuk pulang. Namun, ada pemandangan sama yang membuatnya selalu terbakar cemburu selama seminggu itu. Kalina sedang menunggu Aydan pulang di lobi kantor. Ia asyik bermain ponsel sambil bersenandung.
"Seandainya gue bisa kasih tau dia kalau gue ini ceweknya Mas Aydan," gumamnya jengkel sambil berlalu melewatinya.
Tiba-tiba Yuda mencegatnya keluar kantor. Menanyakan apakah ia akan datang ke acaranya nanti malam? Sebenarnya ia ingin menolak datang, tapi tak tega dengan Widia. Akhirnya diiyakan meski datang sendirian. Di sampingnya, Kalina menguping pembicaraan itu.
"Kok, elo masih belum siap-siap?" tanya Ivane di kosan.
"Iya. Nanti. Badan gue masih pegel," kilah Andra malas.
"Mau bareng gak berangkatnya sama gue? Sebentar lagi dijemput sama teman cowok gue. Dia bawa mobil," tawar Ivane.
"Duluan aja, deh."
"Bareng aja yuk! Naga-naganya elo bakalan gak datang," ujar Ivane curiga.
"Tenang aja gue pasti datang, tapi sendirian. Gue mau lemesin otot dulu."
"Ah gak percaya. Ayo buruan mandi. Udah Maghrib, nih!"
Ivane memaksanya untuk berangkat bersama menuju Cafe. Dengan terpaksa Andra akhirnya pergi juga. Ia hanya memakai pakaian yang sangat casual. Tidak seperti Widia dan Ivane yang bergaya feminim.
"Akhirnya elo datang juga," sambut Widia bahagia.
"Gue paksa ikut, nih," ungkap Ivane.
"Sorry. Gue cuma lagi gak enak badan aja," kilah Andra.
"Gak enak badan atau gak enak hati?" goda Widia.
"Gak enak badan. Beneran."
"Ooh gitu. Tenang kita punya obat penawarnya, lho. Pasti gak bakal bete lagi," ungkap Ivane. Dia dan Widia tersenyum misterius.
"Maksudnya?" Dahi Andra mengernyit tak mengerti.
Namun, keduanya tak mau menjelaskannya sampai acara makan malam pun digelar. Untuk sesaat perasaan galau Andra sedikit terobati. Ia tertawa-tawa mendengar cerita Yuda saat nembak Widia dengan sesajen berupa oleh-oleh dari Bali. Betapa repotnya lelaki itu saat berbelanja ditemani Andra di pasar oleh-oleh. Membeli banyak barang dan menawar dengan harga sadis. Mengingat uang sakunya tidak banyak.
"Maaf, terlambat!" seru seseorang di belakang meja makan mereka.
Semuanya menoleh. Widia dan Ivane tersenyum kegirangan melihat tamu itu. Bahkan sampai bertepuk tangan. Lain halnya dengan Andra. Ia terperanjat melihat sosok Aydan ada di belakangnya. Pria itu tersenyum manis. Sorot matanya pun berbinar-binar melihatnya.
"Kok, ada di sini?" tanya Andra tak suka.
"Ya aku diundang sama Widia dan Yuda," jawabnya percaya diri.
Andra melirik tajam pada kedua sahabatnya. Mereka malah kompakan terkekeh-kekeh.
"Makasih undangannya, Yud," ucap Aydan kalem.
"Sama-sama, Mas," balas Yuda dengan wajah semringah. Ternyata ia pun mengundang beberapa teman sekantornya selain Aydan. Mereka baru saja datang juga. Suasana jadi makin ramai.
__ADS_1
Tinggallah Andra yang duduk menahan kejengkelan pada dua sahabatnya juga. Kemudian Aydan diberikan tempat duduk tepat di sebelah gadis itu. Ia mencoba untuk berbincang-bincang, tapi Andra menanggapinya dingin dan terus saja memalingkan muka. Aydan menghela napas kecewa.
***