
Entah karena Riko yang rajin gembar gembor mengaku sebagai pacar Diandra atau karena mereka sudah bosan dengan gosip tentang Diandra yang tak jelas kebenarannya itu, akhirnya lambat laun mereka mulai bosan membicarakan itu. Gosip pun mulai mereda seiring waktu. Kecuali tentu saja Merry dan kawanannya yang kerap penasaran dengan kehidupan Diandra.
Sementara Agung, kadangkala masih suka datang ke kampus Arsitektur. Mengajaknya bertemu dan masih ingin membawanya ke seorang ustadz untuk meruqyah Diandra. Rupanya ia masih termakan gosip itu. Andra sampai mengusirnya dengan cara kekerasan.
"Pergi gak lo! Kalau enggak, jangan harap tampang elo bisa tetap utuh sepulang dari sini!" ancamnya geram sambil mengepalkan tangan kanannya ke wajah Agung.
"Ya ampun. Kamu kok galak banget sih? Aku kan punya maksud baik, Dian. Karena aku peduli sama kamu. Aku sayang sama kamu. Tolong ngertiin dong." Agung mengiba.
"Sekali lagi gue ingetin ya! Gue ini cewek normal yang masih suka sama laki-laki. Jadi gak perlu diruqyah segala. Emangnya gue kesurupan. Makan tuh gosip!" hardiknya kesal.
"Alhamdulillah. Bagus kalau gitu. Jadi aku masih ada harapan kan?" Sorot matanya berbinar-binar.
Kegigihan mahasiswa jurusan ekonomi itu makin membuat Andra naik pitam. Ia melemparinya dengan kerikil yang ada di taman. Agung berusaha menangkisnya dengan tangan lalu terdengar suara orang merintih.
"Ouw!!"
"Yes!" Andra kegirangan, tapi kemudian ia tercengang. Ternyata yang merintih tadi bukan Agung melainkan Aydan yang sedang menghampirinya.
Kerikil itu mengenai kepalanya. Andra bergegas mendekati pemuda itu.
"Ya ampun. Maaf, Mas. Gak sengaja. Sebenarnya gue mau nimpuk dia," tunjuk Andra pada Agung yang masih siap pasang badan.
Aydan tersenyum sembari menahan perih di kepalanya. "Aku gak apa-apa."
Gadis itu menggigit bibirnya. Cemas dan merasa bersalah.
"Hei, kamu!" teriak Aydan pada Agung.
Mahasiswa jurusan ekonomi itu tersentak.
"Aku kan sudah bilang jangan bikin keributan di sini!" tegur Aydan.
"Enggak kok. Aku datang baik-baik, Mas. Tapi Diannya yang beringas. Aku kan punya maksud baik mau ajak dia pergi," dalihnya.
"Gue kan udah bilang berkali-kali gak mau. Kenapa maksa banget sih?" bentak Andra.
"Tuh dengar sendiri kan? Dia gak mau sama kamu. Bukan karena hal lain, tapi emang dia gak suka sama kamu," beber Aydan.
Bibir Agung melengkung ke bawah. Ia terlihat kecewa dan sedih lagi.
"Tapi ... apa gak bisa aku dikasih kesempatan lagi? Kan kita belum kenalan. Kan kamu belum tahu gimana aku? Aku tipe setia lho," lirihnya.
"Ugh. Ngeyel banget ni orang!" Tangan Andra mengepal lagi. Ia merasa risih dikejar-kejar oleh lelaki itu.
Kekecewaan Agung makin bertambah saat Riko datang. Pria kurus itu datang tergopoh-gopoh.
"Eh elo datang lagi. Pergi sana! Jangan ganggu cewek gue!" bentaknya.
__ADS_1
Bukan cuma Agung yang terkejut mendengarnya, tapi Aydan juga.
"Bohong! Masa sih Dian udah punya cowok. Setahuku dia masih jomblo," bantahnya.
"Eh dibilangin kok gak percaya amat," tekan Riko kesal.
Ketidakpercayaan Agung membuatnya tak mau pergi. Lalu Aydan berbisik di telinga lelaki itu. Entah apa. Anak Ekonomi itu tercengang. Akhirnya ia pamit pergi dengan wajah tanpa harapan.
"Bisikin apa tadi, Mas?"
"Bukan apa-apa. Cuma minta jangan ganggu kamu lagi," jawab Aydan dengan senyum kecil.
"Serius cuma ngomong gitu doang?" Andra tak percaya begitu saja.
Senior itu mengangguk kecil lalu melenggang pergi. Meninggalkan Andra yang bengong. Ia mengejarnya.
"Kepalamu benjol gak, Mas?" Jari jemari Andra menyingkap rambut seniornya tanpa ragu.
Pemuda tinggi itu terkesima saat tangan Andra menyentuh kepalanya secara hati-hati. Hatinya berdesir.
"Udah aku bilang aku gak apa-apa," sahutnya sambil menepis tangan itu. Ia berusaha menahan diri dari gejolak rasa yang menyerang. Jantungnya berdetak kencang.
"Aku takut Mas Aydan gegar otak terus jadi amnesia gitu."
"Ngaco! Udah ya aku pergi duluan." Aydan tersenyum lagi sebelum pergi.
"Masuk kuliah lah. Sana kamu juga pergi sama cowok kamu tuh!" tunjuknya pada Riko yang berada di belakang Andra
Di depan sana terlihat Imelda sudah melambaikan tangan mengajaknya segera pergi. Aydan setengah berlari menyusulnya. Tinggallah Andra merenggut kecewa.
"Mereka kok keliatan cocok banget ya," gumam Andra merasa sedih melihat kedua seniornya itu berjalan beriringan menuju koridor.
"Ndra, sejak kapan elo jadi deket sama senior itu?" Riko menyusulnya di belakang.
"Kenapa? Elo cemburu?" tanya Andra dingin.
"Yo mesti."
"Lebih baik sudahi aja sandiwara ini. Jangan ngaku-ngaku pacar gue lagi deh. Beban jadinya," protesnya sambil berlalu. Ia jengkel saat Riko datang di saat yang tidak tepat.
Riko yang tak tahu ada apa antara Andra dan Aydan itu hanya bisa mendesah kecewa.
"Salah gue apalagi?" gumamnya.
***
Perasaan dan pikirannya tentang Aydan terus berputar-putar di kepala. Ia merasa terganggu sendiri. Apalagi melihat keakraban Aydan dengan Imelda yang kian hari makin jelas terlihat. Membuatnya jengah.
__ADS_1
Sadar diri bahwa tak ada hubungan apapun dengan seniornya itu dan tak mungkin bisa lebih dari sekedar teman satu kampus, Andra berusaha menjaga jarak dengannya. Ia berusaha menekan perasaannya. Tak mau berharap lebih jauh lagi. Herannya belakangan ini seolah takdir sedang mengujinya. Ia terus dipertemukan dengan Aydan. Padahal sudah mengurangi kunjungan ke perpustakaan malah bertemu di lain tempat.
Sementara Aydan sendiri justru sebaliknya. Ia berusaha mendekati juniornya itu. Sekedar hanya untuk bertegur sapa, bertanya tentang keadaannya, atau yang paling jauh yaitu mengajaknya makan di kantin kampus. Sayangnya, Andra selalu menolak secara halus. Gurat kekecewaan terlihat di wajah pemuda itu. Entah mengapa dia masih tetap bersikap ramah.
Gelagat aneh keduanya diam-diam diamati oleh Sekar. Penasaran dengan sikapnya yang seperti kucing-kucingan, akhirnya gadis berambut sebahu dengan gigi gingsul itu memberanikan diri untuk bertanya di saat ia bertemu dengan Andra di kantin kampus.
"Sepertinya kamu ada masalah ya sama Mas Aydan?" potong Sekar ketika Trio Jomblowati itu sedang mengobrol. Ia datang bersama Nindita.
"Masalah? Emang elo lagi ada masalah sama dia, Ndra?" sela Ivane jadi penasaran.
"Enggak ada kok," aku Andra sambil menggelengkan kepala.
"Kalau gak ada kenapa kok umpet-umpetan terus sama dia?" Wajah Sekar terlihat serius menatapnya.
Kini kedua sahabatnya itu ikutan menatapnya. Meminta penjelasan juga.
"Hei gals, gue gak ada masalah apapun sama dia. Gue cuma sedikit terganggu," ungkapnya.
"Kok bisa terganggu?" tanya ketiganya kompak.
Malas menjelaskan perihal yang sebenarnya, Andra memilih bungkam.
"Jangan-jangan sebenarnya kamu ngefans juga ya sama Mas Aydan sama kayak aku?" tebak Sekar. Ia nampak keberatan.
"Ngefans juga?" pekik Widia dan Ivane kaget.
"Maksudnya gimana nih?" cecar Widia lebih lanjut.
"Bener kan kata gue, si Andra diam-diam naksir dia," bisik Ivane pada Widia. Widia melirik cepat pada Andra yang gelisah.
"Ah enggak kok. Gue cuma ... cuma ...." Lidahnya mendadak kelu sehingga sulit menjelaskan. Karena memang dia tak ingin mereka tahu. Sementara keempat temannya tak sabar menunggu dan begitu penasaran.
"Udah ngaku aja kalau kamu juga ngefans sama dia?" titah Nindita gemas. "Aku pernah lihat dia lagi bikin sketsa Mas Aydan waktu di perpustakaan. Terus bukunya ketinggalan. Mau aku ambil eh malah keduluan sama Mas Aydan."
Penuturan Nindita membuat keempatnya terperanjat. Khususnya Sekar.
"Gue cuma iseng aja kok. Gak ada alasan khusus. Kebetulan aja ada objek lukis yang bagus di depan mata. Ya udah deh spontan aja gitu bikinnya." Andra berkilah. Ia berusaha tampil sewajarnya meskipun sebenarnya gugup.
Sebab jauh di belakang Sekar dan teman-temannya ternyata ada Aydan, Yoga, dan Ryan baru saja datang. Aydan melirik ke arah Andra. Kedua mata mereka saling beradu. Sorot matanya seolah ingin bertanya, "Benarkah itu?" Andra ingin tersenyum, tapi senior itu langsung memalingkan wajah.
'Duh mampus deh! Jangan-jangan dia salah paham,' batin Andra lemas.
"Gue pergi duluan ya!" ujarnya sambil berdiri lalu pergi ke ibu kantin untuk membayar. Sementara mata Aydan diam-diam memperhatikan dari mejanya.
Keempat temannya yang ditinggal pergi hanya bisa bengong. Sampai Sekar tersadar ada Aydan di belakangnya. Kaget tentu saja. Dadanya langsung berdetak cepat saking senangnya.
***
__ADS_1