Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Takut Tersaingi


__ADS_3

Koper dan tas di bagian belakang mobil tidak diturunkan saat Andra dan Aydan sampai di kantor. Andra hanya nenatapnya heran. Aydan bergegas masuk sambil menggandeng tangan gadis itu seperti kemarin.


"Met pagi, Mba Andra dan Mas Aydan. Barengan lagi, nih? Masih rusak motornya, Mba?" sapa satpam kantor ramah.


"I-iya begitulah," jawab Andra hanya menyeringai malu.


Saat masuk lobi, di sana ada Anton, karyawan kantor bagian render 3D yang juga baru datang. Ia terperangah melihat Aydan menggenggam tangan Andra, tapi tak berani bertanya jadi ia hanya tersenyum menyapa.


Bukan hanya satpam dan Anton, beberapa pasang mata dari rekannya di dalam ruang kerja menyadari bahwa tangannya digenggam erat oleh Aydan. Mereka pun terpana dan hanya diam dengan tanda tanya.


"Mas, tolong lepasin tanganku, dong! Mereka pada ngeliatin, tuh!" seru Andra merasa risih jadinya begitu sampai di depan mejanya.


"Biarin saja. Toh, kita cuma pegangan tangan gak lebih," sahut Aydan cuek.


Merasa obrolan pribadi itu bakalan terdengar orang lain, Andra menarik Aydan masuk ke ruangannya.


"Ya, tapi nanti mereka makin sadar kalau kita ada hubungan spesial," sambung Andra cemas.


"Justru itu maksudku. Lagian kan memang mereka sudah curiga saat Kalina datang tempo hari," jawab Aydan tanpa beban.


"Iya, tapi jangan makin diperjelas, dong! Aku jadi ngerasa gak enak nanti sama yang lain. Terutama sama Mas Imam," keluh Andra makin khawatir.


"Memangnya kenapa? Aku rasa Imam gak keberatan." Aydan tampaknya kurang peka.


"Aku kan masih tergolong karyawan baru, masa udah ngegaet atasannya. Kesannya gak profesional, Mas."


"Kalau begitu buktikan kalau kita bisa tetap profesional walaupun kita ini ada hubungan lebih," dalihnya keras kepala.


"Tapi kan...."


"Udah jangan dibahas lagi. Cepat balik ke mejamu sana!" titah Aydan. Ia sendiri sudah duduk di balik meja kerjanya dan mulai menyalakan komputer. Tak memedulikan bahwa Andra tampak tidak puas dengan pembicaraan itu. Namun, ia tak bisa apa-apa lagi. Akhirnya ia pergi.


Aydan menghela napas lelah sesudahnya. Ia tak mengerti dengan sikap Andra yang membingungkan.


"Semua wanita sama saja. Sulit dimengerti," gerutunya.


Bagaimana tidak. Semula gadis berambut sebahu itu ingin agar Kalina segera hengkang dari apartemennya. Setelah ia berhasil mengusirnya secara halus, kini ia ingin menunjukkan pada semua orang dengan jelas bahwa Diandra adalah kekasih yang sesungguhnya. Terlebih agar Erik tahu nanti. Tak peduli jika rekan-rekan kerjanya akan membicarakan. Toh, jika salah satu dari mereka harus mengundurkan diri dari perusahaan itu, Aydan sudah siap. Ia akan membuat usaha sendiri.


Anehnya, sikap Andra malah menunjukkan sebaliknya. Ia tampak begitu khawatir dan ingin merahasiakan hubungan cinta mereka berdua dari banyak orang. Padahal dulu gadis itu begitu mengharapkan dirinya. Karenanya Aydan jadi merasa ada sesuatu yang lain.

__ADS_1


Selama bekerja, pikiran Aydan merasa tidak bisa fokus. Perasaannya cemas. Ia mengetuk-ngetuk pensilnya di meja berkali-kali karena resah. Sampai akhirnya ia bangkit dan keluar dari ruangannya. Berjalan tergesa-gesa. Andra yang sedang mencoba membuat konsep desain FO milik Erik memperhatikannya dari jauh.


"Belakangan ini dia aneh," gumam Andra.


Aydan menaiki lantai dua menuju ruangan Imam. Ia masuk setelah mengetuk pintu. Imam yang sedang bekerja menatapnya heran menyadari raut wajah temannya tidak setenang seperti biasanya.


"Ada apa, Dan?"


"Anu, aku mau bahas soal pekerjaan dari Erik," jawabnya sambil duduk di kursi.


"Apa ada masalah?"


"Oh, enggak. Justru karena baru akan dimulai makanya aku mau membahas itu."


"Soal apa?"


Sejenak Aydan terdiam memikirkan sesuatu. Lalu akhirnya buka suara lagi. "Aku mau pekerjaan itu dialihkan sepenuhnya padaku. Andra tidak perlu ikut mendesain. Dia sudah terlalu banyak pekerjaan. Urusan villa di Bali dan sisa pekerjaan sebelumnya juga masih ada. Aku gak tega dengannya," terangnya.


"Tapi pekerjaanmu sendiri juga masih banyak, kan? Apa gak masalah?" tanya Imam khawatir.


"Gak masalah. Aku masih bisa bagi waktu. Atau aku akan membagi pekerjaan ini dengan Dika. Dia sudah mulai kerja, kan? Jadi pekerjaan Dika biar dialihkan pada Andra saja," cetusnya.


"Bagaimana?"


"Kalau aku sih sebenarnya gak masalah mau dikerjakan oleh siapa. Selama klien kita suka dan cocok. Intinya disitu. Tapi apakah Erik gak akan keberatan nantinya? Mengingat dia menggunakan jasa konsultan kita karena dia kenal dengan Andra," papar Imam mengingatkan.


Sekali lagi Aydan termenung memikirkan penjelasan Imam. Kini kekhawatirannya jadi semakin bertambah.


                                 ❁❁❁


Andra menguap merasa lelah siang bolong itu. Perutnya sudah keroncongan. Ia ingin segera pergi makan siang, tapi masih menunggu Aydan kembali dari lantai dua. Hingga Yuda, Anton, dan beberapa karyawan lain mengajaknya makan siang bersama di luar. Dengan berat hati Andra menolaknya. Barangkali Aydan ingin makan siang bersama seperti kemarin. Jika ia makan duluan, khawatir akan diomelin lagi. Sayangnya hingga waktu berlalu sudah setengah jam, barang hidungnya tidak tampak juga.


Tak tahan lagi menahan lapar, ia hendak menyusul ke lantai dua. Baru juga akan menaiki tangga, satpam kantor sudah memanggilnya.


"Mba Andra, ada kiriman, nih!" ujarnya sambil menenteng sebuah bingkisan plastik berwarna putih


Ia berbalik arah dan mendekati satpam sambil tertegun memperhatikan isi bingkisan putih itu.


"Apa itu, Pak?"

__ADS_1


"Gak tahu, tapi kayaknya sih makanan," jawabnya.


Andra jadi semakin penasaran. Ia segera mengambil bingkisan putih itu dari tangan si satpam dan segera memeriksa isinya. Matanya terbelalak.


❁❁❁


Aydan berjalan lesu saat menuruni anak tangga. Rencananya untuk mengambil alih pekerjaan Erik bakal terancam gagal. Dari pendapat Imam, tampaknya pemilik perusahaan konsultan itu lebih suka jika tetap ditangani oleh Andra.


Ketika matanya menatap ke depan, ia baru sadar jika ruangan di lantai satu sudah lengang ditinggalkan seluruh karyawan untuk makan siang, kecuali Andra yang masih bertahan di balik komputernya. Ia baru sadar jika jam istirahat sebentar lagi akan usai. Akhirnya terburu-buru mendekati Andra untuk mengajaknya makan.


"Maaf, nungguin aku kelamaan, ya?" tanyanya merasa bersalah. Aydan justru terkejut melihat Andra sudah memulai makan siangnya sendiri di meja.


"Eh, Mas! Nggak apa-apa, kok. Kebetulan ada yang ngirimin makan siang, nih. Mau gak? Masih ada lima kotak, lho. Jadi gak perlu keluar lagi," ungkap Andra dengan mulut sibuk mengunyah.


Perasaan Aydan langsung merasa buruk. Ia kembali curiga bahwa kiriman makanan itu dari Erik. Untuk memastikannya, ia memeriksa seluruh kresek plastik dan nama restorannya yang lagi-lagi dari restoran terkenal.


"Kamu tahu siapa yang ngirim ini?" cecar Aydan.


"Tahu. Dari Mas Erik. Tadi dia telepon aku nanyain apa makanannya sudah sampai. Dia baik banget ya," jawab Andra tanpa merasa curiga sedikit pun. "Alhamdulillah banget, kan. Pas laper, pas ada yang ngasih makanan gratis. Jangan-jangan yang tiap malam kirim makan malam juga dia ya?" Andra terkekeh senang, tapi tidak dengan Aydan. Ia merasa kecolongan.


Secepatnya Aydan mengambil bingkisan plastik itu hendak membuangnya. Termasuk nasi yang sedang dimakan Andra. Ia khawatir di dalamnya sudah ada pelet.


"Eh, kok diambil? Aku belum selesai makan, Mas," protes Andra keberatan.


"Buat orang lain saja. Nanti aku belikan yang lain," dalihnya.


"Tapi...."


Aydan memaksa Andra mengikutinya sambil menenteng bingkisan itu. Di lobi kantor ia menyerahkan semua makanan itu pada satpam.


"Kalau mau ambil saja atau bagi-bagi sama karyawan lain!" titahnya.


Si satpam menerimanya dengan mulut menganga keheranan. Tak lama kemudian karyawan yang baru saja makan siang sudah kembali dan berpapasan dengan Aydan dan Andra yang pergi terburu-buru sambil berkata. "Ada makanan gratis di meja satpam. Ambil saja kalau mau."


"Makanan gratis?" tanya Yuda.


"Wah sayang udah makan," sahut Anton kecewa.


Mereka pun memandangi keduanya dengan dahi mengernyit kebingungan karena bibir Andra mencebik dan raut wajah Aydan tampak kesal.

__ADS_1


❀❀❀


__ADS_2