Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Mak Comblang


__ADS_3

Es teh manis diseruput perlahan oleh Widia. Ia sedang duduk sendiri menunggu kedua sahabatnya datang di kantin kampus. Tak lama Ivane dan Andra muncul dari parkiran motor. Keduanya sama-sama memakai celana jeans biru dan blouse. Andra memakai tas selempang, sedangkan Ivane memakai tas gendong berukuran medium.


Ketika Ivane hendak menyusul Widia di kantin, Andra malah menolak ikut. Dia pamit pergi ke tempat fotokopi kampus. Akhirnya hanya mereka berdua yang sarapan pagi itu.


"Elo udah sarapan?" tanya Widia.


"Belum nih. Bu, pesen nasi pecel satu ya?" teriak Ivane pada ibu kantin.


"Siap, Mbak. Minumnya apa?"


"Es teh manis seperti biasa."


"Oke."


Widia menyelesaikan sarapannya. Tak lama nasi pecel itu datang saat perut Ivane terdengar menabuh genderang.


"Ya ampun. Kenceng banget itu cacing kelaparan," celetuk Widia merasa lucu.


"Iya. Tadi malam gue habis lembur sih. Tenaga dan pikiran gue terkuras jadinya," dalihnya.


"Lembur bikin apaan?"


"Biasa revisi maket. Eh tahu gak? Bener deh kata elo, Wid. Andra ternyata masih trauma sama mantannya," bisik Ivane.


"Ya emang. Telat nyadarnya."


"Ya maaf. Soalnya tadi malam kan gue nginep di kostan dia. Terus gue ditendangi dan dipukuli sama dia. Gila kenceng banget sampai sakit ini badan. Eh dia ngigau parah rupanya. Mimpi buruk tentang Nathan. Padahal kan kejadiannya udah 3 tahun yang lalu ya," ungkap Ivane.


"Rejeki elo tuh digebukin dia pas ngigau," ledek Widia sembari terkekeh.


"Tahu begitu lain kali gue tidur di lantai aja deh. Eh tapi kita harus melakukan sesuatu nih. Biar traumanya cepat hilang. Gimana ya?" tanya Ivane sambil mengaduk nasi pecelnya.


"Gampang. Cukup memaafkan Nathan dan mengikhlaskan dia sama cewek lain." Diseruputnya lagi es teh manis itu oleh Widia.


"Sepertinya Andra memang susah ikhlas ya? Atau dia masih suka kambuhan sama sakit hatinya?"


"Mungkin."


"Hai! Kalian ngomongin apa?" tanya Andra yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.


Sontak saja keduanya terkejut dan berpura-pura membicarakan hal lain. Lantas Ivane melanjutkan makannya. Andra pun ikut sarapan di sana. Mereka mengobrol hal lain. Begitu urusan makan selesai ketiganya beranjak ke gedung B.

__ADS_1


Sambil berjalan Ivane menyikut pinggang Widia. Sementara Andra berjalan di depan.


"Apa?!" tanya Widia terganggu.


"Kita harus jadi mak comblang. Jodohin Andra sama siapa gitu sampai dia move on!" bisik Ivane semangat.


"Dijodohin sama siapa? Cowok di sini udah pada tahu kalau dia galak dideketin cowok."


"Ya kalau gitu sama anak jurusan lain dong."


"Iya, tapi siapa?" Widia tampaknya setuju dengan usul Ivane.


"Nanti gue hunting dulu. Pokoknya elo harus bantu gue cariin pacar buat dia. Oke?" Jempol Ivane terangkat.


"Insya Allah. Eh, tapi kalau Andra udah punya pacar, kita bukan trio jomblowati lagi dong?"


"Gak masalah. Gue juga bakal cari pacar. Gue bakal deketin Pak Ridwan," bisik Ivane seraya terkikik.


"Ya ampun jangan dosen dong. Ngeri tahu. Itu cinta terlarang."


"Kata siapa? Cinta terlarang itu kalau sesama jenis," balas Ivane sambil melenggang cepat menyusul Andra yang sudah masuk kelas.


"Iya juga sih," gumam Widia. Ia membayangkan jika temannya itu benar-benar akan pedekate dengan dosen. Ivane yang agak centil itu entah kenapa begitu terobsesi dengan dosen yang umurnya nyaris kepala tiga itu. Apa jadinya jika ketahuan oleh Merry and the gengs. Kampus bakal heboh. Widia bergidik ngeri sendiri.


Meski awalnya Widia takut kalau Andra akan keberatan, setelah dipikirkan baik-baik akhirnya ia setuju dengan rencana Ivane.


"Menurut elo dia bakal marah gak ya?" tanya Widia khawatir lagi saat kuliah selesai.


"Itu urusan belakangan. Yang penting dia ngerasain jatuh cinta dulu. Nanti justru dia akan berterima kasih sama kita."


Ucapan Ivane tak membuat perasaan Widia tenang. Ia justru takut jika Andra merasa keberatan urusan pribadinya dicampuri. Namun, Ivane terus meyakinkannya nanti pada akhirnya Andra akan baik-baik saja.


"Kok, kita makan di warung lain? Tumben amat?" celetuk Andra, saat kedua sahabatnya mengajaknya makan di kantin kampus jurusan Teknik Sipil.


"Emangnya gak bosen makan di warung kampus kita terus?" balas Ivane.


"Iya. Menunya lebih bervariasi di sini," dalih Widia.


Berkat bujukan mereka, Andra akhirnya setuju. Setelah memesan tiga makanan, mata Ivane mulai berkeliling mencari mahasiswa yang memiliki potensi menaksir Andra atau sesuai dengan tipenya.


Hingga di salah satu meja, Ivane menangkap seorang mahasiswa yang asyik makan dan mengobrol dengan temannya, tapi matanya kerap curi-curi pandang ke meja mereka. Sosok itu terlihat rapih dengan kemeja berwarna abu-abu dimasukkan ke dalam celana jeans hitam. Rambut pendek belah pinggir sisi kiri. Kulit sawo matangnya khas orang Jawa.

__ADS_1


"Kayaknya mulai ada yang tertarik sama Andra nih," bisik Ivane pada Widia.


"Siapa?"


"Arah jam 3, Wid. Yang pakai kemeja hijau. Lumayan ganteng juga tuh." Sudut mata Ivane tak berhenti mengamati mahasiswa itu.


Widia dan Ivane saling mengedipkan mata memberikan kode.


***


Mahasiswa yang sedari tadi diperhatikan kedua sahabat Andra itu akhirnya pamit pergi lebih dulu kepada teman-temannya. Ia berjalan santai menuju parkiran motor. Tiba-tiba dua gadis menghadang langkahnya dengan tatapan tajam.


Mahasiswa itu terkejut. Ia mencoba untuk beralih ke sisi kiri, tapi Ivane tetap menghadangnya. Ia bergeser lagi ke sisi kanan. Ivane pun ikutan bergeser ke arah yang sama. Sementara Widia hanya diam mengamati dengan gelisah. Khawatir ada mahasiswa lain memergokinya. Khawatir dikira sedang memalak seseorang.


"Maaf, Mbak. Aku mau lewat," ujarnya.


"Gak bisa!" balas Ivane galak.


"Lho kok gak bisa? Mbaknya mau apa toh?" tanyanya heran.


"Serahin dulu KTP elo!" Tangan kanan Ivane menengadah padanya.


"Buat apa, Mbak?" Raut wajah pemuda itu makin kebingungan.


"Buat cek en ricek."


"Cek en ricek apaan?"


"Elo naksir kan sama temen gue yang rambutnya panjang?" todong Ivane.


"Hah?!"


Kesal dengan sikap bingungnya, akhirnya Ivane menunjuk foto Andra di dompetnya. Ada mereka bertiga dalam foto itu.


"Nih cewek yang rambut panjang ini namanya Andra atau Diandra. Dari tadi gue perhatikan elo ngeliatin dia terus. Elo naksir kan?" beber Ivane lagi.


Sejenak mahasiswa itu tertegun memperhatikan foto itu. Lalu ia memandangi Ivane dan Widia.


"Terus kalian mau apa?"


"Udah jawab aja sih! Elo naksir dia enggak?" bentak Ivane tak sabar. Kedua tangannya berkacak pinggang.

__ADS_1


Pemuda itu nampak resah dan memandangi dua mahasiswi di depannya yang aneh.


***


__ADS_2