Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Kejutan


__ADS_3

Kali ini Andra sudah tidak punya alasan lagi untuk mengulur waktu dan menghindari ajakan makan dari kliennya, Erik, pengusaha muda yang sudah meraih kesuksesan dalam waktu relatif singkat berkat privilege keluarganya.


Pria bertubuh tegap dan gagah itu mulai membuka pintu kamar hotel. Andra dipersilakan untuk masuk duluan. Debar jantungnya kembali berirama cepat. Di samping itu ia merasa penasaran, mengapa sahabat kakaknya mengajak makan di dalam kamar hotel, bukan di restoran? Untuk mengetahuinya ia harus mengikuti rencana Erik.


"Silakan masuk!" ajak pria tampan itu ramah.


Andra melangkah ragu-ragu ke dalam. Keadaan di dalam kamar masih sangat gelap. Ia berusaha mencari saklar di dinding, tapi belum juga berhasil menemukannya, tiba-tiba saja mulutnya dibekap kuat-kuat oleh sesuatu. Andra berusaha melepaskan diri. Akan tetapi tangan yang membekap mulutnya begitu kuat. Hingga perlahan-lahan kesadarannya memudar. Ia pingsan. Seseorang yang membekap mulutnya tadi langsung menahannya agar tidak jatuh.


Sementara itu, Aydan yang sejak tadi berdiri menunggu kabar dari Andra tak jauh dari pintu kamar hotel 3075 itu tampak gelisah. Ia pura-pura sedang bermain ponsel saat ada pengunjung hotel yang lalu lalang agar tidak mencurigakan. Sudah tiga puluh menit berlalu, tapi masih belum ada pesan masuk dari Andra. Perasaannya jadi makin resah dan bertanya-tanya. Apakah Andra benar-benar hanya sedang makan atau melakukan hal lainnya?


Kondisi Andra sedang tertidur lelap di atas kasur besar dengan seprai berwarna putih dan tertutup selimut. Perlahan-lahan matanya terbuka. Andra mulai sadar. Namun, pandangan matanya masih kabur. Ia berusaha untuk bangun sambil mengucek kedua matanya. Seketika ia terbelalak melihat interior mewah di dalam kamar hotel itu yang ternyata memiliki fasilitas Suite Room.


Tak ada siapa pun di sekitarnya. Termasuk Erik. Begitu sunyi. Hal itu membuatnya bingung. Ia langsung mencari tasnya yang ternyata berada di meja nakas sebelah ranjang. Secepatnya mengambil ponsel dari dalam tas dan menghubungi Aydan.


"Sayang! Gimana di sana? Kamu ngapain aja?" cecar Aydan tak sabar begitu ada panggilan telepon masuk.


"Mas, tadi aku sepertinya dibius," ungkap Andra.


Hati Aydan langsung emosi. "Kurang ajar! Dia ngapain kamu, Yang?"


"A-aku gak tahu, Mas. Aku kan gak sadar."


"Dia gak nidurin kamu kan, Yang?" tanya Aydan sangat cemas. Pikirannya sudah jelek terhadap Erik.


Pertanyaan itu menyadarkan Andra untuk segera memeriksa tubuhnya. Ia menyibak selimut yang sejak tadi menutupi dan ternyata pakaiannya masih lengkap melekat di tubuhnya. Ia bernapas lega.


"Yang, kamu gak diapa-apain sama dia, kan?" tanya Aydan lagi.


"Pakaianku, sih, masih lengkap," terangnya.


"Bukan berarti kamu baik-baik aja. Coba periksa seluruh tubuhmu!" titah Aydan curiga.


"Iya."


Andra menuruti. Ia mulai memeriksa seluruh bagian tubuhnya, tapi belum selesai dilakukan terdengar pintu kamar hotel terbuka. Andra pura-pura tertidur lagi dan mematikan teleponnya. Aydan pun terkejut sambungan teleponnya mendadak mati. Ia makin panik.

__ADS_1


"Apa dia baik-baik aja?" Terdengar suara pria selain suara Erik, tapi tak terlihat jelas sosoknya karena membelakanginya. Diam-diam Andra mengintip dari balik selimut.


"Dia cuma tidur," jawab Erik.


"Baguslah. Kamu gak usil, kan tadi?"


"Emmm... dikit, sih," jawab Erik dengan senyum menyeringai nakal.


"Eh? Serius?" Pria satunya terdengar cemas.


"Gak kok, gue cuma bercanda," bantahnya.


"Ah, gue udah parno aja tadi. Gue tahu elo suka dia, tapi sabar dulu, Bro."


'Hah?! Mas Erik suka aku? Jadi beneran, nih?' batin Andra. Ia teringat kecurigaan Aydan yang merasa bahwa klien satu ini punya perhatian khusus padanya.


"Ayo!" seru pria satunya. Keduanya beranjak pergi. Sekilas Erik melirik ke arah Andra yang masih tampak terlelap.


Tak lama kemudian lampu kamar hotel tiba-tiba mati. Andra segera bangkit. Celingukan ke sana kemari ke sekitar ruangan yang kembali gelap dan sunyi. Bahkan cahaya luar dari jendela kamar pun tidak ada. Andra menduga bahwa hari sudah larut malam dan ia mulai merasa ada yang janggal.


"Mas Erik!" serunya merasa takut. Senter dari ponselnya dinyalakan untuk membantunya melihat keadaan kamar. Ia turun dari ranjang dan mencari saklar. Cahaya remang-remang dari ponsel memperlihatkan furnitur mewah di sana sini. Andra berjalan pelan-pelan agar tidak menyenggol benda-benda mahal di sana.


Gubrak!


Tiba-tiba terdengar benda jatuh dari belakangnya. Andra segera menyalakan lampu kamar yang ternyata hanya menyala satu bohlam saja. Ia berusaha menyalakan semuanya, tapi sisanya mati. Aneh. Padahal tadi saat Erik datang lampunya menyala. Ia menoleh ke dalam ruangan yang remang-remang itu. Tak ada apa pun yang jatuh atau siapa pun di sana. Hanya dia seorang.


"Apa-apaan sih ini? Katanya mau ngajak makan malah gak jelas begini jadinya!" gerutu Andra kesal. Ia hendak menelepon Erik, tapi sebuah kursi tiba-tiba bergeser sendiri di depannya. Tengkuknya langsung merinding ketakutan.


"A-apa kamar hotel ini berhantu?" gumamnya.


Belum sirna rasa takutnya, lampu kamar berkedip-kedip sendiri. Bahkan tak lama setelah itu pot bunga di atas meja meja televisi bergeser sendiri seperti kursi. Andra terperanjat melihatnya. Apalagi saat sebuah lukisan di dinding tiba-tiba jatuh. Ia makin terkejut dan jantungnya serasa ingin loncat.


"Woi, setan! Jangan ganggu gue! Gue anak sholeh. Anak baik-baik. Gue masih suka ngaji. Gue hapal ayat kursi, lho," ancam Andra ketakutan. Ia berusaha mengusir setan tak berwujud itu dengan ayat-ayat suci Al-Quran. Berharap tidak ada lagi penampakan yang membuatnya merinding disko.


Mulutnya terus berkomat-kamit, tapi aktivitas supranatural malah semakin gencar seperti televisi yang menyala sendiri lalu mati. Pot bunga yang tadi bergeser lalu jatuh sendiri. Pendingin ruangan tiba-tiba mati. Membuat suasana jadi terasa mencekam. Andra berjalan mundur menjauhi ruangan luas itu. Hingga terdengar cekikikan tawa kuntilanak. Andra terkesiap dan makin ketakutan sampai menahan napas. Derit langkah kaki terdengar. Ia berlari cepat ke arah pintu untuk membukanya sampai ponselnya jatuh. Ia ingin segera keluar. Anehnya, pintu itu malah tidak bisa dibuka dari dalam. Ia menggedor-gedor pintu sembari memanggil nama Aydan. Tak terpikirkan sama sekali untuk meneleponnya tadi. Ketakutannya sudah membuatnya tak terkontrol.

__ADS_1


"Mas Aydaaaann!!! Mas Aydaaann!!! Tolong, Maaas!!!" teriak Andra panik setengah mati. Ia merasa ada sesuatu yang sedang mendekatinya di belakang, tapi ia tak berani meliriknya.


Aydan yang masih setia di luar kamar mendengar gedoran di pintu berkali-kali. Ia langsung mendekati pintu.


"Andra! Ada apa?"


"Tolong bukakan pintu, Mas! Aku takut!" teriak Andra panik.


"Tapi aku gak punya kuncinya. Bagaimana caranya? Apa yang Erik lakukan padamu di sana?"


"Kumohon cepat bukakan pintu, Mas! Aku takut. Sumpah. Aku mau keluar," rengek Andra. Air matanya sudah berderai saking takutnya saat sesosok mahluk dengan gaun putih, rambut panjang menutupi wajahnya yang pucat sudah ada di belakangnya. Berjalan terseok-seok mendekatinya.


"Mas Aydaaann! Cepat buka pintuuuu!" Teriakan Andra makin kencang. Ia menangis ketakutan dan menyesal menolak diajak pergi oleh Aydan tadi.


Aydan sendiri berusaha mendobrak pintu hingga menimbulkan kegaduhan. Seorang bellboy yang sedang lewat menghampiri. Aydan bercerita dan meminta bellboy itu membantunya membuka pintu. Sang bellboy segera memanggil manajer hotel untuk meminta kunci darurat.


Sementara teriakan minta tolong Andra masih terus terdengar dari dalam. Andra sudah duduk lemas di lantai. Matanya terpejam tak berani melihat ke sekitarnya. Namun, sosok itu malah menyeret kakinya ke dalam ruangan. Andra berusaha bertahan dengan mencengkeram karpet, tapi sia-sia.


Manajer hotel dan bellboy tadi berlari cepat mendekati Aydan yang panik. Dengan sebuah kunci darurat akhirnya pintu kamar hotel terbuka. Aydan segera masuk diikuti kedua orang itu. Ia menyusuri Suite Room itu untuk mencari keberadaan Andra sambil berteriak memanggil namanya.


Sampai di ruangan yang lebih luas ada Andra yang sedang duduk lemas di lantai. Ia tengah menangis sesenggukan. Di sampingnya ada Erik yang sedang menyentuh bahu Andra. Bukan cuma Erik. Ada beberapa pria lain di sana yang sedang menertawakan Andra. Aydan yang semula sangat khawatir kini berubah emosi mengetahui kekasihnya sedang dilecehkan oleh beberapa orang pria dia kame hotel itu.


"Kalian brengsek!" hardik Aydan. Semuanya menoleh ke arah Aydan. Erik yang sedang jongkok tadi langsung berdiri.


"Lho ada Aydan juga. Mau bergabung?" ucapnya menawari dengan senyum ramah. Tawaran itu membuat darahnya mendidih. Tanpa pikir panjang lagi ia menghajar wajah pengusaha muda itu. Erik terhuyung. Andra yang baru sadar kalau seniornya sudah datang, kini terbelalak lagi.


"Mas! Apa yang kamu lakukan?" teriak Andra tak percaya sudah memukul kliennya sendiri.


"Lelaki kurang aja ini harus diberi pelajaran! Berani-beraninya dia melecehkanmu." Aydan kembali menghajar Erik. Erik pun berusaha menangkis kali ini. Aydan masih berusaha memukulnya lagi. Keduanya berkelahi, hingga dua orang pria mencoba melerai mereka. Erik sendiri sudah berdiri tegap dengan darah di sudut bibirnya.


"Siapa yang lelaki yang kamu maksud?" tanya Erik dengan wajah tak mengerti.


"Jangan pura-pura gak ngerti. Kamu mau meniduri Andra, kan?" hardik Aydan geram seraya berusaha menyerang Erik lagi. Sampai dua orang menahannya dan ia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman dua orang yang tak dikenalnya itu.


Akan tetapi, Erik dan dua temannya justru tertawa terbahak-bahak. Bahkan Andra pun sama. Bukan cuma mereka. Ada dua sahabat Andra yang entah sejak kapan hadir di ruangan itu. Aydan kebingungan. Ia berusaha mencerna ada apa sebenarnya. Hingga matanya melihat sebuah kue ulang tahun di meja makan serta makanan dan minuman lainnya. Sebuah tulisan 'Happy Birthday Diandra' pada dinding kamar hotel membuatnya terbelalak.

__ADS_1


      


                       ❁❁❁


__ADS_2