Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
5. Calon Pacar raya.


__ADS_3


...


"Mon Gue cuma punya niat yang baik sama loe."


"Gue suka sama loe!!! Gue cuma pengen Deket sama loe!!"


"Loe, sebaiknya pergi. Gue gak mau lihat loe."


"AWAS JATUH CINTA LOE."


Mondi menghentikan langkahnya, ia menjitak kepala raya. "GAK AKAN PERNAH."


•••


Mondi segera mengucek matanya, lenguhan kecil keluar dari bibir tipis miliknya ia melirik jam tangan yang Melingkar di tangannya.


Ia cukup terkejut mengetahui jika ia telah tertidur cukup lama hampir tiga puluh menit lamanya.


Dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata.....??


"Loe, udah sadar?" Tanya Mondi kaget.


"Udah, dari lima belas menit yang lalu,Kok?" Jawabnya sambil tersenyum manis.


"Raya gak bangunin Mondi, soalnya tidur nya keliatan nyenyak. Siapa tahu Mondi lagi mimpiin raya!!!"


Mondi menatap diam raya, ia bingung saat ini harus melakukan apa dan berkata apa ia hanya Menatap masker oksigen yang kini sudah terlepas.


"Loe, udah gak papa?" Mondi mencoba bersikap tenang.


"Gue udah gak papa kok, cuma tinggal pusingnya dikit aja. Mondi jagain raya dari tadi?" Jawab dan tanya raya.


Mondi melihat dua sudut bibir raya  terangkat, membentuk senyuman kecil .


Mondi terheran apakah benar jika raya sakit karena kini gadis tersebut terlihat baik-baik saja apalagi mendengar suaranya yang kini justru terdengar sangat semangat tetapi melihat wajah dan bibir nya yang pucat Mondi yakin jika ia sedang sakit.


"Mon, jawab dong!!"


"MONDI, jawab raya. Beneran Mondi yang tolongin raya." Tanya raya sekali lagi gemas dengan tingkah Mondi.


"Hm" dehem Mondi begitu singkat.


"Loe bopong gue dari lapangan sampai sini?"tanya nya gemas.


"Hm" Mondi menjawab dengan dehem an.


"Aaaa, baik bangetttttt si calon pacar nya raya!!"


"Makin suka deh!!"


"Loe, Beneran sakit??" Sinis Mondi


"Beneran kok, tapi karena ada calon pacar raya di sini jadi raya gak ngerasain sakit lagi. Makasih calon pacar!!" Ucap raya sambil berusaha terlihat baik-baik saja, meski bibir pucatnya masih terlihat.


"Mon, gue boleh minta tolong gak?"


Mondi menghela nafas berat. "Apa??"


"Haus, ambilin air dong. "


"Kenapa gak ngambil sendiri saja, masih punya dua kaki kan?" Sahut Mondi dingin. "masih bisa jalan kan?."


"Kalau raya bisa gak mungkin raya minta tolong calon pacar, badan raya masih lemes. Please!!" Raya menangkup kan ke-dua tangannya memohon.


"Nggak!!!"


"Mondi, Raya  ini masih sakit loh??"


"Katanya tadi loe, udah baik-baik aja?"


"Masa sih?? Kapan raya ngomong gitu?" Tanya raya lebih tepat seperti orang linglung.


"Loe, emang gadis aneh!!!" Sahut Mondi dingin, gadis macam apa sebenarnya raya ini.


"Please, Mon . Gue Bener-bener haus dan badan gue masih lemes."


Mondi segera membalikkan badannya tak ingin berlama-lama dengan raya, bisa-bisa ia juga ikut gila jika terus berdekatan dengan gadis tersebut.


Mondi melangkah keluar dari bilik raya.


"Mon, Loe mau kemana??"


"Mondi, jangan tinggalin gue."


"Mon???...


tak lama..


Srekkkk...


Tirai bilik raya kembali terbuka, senyum cerah nampak jelas sekali di wajah pucat raya. Meskipun tatapan yang di berikan Mondi begitu dingin dan menusuk namun raya mengabaikannya.


"Nih Minum" suruh mondi menyerahkan segelas air putih.


"Bantuin dong Mon, tubuh raya kan Masih___"


"Stop, loe bilang tubuh loe masih lemah, jangan ancem gue dengan kata-kata itu" ucap Mondi jengah.


"Ya, udah bantuin dong. Calon pacar raya kan baik hati tidak Sombong rajin menabung pula." Raya tersenyum, ia sudah cukup bahagia ternyata Mondi cukup peduli dan ada untuknya.


"Nyusahin banget sih" desis Mondi kesal.


"Tapi, Diam-diam pedulikan???"


"gue cuma kasian aja." jawab Mondi dingin.


raya Tersenyum, "gak papa kok, lama-lama juga nanti makin peduli. "


"jangan harap. "


Namun Mondi segera mendekat, membantu mengangkat tubuh raya agar bisa minum. Setelah selesai Mondi segera menyimpan gelas tersebut ke atas meja samping kasur.


"Tuh kan pasti peduli, buktinya masih mau bantuin raya."


"Bisa gak si loe gak usah nyusahin gue? Loe tuh beban banget!!!" Sahut Mondi dingin


"gak bisa. "


"loe bikin hidup gue menderita. tahu gak?."


"Kok calon pacar nya raya ngomong nya gitu, Jahat banget si!" ucap raya sedih.


"Bisa gak? Gak usah panggil gue dengan kata-kata calon pacar" pinta mondi kesal .


"Gak bisa!!" Tolak Raya.


"Gue gak suka."


"Tapi raya suka!!"


"Gue, enggak!!!! Ngerti!!"


Raya menggeleng, membuat Mondi mengerutkan Kedua alisnya.


"tapi raya yakin, suatu saat nanti Mondi pasti mau jadi pacar  beneran raya kok."


"Oke, loe mau tahu jawaban gue??"


Raya tersenyum cerah, ia mengangguk seperti anak kecil yang di belikan permen karet oleh ibunya.


"GUE, GAK AKAN PERNAH SUKA SAMA LOE, DAN GUE GAK AKAN PERNAH MAU JADI PACAR LOE. NGERTI!!!!!" tekan Mondi .


Raya merasakan hatinya patah setelah mendengar perkataan mondi, tapi ia mencoba untuk tak menunjukkan nya.


"Mondi, gue seneng akhirnya loe bisa ngomong sama gue lebih dari beberapa kata aja. meskipun perkataan mondi menyakiti hati raya tapi raya gak papa kok, Raya masih baik- baik aja dan gak akan pernah menyerah buat dapetin Mondi."


Mondi mengangga mendengar perkataan raya.


"JUSTRU RAYA MAKIN SUKA SAMA MONDI, MONDI PERHATIAN BANGET SAMA RAYA."


Mondi lagi-lagi di buat menggeleng oleh Tingkah Raya. "Astagfirullah, Nyebut gue."


"Udah, Ngomongnya???"


Raya mengganguk saja.


"Ya, udah Ayuk!!!"


"Kemana??"


"Anterin loe, pulang??" Jawab Mondi ketus.


Raya melongo, ia mengerjapkan ke-dua matanya berkali-kali. ia terharu!!!


Seorang Mondi Alvano mau mengantarkan nya pulang.


"Mondi, serius mau nganterin raya pulang?"


"Hm" Jawab Mondi singkat.


"Aaaaa, tunggu-tunggu apa raya bermimpi?? Cubit  raya dong??" Raya menyerahkan tangan kanannya ke arah mondi .


"Aduhhh,, kencang banget si Mon, sakit. "


"Loe, banyak drama banget si!!" Ucap Mondi jengah dan bertambah semakin kesal.


"Berarti raya gak mimpi, aaaa Mondi romantis banget si. "


"gue tinggal nih!!!"


"Eh, jangan . Tapi tas gue gimana??"


"Sekarang atau enggak sama sekali."


"IYA, iya calon pacar galak amat si. Ya bantuin dong."


"Nyusahin banget si!!"


•••


meskipun Mondi berhati dingin dan batu, tapi tetap ia selalu menempati janjinya terutama kepada seorang gadis, ia tak ingin di cap sebagai seorang pemain wanita.


Sepulang sekolah Mondi mengantarkan raya pulang, menggunakan mobil Rey, Untung lah sahabat nya itu mau meminjamkannya mobil.

__ADS_1


Lagi pula dirinya tak membawa kendaraan sama sekali.


"Mon, Gue boleh tanya nggak?"


"Nggak!!!"


"Galak Bener"


Raya cemberut, Mondi akhirnya bisa sedikit rileks tatkala tak ada lagi ocehan menyebalkan yang doli lontarkan gadis tersebut yang dapat mengganggu konsentrasi menyetirnya.


"Mondi, pernah ngnterin cewek pulang??"


"Pernah!!" Jawab Mondi jujur, ia tidak suka berbohong.


"Siapa?" Cicit raya pelan.


"Bukan urusan loe!" Jawab Mondi dingin.


"Apa Mondi selalu mempermainkan perasaan cewek lain? Kayak yang Mondi lakuin ke raya Sekarang?"


"NGGAK PERNAH"


"Apa Mondi playboy???"


"BUKAN"


"Apa Mondi udah punya pacar??"


Mondi menoleh, mendadak ia gugup.


"Udah tanya-tanya nya?"


"Belum, Mondi Belum jawab pertanyaan raya yang terakhir?"


"Gak penting!!!"


Raya gemas."penting dong, apa Mondi udah punya pacar? Aaaaa, Raya tebak pasti belum punya kan? Iya kan?" Raya heboh sendiri. Membuat Mondi pustaka Ng kepala.


"Kata Reva Mondi jomblo dak gak mungkin punya pacar!!! Jadi kita samaan gue juga jomblo dan gak berniat cara pacar lain, Raya maunya Mondi soalnya." Raya tersenyum sumringah.


"Tapi!!! Mondi Beneran gak punya pacar kan?" Raya mendekatkan wajahnya ke arah mondi


Namun tidak ada jawaban.


"MONDI, jawab?"


Mondi sedikit risih dengan wajah raya yang begitu dekat dengannya. "NGGAK" .


RAYA Tersenyum begitu ceria, kemudian menjauhkan wajahnya dari mondi.


"Alhamdulillah, raya kawal sampai halal. Mondi mau ya?"


"Dih!! OGAH, mending gue jomblo seumur hidup."


Raya cemberut.


"Mondi gak boleh gitu, tar doanya di kabulin sama Allah . Mau???" Nasehat raya.


"Tapi doa nya raya, Semoga raya dan Mondi berjodoh. Amiin."


Mondi tak menjawab perkataan Raya, ia merasa terganggu dengan kehadiran gadis itu di sampingnya. Gadis di sebelahnya sangat berisik.


"MON, gue mau nanya lagi boleh??"


Mondi menolehkan kepalanya ke arah raya, menatap kesal ke arah gadis tersebut.


"Nggak Ray."


"Nanya doang Mon, simpel kok?" Raya menatap Mondi. "loe tinggal jawab aja pertanyaan gue"


"Loe bisa diem gak Sih?"


"Nggak bisa Mondi, maaf!!" Raya merasa bersalah dan sedikit takut.


"Gue pusing tahu gak, denger ocehan loe yang gak penting itu?"


RAYA menatap MONDI bersalah.


"Mondi marah, maafin raya!!"


"Mondi jangan marah, Maafin raya. Abis raya seneng bangetttt bisa Deket sama Mondi kayak gini."


Mondi memilih diam, tak ingin mengeluarkan lagi suaranya. Ia hanya ingin fokus menyetir saja.


Setelah hampir setengah jam lamanya mereka sampai di rumah raya.


"Loe gak mau turun?" Heran Mondi.


"Gue mau turun kalau Mondi gak bukain pintu nya buat raya!!"


"Gue bukan supir loe!"


"Raya gak nganggap Mondi supir kok, Tapi Mondi itu calon pacar nya raya!!"


"Gue bukan pacar Lo, berhenti ngomong gitu!"


"Raya pastikan Mondi pasti bakal jadi pacar raya, Pasti itu!!" Ucap raya percaya diri.


Mondi menghela nafas nya berat, sungguh cobaan ini begitu berat untuk Mondi.


"Nggak!!!" Tolak Mondi.


"Bukain Mon, tangan gue masih lemes kan baru aja pingsan."


"Nyusahin banget si loe!! Cepet turun."


"Gak mau" Raya memanyunkan bibirnya.


Mondi menghela nafas berat, ia pun segera turun dari dalam mobil . Ia tidak ingin terus berlama-lama dengan raya .


"Cepetan turun". Teriak Mondi tak sabaran.


Raya terkejut, ia pun Mematung mendengar teriakkan Mondi.


"Mondi, Raya terharu."


"Mondi marah yah?" Raya menatap raut wajah tak suka Mondi.


"Jangan Marah dong, Maafin Raya."


Mondi tak ingin mempedulikan raya, ia segera berjalan meninggalkan raya untuk segera masuk ke dalam mobilnya.


"Besok jemput raya ya!!! Mondi kan sudah hapal rumah raya." Pinta raya .


"Nggak!!!!"


Mondi segera menyentak tangan raya.


"Pokonya jemput, jemput ya. Ya,ya." Pinta raya memelas.


"Ogah!!!"


Raya kembali menarik lengan Mondi.


"Jemput please."


"Nggak Ray." Tolak Mondi tajam. Ia sudah berada di titik hilang kesabaran..


"kalau gitu raya nekat nih?" Ancam raya.


"Beneran ini!!" Ancam raya sekali lagi, mulai berjalan ke tengah jalan .


"Ray, Gak lucu. " seru mondi mulai panik melihat tingkah laku raya.


"Raya gak bakal mau ke situ sebelum  Mondi mau jemput raya besok."


"Ray, Nanti loe ketabrak. Jangan nekat." Mondi mulai kelabakan. Apalagi kini sebuah mobil mulai mendekat.


"Oke, oke gue mau!!"


Raya tersenyum senang, kemudian ia berlari mendekat ke arah mondi.


"Maksa banget si Ray!"


"Biarin kan raya suka sama Mondi, dan ini salah satu cara raya buat bikin Mondi juga suka sama raya."


"Gue gak suka sama loe."


"Tapi raya pastiin nanti Mondi bakalan suka sama gue."


Mondi menggeleng keras, mencoba menarik kembali kewarasan nya. Ia pikir ia juga akan ikut gila karena terlalu lama bersama dengan raya


"Janji ya besok bakalan jemput raya??"


"Hm" jawab Mondi singkat.


"Nggak terpaksa kan?"


"Terpaksalah."


"Ya udah nggak papa deh, yang penting Mondi udah janji." Seru raya senang.


"Jadi tambah suka deh sama Mondi."


"Nyebut Ray."


"Hehe gue baik-baik aja kok, Ya udah Mondi pulang sana. Hati-hati di jalan!!"


"Serius ni?"


Raya mengangguk, " Atau mau mampir dulu." Tawar raya.


Mondi dengan cepat menggeleng, ia menatap horor ke rumah raya.


"Gak usah makasih."


Dengan cepat Mondi segera melajukan mobilnya meninggalkan raya yang masih tersenyum, ia melambaikan tangannya ke arah mobil Mondi


•••


Raya memasuki rumahnya sambil tersenyum-senyum sendiri, ia tidak sabar untuk segera  bertemu Mondi esok hari. Entah lah dirinya seperti kecanduan oleh sosok Mondi.


"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri gitu?"


Langkah raya terhenti, ia menoleh ke arah ruang tamu raya Mematung. Melihat kedua orangtuanya kini sudah rapi dengan dua koper di hadapan mereka.

__ADS_1


"Sejak kapan mama peduli sama raya??"


"Kalau pulang tuh ucapin salam dulu dong?" Nasehat papa Raya tak mengindahkan jawaban menohok putri satu-satunya.


"Papa sama Mama mau kemana lagi? Kalian kan baru pulang?" Raya malah balik bertanya, Meski sebenarnya dia tahu jawabannya.


Kedua orang tua raya saling pandang, ekspresi mereka menunjukkan wajah yang tak enak.


"Maafin kita, Papa sama mama__"


"Mau pergi lagi? Keluar kota lagi? Apa keluar negeri lagi??" Raya terlihat kecewa.


"Ray, kami tidak bisa menolak. Ini pekerjaan penting papa dan mama tidak bisa menolak."


Raya tersenyum miris, diam-diam ia menyembunyikan air mata nya yang hendak menyeruak keluar melalui dua bola matanya yang bening.


Raya mendecih." Kenapa papa sama Mama gak bisa menolak pekerjaan sedangkan aku berkali-kali kalian tolak kehadirannya." Kali ini dia kecewa lagi.


"Raya, kita gak pernah menolak kehadiran kamu, kamu harta paling berharga untuk kami, justru papa sama Mama mau yang terbaik untuk mu?" Jawab papa Rafi.


"berharga?? Bagi kalian uang lah yang paling berharga."


"Rayaa__"bentak mamanya marah.


"Asal mama sama papa tahu yang terbaik menurut kalian, belum tentu terbaik untuk aku. Apa selama ini kalian tahu apa keinginan raya! Apa selama ini kalian mendengarkan kan apa yang raya mau? Enggak kan?" Bentak raya histeris.


"Stop__jangan mendekat." Mama Melani menghentikan langkahnya saat hendak mendekati putrinya yang terlihat histeris.


"BI sum__" panggil Melani.


"Iya buk!!" Seorang wanita paruh baya datang menghampiri dengan sedikit tergopoh-gopoh.


"Saya titip raya lagi, kami harus berangkat sekarang."


"Iya buk, Hati-hati di jalan . SEMOGA semua urusannya cepet selesai biar cepet pulang." Nasehat bi Sumi.


"Saya gak lama kok cuma satu Minggu."


Raya yang mendengar jika kedua orangtuanya akan berada di luar kota selama satu Minggu membuatnya semakin muak, Raya tertawa dalam hati menurut mereka satu Minggu itu sangat cepat tapi tidak bagi raya .


Tanpa ingin berpamitan atau sekedar melepas kepergian mereka raya segera meninggalkan ruang tamu dengan perasaan kecewa .


Lagi-lagi dirinya di kecewakan oleh keluarga nya sendiri yaitu mama dan papanya sendiri.


•••


Keesokan paginya seluruh sekolah di hebohkan dengan kedatangan Mondi dan raya, untuk pertama kalinya satu sekolah baru tahu jika seorang Mondi mau menjemput dan pergi bersama dengan seorang gadis .


Rumor tentang Mondi dan raya berpacaran pun semakin kuat apalagi di tambah dengan gosip jika Mondi sudah membuat raya hamil di luar pernikahan.


Banyak adik kelas dan kakak kelas yang mengidolakan mondi Merasa patah hati dan tak banyak yang kini justru diam-diam membicarakan raya dengan gosip yang tidak benar.


"Ciee__berangkat bareng pacar??" Goda Rey.


Mondi mengabaikan perkataan Rey, mood nya sedang tidak baik, Paginya berantakan. Hanya dengan berada dekat dengan raya sudah membuat Mondi stres.


Ia segera duduk di bangkunya membanting tasnya begitu keras.


"Santai, Dong bro!!! Masa berangkat sama pacar marah-marah .Lagi berantem ya???" Ares yang baru saja datang pun ikut menggoda Mondi .


"Eehhh, Mon. Gue boleh nanya gak?" Tanya seorang gadis dan dua temannya di belakang menghampiri Mondi.


"Apa?"


"Tapi loe jangan marah??" Timpal teman sekelas Mondi yang satunya lagi .


"Mondi gak bakalan marah mira, asal loe teraktir kita di kantin." Seru Rey.


"Paan si loe, gue tanya Mondi bukan loe. "


"Ah, Ela loe pelit banget si Mira"


"Udah ah, Mon emang bener ya gosip tentang loe hamilin Raya itu bener?"


"Busetttt__ deh itu fitnah dari mana???" Tanya Ares kaget .


"Dari adik-adik kelas, katanya mereka denger pas kalian ngobrol di ruang uks. Si Rey ngomong kalau si raya hamil???" Jelas Mira.


"Itu gak bener, kemarin si raya pingsan gara-gara magh nya kambuh terus dia punya penyakit anemia kronis" jelas Mondi santai.


"JAdi itu gak bener???"


"Ya enggklah. loe si kalau punya mulut makannya di jaga."


Tiba-Tiba omongan mereka terhenti saat Aria masuk ke dalam kelas dengan membawa tumpukan kertas setebal 8 cm.


"Apaan tuh?" tanya Ares


"Hasil ulangan kemarin, sama materi buat ulangan Bu Susan gak masuk soalnya hari ini." Jawab Aria


"Seriusan loe, Jadi kelas kita free dong" seru Rey antusias


Aria berjalan ke arah meja Ikbal, dia menyerahkan lembaran kertas dengan senyum yang begitu puas.


"Seperti biasa, Nilai sempurna 💯 untuk Mas mondi. MOST populer SMA Dwi bangsa." Aria berkata dengan nada iri.


"Wah, Wah loe emang cowok anti gagal Mon." Rey geleng-geleng kepala.


Mondi hanya melirik sekilas kotak nilai di pojok kanan atas, Mondi tersenyum penuh bangga. Sudut bibirnya terangkat, menampilkan senyum tipis.


"Loe, Makan apa sih bisa pinter kayak gitu?" Decak Rey kesal membuang asal hasil ulangan nya sendiri yang begitu mengecewakan. "Apa rahasianya?"


"Serius Lo mau tahu rahasianya apa?"


"Kasih tau dong Mon, biar gue juga bisa pinter kayak loe?"


"Loe ambil buku, terus loe belender kasih gula terus Lo tambahan sedikit air. Loe minum tiap pagi!!"


"Hah? Gak pake susu??"


"Boleh"


"Nanti deh gue cobain."


Mondi terperangah, Apakah Rey Percaya dengan yang dikatakan dirinya.


"Loe Beneran percaya Rey?" Tanya Mondi.


"Bener lah?"


"Benar-benar percaya?" Mondi memastikan lagi.


"Loe bego Banget si, Rey..Rey!!!" Timpal Ares.


"Paan si loe Res!! Loe seriusan kan Mon??"


Mondi tersenyum tipis. "Ya Enggaklah, Gue cuma bercanda."


"Kalau mau pintar nih buka bukunya, di baca, di pelajari bukannya di bawa doang." Mondi mengeluarkan buku dari dalam tasnya.


"Ah !!! Ogah. Gue bukan kutu buku kayak loe!!"


•••


Bak lebah bertemu dengan bunga yang sedang mekar dengan senyum yang terpampang jelas raya segera berjalan ke arah seorang pria yang tengah sibuk membaca sebuah buku dengan begitu serius.


"MONDI????" Panggilnya.


Tanpa mempedulikan panggilan tersebut Mondi terus berjalan, kalau bisa rasanya dirinya ingin menghilang begitu saja dari muka bumi ini.


"MON, TUNGGU__"


Mondi menghentikan langkahnya saat kini Raya telah berdiri di depannya, Namun selang beberapa detik tak ada pergerakan apapun dari mondi.


"Mon, Jawab gue Napa?" Raya menurunkan buku yang setia menutupi wajah tampan Mondi.


"MON, Tatap gue." Raya mulai gemas sendiri.


Tanpa menjawab perkataan raya, Mondi segera berjalan ke sisi lainnya kemudian mulai berjalan lagi tanpa mempedulikan raya.


"Mon Gue cuma punya niat yang baik sama loe." Coba ungkapkan raya yang masih setia mengekor Mondi kemana pun.


"Gue suka sama loe!!! Gue cuma pengen Deket sama loe!!"


"Loe, sebaiknya pergi. Gue gak mau lihat loe."


"AWAS JATUH CINTA LOE."


Mondi menghentikan langkahnya, ia menjitak kepala raya. "GAK AKAN PERNAH."


"Isshhh" gemas raya, Raya terus mengikuti Mondi kemana pun.


"RITSLETING LOE KE BUKA."


Raya dengan malu-malu menutupi mukanya, Mendengar suara itu Mondi segera menghela nafasnya kasar, ia segera menarik ritsleting nya ke atas.


Kemudian berbalik dengan tatapan kesal  ke arah raya, yang baru saja berteriak seakan memberitahu semua orang.


"Kenapa loe selalu ada di dekat gue?"


"Gue, kan suka sama loe. Berapa kali lagi si gue harus bilang . Gemes banget deh!!! Pengen nyium!!!"


"Samoe harus masuk toilet cowok gitu??"


"Hah Masa sih?? Toilet cowok!!!" Raya tak percaya.


Raya baru menyadari saat ia mendengar suara tawa-tawa di sekitarnya berupa suara laki-laki, ia terbelalak saat kini dirinya satu-satunya gadis di dalam toilet tersebut.


"loe mau terus di sini??"


Raya menggeleng." Mampus malu gue."


Raya segera berlari keluar toilet tanpa mempedulikan tatapan semua cowok di dalam sana yang masih menertawakannya. Tentu sjaa dirinya merasa sangat malu karena menjadi pusat perhatian dan bahan ejekan nantinya.


"Pesona Loe, emang Bener-bener ya Mon. Sampe tu cewek berani ngikutin loe sampe ke toilet cowok." Agra berkata sambil masih tertawa.


MONDI Menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan sikap raya, tapi diam-diam dirinya juga ikut tersenyum tipis..


Tbc...


**happy reading...


Mohon maaf apabila ada kesamaan nama, tokoh,alur cerita dan lain sebagainya. karena unsur ketidaksengajaan..


jangan luppa tinggalin jejak**...

__ADS_1


__ADS_2