
Nada PING! baru saja terdengar di ponsel BB Diandra yang sedang duduk di dalam metromini. Seketika bibirnya cemberut begitu mengetahui siapa yang menghubunginya. Ia hanya membacanya saat Cheeky meminta maaf karena tak bisa datang lagi.
"Ah, capek deh," gumamnya sebal.
Ia enggan membalas semua pesan BBM Cheeky. Sampai di kosan pun ia masih saja kesal. Membaca novel yang baru dibeli tadi menjadi hiburan terakhir di akhir pekan itu. Setelah dua orang pria berhasil membuat perasaannya buruk.
***
"Good morning epribadih," sapa Yuda pagi itu. Ia terlihat ceria dan bersemangat.
Andra yang sudah datang beberapa menit lebih awal merasa ada yang tak biasa dengan rekan kerjanya itu.
"Cieee yang habis ngedate sama Widia," goda Andra.
"Sssttt .... Jangan berisik! Gue malu nanti," ujarnya.
"Gak usah malu kali. Gue malah ikut senang. Jangan mainin hati teman gue, ya!"
"Tenang saja. Gue mah gentleman," aku Yuda sambil membusungkan dada.
Tak berapa lama karyawan kantor lainnya mulai berdatangan. Yang Sabtu kemarin ikut nobar, langsung berkumpul di meja Andra dan membahas acara itu. Mereka saling bercerita dan tertawa terbahak-bahak saat Anton bercerita juga bahwa Aisya, adik bosnya, sempat mencengkeram tangannya hingga lecet saking kagetnya pas adegan jumpscare muncul.
Ia berusaha menahan perih demi tetap terlihat keren di mata gadis itu. Untunglah gara-gara itu jadi punya kesempatan untuk mengenal lebih dekat dengannya. Meski harus mengorbankan kulitnya hingga berdarah.
Tak lama, Aydan pun tiba. Ia menyapa mereka, tapi Andra malah membubarkan gerombolan itu dari mejanya.
"Pergi! Pergi! Waktunya kerja! Jangan ngegosip di meja gue!" perintahnya sambil tangan mengusir mereka.
Aydan yang baru ingin bergabung jadi bingung saat mereka pergi satu persatu. Andra pun segera memulai pekerjaannya. Mengabaikan Aydan yang masih berdiri di depan mejanya. Akhirnya senior arsitek itu masuk ke ruangannya sendiri dengan kikuk.
"Waktunya meeting Senin pagi, guys!" teriak Dika sambil beranjak dari kursinya tepat pukul 09.00 WIB. Ia mengajak rekan-rekannya segera berkumpul di ruang rapat lantai dua. Satu persatu seluruh karyawan konsultan itu mengikutinya. Termasuk Andra juga. Ia berjalan beriringan bersama Yuda sambil bersenda gurau membahas Widia. Sementara Aydan mengekor di belakangnya, menahan rasa tidak suka di hati menyaksikan keakraban itu sembari menguping.
"Assalamualaikum. Selamat pagi semuanya!" sapa Imam di depan meja oval besar. Ia baru saja masuk ke ruang rapat.
"Waalaikumsalam. Pagi juga, Boss," jawab semuanya kompak yang telah duduk rapi di kursinya masing-masing.
"Hari ini selain membahas dan mendiskusikan proyek-proyek yang sedang kita kerjakan seperti biasanya, FYI, kemarin Minggu, aku kedatangan tamu di rumah, kebetulan kenalan orang tua, sih, yang memintaku untuk mendesain sebuah Villa mereka di Bali. Jadi, aku mau satu atau dua diantara kalian untuk ikut survey ke sana Minggu depan bersama klien baru kita ini. Tenang saja. Akomodasi dan hotel ditanggung mereka," ungkap Imam.
Suara riuh langsung menyambutnya. Wajah-wajah senang bermunculan. Mereka sudah membayangkan akan survey urusan pekerjaan sekaligus liburan ke Bali secara gratis.
"Oke. Oke. Harap tenang. Aku tahu kalian semua pasti antusias ingin terpilih, kan? Biar bisa liburan gratis."
"Pastinya dong," jawab Anton semangat.
"Aku belum pernah ke Bali, Mas," jawab Dika juga.
"Apalagi aku. Utek-utek di depan komputer terus," balas Anton sedih.
Imam terkekeh mendengar curhatan karyawannya yang sudah seperti teman itu.
"Iya. Iya. Nanti kita bikin acara liburan sendiri untuk karyawan. Terserah mau ke mana. Asal masuk bujet kantor, ya. Untuk saat ini aku akan memilih yang sedang tidak terlalu banyak pekerjaannya. Dalam arti lain tidak sedang dikejar deadline kerjaan," papar Imam lagi sambil memperhatikan satu persatu karyawannya yang mulai terlihat kecewa.
"Dan, kamu lagi gak terlalu crowded kan kerjaannya?" tanyanya pada Aydan yang melamun.
"Kebetulan lagi banyak kerjaan, sih," balas Aydan datar.
__ADS_1
"Kalau kamu, Ndra?" tanyanya pada Diandra.
"Aku masih revisi punya Bu Yunita, Mas. Banyak banget lagi."
"Ah, itu masih bisa diulur atau kalau bisa kamu percepat revisinya sampai akhir Minggu ini. Kalau gitu kamu ikut aku ke Bali, ya. Satu orang lagi, nih." Mata Imam kembali memperhatikan setiap orang yang ada di sana.
"Yuda!" serunya kencang. Membuat semua orang menoleh ke arah lelaki jangkung itu yang sedang bermain ponsel di bawah meja. Ia terperanjat.
"Ma-maaf, Mas," ujarnya sambil memasukkan ponsel BB-nya ke saku celana diam-diam. Ia sedang sibuk membaca pesan dari Widia.
"Kamu juga ikut aku ke Bali," ucapnya.
Yuda tercengang dan matanya langsung berbinar-binar. Namun, tidak untuk beberapa karyawan lain yang sudah berharap terpilih.
"Kerjaan rendermu masih bisa dikerjakan di sana, kan? Nanti bawa laptop, ya."
"Ma-masih bisa, Mas, tapi ...." Wajah Yuda berubah sedih. Ia sudah membayangkan bisa bersenang-senang sebentar dari penatnya pekerjaan, eh, Imam masih membebaninya dengan pekerjaan utamanya.
Menyadari reaksi tidak suka itu, lantas Imam tertawa. "Aku cuma bercanda, Yud. Laptop emang harus dibawa, tapi tenang saja gak akan aku suruh kamu ngelanjutin kerjaan kantor di hotel. Masa aku setega itu. Kecuali emang ada urusan dadakan," ungkapnya. Yuda bernapas lega akhirnya. Ia kembali tersenyum lebar dan menampilkan giginya.
Andra melirik pada Yuda. Keduanya saling senyum dan menatap. Yuda mengangkat jempolnya. Begitu juga Andra. Aydan menyaksikannya itu. Pikirannya jadi tanda tanya.
***
Selama beberapa hari itu, Andra terpaksa kerja lebih cepat sampai lembur segala. Demi bisa menyelesaikan pekerjaannya agar bisa liburan gratis ke Bali tanpa harus memikirkan sisa pekerjaan itu.
Sementara itu, pesan BBM dari Cheeky terus masuk untuk meminta maaf. Andra masih malas meladeninya ditambah banyaknya pekerjaan yang harus segera diselesaikan sebelum pergi ke Bali.
Hari Jumat tiba. Kantor terasa sepi karena ada beberapa karyawan yang sedang berkunjung ke rumah klien. Hanya ada beberapa orang saja di kantor. Bahkan Aydan pun tidak masuk kerja.
"Dikit lagi beres, Mas."
"Nanti kalau udah selesai, kamu tunjukkin dulu sama Aydan ya sebelum ditunjukkan sama Bu Yunita. Untuk mengurangi kesalahan kita."
"Tapi dia gak masuk kerja hari ini."
"Memang. Dia sedang cuti, tapi kamu bisa kan nunjukin revisi desainnya ke tempat dia?"
"Ke tempat Mas Aydan?!" Andra tak percaya jika dia harus menemuinya di luar kantor.
"Iya. Soalnya besok Bu Yunita mau ke kantor buat lihat perubahannya. Jadi hari ini harus sudah fix. Nanti siang kamu ke tempatnya, ya!" titah Imam sambil menulis sesuatu di memo. Lalu diserahkan pada gadis itu. Sebuah alamat tempat tinggal Aydan tertulis di sana.
"Siang ini, Mas?" tanyanya tak yakin. Berharap ia salah dengar. Padahal Andra sedang kesal dengan pria itu.
"Yup," jawabnya sambil melenggang.
Bingung jadinya. Andra benar-benar malas bertemu Aydan. Apalagi harus ke tempatnya siang bolong ini. Panas dan macet tentu saja.
Namun, atas nama profesionalitas kerja, ia harus mengesampingkan urusan pribadi. Maka siang itu setelah makan siang sebentar, Andra sudah dalam perjalanan menuju alamat yang dituju. Yang ternyata sebuah apartemen di daerah Kelapa Gading. Ia tak menyangka jika seniornya yang kalem dan ramah itu ternyata tinggal di apartemen bergengsi.
"Pasti fasilitas kantor," pikir Andra.
Sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam lobi apartemen, ia menarik napas perlahan sejenak. Menenangkan dadanya yang berdebar-debar sejak tadi.
Di depan sebuah pintu apartemen bernomor 5031, Andra malah berdiri mematung. Jantungnya kembali berdetak cepat. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di dalam bila keduanya berduaan di sana. Kembali menarik napas sesaat sebelum mengetuk pintu itu.
__ADS_1
Tok. Tok. Tok.
Cukup lama ia menunggu hingga bertanya-tanya kenapa Aydan cuti? Sedang apa di dalam sana? Apakah sedang tidur atau sakit?
Sampai terdengar langkah kaki seseorang mendekat. Gagang pintu bergerak dari dalam, daun pintu terbuka perlahan, sementara irama jantungnya makin cepat. Lalu muncullah seorang perempuan cantik berambut sebahu. Tinggi, modis, dan cantik. Sangat cantik malah dengan hidung mancungnya dan bulu matanya yang lentik dan tebal. Andra terpana melihatnya.
"Kok perempuan yang buka pintu? Apa aku salah apartemen?" batinnya.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanyanya dengan suara lembut.
Sebelum ia bertanya untuk memastikan, matanya melirik ke catatan Imam yang masih dipegangnya. Nomor apartemennya sama dengan di catatan itu.
"Gue gak salah nomor, tapi kok ada cewek di dalamnya? Apa saudaranya?" batinnya lagi kebingungan.
"Mba! Ada yang bisa aku bantu?" tanya gadis cantik itu lagi.
"Eh. Iya, Mba. Apa benar ini apartemennya Mas Aydan?" balas Andra canggung.
"Betul. Kamu siapa, ya?" Mata cantik gadis itu memperhatikan Andra dari kepala hingga ujung kaki. Penampilan Andra jauh berbeda dengan gayanya yang feminim dan modis.
"Aku dari kantor. Mau nunjukin kerjaan, Mba."
"Ooh dari kantor. Aydan lagi keluar. Mau nungguin dulu di dalam? Mungkin sebentar lagi sudah pulang."
"Aku nunggu di lobi aja, deh. Tolong sampaikan ke dia ya!" pinta Andra enggan masuk.
"Jangan, Mba. Masuk aja gak apa-apa, kok. Aku gak gigit."
Belum apa-apa gadis itu sudah menarik paksa tangan Andra ke dalam apartemen. Ia dipersilakan duduk di sofa berwarna cokelat. Di depannya ada sebuah televisi. Apartemen itu tidak terlalu besar. Namun, bersih dan rapih, tapi sejauh mata memandang hanya ada satu kamar tidur di ruangan itu.
Pikiran Andra jadi makin bertanya-tanya, apakah perempuan itu tidur di apartemen Aydan, atau hanya datang berkunjung saja. Sejauh yang ia ingat, Aydan tidak memiliki adik perempuan. Dia hanya dua bersaudara.
"Mau minum apa, Mba?" tanyanya.
"Gak usah repot-repot."
"Apanya yang repot. Cuma air doang, Mba." Ia terkekeh sambil membuka kulkas. Sebuah minuman bersoda sudah ditangannya lalu diletakkan di meja. Gadis itu sendiri bolak balik di depannya tampak resah.
"Aydan kok lama banget, ya? Padahal udah pergi dari tadi." Ia mengambil ponselnya untuk menelepon pria itu.
Andra hanya tersenyum canggung. Ia juga merasa gelisah. Diam-diam ia mengamati lekuk tubuh gadis itu yang tampak begitu sempurna, tapi bagian perutnya terlihat sedikit buncit. Tangannya beberapa kali mengusap perutnya dengan lembut.
"Kayaknya dia susah cari makanan yang aku mau, deh. Aku lagi pengen rujak buah. Maklum lagi ngidam. Nyari di Jakarta susah apa, ya? Kalau di tempatku gampang, lho. Di depan rumah ada pohon mangga, jambu air, buah durian, jambu kristal, macam-macam, deh. Jadi tinggal metik aja," ungkapnya begitu ramah. N
"Ngidam?" tanya Andra takut salah dengar.
"Iya. Ngidam. Aku lagi ngisi, Mba. Jangan bilang-bilang ya! Sebentar lagi aku dan Aydan akan menikah. Sayangnya, udah DP duluan. Hihihi ...," ungkapnya tanpa rasa malu mengumbar aibnya.
Seketika Andra shock mendengar pengakuannya. Jika bukan di dalam tubuh, mungkin jantungnya sudah lepas sendiri dari tempatnya. Sungguh ia tak menyangka Aydan sudah tinggal seatap dengan perempuan lain tanpa pernikahan hingga hamil duluan. Hati Andra serasa pecah berkeping-keping.
"Kalina! Aku cuma bisa nemu rujak buah seperti ini aja. Buahnya dikit. Enggak apa-apa, kan?" Tiba-tiba terdengar suara seorang pria.
Seseorang baru saja masuk sambil menunjukkan kresek hitam dan dia terperanjat melihat ada tamu di apartemennya. Andra dan Aydan saling beradu mata dan sama-sama terkejut di tempat keduanya berada.
***
__ADS_1