Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Mengakulah


__ADS_3

"Mas, jangan bercanda, deh. Itu topinya orang lain!" hardik Andra tak percaya.


"Orang lain siapa? Cheeky teman chatting-mu itu?" balas Aydan.


"Iya."


"Tapi topi ini punyaku. Memangnya cuma dia doang yang punya topi warna merah."


Andra jadi kebingungan. Di kepalanya banyak pertanyaan. Semula ia menduga jika Cheeky adalah Aydan, tapi kenapa sikap Aydan seolah sebaliknya. Dan, ia berharap Cheeky dan Aydan memang bukanlah orang yang sama. Apa jadinya jika ternyata orang yang sama. Betapa malunya ia sering membahas tentangnya.


Buru-buru ia mengirim pesan lagi pada Cheeky. Berharap teman misteriusnya segera merespon dan benar-benar datang ke kamarnya untuk membuktikan bahwa Aydan memang bukanlah Cheeky. Namun, tak ada respon apapun. Dibaca pun tidak. Andra semakin bingung. Sementara Aydan malah terdiam mengamati gerak geriknya.


Lalu ia mengirimkan pesan BBM lagi pada Aydan. Seniornya itu merogoh saku dan mengeluarkan ponsel BB.


"Kamu ngapain kirim BBM padaku? Aku kan di depanmu," ujar Aydan heran.


"Mas, tolong jujur padaku! Kamu ini siapa?" desak Andra.


"Siapa? Aku ya aku. Mantan senior angkatanmu. Atasanmu di kantor juga dan juga mantan calon pacarmu waktu dulu. Kalau kamu gak kabur," jawab Aydan sambil terkekeh.


"Jangan bercanda! Aku serius banget ini. Kamu Cheeky, kan? Si penjaga warnet dengan nama akun mIRC cheeky_taro?" papar Andra.


Aydan malah tergelak tawa.


"Kenapa kamu begitu penasaran padanya, sih? Kamu suka sama teman chatting-mu itu?"


"Kalau iya kenapa? Aku lebih suka dia. Dia lebih terbuka dan menyenangkan."


"Terbuka apanya? Kamu aja masih belum tau identitasnya. Bagaimana mungkin kamu lebih suka dia daripada aku yang sudah jelas ini?" sindir Aydan.


Pria itu melangkah maju mendekati Andra. Kedua tangannya dimasukkan dalam saku celana. Dia terkesan maskulin dan menawan saat ini. Andra berdecak kagum dan jadi salah tingkah. Apalagi saat Aydan menatapnya dalam-dalam. Jantungnya berdegup. Namun, ia berusaha tetap tenang.


"Memangnya kalau suka seseorang harus jelas dulu. Lagipula aku suka dia sebagai teman, kok. Daripada suka sama seseorang yang sudah jelas identitasnya, tapi malah berkhianat dan nyakitin," sindir Andra kesal.


Satu alis Aydan terangkat satu. Wajahnya berubah masam. Ia merasa tersinggung.


"Oke. Terserah," ucapnya kecewa sambil balik badan dan mengangkat kedua tangan.


Andra terdiam dan tak tahu harus bagaimana ketika Aydan keluar dari kamar hotel begitu saja. Sama seperti saat masuk. Ada perasaan sedih di hati. Ia merasa ada yang salah.


Akhirnya sebuah pesan dikirimkan lagi pada Cheeky cepat-cepat.


Andra : Kalau elo gak mau nunjukin diri di depan gue. Fix elo pengecut. Gue gak mau berteman lagi sama elo dengan alasan apapun. Semua lelaki sama aja. 😡


Pesan itu langsung dibaca dengan adanya tanda 'R'.


Andra menjatuhkan tubuhnya ke kasur dengan perasaan jengkel. Ia menangis saking kecewanya. Cheeky satu-satunya harapan dia untuk bisa menyembuhkan luka hatinya lagi. Kini pria itu pun tak bisa diharapkan dan ia tak mau bergantung lagi pada orang lain.


Air matanya berderai. Tiba-tiba ia rindu ibu dan kakaknya, dua sahabatnya, teman-teman kosannya, teman kerjanya, kecuali Aydan. Ia benci seniornya itu yang sudah membuat hatinya sakit hati. Entah mengapa di kamar hotel itu jadi merasa kesepian dan tak berarti. Ia ingin ikut pulang saja bersama Imam dan Yuda. Sisa harinya jadi tak menyenangkan lagi.


Beberapa menit kemudian, pintu kamar diketuk lagi. Sebenarnya ia malas membuka pintu karena ingin menyendiri, tapi ketukan itu terdengar terus dan mengganggu.


Dengan malas, ia terpaksa beranjak dari ranjang. Begitu pintu terbuka, rupanya Aydan kembali lagi dengan tatapan dingin. Topi merahnya pun masih bertahan di kepala.


"Ada apa lagi, Mas? Ada yang ketinggalan lagi?"


"Iya. Aku lupa sesuatu."


Andra menoleh ke dalam kamar. Rasanya sudah tidak ada barang lain milik Aydan yang tertinggal.


"Boleh aku masuk untuk memeriksa?" pinta Aydan.


"O-oke, tapi jangan lama-lama. Aku mau tidur," dalih Andra. Ia tak mau berlama-lama dengan Aydan di dalam kamar. Khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan.


Pria tinggi dan berkulit sawo matang itu melangkah masuk perlahan. Mengamati ke seisi kamar. Andra memperhatikannya dari belakang dengan perasaan curiga.


"Coba kamu hubungi lagi teman chatting-mu itu!" seru Aydan tanpa membalikkan badan.


"Hah?!" Andra terkejut.


Meski heran ia menuruti perintahnya dan baru sadar ada pesan balasan dari Cheeky.

__ADS_1


Cheeky : Gue udah memenuhi tantangan elo menyusul ke Bali. Gue udah mengambil topi merah. Sekarang gue udah muncul tepat di depan elo. Gue bukan pengecut, kan?


Membaca pesan itu sontak saja membuat Andra terperanjat bukan main. Ia terperangah tak percaya sambil menatap punggung Aydan yang lebar dari belakang. Sementara pria itu sedang mengetik sesuatu di ponselnya juga.


Cheeky : Maaf, Diandra. Gue sedikit ngerjain elo tadi. Please, jangan marah. Kalau cemberut nanti gue cium nih. 😆


"Ini gak mungkin! Jangan bercanda, deh! Sumpah ini gak lucu!" bentaknya sebal.


Aydan segera balik badan dan menatap gadis di depannya yang sedang cemberut.


"Gue gak lagi bercanda. Elo bisa lihat ponsel BB gue sebagai buktinya," ungkap Aydan sambil menyerahkan BB miliknya.


"Ta-tapi aku punya pin BB Mas Aydan. Bagaimana bisa Cheeky adalah kamu, Mas?" tanya Andra bingung.


Tangan kirinya merogoh saku celana sebelah kiri jg. Sebuah ponsel BB lainnya berada di tangannya.


"Yang ini maksudmu?" Aydan mengangkat ponsel itu.


Andra terkesima. Ada dua ponsel BB yang sama di kedua tangan seniornya itu. Andra segera mengirimkan pesan pada kedua pin BBM yang berbeda. Keduanya sampai bersamaan di ponsel itu.


Ia kembali terpana menatap Aydan yang memang benar adalah teman chatting-nya sejak kuliah. Semburat merah di wajahnya langsung terlihat. Ia malu, tapi juga kesal.


"Tapi Cheeky itu orang Palembang," ungkap Andra.


"Ya ampun memangnya selama ini kamu gak tahu kalau aku orang sana juga?"


Andra menggeleng. 


"Tapi selama chatting, Cheeky mengaku tinggal di sana, kan?"


"Enggak, tuh. Cheeky gak pernah bilang dia tinggal di Palembang. Dia cuma bilang berasal dari sana. Dan aku memang gak tinggal di sana, kan? Aku kos di Semarang. Side job-ku adalah penjaga warnet," ungkap Aydan senang bisa mengungkapkan jati dirinya yang lain.


"Tahu begini, gak seharusnya aku curhat tentangmu," batin Andra.


"Nyesel aku nantang Cheeky ke Bali," sesalnya.


"Gak ditantang kamu juga aku akan tetap menyusulmu, Ndra."


"Karena disuruh Mas Imam, kan?"


"Buat apa? Nanti juga ketemu di kantor," balas Andra ketus. 


"Ya buat jelasin semuanya ke kamu. Buat buktiin kalau aku masih laki-laki yang sama seperti empat tahun lalu. Sesuai janjiku," paparnya.


Andra terkekeh-kekeh. "Janji apa? Perasaan Mas Aydan gak pernah janji apapun padaku."


"Janji buat nungguin kamu sampai lulus," ungkapnya lagi. Andra terkesiap mendengarnya.


"Oh, ayolah! Jangan berlagak gak tahu apa-apa, deh. Aku sudah tahu semuanya. Termasuk isi hati dan harapan kamu selama ini padaku. Kamu lupa selama ini selalu curhat pada Cheeky?" lanjut Aydan gemas pada sikap sok acuh tak acuh Andra.


"Sialan!" gumam Andra sebal. Ia teringat semua ceritanya tentang Aydan pada Cheeky selama bertahun-tahun. Mirisnya ternyata keduanya orang yang sama.


"Teganya kamu boongin aku, Mas. Kenapa gak dari dulu aja sih ngaku kalau kamu itu si Cheeky_taro. Tau gitu kan aku gak mau chatting lagi," balas Andra keki.


"Justru di situlah kesenanganku. Aku menikmatinya saat kamu membicarakan tentangku. Jadi walaupun kamu gak pernah mau ngaku kamu suka aku di depanku, tapi aku sudah tahu." Aydan tergelak lagi.


"Nyebelin banget," gumam Andra sebal karena seniornya merasa di atas angin.


Aydan terkikik terus.


"Jadi sejak kapan tau kalau akun miss_bear07 adalah aku?" cecarnya penasaran.


"Ada deh," jawabnya cuek.


"Ya udah kalau gitu. Terus sekarang apa? Gak bisa merubah apapun, kan? Ingat ada Kalina, tunanganmu yang sedang hamil itu," sindirnya dengan hati perih.


"Duduklah dulu! Dari tadi ngobrol berdiri terus. Gak capek apa?" Aydan menarik lengan Andra untuk duduk di atas kasur bersama dengan dirinya.


Andra menurut dengan wajah masam.


"Kamu tau gak? Aku jauh-jauh nyusul kamu ke Bali buat jelasin yang sebenarnya," ungkap Aydan lembut.

__ADS_1


"Padahal ngasih tau di kantor juga bisa," balasnya dingin sambil memalingkan muka.


"Di kantor aku gak bisa. Aku gak enak sama Imam. Ini urusan pribadi. Aku harus profesional. Kalau di sini kita bisa bebas membahas urusan pribadi," kilah Aydan.


"Di luar jam kantor juga bisa, kan?"


"Tau gak? Setiap pulang kerja aku sibuk mencari kakakku," ungkapnya.


"Kakakmu? Memangnya dia hilang?" Kini Andra tampak antusias sampai kembali memandangi Aydan.


"Bukan hilang, tapi kabur," tekannya. Ada rona kesedihan di binar mata pria berkacamata itu.


"Sebabnya?" Andra makin penasaran.


"Itulah yang mau aku ceritain sama kamu. Ini ada kaitannya dengan hubungan kita yang gak pernah jelas ini."


Bibir Andra cemberut lagi. "Maksud elo?" tanyanya dengan wajah galak. 


Aydan tertawa sedikit sambil mengacak rambut panjangnya.


"Kamu harus bantu aku cari kakakku ya! Kalau enggak, nanti aku gak bisa nikahi si pemilik sepatu butut itu," pintanya.


"Ya ampun. Dia masih ingat aja sama sepatuku yg sebelah itu," batin Andra tak menyangka.


"Gimana?" tanyanya.


Seniornya menatap Andra begitu serius. Bahkan ia mengambil tangan Andra lalu digenggam erat. Tentu saja membuat jantungnya berdegup kencang.


"A-apa untungnya bagiku?"


"Biar aku gak jadi nikahi Kalina," jawab Aydan penuh harap.


"Tapi dia kan hamil anakmu, Mas." Andra tak mengerti situasinya.


"Bukan. Kalina hamil karena kakakku, tapi dia kabur karena gak mau menikahi ceweknya. Aku terpaksa menggantikan posisinya untuk bertanggung jawab," terang Aydan.


"Jangan bohong!" Dahi Andra mengernyit tak percaya.


"Aku gak bohong. Kalina itu sebenarnya pacar kakakku di Palembang. Bang Irvan kabur ke Jakarta karena belum siap berkomitmen," beber Aydan tenang. Padahal hatinya bergemuruh karena kesal.


"Jadi?" Raut wajah Andra masih belum paham.


"Jadi? Kalau kamu masih berharap padaku, masih berharap dengan hubungan gak jelas kita menjadi lebih jelas, kamu harus bantu aku menemukan Bang Irvan Saskara," pinta Aydan serius.


Semua penjelasan dan pengakuan pria di depannya yang selama ini masih betah bersemayam di hatinya itu, justru membuat Andra terbengong-bengong. Sementara Aydan sendiri justru merasa lega sudah mengungkapkan semuanya.


"Ada satu lagi yang belum aku kasih tau sama kamu," lanjutnya.


"Apa itu?" Wajah antusias Andra muncul lagi.


"Perasaanku masih sama. Aku masih menyukaimu," ungkap Aydan. Wajahnya bersemu. Ia terlihat malu. Begitu juga dengan Diandra. Hatinya berbunga-bunga.


"Kamu juga, kan?" selidiknya.


"Kasih tau gak ya?" sahut Andra seraya melirik ke atas.


"Masih gak mau ngaku juga? Aku cubit, nih," protesnya gemas sambil menarik tangan Andra sehingga tubuh gadis itu merapat ke tubuhnya. Lalu mencubit gemas kedua pipinya. Keduanya tertawa bahagia.


Keakraban keduanya yang telah lama hilang itu telah kembali lagi seperti dulu. Tirai penghalang yang dulu ada kini telah sirna.


Tiba-tiba Aydan merapatkan wajahnya ke hadapan Andra. Ia ingin mencium bibir juniornya dengan hati-hati. Sementara debaran jantung Andra seperti habis berlari kencang. Ia sampai menahan napas dan tegang. Akan tetapi, alih-alih matanya terpejam.


Namun, pintu diketuk seseorang berkali-kali. Merusak suasana. Dengan jengkel, Aydan terpaksa menghentikan rencananya. Ia mendengus kecewa. Sementara Andra buru-buru membuka pintu dengan canggung. Ternyata Imam dan Yuda yang datang.


"Diandra, kami pamit pulang duluan ya," ujar Imam.


"Aku juga ya. Kamu jaga diri baik-baik. Awas ketemu bule mesum lagi," imbuh Yuda.


"Tenang aja. Kan ada aku di sini," jawab Aydan di belakang Andra.


Imam dan Yuda sama-sama terperanjat melihat Aydan ada di kamar Andra dan hanya berduaan saja.

__ADS_1


"Ngapain elo di sini, Bro?" selidik Imam curiga.


***


__ADS_2