
"Mau gak jadi pacarku?" tanya pria bermata teduh itu. Ia tampak serius dengan omongannya.
Tentu saja Andra bingung harus menjawab apa. Berterus terang tentang statusnya yang sudah memiliki kekasih atau berpura-pura masih jomblo demi proyek dan menyenangkan hati kliennya.
"Harus jawab sekarang ya, Mas?" balas Andra ragu.
"Emmm ... aku akan lebih senang kalau kamu jawab cepat. Sejujurnya aku gak suka menunggu, tapi kalau kamu butuh waktu lagi, aku akan menunggu dengan sabar," tutur Erik.
Andra menunduk. Suasana berubah canggung. Setelah itu Erik langsung keluar dari mobil dan mengajaknya makan. Selama makan bersama, lelaki itu tidak menanyakan hal pribadi lagi kecuali soal hadiah kalung darinya.
"Kok, kalungnya gak dipakai? Gak suka ya sama modelnya?" selidik Erik.
Andra terhenyak sambil meraba dada. "Eh, bu-bukan. Aku suka. Malahan terlalu mewah buatku. Jadinya aku simpan di lemari," dalih Andra berusaha tidak membuatnya tersinggung.
"Aku rasa kalung itu cocok untukmu. Nanti dipakai ya!" pintanya ramah.
"Baik." Andra memaksakan sebuah senyuman. Sementara Erik membalas senyumannya dengan tulus.
❀❀❀
Sesampainya di kosan, Andra menghempaskan diri ke kasur. Ingatannya kembali pada kejadian tadi siang. Ia bingung harus bicara apa. Hati kecilnya menyarankan untuk berterus terang, tapi ia khawatir.
Tadi saja sepulangnya dari kantor Erik, Aydan menanyainya macam-macam begitu tiba di kantor konsultan.
"Kenapa lama sekali?" tanyanya curiga.
"Tadi macet." Hanya alasan itulah yang bisa ia berikan. Untungnya Aydan percaya.
Sore saat keduanya pulang bersama, Aydan memberikan sebuah kado ulang tahun. Kini kado itu tergeletak di atas meja. Andra membukanya dan matanya terbelalak. Sebuah kalung dengan bandul hati berhias berlian. Model yang sama dengan yang diberikan oleh Erik.
"Kenapa bisa samaan begini?" gumamnya keheranan.
Selesai membuka hadiah, Aydan menelepon dan memintanya untuk langsung mengenakan kalung itu. Andra tak bisa membantah. Ia memakai kalung itu.
"Mas Imam, minggu depan aku cuti ya. Kakakku mau nikahan. Boleh, kan?" tanya Andra beberapa hari kemudian.
"Oh, boleh. Tapi jatah cutimu sisa 2 hari lagi, lho," ungkap Imam, sang direktur.
"Gak masalah, Mas. Nanti aku usahain langsung pulang, kok."
Tiba-tiba Aydan masuk ke dalam ruangan direktur dan mendengarkan percakapan itu.
"Kamu mau ke mana?" selidiknya.
"Aku mau izin cuti. Kakakku mau menikah."
"Kamu berangkat sendirian?" Aydan menghampirinya.
"Nggak. Aku berangkat sama Widia dan Ivane."
"Kalau gitu aku antar aja ya! Tanggal berapa nikahnya?" Aydan mulai cemas saat ingat bahwa Erik pasti akan hadir juga.
"Minggu depan, Mas."
__ADS_1
"Ya udah aku antar. Mumpung minggu depan gak terlalu sibuk."
Andra tampak ragu dengan tawaran itu, tapi Aydan menatapnya serius seolah tak mau ditolak. Akhirnya ia setuju. Lalu pamit pergi.
"Kalau aku lihat kalian ini memang pacaran, kan?" selidik Imam.
"Emm ... begitulah. Kenapa? Gak boleh, ya?"
"Siapa yang bilang 'gak boleh'? Aku kan cuma nanya."
"Kirain gak boleh pacaran sesama karyawan," balas Aydan sembari menghempaskan diri ke kursi.
"Selama sama-sama bisa profesional aku gak keberatan. Cuma yang jadi pikiranku, bagaimana dengan Kalina? Pantas aja waktu itu dia ngamuk-ngamuk."
"Kamu tahu kan statusku dengan dia cuma sebagai tunangan pengganti."
"Jadi masih belum ketemu juga abangmu itu?"
Aydan menggeleng sedih.
"Terus mau menunggu sampai kapan? Sementara perut Kalina terus membesar."
"Terima kasih udah mengingatkan. Besok aku mau ke kantor polisi aja," ungkap Aydan tak ada pilihan lain. Ia jadi resah teringat akan kehamilan Kalina.
Beberapa hari yang lalu, ibunya kembali menelepon dan meminta Aydan pulang kampung untuk menikahi tunangan kakaknya. Setelah lahir, ia boleh bercerai. Begitulah usul yang diberikan ibunya. Namun, Aydan sama sekali tidak tertarik untuk bertanggung jawab menggantikan kakaknya lagi. Apalagi setelah tahu bahwa kakaknya malah asyik bersenang-senang dengan perempuan lain.
❀❀❀
Hari minggu itu Diandra, Widia, Ivane, Yuda, dan Aydan datang ke resepsi pernikahan Ibnu. Akad nikahnya sudah digelar saat sabtu dan kini tinggal acara pestanya.
Tamu undangan di pesta itu sangat banyak. Andra yang memakai kebaya Sunda tampak kerepotan membantu mengatur ini dan itu karena tidak menggunakan jasa WO.
"Udah cantik begini, malah sibuk wara-wiri," celetuk Erik yang tiba-tiba muncul di belakangnya saat Andra sedang menyuruh orang mengambil piring-piring kotor.
"Eh, Mas Erik. Baru datang?" sahutnya berbasa-basi. Erik memakai kemeja batik mahal dan celana kulot hitam dipadu dengan sepatu kulit hitam mengkilat. Ia tampak begitu gagah dan tampan. Tamu undangan wanita berdecak kagum melihatnya. Termasuk Andra.
"Iya. Begitulah." Matanya mendelik pada kalung yang dipakai Andra. Ia merasa bahagia. "Aku salaman dulu sama Ibnu ya." Erik melanjutkan langkahnya menuju venue.
"Silakan."
Begitu Erik pergi, Widia dan Ivane yang diam-diam memperhatikan dari jauh langsung menghampiri Andra.
"Jadi itu yang namanya Erik?" tanya keduanya kompak.
"Iya."
"Luar bisa gantengnya. Buat gue aja, deh. Rasanya hatiku langsung kelepek-klepek," celoteh Ivane.
"Sok sana deketin. Biar aku tenang gak usah ngasih jawaban lagi," sahut Andra.
"Emangnya jawaban apa?" tanya keduannya kompak lagi.
Sontak Andra terkejut sendiri. Ia lupa belum menceritakan soal tawaran Erik seminggu lalu pada kedua sahabatnya. Akhirnya ia berbisik menceritakan hal itu. Reaksi keduanya sama-sama terperanjat.
__ADS_1
"Kenapa gak langsung bilang aja kalau elo udah punya pacar, sih?" protes Widia.
"Emmm... soalnya...."
"Nanti elo dikira masih ngasih lampu hijau. Mumpung belum lama momennya cepat kasih tau!" desak Widia gemas.
"Gue emang udah mau ngomong, tapi gak tau kenapa bibir gue susah banget mau ngucap," dalih Andra.
"Kalau gitu biar gue aja. Sekalian gue mau deketin dia," usul Ivane semangat banget.
"Eh, jangaaaan!" seru Widia dan Andra dengan suara lantang. Teriakan itu berhasil menarik perhatian para tamu.
"Lha, kenapa?" tanya Ivane heran.
"Jangan ikut campur! Biar Andra yang urus sendiri," tekan Widia memperingati. Mereka khawatir justru akan menjadi masalah lain. Ivane mencebik kecewa.
Selesai mengatur orang-orang, Andra kembali bergabung di meja khusus keluarga pengantin. Di sana ada kedua sahabatnya, Aydan, dan Yuda yang sedang bercakap-cakap.
Sementara Erik yang bergabung bersama teman-teman almamater SMA-nya di meja lain, sesekali memperhatikan Andra yang tampak akrab duduk bersebelahan dengan Aydan. Sekali lagi ia merasa tidak nyaman melihat kedekatan itu.
Hingga Ibnu datang menghampiri meja itu dan mengajaknya bergabung bersama adiknya. Erik menolak mengingat situasinya yang masih ramai. Rupanya Ibnu hendak menjodohkan sahabatnya dengan adiknya sendiri.
"Ayolah. Mumpung ada kesempatan," dalihnya.
"Gak apa-apa. Santai aja. Aku udah minta dia jadi pacarku, kok. Tinggal tunggu jawaban," ungkap Erik.
"Eh, kamu ngajak pacaran siapa?" celetuk teman yang duduk di sebelahnya. Sontak saja semua temannya di meja itu menoleh pada Erik. Semuanya ingin tahu.
"Nggak, kok. Bukan siapa-siapa." Erik terkekeh malu.
"Dia naksir adik gue. Si Diandra. Tuh anaknya di sana," timpal Ibnu malah buka-bukaan sembari menunjuk meja di dekat venue.
"Ayo sosor terus sampai jadi. Nembak lagi sana!" seru temannya.
"Iya. Mana mungkin orang kayak elo ditolak. Ayo deketin lagi sana!"
Seluruh teman-temannya malah mengompori. Membuat Erik jadi risih sendiri. Ia tak mau membuat Andra malu di depan banyak orang. Namun, mereka dan Ibnu malah mendukungnya agar menyatakan cinta pada Andra lagi di depan banyak orang.
Akhirnya Erik dipaksa bangun dan naik ke atas venue. Sebuah mic diberikan padanya untuk mengutarakan cinta. Ibnu pun ikut mendampingi. Erik telah berhasil menyita semua tamu yang ada di sana. Apalagi tampangnya yang rupawan.
Andra dan teman-temannya pun jadi bertanya-tanya. Andra pikir Erik mau menyumbangkan lagu.
"Mohon maaf semuanya. Minta perhatiannya sebentar," ucap Ibnu lantang melalui mikropon. Semua mata menatapnya. Termasuk pengantin wanita dan ibunya Andra.
"Perkenalkan di sini ada salah satu sahabatku. Namanya Erik. Dia sudah banyak membantuku dalam segala hal. Dan sekarang giliran aku yang ingin membantu dia dalam mencari calon istri," beber Erik.
Penjelasannya itu mendapatkan respon yang baik dari para tamu. Mereka jadi antusias.
"Jadi langsung aja ya. Kebetulan di sini ada cewek yang ditaksir sama Erik. Orangnya ada di meja itu." Ibnu menunjuk meja yang ditempati Andra. Mata para tamu beralih ke meja yang dimaksud. Andra langsung terhenyak dan berdebar-debar. Perasaan Aydan jadi cemas dan tidak enak.
"Wah, gawat. Kejadian seperti waktu kuliah terjadi lagi," ucap Widia. Ia teringat saat inagurasi kampus ada mahasiswa jurusan lain menyatakan cinta pada Andra. Saat itu ia marah dan kabur. Apakah Andra akan kabur lagi?
❀❀❀
__ADS_1