
Perjalanan selama hampir satu jam menuju Ubud terasa begitu cepat bagi Diandra. Sepanjang perjalanan ia terus menikmati pemandangan di sana. Baik penduduknya, rumah-rumahnya, lingkungan, dan suasananya.
Hingga mobil berhenti di sebuah daerah persawahan berundak-undak yang sangat menakjubkan. Tak jauh dari situ ada sepetak tanah luas yang sedikit curam. Posisinya di sisi persawahan itu. Memang cocok jika dibangun Villa di sana.
Pemilik lahannya yaitu Pak Aditya berserta istri langsung turun dari mobil mewah. Imam segera berbincang-bincang dengan keduanya sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arah persawahan itu.
"Ndra, ayo sini! Kamu catat apa saja kebutuhannya Pak Adit," seru Imam.
"Siap, Mas," jawab Andra sigap.
"Dan kamu, Yud," lanjut Imam.
Yuda pun segera menghampirinya.
"Kamu foto-foto sebanyak-banyaknya buat data topografinya. Nanti kita ukur juga setelahnya," pinta Imam.
"Siap, Mas," sahut Yuda. Ia segera mengambil kamera DSLR yang menggantung di leher Andra.
Semuanya tampak sibuk mengumpulkan data di lahan calon villa itu. Hingga matahari tak terasa sudah semakin beranjak ke barat. Mereka menyudahi obrolan dan diskusinya.
"Kita lanjutkan ngobrol-ngobrolnya sambil makan malam aja, ya!" usul Pak Aditya.
"Boleh, Om," jawab Imam sembari tersenyum.
Akhirnya mereka semua kembali masuk ke mobil dan pergi ke sebuah restoran untuk makan malam di Denpasar.
Pak Aditya kembali mengutarakan keinginannya untuk bangunan villanya. Berbagai macam idenya dicatat oleh Diandra. Bahkan istrinya pun sesekali memberikan usulan. Imam mencoba mengarahkan melalui sketsa apa yang menjadi kebingungan sang klien saat ada keinginannya yang sulit untuk diterangkan secara lisan.
"Rata-rata klien itu banyak maunya ya," celetuk Andra begitu acara makan malam selesai dan mereka sudah kembali ke hotel.
"Enggak apa-apa banyak maunya juga, yang penting sanggup bayarnya. Jangan sampai banyak maunya, tapi gak kuat modal. Malah jadinya nawar melulu," balas Yuda yang tampak kelelahan.
"Bener juga ya. Jangan sampai pengen gaya, banyak maunya, tapi malah ngorbanin orang lain. Nawar sadis gak realistis."
"Nah betul itu. Masa tumpangannya Alphard, tapi maunya murah. Jiaaahhh ... gak keren banget," kelakar Yuda. Andra terkekeh-kekeh.
"Tenang aja. Insyaallah Om Aditya ini bukan orang kaya abal-abal. Beliau ini kaya sejak lahir. Beliau ini sangat menghormati orang lain dan gak suka nawar sadis. Dan, dia akan membayar sepadan untuk hasil kerja keras seseorang," celetuk Imam tiba-tiba.
"Wah asyik dong. Coba semua klien seperti itu ya. Aku yakin semua arsitek bakal sejahtera," ungkap Andra.
"Maunya, sih. Realitanya yang udah digarap desainnya malah kabur pun banyak," timpal Yuda kesal. Teringat pengalamannya sendiri. Andra menepuk-nepuk bahunya.
"Kalau Pak Aditya orangnya royal, kita harus bikin karya yang keren, Mas. Biar dibayar mahal," usul Andra antusias.
"Itu sudah pasti," jawab Imam.
"Mas Imam, kami istirahat dulu ya. Besok pagi kami sudah harus pulang. Silakan kalau kalian masih mau jalan-jalan dulu di sini. Kamar hotel kalian sudah dibooking sampai besok, kok," ujar seseorang dari belakang mereka.
Ketiganya menoleh berbarengan dan terkejut melihat klien Pak Aditya ada di belakang mereka.
"Eh, iya, Om. Makasih banyak lho, Om," sahut Imam merasa sungkan.
__ADS_1
"Om yang makasih, dong. Oh, iya. Besok kalau mau beli oleh-oleh minta diantar saja. Uangnya sudah Om transfer ya," lanjut Pak Aditya.
"Masya Allah. Terima kasih banyak sekali lagi, Om. Selamat istirahat." Imam makin merasa tak enak dengan teman ayahnya itu yang sudah membayari hotel dan akomodasi. Malah diberi uang untuk jajan pula.
Namun, pria paruh baya dan istrinya itu hanya tersenyum ramah sambil berlalu masuk lift.
"Coba semua klien kita baiknya kayak gitu, ya," ucap Andra penuh harap.
"Mana bisa," komentar Imam sembari terkikik.
"Ya ampun semoga beliau gak dengar omongan kita tadi," ucap Yuda khawatir.
"Sudahlah. Santai aja. Beliau orangnya gak baperan kok," timpal Imam tenang.
Lantas ketiganya pun segera masuk lift dan kembali ke kamar hotel.
"Aku gak sabar pengen cepet-cepet besok dan jalan-jalan. Temani aku ya!" pinta Andra pada Yuda di dalam lift.
"Gak ngajak aku juga? Kita bertiga akan pergi bersama, Ndra," sela Imam. "Duit jalan-jalannya kan ada di aku."
"Oh iya. Hehehe .... Kalau ada yang gratis kenapa harus bayar sendiri," balas Andra sembari terkikik senang. Uang sakunya sendiri untuk beli oleh-oleh jadi aman.
Malamnya sesaat sebelum tidur, tak ada satu pun pesan BBM dari Cheeky atau Aydan. Sejujurnya, Andra berharap seniornya itu mau menghubunginya pasca memergokinya dengan Kalina, tunangannya itu.
Apalagi saat Sabtu, sehari sebelum ia berangkat ke Bali, Aydan masih cuti kerja. Rasa kecewanya jadi makin berkali-kali lipat. Ia merasa perasaan Aydan sudah tak sama lagi seperti dulu.
"Kenapa Mas Aydan harus berbohong, sih? Ngaku masih sendiri ternyata enggak," gumamnya sedih.
"Salahmu juga, sih. Kelamaan nyuekin dia. Akhirnya diembat cewek lain, kan?" Andra masih berbicara sendiri di atas kasur. Menatap langit kamar dengan perasaan tak menentu.
Ia kesal pada dirinya sendiri. Mau menyalahkan ibunya pun tak mungkin. Mau menyalahkan keadaan pun tak bisa. Ia benar-benar tak bisa apa-apa. Toh, dia juga tak bisa memaksa seniornya itu untuk tetap setia menunggunya. Teringat kata-katanya pada teman online-nya, Cheeky. Jika Aydan sudah dimiliki perempuan lain dan bukan jodohnya, ia akan merelakannya.
Sayangnya, semua perkataannya itu justru terasa menyakitkan saat harus direalisasikan. Ia tak menyangka hal dikhawatirkannya malah terjadi. Padahal ia sangat berharap pertemuannya lagi akan menyatukan keduanya tanpa halangan lagi.
Meski hati masih risau, Andra mencoba untuk menyingkirkan perasaan buruk itu dengan tidur dan memikirkan pria misteriusnya. Ia memiliki ide untuk menyembuhkan lukanya bersama pria itu. Setidaknya Cheeky selalu menghiburnya selama ini. Ia yakin pria itu sanggup mengalihkan perasaannya pada Aydan. Meskipun ia belum tahu bagaimana rupanya.
***
Alarm ponselnya berbunyi nyaring hingga memekakkan telinga. Andra terbangun dengan ngantuk masih bertahan. Namun, terpaksa ia singkirkan kuat-kuat karena harus segera salat, mandi, dan bersiap-siap menjelajahi kota Denpasar dan sekitarnya. Sebab sore harinya mereka harus check out.
Dengan langkah malas, Andra berjalan ke kamar mandi. Matanya melihat sesuatu di bawah pintu kamar. Ada sepucuk surat di sana. Ia mengambilnya segera. Di amplop surat itu tertulis namanya.
"Dari siapa, nih?" batinnya sambil membolak-balik amplop surat itu. Tak ada nama pengirimnya.
Daripada penasaran, ia buka amplop itu dan secarik kertas berwarna putih langsung dibaca isinya.
---
Dear Diandra,
Temui gue di Pantai Sanur menjelang makan siang kalau elo masih penasaran sama gue.
__ADS_1
Gue datang untuk memenuhi tantangan elo untuk datang ke Bali menyusul elo.
Biar elo gak bingung. Kita pakai dresscode yang sama seperti waktu itu yaitu merah. Gue pakai topi merah dan elo baju merah.
NB. Jangan kaget liat gue. Karena gue jelek. Tapi gak menutup kemungkinan orang jelek bisa bikin elo jatuh cinta juga. Who knows. 😁
Cheeky. Si penjaga warnet.
---
Sontak saja Andra terkejut bukan main. Ia benar-benar tak menyangka teman online-nya ternyata benarkah menyusulnya ke Bali.
Andra berteriak kegirangan. Ia segera masuk kamar mandi. Dalam hati ia semakin mantap untuk move on dari Aydan dan siap untuk melabuhkan hatinya pada pria lain. Mungkin Cheeky orangnya yang tepat. Pikirnya.
***
"Mas Yuda. Buruan! Lama banget milihnya," teriak Andra tak sabaran.
"Sebentar dong. Aku bingung, nih. Mau beli yang mana," jawabnya sambil matanya terus memilih aneka macam perhiasan wanita dari batu unik berwarna-warni di jejeran penjual souvenir.
"Yang mana aja deh. Pokoknya selama gratis, pasti Widia bakalan suka," ungkap Andra gelisah.
Karena Yuda masih kebingungan, Andra mencoba memilihkan beberapa model kalung dan gelang untuk Widia dan Ivane. Setelah membayar semuanya, keduanya menyusul Imam ke suatu rumah makan dengan menenteng beberapa kantong belanjaan di tangan kanan dan kiri.
Begitu sampai, Imam terkejut melihat banyaknya oleh-oleh yang dibeli oleh kedua karyawannya.
"Kalian kemaruk amat. Nanti kita kebanyakan bawaannya di pesawat, lho," ucapnya khawatir. "Ntar harus bayar kargo tambahan gimana? Kalian bayar sendiri ya!"
"Yah, jangan dong. Nanti kita akalin di koper, kok. Iya enggak, Mas Yuda?" Andra meminta dukungan pada rekannya.
"Siap. Ini oleh-oleh buat calon pacarku, anak kosan, sama keluargaku, Mas Imam. Kalau belinya dikit, kasihan yang lain gak kebagian." Yuda berdalih.
"Sama aku juga. Belum lagi buat teman-teman kantor juga," timpal Andra sambil cengengesan.
"Dasar kalian ini! Ya udah," jawab Imam pasrah.
Yuda segera duduk di kursi makan untuk makan siang, tapi Andra tidak. Ia malah meletakan semua kantong belanjaannya di bawah meja.
"Aku nitip ya, Mas. Aku mau ke tempat lain dulu," paparnya.
"Lho?! Mau ke mana? Jangan pergi sendirian. Nanti nyasar gimana?" tanya Imam cemas.
"Aku mau ke Pantai Sanur, Mas. Ada perlu mau ketemu teman. Nanti aku tanya-tanya sama orang kalau nyasar. Tenang aja," teriak Andra sambil melangkah pergi. Wajahnya begitu semringah.
Beberapa menit kemudian ia sudah sampai di Pantai Sanur. Di sana cukup ramai dan terik karena pas tengah hari. Matanya mengamati ke setiap pengunjung di sana. Mencari-cari pria yang memakai topi merah.
Ada beberapa orang yang memakai topi merah. Ada yang turis asing dan juga turis lokal. Andra tak tahu yang mana si Cheeky itu. Ia pun menghubunginya, tapi tak ada balasan pria misterius itu.
Tiba-tiba bahunya ada yang menepuk. Andra terkesiap. Ia segera balik badan dan terkejut melihat seseorang di belakangnya.
***
__ADS_1