
"Elo ... Cheeky?" tanya Diandra ragu-ragu. Matanya terus terpaku pada sosok pria di depannya yang tak lain adalah seniornya sendiri, Aydan.
"Chiki? Maksudnya? Jajanan itu?" tanyanya juga dengan kedua alis bertautan.
"Bukan, Mas. Maksudnya ... jadi gini, aku punya teman chatting sejak kuliah dan kami janjian ketemuan di Pantai Sanur tadi. Dresscode-nya dia pakai topi merah dan aku pakai kaos merah," ungkap Andra polos.
"Wah hebat banget masih saling berhubungan. Pasti kalian berdua akrab banget ya?" balas Aydan menyindir.
"Enggak juga. Kebetulan aja. Kalau jodoh kan gak ke mana. Termasuk soal teman. Biar pun sudah berpisah, kalau takdirnya ketemu lagi, ya udah, pasti nyambung lagi dengan sendirinya," jawab Andra cuek.
Aydan hanya manggut-manggut sembari tersenyum mengejek. Sementara Andra jadi sebal melihatnya. Seketika ia tersadar, kenapa seniornya itu bisa ada di Bali.
"Kok, Mas Aydan ada di Bali ya?" tanyanya heran.
Pria berkacamata itu langsung tersentak dan gelisah. "Eh, itu Imam minta aku untuk ikut juga, tapi aku telat datang," dalihnya.
"Masa sih? Orang kita mau pada pulang nanti sore. Mas Aydan malah baru nyusul. Jangan-jangan ...." Andra mengamati pria di depannya dengan tatapan curiga. Yang diamati malah senyum-senyum gelisah.
"Andraaaa!" jerit seseorang di pintu kamar hotel yang baru terbuka memecah obrolan keduanya.
Ternyata Yuda dan Imam baru saja datang. Wajah-wajah mereka panik. Begitu melihat Andra baik-baik saja, Yuda langsung memeluk gadis itu secara spontan. Aydan dan Imam seketika terkejut melihatnya.
"Alhamdulillah. Kamu baik-baik aja, Ndra? Udah dibilangin jangan sendirian. Ngeyel banget, sih, kamu," omel Yuda cemas masih sambil memeluk tubuhnya. Andra sendiri jadi salah tingkah dipeluk rekan kerjanya. Ia berusaha melepaskan diri. Sementara Aydan berusaha menahan cemburu.Β
"Woi Yuda! Jangan asal peluk anak gadis orang!" tegur Imam.
"Eh, iya. Maaf. Maaf. Refleks," jawab Yuda sambil cengengesan.
"Iya, nih. Aku baik-baik aja, Mas. Udah dong. Tolong lepasin pelukannya. Sesak napas, tau," pinta Andra sambil mendorong Yuda.
Setelah pelukan itu terlepas, Yuda mengamati Andra dari ujung kepala hingga kaki. Memastikan gadis itu tidak kekurangan apapun.
"Bukan begitu. Kalau kamu ada apa-apa, nanti aku kena omel Widia, Ndra," ungkapnya khawatir.
"Iya paham. Udah ah. Lebay," ujarnya risih.
Sejurus kemudian gadis berambut panjang itu memilih duduk di atas kasur. Ia merasa canggung ada tiga pria di kamar hotelnya. Pikirannya kembali pada sosok Cheeky. Ia jadi curiga pada ketiga pria itu.
"Ngomong-ngomong ini topi siapa ya?" tanyanya sambil menunjukkan topi merah yang masih dipegangnya.
Ketiga pria muda itu saling pandang. "Gak tahu. Bukannya punya kamu?" jawab Yuda. Imam dan Aydan pun menggeleng.
"Serius dong. Jangan bohong! Topi ini bukan punyaku. Ini punya teman chatting-ku namanya Cheeky. Tadi aku janjian sama dia ketemu di Pantai Sanur. Kalau bukan punya salah satu dari kalian, terus yang udah bawa aku ke sini siapa?" paparnya masih tak mengerti.
"Tadi ada yang meneleponku, katanya kamu pingsan di pantai. Terus kamu sudah dibawa balik ke hotel, jadi aku dan Yuda buru-buru ke sini," ungkap Imam.
"Di jalan aku ketemu Imam dan Yuda. Sementara mereka menyimpan belanjaan ke kamar hotel, aku datang duluan buat ngecek keadaan kamu," imbuh Aydan. Dia melirik ke arah Imam. Imam mengangguk-angguk.
"Untung ada yang nolong kamu, aku dengar kamu nyaris jadi korban penculikan bule mesum. Ih, nauzubillah," tambah Yuda sambil bergidik.
"Korban penculikan?!" teriak Andra kaget. "Kok bisa? Gimana ceritanya? Jadi aku bukan pingsan biasa?"
Gadis itu langsung berdiri dan mendekati mereka lagi begitu panik. Meminta penjelasan lebih jauh. Ia pikir, ia benar-benar hanya pingsan saja. Namun, Imam pun tak bisa menjelaskan lebih banyak lagi dengan alasan si penelepon tidak menjelaskan lebih rinci.
"Pasti yang udah menyelamatkan aku dan menelepon Mas Imam sampai membawaku ke hotel lagi itu Cheeky, deh. Tapi kenapa dia gak ada? Kenapa dia gak nunjukin diri, sih?" batin Andra kesal bukan main. Seolah pria itu sedang main kucing-kucingan.
Lalu Imam mengajak semuanya untuk berkumpul di restoran hotel guna menenangkan diri. Andra yang berjalan di belakang ketiga pria itu, terus saja mengamati Aydan. Aydan sendiri merasa jika sedang diperhatikan dari belakang. Membuatnya canggung.
Di restoran hotel, ketiganya malah membahas soal villa Pak Aditya. Sementara Andra lebih banyak diam dan memikirkan hal lain.
"Aku harus mencari tahu siapa Cheeky di antara ketiga laki-laki ini?" batin Andra sambil menatap ketiga pria di depannya.
Ponsel BB-nya diambil dari saku celana, ia mengirimkan BBM ke Cheeky. Tak butuh waktu lama, terdengar nada PING di antara ponsel pria itu. Kemudian Imam merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel BB. Andra tercengang.
"Jadi ... Cheeky itu Mas Imam?" tanyanya dalam hati. Jantungnya sudah berdebar-debar.
"Sepertinya Andra harus sehari lagi di Bali, nih," kata Imam sambil tetap menatap layar BB.
__ADS_1
"Hah?! Kenapa? Bukannya nanti sore kita pulang?" Andra kebingungan.
"Iya tadinya. Masih ada yang harus kamu kerjakan di sini. Pak Aditya minta tolong aku buat ngecek lokasi tanah di Denpasar. Ada temannya yang nawarin tanah di sana. Kalau cocok, nanti dia mau bangun restoran di sana. Bisa jadi calon kerjaan kita juga. Mumpung kita masih di sini, jadi dia minta tolong aku. Sayangnya ...," beber Imam sambil melirik ke Andra, Yuda, dan Aydan.
"Sayangnya apa?" tanya Andra tak sabar.
"Sayangnya aku sama Yuda gak bisa lebih lama lagi di sini. Aku ada janji dengan seseorang di Jakarta. Sementara Yuda, kerjaan dia sedang ditunggu tim lain. Jadi aku minta tolong sama kamu, Diandra dan juga Aydan untuk tetap di Bali sehari atau dua hari lagi untuk ngecek lokasi tanahnya. Nanti biar aku yang perpanjang kamar hotelnya, deh" lanjut Imam tenang.
"Apa?! Tapi Mas aku juga ada kerjaan yang belum kelar?" protes Andra.
"Ini perintah dari atasanmu yaitu aku. Kamu harus nurut, dong!" titah Imam.Β
"Iya. Gimana sih kamu? Kan enak masih bisa jalan-jalan lagi. Tukeran aja kalau gitu, Mas," sela Yuda.
"Oh, tidak bisa. Kerjaan kamu sudah ditungguin tim lain. Kerjaan Andra yang masih bisa sedikit santai, kan?" bantah Imam.
Yuda mengangguk sedih.
"Jadi gimana? Kamu bisa kan temenin Diandra, Dan?" tanya Imam pada mantan teman kuliahnya.
"Siap. Itulah gunanya aku nyusul ke Bali, kan?" jawab Aydan.
"Oke. Sip kalau gitu. Sekarang aku mau beres-beres dulu. Sebentar lagi harus check out. Nanti aku ke resepsionis dulu buat perpanjangan booking hotelnya."
Imam dan Yuda beranjak dari kursi. Meninggalkan Andra dan Aydan berdua. Keduanya tampak canggung satu sama lain. Andra memeriksa pesan untuk Cheeky, tapi pesannya belum dibaca sejak tadi. Sepintas tadi ia pikir Imam adalah Cheeky. Ternyata bukan.
Kembali ia mengirimkan pesan pada teman misteriusnya. Ia kesal karena Cheeky tak kunjung menampakan batang hidungnya juga. Akhirnya gadis itu bangkit dan ingin kembali ke kamar hotel.
"Aku mau rebahan dulu di kamar, Mas," katanya pada Aydan. Seniornya itu ikut berdiri.
"Aku antar ya!" ujar Aydan.
"Terserah," jawab Andra ketus.
Ia melenggang pergi diikuti Aydan.
"Kirain Mas Aydan cuti ngurusin Kalina yang lagi hamil," celetuk Andra sambil berjalan menuju lift. Teringat peristiwa di apartemen seniornya itu.
"Masa?"
"Jadi kamu gak suka kalau aku di sini?"
"Menurutmu?"
Aydan menghela napas. Ia merasa serba salah. Tak berani menjawab pertanyaan itu. Sementara Andra mencoba mengirim pesan ke Cheeky lagi.
Andra : Elo di mana sih?
Andra : Dari tadi BBM gue gak dibaca-baca. Elo udah ada di Bali kan?
Keduanya masuk lift. Andra masih sibuk dengan ponselnya.
Andra : Kalau elo bohongin gue lagi dan gak muncul lagi, gue gak mau temenan sama elo lagi. Gue cape dibohongin terus. Janjinya mau ketemu, tapi batal melulu.
Andra mendesah kesal di dalam lift. Aydan yang berdiri di belakangnya diam-diam memeriksa ponsel BB-nya.
Seketika itu juga Andra terbelalak melihat pesannya akhirnya dibaca Cheeky.
Andra : Akhirnya dibaca juga. Elo ada di Bali atau enggak?
Cheeky : Gue udah di Bali.
Andra : Terus kenapa elo gak nemuin gue di pantai?
Cheeky : Maaf. Gue gak pede ketemu elo. Gue jelek, sih.
Andra : Ah bodo amat sama muka elo. Ntar gue anterin operasi plastik ke Korea deh. π€£
__ADS_1
Cheeky : Hahaha π€£ Gak usah repot-repot. Ember di rumah gue ada banyak.
Andra : Jadi? Beneran elo gak mau ketemu gue?
Cheeky : Mau. Tapi gue takut elo gak suka sama gue.
Andra : Belum apa-apa udah mikirnya gitu. Tunjukkin dulu muka elo seberapa jelek biar gue yang nilai. Kalau hati elo cakep, gue bakalan tutup mata deh. π
Cheeky : Yaelah. π Kalau hati gue jelek juga gimana?
Andra : Ya makanya nunjukin dulu di depan gue. Biar gue tau. Ini akan menentukan masa depan kita.
Cheeky : Masa depan kita? π€
Pintu lift terbuka. Andra menghentikan sementara chatting-nya untuk keluar. Diikuti Aydan di belakang. Ia melanjutkan lagi obrolan itu.
Andra : Kalau elo baik, siapa tahu gue berminat jadi cewek elo. π
Cheeky : Serius? π³
Andra : Iya lah. Gue udah cape ketemu cowok cakep, tapi hati busuk. Macam mantan gue dan senior gue itu.
Cheeky : Tapi kan gue gak mau pacaran. Gue kalau ketemu cewek yang gue suka mau langsung gue lamar aja.
Andra : Oh iya gue lupa. Ya udah gak jadi deh. Lupain aja. Kalau gitu kita gak usah ketemuan lagi.
Cheeky : Lho kok gitu? Gue kan udah di Bali.
Andra : Mana buktinya?
Cheeky : Itu topi merah gue ada di kamar elo. Nanti gue ambil ya. Tadi ketinggalan habis nolongin elo dari bule mesum.
Andra : Jadi beneran elo yang nolongin gue dan bawa ke hotel?
Cheeky : Ya siapa lagi yang suka nolong elo kalau lagi butuh bantuan.
Andra : π€ Elo baru sekali nolongin gue tau.
Cheeky : Emang kalau elo lagi galau curhatnya sama siapa?
Andra : Elo π€
Cheeky : Ya udah. Bener kan kata gue.
Andra : Kalau gitu gue tunggu elo di kamar ya. βΊοΈ
Cheeky : Siap, Nona. Tunggu ya.
Sepanjang jalan menuju kamar hotelnya, senyum merekah tak pernah lepas dari bibir Andra. Sampai nyaris saja kamarnya terlewatkan.
"Mas, aku masuk duluan ya," ujar Andra pamit pada Aydan.
"Oh, iya. Silakan. Aku juga mau ke kamarku di sana," jawab Aydan. Ponselnya sudah dimasukkan ke saku celana.
Andra segera masuk kamar hotelnya. Aydan melanjutkan langkah. Di dalam kamar, gadis itu merebahkan diri di atas kasur. Menghela napas lelah. Perasaannya berdebar-debar menantikan sosok Cheeky yang katanya akan datang ke kamarnya. Ia sudah tak sabar lagi dan begitu penasaran. Sambil menunggu teman misteriusnya, ia menghubungi sahabat dan ibunya. Mengatakan akan lebih lama sedikit di Bali.
Sepuluh menit kemudian, terdengar pintu kamar diketuk. Jantungnya langsung berdetak cepat. Ia gelisah. Cheeky sudah datang.
"Sebentar!" teriaknya.
Sebelum membuka pintu, Andra memastikan kalau rambut panjangnya sudah rapih. Begitu juga dengan pakaiannya. Ia memoles tipis-tipis bedak padat dan lipgloss di bibirnya. Setelah tampak sempurna, barulah ia membuka pintu dengan perasaan berdebar-debar lagi.
Pintu terbuka perlahan. Seorang pria tersenyum manis di sana. Andra terbelalak lagi melihatnya.
"Eh, ada apa, Mas?" tanyanya pada Aydan.
Seniornya itu malah melangkah masuk tanpa permisi sambil tersenyum tipis. Andra hanya bengong melihatnya masuk begitu saja. Lalu sebuah topi merah yang masih berada di atas meja diambil oleh Aydan. Topi itu langsung dipakainya di depan cermin. Ia tampak menawan dan makin keren dengan topi itu. Lalu Aydan tersenyum lagi pada Diandra sembari berkata, "topi gue ketinggalan."
__ADS_1
Mulut Andra ternganga melihat penampakan Aydan dengan topi merah itu. Jantungnya serasa mau lepas.
***