Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Kecurigaan Aydan


__ADS_3

Aydan mengetuk-ngetuk jarinya di meja. Pikirannya sedang tak menentu hanya gara-gara kiriman nasi kotak dari seseorang untuk Diandra semalam. Bahkan selama perjalanan bersama menuju kantor itu, tak ada obrolan yang nyambung. Ketika Andra bertanya tentang Kalina, Aydan hanya berdehem atau menjawab sekenanya. Membuat Andra bertanya-tanya.


"Jadi beneran nih Kalina sudah pulang kampung?" cecar Andra lagi.


"Hmmm."


"Syukur, deh. Taktik Widia memang keren. Pantes saja kamu gak tidur di mess lagi, Mas. Jadi barang-barang yang udah dikeluarkan dimasukkan lagi, dong?"


"Hmmm," jawabnya dengan tatapan mata lurus ke depan.


Andra mendelik keheranan dengan sikapnya. Seharusnya Aydan tampak antusias setelah kepergian pengganggu itu. Seperti dirinya yang merasa lega, tapi lelaki berkacamata itu malah banyak termenung.


"Wuah, Mas Aydan dan Mba Andra datang barengan," ujar satpam kantor begitu melihat keduanya keluar dari mobil yang sama di halaman kantor.


"Kebetulan motorku lagi bermasalah jadi nebeng," dalih Andra seraya tersenyum. Ia tak ingin satpam itu menaruh curiga, tapi Aydan malah menarik tangan Andra agar segera masuk. Si satpam terpana.


"Jangan tarik-tarik tanganku, Mas. Nanti pada curiga sama kita," tegur Andra keberatan.


"Emangnya kenapa?" Aydan balik bertanya dengan wajah kesal.


"Lha kok malah nanya kenapa?"


"Kamu harus fokus kerja. Jangan mikirnya macam-macam. Cepat selesaikan kerjaannya," tekannya setelah mengantarkan Andra ke bilik kerja.


"Justru sikapmu tadi yang bikin aku jadi  kepikiran, Mas. Ada apa, sih?" balas Andra.


Aydan tak merespon. Ia segera pergi dan masuk ke ruangannya. Andra hanya bisa mendesah pasrah. Tak mau ambil pusing, ia berusaha fokus mengerjakan pekerjaannya yang masih banyak itu. Belum lagi beban pekerjaan rekannya, Dika, dialihkan padanya. Rasanya kepalanya ingin pecah saja.


"Ini masih harus diperbaiki!" Tiba-tiba Aydan muncul di hadapannya sambil melemparkan kertas sketsa ke meja. Andra terperanjat.


"Eh, masih kurang bagus ya?"


"Baca saja coretanku di situ! Oh ya desain punya Bu Cintya surah dibenerin?" Aydan tampak serius.


"Belum. Aku lagi bikin konsep untuk FO punya Mas Erik. Kemarin dia bilang FO-nya mau ditambahin public space untuk disewakan juga. Terus bagian belakangnya ada...."


"Kapan dia minta perubahan itu?" tanya Aydan dengan nada agak tinggi. Membuat Andra tersentak.


"Ke-kemarin, Mas. Saat makan siang kami bertemu dan dia menjelaskan perubahan itu."

__ADS_1


"Kenapa baru bilang sekarang?"


"Ya karena baru ingat sekarang."


"Kenapa kamu gak ngajak aku, sih?"


"Kan, Mas Aydan sedang di apartemen ngurus Kalina. Mana sempat aku menunggumu pulang. Jadi aku pergi sendiri saja," dalih Andra merasa aneh dengan sikapnya yang seperti menginterogasi.


"Ya minimal kamu bilang dulu padaku. Aku kan bisa nyusul."


"Tapi urusanmu juga sedang banyak, kan? Aku gak mau ganggu kamu, Mas."


"Justru aku khawatir kalau kamu pergi sendirian ketemu klien. Apalagi klien laki-laki. Kalau dia macam-macam gimana?" protes Aydan.


"Aku bisa jaga diri, kok. Lagian Mas Erik gak ngapa-ngapain. Kita cuma ngobrol saja. Mana mungkin dia macam-macam di restoran," bantah Andra mulai kesal.


"Kebetulan saja ketemuannya di restoran. Bagaimana kalau di rumahnya? Bagaimana kalau di kantornya? Apartemennya?" desak Aydan mulai hilang kendali terbakar rasa cemburu berlebihan. Andra memicingkan mata. Menatapnya keheranan.


"Mas jangan lebay, deh! Dia itu teman baik kakakku. Mana mungkin dia akan bertindak macam-macam. Kalau itu sampai terjadi, aku gak akan segan-segan menghajarnya. Gini-gini juga aku pernah ikut ekskul karate waktu SMP," bentak Andra geram. Pertikaian kecil keduanya menarik perhatian rekannya kerja yang lain.


"Pokoknya kalau kamu ketemuan dengannya atau klien laki-laki lainnya harus denganku atau dengan rekan kantor yang lain. Gak boleh sendirian!" titah Aydan sambil berlalu.


"Demi kebaikanmu," tekan Aydan sebelum masuk ke ruangannya.


Andra mencebik dan makin merasa aneh. Tak biasanya lelaki itu bersikap posesif. Dari balik dinding kaca, Andra melihat seniornya itu begitu serius mengerjakan sesuatu. Apalagi saat Imam, sang CEO masuk dan membahas sesuatu. Wajah Aydan makin kusut. Beban pekerjaannya pastilah lebih berat dari Andra.


Jam kerja usai dan Aydan mengajak Andra pulang bersama. Mau menolak karena sungkan pun tak bisa. Meskipun lokasi kosan dan apartemen mereka saling berseberangan dan harus memutar jauh.


Setelah mengantarkan Andra ke kosan, rupanya Aydan tidak segera pulang. Ia berdiam diri sebentar untuk menerima telepon masuk yang ternyata dari ibunya.


"Dan, biar la jauh galak-galak berkabar samo kami (biar pun jauh sering-sering memberi kabar kepada kami)," ucap ibunya di seberang sana.


"Maaf," jawab Aydan lesu.


"Dio yang ngabarke kami tentang hutang kau (Dia yang mengabari kami tentang hutangmu)," sambung ibunya.


Aydan mendesah pasrah karena Kalina sudah mengadu tentang masalah hutang kartu kredit fiktif pada orang tuanya. Kini mereka khawatir.


"Emek, tenang sajo. Idak perlu bedesau. Aku ni cuma ecak-ecak. (Mama, tenang saja. Tidak perlu cemas. Aku ini hanya pura-pura), " ungkapnya.

__ADS_1


"Jangan galak ngawak, sius aku nih betanyo! (Jangan suka bohong, aku ini serius bertanya!)" hardik ibunya.


"Aku idak ngawak. (Aku tidak bohong)," tegasnya.


Akhirnya dengan terpaksa Aydan mengungkapkan masalah yang sebenarnya hanya pada ibunya. Mulai dari pertemuannya secara tak sengaja dengan Irvan di sebuah Mall, bahkan status dirinya yang sudah memiliki kekasih asli. Sampai akhirnya Kalina terbakar cemburu dan makin ingin mempercepat pernikahannya. Aydan menolak keras dan tetap ingin mencari kakaknya. Ia pun merasa risih jika gadis itu terus-menerus tinggal bersamanya di apartemen.


Obrolan itu menjeda saat matanya melihat seseorang pria menggedor pagar kosan Andra sambil membawa bingkisan. Tak lama seorang pria paruh baya membukakan pagar tersebut. Lalu bingkisan itu diserahkan pada pria penjaga kosan. Setelahnya ia bergegas pergi.


Tanpa berpikir panjang lagi Aydan segera keluar dari mobil dan menghampiri pria pembawa bingkisan. Setelah didekati, pria itu ternyata sepantaran dengannya.


"Mas, tunggu sebentar!" serunya.


"Ya. Ada apa?" sahutnya. Ia menghentikan langkah.


"Maaf, tadi bawa makanan bukan, ya?" tanya Aydan hati-hati. Ia tahu karena ada logo restoran di bungkus plastiknya.


"Iya betul. Mas mau pesan juga? Sekarang restoran kita bisa kirim makanan juga lho," ungkapnya ramah. Ternyata pria yang dicurigai Aydan sebagai pengiriman makanan misterius hanyalah kurir.


"Eh, boleh nanti. Tapi ngomong-ngomong tadi kirim buat siapa?"


"Buat Diandra, Mas," jawabnya tanpa curiga sedikitpun pada Aydan yang banyak bertanya.


"Oh, dia suka beli makanan ke restoran situ, ya?"


"Nggak, Mas. Yang pesan bukan dia, tapi orang lain."


"Bisa ya kirim makanan buat orang lain?"


"Bisa, Mas. Sekarang kirim buat siapa pun ke mana pun dari restoran atau warung apa saja bisa. Selama ada di aplikasi. Pesannya juga lewat aplikasi khusus orderan makanan namanya...."


"Oh begitu. Nanti aku lihat di aplikasi, tapi tadi kiriman dari siapa kalau boleh tahu." Aydan memotong penjelasan kurir makanan itu.


"Aduh, sebenarnya itu rahasia," jawabnya ragu.


Aydan segera memberikan uang beberapa lembar padanya. Pria itu tersenyum paham.


"Yang ngirim makanan tadi atas nama Erik," ungkapnya.


Seketika Aydan terperanjat. Kecurigaannya sejak kemarin ternyata benar. Erik menaruh perhatian lebih pada kekasihnya, Diandra. Ia kembali teringat saat Erik menatap Andra dengan sorot mata yang berbeda selama berbicara. Perasaannya jadi makin khawatir. Aydan merasa harus melakukan sesuatu sebelum terlambat.

__ADS_1


༺༻


__ADS_2