
Aydan terlihat gelisah di depan ruang periksa dokter kandungan. Dia hilir mudik sejak tadi. Andra yang ikut menemaninya ke klinik kandungan pun ikut khawatir sejak Kalina mendadak pingsan di kantor dan segera dibawa ke klinik kesehatan. Ia jadi merasa bersalah, tapi bukan kehendaknya juga kalau keadaan jadi seperti ini. Tak lama kemudian seorang perawat menyuruhnya untuk masuk. Sebelum masuk, pria itu sempat menoleh ke Andra untuk meminta izin.
Selama beberapa menit menunggu, akhirnya Aydan dan Kalina keluar. Wajahnya pucat dan ia tampak sedih. Aydan merangkul bahunya dan memintanya untuk duduk di ruang tunggu bersama Andra. Sementara dia sendiri pergi ke apotek untuk menebus obat dan membayar biaya dokter.
Kalina tertunduk lesu. Ia tak sadar ada Andra di sebelahnya yang memperhatikannya sejak tadi. Hatinya masih terguncang. Ia mengelus-elus perutnya yang belum terlalu besar.
"Aku menyesal," gumamnya.
Andra mendelik tak mengerti.
"Aku bodoh," ucapnya lagi. Sebulir air mata langsung jatuh menetes di pangkuan.
"Kalina ... kandunganmu baik-baik aja, kan?" tanya Andra cemas.
"Seandainya aku gak jatuh cinta pada orang yang salah. Mungkin aku gak akan bernasib malang seperti ini," ujarnya lagi seolah sedang berbicara sendiri.
"Kalina ...," ucap Andra sedih mendengarnya bicara sendiri seperti orang gila.
"Kal, a-aku mau minta maaf udah bikin kamu shock. Sumpah deh. Aku gak ada maksud untuk merebut Aydan. Hanya aja aku cuma ...."
"Cinta? Kamu jatuh cinta, kan?" tebaknya dengan mata menerawang ke lantai. Andra terkesiap ternyata ia menyimak omongannya.
"Aku juga. Aku jatuh cinta pada Bang Aydan," sambungnya.
"Tapi ... katanya kamu sebenarnya pacarnya Bang Irvan?"
"Dulu iya. Dulu aku jatuh cinta pada Bang Irvan. Dulu dua kakak beradik itu selalu baik dan perhatian padaku. Aku seperti ratu bagi mereka. Banyak cewek-cewek yang iri denganku karena bisa dekat dengan dua bersaudara yang sama-sama cakep itu. Diantara keduanya, aku paling suka sama Bang Irvan yang selalu ramah, jago olahraga, dan enak diajak bicara. Aku tergila-gila padanya. Sampai aku nekat menyatakan cinta dan ternyata dia mau pacaran denganku. Saat itu aku pikir Bang Irvan juga menyukaiku seperti aku menyukainya," papar Kalina lesu. Andra diam mendengarkan.
"Tapi seiring waktu, aku baru tahu ternyata Bang Irvan punya banyak teman cewek. Semuanya mengaku pacar. Aku jadi cemburu buta dan marah. Aku merasa dikhianati. Aku pikir dia setia ternyata selingkuh di mana-mana." Kalina terisak-isak teringat rasa sakit itu semua.
"Berbeda dengan Bang Aydan yang sedikit pendiam dan lebih suka membaca buku. Dia selalu menjaga jarak dengan cewek-cewek. Teman ceweknya juga cuma sedikit. Waktu itu aku gak terlalu tertarik dengannya. Dia seperti kutu buku. Di mataku Bang Irvan lebih keren," sambung Kalina.
Andra jadi ingat saat-saat bertemu dengan seniornya itu di perpustakaan kampus. Aydan memang sering mojok di perpustakaan untuk membaca buku sendirian.
"Saat hubunganku dengan Bang Irvan sudah gak karuan, putus nyambung berkali-kali, aku takut ditinggalkan olehnya. Aku gak rela dia jadi milik cewek lain. Sampai suatu hari aku punya ide untuk mengikat dia selamanya."
"Mengikat dia?" tanya Andra jadi makin antusias.
"Iya. Aku harus mengandung anaknya. Biar dia terpaksa menikahiku," ungkap Kalina dingin. Andra tersentak mendengar pengakuannya.
"Kalina! Kamu enggak sengaja kan?" Andra berharap bahwa kehamilan gadis yang usianya lebih muda darinya itu karena suatu kekhilafan semata.
Sayangnya, Kalina hanya tersenyum misterius. Membuat Andra jadi makin bertanya-tanya dan penasaran. Ia mencoba untuk menanyakan maksudnya apa, tapi Kalina enggan menjawab. Sampai Aydan datang dan membawa Kalina pulang.
Andra hanya bisa terpaku menatap kekasihnya pergi bersama perempuan aneh itu. Tiba-tiba ia pergi menyusul Aydan ke parkiran.
"Mas, tunggu!" seru Andra cepat.
"Ada apa?" tanya Aydan. Ia sudah masuk ke mobil. Kalina sendiri duduk di belakang.
"Aku ikut ya. Aku khawatir dengan Kalina," ungkapnya.
__ADS_1
Kalina terkejut dengan permintaan Andra. Termasuk Aydan. Awalnya gadis itu menolak secara halus dengan mengakui bahwa dia akan baik-baik saja jadi Andra tak perlu ikut mengantar. Tentu saja ia tak mau ada perempuan lain bersama Aydan di apartemen itu. Namun, Andra bersikeras untuk ikut, akhirnya Aydan mengizinkan dan Kalina hanya bisa mendengkus kasar.
Setibanya di apartemen, Kalina makin menunjukkan bahwa ia tidak suka jika Andra ikut bersamanya. Beberapa kali ia menepis bantuan Andra untuk memapahnya turun dari mobil. Sebenarnya ia berharap Aydan yang melakukannya, tapi Andra lebih dulu melakukannya sebelum Aydan yang bertindak.
"Aku bisa sendiri. Aku gak lumpuh ya," protesnya sambil keluar dari mobil.
Andra hanya bisa terkikik diam-diam menyaksikan kejengkelannya. Begitu tiba di apartemen Aydan, Kalina langsung masuk kamar tidur dengan wajah kesal.
"Andra, kamu enggak apa-apa?" tanya Aydan merasa aneh dengan sikapnya. Seharusnya perempuan itu cemburu dan bersyukur karena Kalina sakit. Bukannya malah ikutan khawatir dan menemaninya pulang.
"I'm fine. I just feel sorry for her," ungkap Andra.
"Kasihan sama dia? Yang bener?" Aydan menautkan kedua alisnya tak percaya.
"Pokoknya aku paham bagaimana rasanya tidak diinginkan oleh pasanganmu. Soalnya aku pernah. Dan, itu gak enak banget. Jadi, aku merasa kasihan padanya."
"Kamu ini aneh. Tadi kesel dan cemburu banget sama dia. Sekarang malah kasihan."
Andra terkekeh-kekeh. Yang pasti dia tahu, Aydan lelaki terbaik yang ia harapkan selama ini dan ia yakin Aydan tidak akan mencampakkannya seperti Nathan walaupun kini ada Kalina.
Ia menggandeng lengan Aydan manja dan mengajaknya kembali ke kantor. Keduanya pamit pada Kalina di depan pintu kamarnya. Kalina yang sedang berbaring tak menyahut. Ia membuang muka dan menahan kekecewaannya lagi. Rencananya gagal untuk mendapatkan rasa iba Aydan.
Bukannya berhasil mengakhiri hubungan Aydan dan Diandra, tapi malah makin membuatnya dekat dan menunjukkan kemesraan mereka di depannya.
"Sialan! Sialan! Sialan!" umpatnya geram sambil memukul-mukul bantal.
Sesampainya di kantor, para karyawan langsung menanyakan keadaan Kalina dan hubungan antara Aydan dan Andra. Keduanya kompak untuk tutup mulut. Kecuali soal keadaan Kalina yang baik-baik saja. Tidak sampai keguguran.
***
Ia yang sedang banyak pekerjaan jadi bingung. Apakah sebaiknya tetap pulang atau mengaku tak bisa pulang lagi?
Apalagi kehadiran Kalina yang masih saja belum berhasil disuruh pulang. Membuatnya selalu khawatir.
"Mas, kalau kucing dikasih ikan asin selalu gampang kepancing ya?" celetuknya tiba-tiba di dalam mobil.
"Kenapa tiba-tiba nanyain ikan asin dan kucing? Kamu pelihara kucing di kosan?"
"Bukaaaan. Ini pengandaian kalau cowok disodorin cewek apakah begitu mudah tergoda?" papar Andra.
"Maksudnya?" Dahi Aydan mengernyit.
"Duh, kayak gitu aja gak paham." Andra mendengkus kesal.
Aydan malah terkikik. "Ceweknya kayak gimana dulu? Kalau burik ya aku juga gak maulah," sahut Aydan terkekeh-kekeh.
"Yeee .... Bukan gitu. Maksudnya ... gimana ya?" ujar Andra kebingungan sendiri. "Kalau misalkan cewek menggoda cowok biar mereka ehem-ehem gitu, Mas," terang Andra merasa risih.
"Ehem-ehem?" Sekali lagi tampang Aydan seperti orang bodoh.
Dengan kesal akhirnya Andra berbisik-bisik untuk menjelaskan. Seketika wajah Aydan langsung merona.
__ADS_1
"Emangnya kamu mau aku begitu?" tanyanya tak percaya dengan mata melotot.
Tanpa basa-basi sebuah tabokan keras mendarat di bahunya. Aydan langsung meringis kesakitan. "Auw! Sakit, Yang."
"Sembarangan aja! Aku gak mau kayak gitu. Ini aku ceritanya mau survey. Bener gak sih cowok kalau digoda cewek jadi langsung lupa diri dan napsuan gitu?" bentaknya kesal.
"Ooh survey. Ngomong dong dari tadi. Ya ada benarnya juga, sih, tapi sebenarnya tergantung dari kadar keimanan cowok itu. Jangan kan lihat cewek seksi, lihat cewek yang tertutup aja kadang-kadang ada cowok yang masih tergoda, kok."
"Kok bisa?"
"Ya itulah. Tergantung cowoknya."
"Pantesan aja. Terus kalau Mas sendiri gimana? Bakalan tergoda gak sama Kalina?" cecar Andra begitu antusias.
"Ya ampun. Jadi maksudnya ini? Kamu masih khawatir soal dia?"
"Ya iyalah. Aku takut ada setan lewat pas kalian berduaan di apartemen. Apalagi kan gak ada yang ngawasin. Udah gitu, tadi Kalina cerita sesuatu sama aku. Sumpah aku gak nyangka dia nekat melakukan hal bodoh itu," ungkap Andra semangat bercerita dan merasa heran.
"Melakukan hal bodoh apa?" Satu alis Aydan terangkat ke atas.
Ucapan Kalina di klinik tadi diceritakan kembali oleh Andra. Mulanya Aydan sedikit kaget, lalu ia termenung memikirkan sesuatu. Ia menghela napas dan malah terlihat biasa saja. Hal itu justru membuat Andra keheranan.
"Kok Mas begitu, sih? Jangan-jangan mereka sudah biasa ya ehem-ehem?" tebaknya.
"Bukan. Bukan begitu. Bang Irvan sebenarnya gak pernah benar-benar cinta sama Kalina. Kami berdua hanya menganggapnya sebagai adik dan Bang Irvan hanya berpura-pura saja cinta sama dia. Soalnya dia gak enak sama ayahnya Kalina kalau nolak anak cewek satu-satunya. Bang Irvan takut sampai membuat hubungan akrab orang tua kami jadi renggang. Makanya Bang Irvan selalu memperkenalkan banyak teman ceweknya sebagai selingkuhannya. Tujuannya cuma satu biar diputusin Kalina," ungkap Aydan.
Andra terperangah mendengarnya. "Terus?"
"Ya sepertinya Kalina mulai sadar dan jadi terobsesi dan posesif dengan Bang Irvan. Dia gak mau pisah dan gak mau ada cewek lain yang dekat dengannya. Sampai akhirnya tahu-tahu Kalina hamil. Bang Irvan diminta untuk bertanggung jawab dan menikahinya segera. Sayangnya, dia malah kabur ke Jakarta," lanjut Aydan kecewa.
"Dan kamu terpaksa menggantikan posisi dia," imbuh Andra sebal.
Obrolan itu membuat perjalanan pulang jadi tak terasa dan tiba-tiba mobil Aydan sudah sampai di kosan Andra.
"Jadi beneran Kalina duluan yang menggoda Bang Irvan?" Andra melanjutkan obrolannya lagi.
"Mungkin. Bang Irvan cuma bilang kalau dia dijebak, tapi aku gak tahu yang sebenarnya. Karena pada dasarnya Bang Irvan memang suka main-main juga sama cewek. Walaupun setahuku gak pernah sampai sejauh itu."
"Ih ngeri juga si Kalina. Sampai segitunya ingin memiliki Bang Irvan. Eh, tapi sekarang dia malah jadi suka denganmu, Mas. Gimana dong?" Andra tampak frustasi.
"Tenang aja, sih. Aku gak akan tergoda dia, kok. Aku maunya cuma sama kamu, tapi nanti kalau kita udah nikah ya," ucap Aydan lembut sambil membelai rambut panjang Andra.
"Setan itu pantang menyerah, Mas. Aku aja suka deg-degan kalau berduaan denganmu. Apalagi tadi pas di gudang arsip. Nakal banget, sih." Andra mencubit gemas paha Aydan. Pria itu mendesis perih.
"Aih, jadi kepikiran lagi soal kalian berdua. Oh iya. Gimana kalau kamu pindah aja ke kosan di sebelah? Itu kosan cowok. Biar Kalina tetap tinggal di apartemen atau bilang saja apartemennya mau diambil kantor. Biar dia pulang," usul Andra.
"Tapi dia sudah terlanjur tahu kalau apartemen itu milikku? Bukan punya kantor," ungkap Aydan.
"Hah?! Jadi itu bukan fasilitas kantor?" Andra memekik tak menyangka jika apartemen mahal itu milik seniornya. Sementara Aydan menggeleng apa adanya.
***
__ADS_1