
Andra mengutuk diri sendiri seandainya saja kakinya bisa berjalan lebih cepat dan segera sampai ke tempat parkir hingga ia bisa cepat pergi dari acara itu yang ternyata sudah membuatnya malu setengah mati.
Kini ia berdiri mematung dengan begitu banyak pasang mata memperhatikannya. Seolah mendukung permintaan Agung Bramantyo, orang yang belakangan ini mengirimkan berkotak-kotak cokelat dan bunga mawar merah.
Ia tak menduga sama sekali lelaki itu akan datang ke acara kampusnya dan membuat kehebohan dengan maksud ingin menyatakan cinta. Sungguh konyol. Pikir Andra kesal.
Apalagi ada Aydan yang juga ikut memandanginya dengan tanda tanya. Andra makin geram dan juga malu. Ingin rasanya mendadak menghilang andaikan ia bisa melakukan trik sulap seperti di televisi.
"Ayo Andra maju!" teriak seseorang penuh semangat.
Ia melirik ke asal suara yang ternyata teman satu angkatannya bernama Merry yang mengompori. Disusul teriakan berikutnya dari teman satu geng. Lalu teriakan lain dari mahasiswa angkatan atas dan para juniornya yang terpancing untuk memberinya perintah naik ke atas panggung.
Kaki Andra seperti berat untuk melangkah. Bukan untuk naik ke atas panggung, tapi melanjutkan langkahnya ke tempat parkir dan kabur. Ia celingukan mencari kedua sahabatnya. Memanggil mereka meminta bantuan.
Sayangnya, belum sempat mereka datang ke tempat Andra berdiri, seorang panitia inagurasi sudah menuntutnya untuk maju ke atas panggung. Andra berusaha menolak, tapi panitia lain ikut merayu dan mengajaknya naik. Apalagi suara tepuk tangan makin banyak terdengar. Agung pun mengulangi kembali permintaannya mengajak Andra menyusul dirinya di atas sana.
"Diandra Rahayu, sudikah dirimu naik kemari bersamaku?" pintanya dengan lembut.
Dengan perasaan gondok dan sangat terpaksa, akhirnya ia naik juga ke atas panggung. Kini ia jadi pusat perhatian sepenuhnya. Orang yang tadinya tak bisa melihat dia karena jauh, sekarang bisa melihat jelas siapa Diandra Rahayu itu.
Sang MC tampak senang ketika Diandra akhirnya mau naik ke panggung. Begitupun dengan Agung yang wajahnya sumringah. Jauh berbeda dengan perasaan Andra yang tegang dan menahan malu. Dari atas sana ia bisa melihat kedua sahabatnya yang bukannya mencemaskan dirinya malah terkekeh-kekeh.
'Kurang ajar! Pasti ini salah satu keusilan mereka nih,' sungutnya sebal.
Bukan cuma posisi sahabatnya yang jelas terlihat, sosok Aydan pun tampak sedang mengarah padanya dengan sorot mata yang serius. Ia tidak tersenyum merasa lucu seperti yang lainnya. Tidak juga terlihat kesal karena acara jadi berhenti sesaat. Ia terlihat seperti mencemaskan dirinya. Kalau Andra tidak salah duga.
"Jadi ini yang namanya Diandra Rahayu?" tanya si MC pria pada Agung.
"Iya benar. Karena dialah aku memberikan diri hadir di sini, Mas," jawab Agung. Senyumnya tak juga pudar.
'Siapa sih dia? Kok bisa-bisanya kenal gue?' batin Andra heran.
Padahal dia merasa jarang sekali main ke kampus bawah. Bahkan tidak punya teman dari anak Fakultas Ekonomi, kecuali saat KKN pernah satu grup dengan anak jurusan Akuntansi.
"Oke kalau gitu. Waktu dan tempat dipersilakan," ujar si MC senang karena adanya jadi makin seru.
Mikrofon diberikan pada Agung. Lelaki itu kini menatap Diandra yang gelisah. Matanya berbinar-binar ditambah senyumnya begitu lebar. Nampak jelas sekali jika lelaki itu begitu menyukainya. Ingin sekali rasanya ia mengambil mikrofon itu lalu menimpuk wajahnya dan kabur seribu langkah.
"Diandra, mungkin kamu masih belum mengenal siapa aku. Mungkin aku masih asing bagimu. Tapi jujur saja selama beberapa Minggu ini aku selalu memperhatikan dirimu. Mungkin kamu bingung, bagaimana aku bisa mengenalmu kan?" ungkap Agung.
Andra langsung mengangguk.
"Ingat gak dulu kamu pernah datang ke kampus bawah? Makan di kantin sana bareng dua temanmu?"
__ADS_1
Andra mengerling berusaha mengingat. "Iya rasanya pernah entah sekali atau dua kali."
"Nah, itu dia. Saat itulah aku pertama kali melihatmu. Rasanya seperti langsung terpanah cupid," ungkapnya lagi dengan senyum begitu seperti di iklan pasta gigi.
Sontak saja suara "Cieeee ...." dan "Cuit ... cuit ...." bergema di udara dari para mahasiswa di bawah sana. Membuat Andra semakin malu dan ingin masuk ke bumi saja.
"Jadi mau elo apa sekarang?" desak Andra kesal.
"Mau aku? Ya jelas aku mau lebih dekat lagi. Lebih akrab lagi. Lebih saling mengenal satu sama lain dan bicara dari hati ke hati."
"Sorry, gue gak ada waktu melakukan hal bodoh semacam itu. Gue mau fokus kuliah dan lulus cepat. Ngerti kan maksud gue?" tekannya tak main-main.
"Oke gak masalah. Kita bisa bicarakan lebih lanjut," bisiknya tanpa mikrofon di mulut.
Andra mengernyitkan dahi.
"Well, Mas Agung. Jadi kapan nih nembaknya? Dari tadi malah asyik ngobrol sendiri. Acara jalan terus nih," ujar si MC tak sabar.
"Sebentar, Mas. Mau tarik napas dulu."
Dalam satu tarikan napas dan hembusan, akhirnya Agung siap berbicara lagi. Ia tampak aneh di mata Andra walaupun tampangnya tidak cukup memalukan dijadikan teman kondangan.
"Ehemmm ... Diandra ... dalam acara inagurasi kampusmu ini, ijinkan aku menyatakan perasaanku padamu. Dengan puluhan mata menjadi saksinya." Agung melempar pandangan ke arah penonton. Mereka menyorakinya bak artis dadakan.
"Dian ... mau gak kamu jadi belahan hati seorang Agung Bramantyo yang memujamu diam-diam selama ini?" ungkapnya dengan jantung berdebar-debar.
Lalu ungkapan itu mendapatkan teriakan dan sorakan yang beragam dari penonton.
"Cuit ... cuit ...."
"Udah terima aja. Lumayan daripada jomblo terus."
"Jangan mau sama anak ekonomi nanti pacarannya serba perhitungan pake hukum ekonomi. Hahaha ...."
"Andra terima aja! Itung-itung punya temen buat nemenin makan malam. Bisa ditraktir kalau lagi tanggung bulan. Hihihi ...."
"Atau patungan beli makan kalau lagi bokek. Hahaha ... Pengalaman gue, nih."
"Kalau dia punya motor buat ojek gratis. Huahaha ...."
Dan, masih banyak lagi saran konyol dan tanggapan dari mereka di telinganya yang makin kabur terdengar. Ditambah sakit kepalanya makin menjadi. Andra migrain. Matanya berkunang-kunang. Semalaman dia lembur dan baru tidur hanya dua jam.
Menyadari sikap calon kekasihnya yang malah termenung, Agung mengulanginya lagi. Hingga terpaksa ia menepuk bahu Andra yang bengong.
__ADS_1
Gadis itu tersentak. Wajah lelaki di depannya terlihat seperti kembar. Ada dua Agung di sana. Dua-duanya berbicara dengan suara yang tak jelas.
"Diandra ... kamu dengar aku kan?"
"Sorry. Gue ... gue gak bisa nerima elo. Gue ... gak mau ngejilat ludah gue sendiri," ucapnya lirih sambil menahan nyeri di sebelah mata.
"Apa?" Agung berharap ia salah mendengar.
"Sorry. Gue ... gak bisa," tekan Andra lebih kencang lagi.
Sejurus kemudian gadis berambut panjang itu lari menuruni tangga tergesa-gesa. Meninggalkan Agung yang tercengang di panggung. Wajah kecewanya terlihat jelas. Seruan penonton yang kecewa pun terdengar bersahutan. Termasuk Widia dan Ivane.
Kerumunan mahasiswa diterabasnya. Tak peduli mata mereka memperhatikannya terus. Ia masih tetap jadi pusat perhatian akibat ulah Agung yang konyol. Ia ingin segera pergi ke kostan dan tidur. Melupakan kejadian memalukan itu. Selamanya.
Namun, migrain di kepalanya semakin terasa berdenyut-denyut di belakang mata kanan. Seperti tertusuk belati berkali-kali. Nyeri.
"Dian, kamu mau ke mana? Jangan pergi dulu!" teriak Agung mengejarnya.
Langkahnya dipercepat. Sialnya begitu sampai tempat parkir, ia lupa di mana menaruh motor. Ada begitu banyak motor yang terparkir di sana. Matanya tak bisa melihat dengan benar. Sementara Agung terus mengekor.
Kesal tak kunjung menemukan motor itu akhirnya ia memilih pulang jalan kaki ke luar kampus. Menunggu angkot yang lewat dengan kekesalan masih terasa. Agung berhasil mengejar. Ia mencengkram lengannya.
"Dian? Apa kamu marah padaku?"
"Lepasin tangan elo!" Ditepis kasar tangan lelaki itu.
"Apa salahku, Dian? Apa aku terlalu terburu-buru?"
"Bukan! Elo yang gak paham maksud gue tadi. Sekarang gue mau pulang. Please deh jangan ngikutin gue terus!"
Nampaknya Agung tak mau peduli atau tidak paham bagaimana keadaan Andra saat itu. Bahkan ketika gadis itu berjalan cepat meninggalkan tempatnya, Agung pun masih mengikuti. Rasa kesalnya berubah jadi kemarahan. Mulanya ia memaklumi sikap jantannya yang konyol di depan orang banyak, tapi kini kegigihan Agung justru mengganggunya.
Agung terus berceloteh di belakang walaupun Andra acuh tak acuh. Hawa panas dan teriknya matahari makin menyulut emosinya. Ditambah angkutan umum yang tak juga datang. Nyeri di kepala nyaris saja membuatnya tumbang hingga seseorang menyelamatkannya.
"Ada yang butuh tumpangan?"
Tiba-tiba sebuah motor sport berhenti di samping Andra. Motor sport berwarna merah dan hitam. Pengemudinya melepas helm full face dan muncullah wajah yang tak asing lagi. Aydan. Pemuda itu tersenyum menyapanya.
Andra dan Agung terperanjat.
***
Berhubung authornya emak zaman old, jadi latar kisah ini terjadi tahun 2005 - 2008 ya.
__ADS_1