
"Elo ngapain di sini, Bro?" tanya Imam curiga pada mantan teman kuliahnya itu.
"Enggak ngapa-ngapain. Cuma lagi diskusi aja soal kerjaan," kilah Aydan. Ia mengedipkan sebelah mata pada Andra yang tersenyum malu.
"Awas ya. Jangan macam-macam sama anak gadis orang!" tegur Imam khawatir.
"Tenang aja. Paling aku cuma cium doang," akunya seraya terkikik.
"Eh, dasar!" Imam menjitak kepala Aydan.
"Hati-hati yang ketiganya setan, lho," imbuh Yuda juga cemas.
"Udahlah. Kalian kalau mau pulang, pulang aja sana. Aku gak bakalan macam-macam sama Diandra, kok. Kalau mau sih udah dari dulu kali," ungkapnya sebal karena makin terganggu.
Lantas kedua rekan kerjanya itu diusir paksa oleh Aydan. Walaupun Imam sebenarnya khawatir meninggalkan satu-satunya karyawan perempuannya dengan Aydan yang ia tahu sudah bertunangan itu.
"Mas Imam, kayaknya mereka berdua ada 'main' ya?" tebak Yuda di dalam lift.
"Gak tau juga."
"Bukannya Mas Aydan itu punya tunangan?" selidiknya lagi.
"Ngakunya sih gak punya tunangan, tapi gak tau, deh," jawab Imam masa bodoh.
"Tapi, Mas. Kalau mereka ngapain di kamar hotel gimana?" Yuda tampak begitu khawatir.
"Ah, sudahlah. Itu urusan mereka, Yud. Aku yakin kalau Aydan bukan lelaki brengsek," bela Imam. "Ayo buruan nanti ketinggalan pesawat!"
Pintu lift terbuka. Keduanya buru-buru ke lobi hotel. Mobil jemputan di depan sudah menunggu.
***
Lega benar rasanya saat kedua pengganggu itu akhirnya pergi. Aydan kembali mengajak Andra duduk di atas kasur dan berniat melanjutkan aksinya. Namun, Andra mengalihkan perhatiannya.
"Kita jalan-jalan ke pantai yuk!" usulnya.
"Enggak, ah. Aku mau berduaan aja sama kamu. Tau gak? Aku sebenarnya kangen banget sama kamu dari dulu," ungkap Aydan blak-blakan.
"Gombal dan modus. Padahal hampir tiap hari ketemu di kantor," ejeknya.
__ADS_1
"Di kantor kan urusannya kerjaan. Aku gak bisa ngapa-ngapain kamu."
"Emangnya aku mau diapain? Ngeri amat." Andra bergidik takut.
"Jangan mikir macam-macam dong. Aku gak mungkin sebrengsek itu. Pokoknya sejak kita pisah, aku selalu kangen saat bersama kamu."
"Ya udah kalau gitu kita pergi jalan-jalan aja, yuk! Aku lapar nih. Pengen lihat pantai pas malam hari," ajak Andra. Ia khawatir berduaan terlalu lama di kamar hotel dengan pria idamannya bakal membawa masalah.
Akhirnya Aydan setuju. Ia menggandeng mesra tangan Andra. Keduanya segera pergi ke Pantai Sanur. Menikmati kebersamaan mereka seperti dulu saat kuliah dengan keadaan yang sedikit berbeda. Keduanya resmi menjalin kasih. Meskipun Andra meminta untuk merahasiakannya dari teman-teman kantor nanti.
Setelah makan di sebuah restoran kecil di pusat kota, Aydan dan Diandra pergi ke Pantai Sanur pada malam harinya. Keduanya duduk di pinggir pantai di atas pasir. Menatap dan mendengarkan deburan ombak. Suasananya lebih tenang dibandingkan siang hari yang ramai. Udara dingin menerpa kulit. Aydan memeluk tubuh Andra ketika gadis itu mengusap-usap lengannya.
"Dingin ya?" tanya Aydan.
"Sedikit," jawab Andra.
"Kamu senang gak?"
"Mas sendiri?"
"Ditanya malah nanya balik. Gimana, sih?"
"Ya aku senanglah. Masa enggak. Ini hari yang paling aku tunggu selama ini," ungkapnya lembut.
Andra tersenyum bahagia. Ia merebahkan kepalanya ke bahu kiri Aydan.
"Tau gak? Tadinya aku udah pasrah kalau Mas Aydan ternyata gak berjodoh denganku. Saat tau Mas udah pakai cincin tunangan, rasanya kok nyesek banget," ungkap Andra lirih.
"Sorry. Aku lupa melepaskan cincin itu di depanmu selama ini. Baru sadar saat acara nobar itu."
"Tuh kan. Ngakunya itu bukan cincin tunangan. Bohong," rengek Andra sebal.
"Dengarkan penjelasanku dulu. Sebenarnya aku hanya menggantikan sementara posisi Bang Irvan. Hari di mana seharusnya dia bertunangan dengan Kalina, lelaki pengecut itu malah pergi diam-diam," papar Aydan.
"Kenapa harus kamu, Mas? Yang menghamili Kalina kan dia?" protes Andra keberatan.
"Cuma untuk menyelamatkan situasi saat acara itu aja awalnya, tapi orang-orang malah berpikir kalau aku calon suaminya yang sesungguhnya. Dan, makin ke sini Kalina makin ingin segera dinikahi olehku. Dia sudah menyerah dengan Bang Irvan. Perutnya juga semakin terlihat membuncit," terang Aydan sedih.
"Lalu orang tuamu sendiri gimana?" Andra mengangkat kepalanya menghadap Aydan yang terlihat sedih.
__ADS_1
"Mereka gak bisa apa-apa. Yang pasti merasa malu banget. Apalagi orang tua Kalina sudah sering membantu keluarga kami. Papaku hutang budi dengan papa Kalina."
"Tapi masa mereka mau mengorbankan kebahagiaanmu sih, Mas? Gak bisa gitu dong!" protes Andra kecewa.
"Karenanya aku minta bantuanmu untuk menemukan Bang Irvan," tekan Aydan.
"Oke siap. Seperti apa dia? Ada fotonya?"
Ponsel di saku celana Aydan dikeluarkan. Sebuah foto dengan dua pria dan satu wanita ditunjukkan oleh Aydan. Dalam foto itu ada Aydan di sebelah kanan, Kalina di tengah, dan pria yang wajahnya tak jauh berbeda dengan Aydan ada di posisi kiri. Hanya saja dia tidak memakai kacamata. Dialah Irvan Saskara.
"Kami bertiga sebenarnya sudah dekat sejak remaja. Rumah kami pun tidak jauh. Karena hubungan kedua orang tuaku dengan orang tua Kalina makanya kami bisa akrab," papar Aydan. Matanya menerawang ke arah laut malam.
"Tapi aku dan Bang Irvan itu berbeda. Dia suka bermain-main. Termasuk urusan cewek. Sementara aku sebaliknya. Aku ini tipe setia, lho," aku Aydan seraya tersenyum.
"Masa?" Andra terkikik.
"Buktinya selama ini aku masih nungguin kamu, kan?" Dia mendongakkan kepalanya ke atas sambil tersenyum percaya diri.
"Iya deh. Percaya sekarang," balas Andra sembari membalas senyumannya.
Rambutnya yang tertiup angin dirapihkan oleh lelaki itu ke belakang telinga.
"Jadi ...?" Satu alisnya terangkat.
"Jadi? Maksudnya?" tanya Andra tak mengerti.
"Jadi ibumu udah gak ngelarang kamu buat pacaran lagi, kan?"
"Enggak, tapi bukannya katamu gak mau pacaran ya? Mau langsung ngelamar aja gitu?" Andra mengingatkan pengakuan Cheeky.
"Kamu mau aku lamar secepatnya ya?" goda Aydan. Andra tersenyum malu.
"Tenang aja. Aku juga maunya sih begitu, tapi aku harus menemukan dulu Bang Irvan. Lalu memaksa dia bertanggung jawab soal Kalina. Baru setelah itu aku akan melamar gadisku seperti di chatting kita. Tolong bantu aku ya!" Ia mencubit gemas dagu Andra yang kini wajahnya bersemu.
"Ah, sekarang aku jadi berubah pikiran lagi. Gak pengen cepat-cepat pulang ke Jakarta," gumam Andra.
Ia begitu menikmati kemesraannya dengan senior pujaan hatinya selama ini Setelah bertahun-tahun terpisah. Menunggu dan berharap Aydan akan tetap sama menyukainya. Meski sempat salah paham, akhirnya semua rasa rindu dan cintanya terbayar sudah.
Angin laut yang dingin membuat bulu kuduknya berdiri. Andra mengusap-usap lagi lengannya. Aydan kembali memeluknya agar tetap hangat. Kali ini disertai dengan kecupan manis di bibirnya secara tiba-tiba. Andra terkesiap. Perasaannya berdebar-debar hebat. Yang awalnya kecupan itu hanya sebentar. Namun, lelaki itu malah mengulanginya lagi dan terasa lebih lama dari semestinya. Tak peduli angin dingin yang mengusik. Keduanya hanyut dalam kebahagiaan yang sempat lama tertunda itu.
__ADS_1
***