Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Rumor 1


__ADS_3

"Buku gue dibalikin langsung. Padahal bisa aja dia nitipin ke teman. Nasi Padang dibeliin sampe ada minuman dan buahnya segala. Apa maksudnya coba?" gumam Andra sendiri di kamarnya.


"Saat yang lain pada cuek waktu gue turun dari tangga sambil nahan sakit, eh, dia malah nawarin tumpangan. Kebetulan lewat atau emang sengaja nyusul gue sih?"


Sejak tadi Andra ngomong sendiri di kamarnya. Di depan cermin dia berkaca berkali-kali. Apakah begitu jelas terlihat kalau wajahnya pucat saat itu? Mengingat kulit wajahnya yang memang sudah putih bersih tanpa noda kecuali saat ini yang mendadak berjerawat karena hormon testosteron yang meningkat.


Dirabanya detak jantungnya yang belakangan ini jadi sering menggila akibat ulah Aydan. Padahal lelaki itu mungkin saja hanya bersikap normal pada umumnya. Entah Andra yang kelewat baper atau memang dia yang sudah terlalu lama menyendiri.


Mendadak ia ingin bercerita tentang kejadian tadi pada teman online-nya. Tak peduli hari sudah larut malam, Andra tetap pergi ke warnet yang kebetulan selalu buka 24 jam selama seminggu. Ia mengambil kunci motor dan bergegas pergi ke garasi.


Eh, tunggu dulu. Dia lupa kalau motornya masih ada di tempat parkir kampus. Andra langsung lari ke depan. Mencari teman kost untuk mengantarkannya ke kampus, tapi begitu ke garasi untuk mengambil motor teman, ternyata motornya sudah nangkring di sana.


"Nah, itu motornya sudah ada yang balikin, Mbak," tunjuk teman kostnya.


"Ho oh. Kok udah ada di sini ya? Siapa yang bawa kemari?" tanyanya bingung.


Tak mau ambil pusing soal motornya, ia langsung pergi ke warnet sebelum hari semakin malam.


Situs miRC pun terbuka. Andra log in dan mulai mencari akun di kolom kanan. Matanya menyisir nama akun dari atas ke bawah berulang-kali. Sayangnya, akun yang dicari ternyata sedang tidak aktif. Andra mendesah kecewa. Akhirnya ia memutuskan untuk log out saja.


"Kok cuma sebentar, Mbak?" tanya Mas Jo, si operator warnet.


"Iya, Mas," jawabnya lesu.


Pintu kaca dibuka, kakinya melangkah lunglai. Entah kenapa kali ini teman online-nya tidak aktif. Padahal sebagai operator warnet seharusnya hampir selalu aktif bukan? Pikirnya.


Mendadak ia jadi ingat Mas Jo yang sama-sama operator warnet. Andra masuk lagi.


"Mas Jo!"


"Iya, Mbak."


"Kalau operator warnet itu kerjanya 24 jam kan?"


"Ya enggak lah, Mbak. Capek dong kalau kerja seharian penuh."


"Jadi ada liburnya?"


"Yo mesti, Mbak. Kan kita kerjanya pakai shift. Ada yang masuk pagi, siang, atau malam gitu, Mbak."


"Ooh gitu ya? Kalau lagi gak jaga warnet, Mas Jo ngapain?"


"Ya kuliah."


"Lho? Mas Jo mahasiswa juga?"


"Yo mesti. Aku jaga warnet cuma kerja sampingan aja buat nambah-nambah uang jajan, Mbak. Maklum juga namanya anak kost. Hehehe ...."


"Ooh iya ya. Gak kepikiran ke situ. Emangnya kuliah di mana toh?"


"Ya sama denganmu, Mbak. Beda fakultas aja. Aku kan sering lihat dirimu di kampus Arsi naik motor cenglu sama koncomu. Wara wiri bertiga terus kayak kembar tiga aja," ungkapnya sambil tertawa.


"Waduh. Aku sering seliweran ya, Mas. Hahaha ...."


"Ya begitulah. Kalian kalau cenglu selalu heboh. Ngobrol seru sambil naik motor. Suaranya ke mana-mana. Banter banget. Bikin orang-orang mendelik."


Tanpa disadarinya, memang Andra dan kedua sahabatnya kerap kali mengobrol seru sambil berboncengan. Apalagi suara Ivane yang agak cempreng dan kadang melengking. Bahkan mereka pernah adu debat di atas motor.


"Yo wis. Aku pamit dulu, Mas. Makasih infonya." Pintu kaca warnet dibuka lagi.


"Kenapa toh, Mbak tanya soal penjaga warnet? Mau cari kerja sampingan juga?"


"Oh bukan, Mas. Cuma ada teman yang kerja jadi penjaga warnet juga," balas Andra meringis.


"Oh ta kirain mau lamar kerja nemenin aku," tebaknya sembari terkekeh. Andra mengerutkan dahi.


"Misi, Mas."


"Monggo."


Andra pun berlalu. Ia hendak kembali pulang. Mau beli makan malam, tapi perut masih kenyang karena makan nasi Padang yang porsinya seperti kuli bangunan. Sampai dimakan bertiga dengan Widia dan Ivane yang ngiler lihat menunya. Andra pasrah saja nasi Padang dari Aydan diembat mereka juga.


Ketika di depan minimarket dengan nama beken Totem, Andra memutuskan untuk belanja sedikit cemilan untuk lembur lagi nanti malam. Stok di kostan kebetulan kosong dihabiskan oleh Ivane yang masih kelaparan setelah makan nasi Padang sepertiga porsi.

__ADS_1


Motor terparkir di depan Totem. Tak jauh dari situ ada sebuah kedai makan juga. Di depannya rupanya ada motor Aydan yang juga terparkir. Hatinya langsung berbunyi dan jadi penasaran. Ia melangkah ke kedai itu. Memang benar ada Aydan di sana sedang makan.


Niat hati ingin menghampirinya untuk berterima kasih, tapi ia malah terperanjat. Aydan tidak makan sendirian seperti biasanya. Kali ini ia makan dengan seorang perempuan cantik bernama Imelda. Seniornya juga.


Kakinya mundur selangkah secara refleks. Ia batal masuk ke kedai itu. Apalagi melihat keakraban mereka berdua. Mereka tertawa lepas dan saling bercanda. Seolah tanpa jarak. Mendadak bunga di hati Andra layu.


***


Widia menyingkirkan rambut di matanya, tapi lagi-lagi rambut itu masuk ke mata. Bahkan sampai masuk ke mulutnya. Lidahnya sampai melet-melet.


"Lain kali kalau naik motor dikuncir dulu dong rambutnya, Neng," protes Widia gemas. "Rambut elo nyolok mata gue tau!"


"Suruh siapa numpang motor gue terus? Udah resiko. Kalau pengen nyaman naik angkot aja sana!" jawab Andra ketus.


"Eh, kenapa malah ngegas gini sih?" Widia melirik ke samping wajah Andra yang sedang cemberut. Ada Ivane yang juga heran dengan sikap Andra sejak berangkat tadi agak jutek.


"Kan dia lagi 'dapet' makanya sensi," bisik Ivane berusaha memaklumi.


Sesampainya di kampus, Andra melenggang santai dan tak peduli ketika beberapa mahasiswa di sana memperhatikannya. Terutama Merry and the gengs. Apalagi penyebabnya kalau bukan peristiwa memalukan kemarin saat inagurasi. Kini seluruh angkatan sampai dosen dan staff TU pun tahu siapa dirinya. Mendadak ia jadi orang terkenal satu kampus.


Andra duduk di depan gedung B. Menunggu jam kuliah dimulai sebentar lagi sambil membaca novel.


"Kasian ya si Agung. Udah jauh-jauh datang ke sini, eh malah ditolak," ujar Merry mulai bergosip di pojok sana.


"Iya. Padahal dia lumayan cakep juga. Yah gak malu-maluin lah kalau diajak kondangan," sahut temannya sambil tertawa.


"Tapi aneh gak sih? Kenapa ya tiap cowok yang deketin dia selalu ditolak? Gak peduli ganteng apa jelek. Gak peduli bawanya apa. Pokoknya semua dijudesin gitu deh."


"Jangan-jangan dia punya kelainan lagi?" tebak teman yang satunya.


"Kelainan apa maksudnya?" Sontak semuanya terhenyak.


"Itu lho. Jeruk makan jeruk. Ngerti kan?"


"Eh, yang bener ah? Masa sih?"


"Iya, apalagi coba alasannya?"


"Ya kali aja dia gak suka sama tuh cowok."


Semuanya berpikir dengan pikirannya masing-masing. Ada yang satu pemikiran. Ada yang meragukan itu. Perlahan tapi pasti rumor itu menyebar dari mulut satu ke telinga lainnya.


Terbukti setiap dia berada, siapa pun yang melihatnya akan memandanginya dengan tatapan tak biasa. Seolah baru pertama kali melihat makhluk astral yang selama ini ada di tengah-tengah mereka.


Andra pikir mungkin karena ulah nekat Agung di acara inagurasi waktu itu masih menjadi topik perbincangan hangat. Ia juga berpikir pada akhirnya mereka akan bosan sendiri. Jadi Andra tak menggubrisnya.


Daripada pusing memikirkan sikap aneh mereka, ia lebih suka mojok bersama buku sketsanya di perpustakaan. Tanpa Widia dan Ivane yang kebetulan sedang kerja kelompok dengan grupnya masing-masing mengerjakan tugas Perilaku Dalam Arsitektur (PDA). Sementara grupnya sendiri baru melaksanakan nanti sore.


Saat tengah asyik membuat coretan gambar bangunan, sekelebat orang melewatinya. Ekor matanya menyelidiki siapa dia. Ternyata Aydan yang baru saja datang dan langsung duduk di dekat jendela, tempat favoritnya.


Bunga di hati Andra kembali merekah saat pemuda itu memberikan senyum manis. Ia balas senyuman itu dengan perasaan berdebar. Ingin sekali menghampirinya hanya sekedar untuk mengatakan 'terima kasih untuk tumpangan dan nasi bungkusnya'. Baru juga mengangkat pantat, Imelda sudah datang dan membatalkan niatnya.


Keduanya lantas mengobrol begitu intim. Saling berbisik di telinga. Bahkan tak segan-segan tangan Imelda merapihkan rambut Aydan yang kerap berantakan.


Tak ayal lagi hati Andra jadi meradang. Ia sudahi menggambar sketsanya. Semua buku dirapihkan dan ia pergi. Aydan melihatnya dengan tatapan bingung.


"Kenapa?" tanya Imelda pada pemuda itu yang menoleh tiba-tiba.


"Ah enggak."


Menyadari netra Aydan yang melihat ke arah lain, Imelda pun jadi penasaran. Ia sempat melihat kepergian Andra ke luar perpustakaan.


"Eh, cewek tadi yang waktu itu ditembak anak ekonomi kan?" tanya Imelda memastikan.


"Iya," jawab Aydan tak bersemangat.


"Kok kamu mendadak lesu gitu sih? Kayak kurang darah."


"Masa?" balas Aydan cuek.


"Kurang darah, kurang duit, apa kurang kasih sayang nih?" candanya.


"Apaan sih?"

__ADS_1


Imelda tergelak tawa. Senang sekali melihat Aydan tersipu malu.


"Nanti malam temenin aku makan lagi ya?"


"Sorry gak bisa. Nanti malam ada kerjaan," dalihnya.


Bibir Imelda langsung mengerucut.


***


Ketika menuruni anak tangga dari perpustakaan, beberapa orang mahasiswa malah memandanginya lagi. Kali ini sorot mata mereka tampak serius. Seolah dia baru saja melakukan kesalahan tanpa sadar.


Semakin ke luar gedung, semakin bertambah jumlah mahasiswa yang memandanginya. Di depan sana rupanya ada Agung yang sedang menunggunya pulang. Pantas saja.


Begitu melihat sosok Andra, ia berlari mendekat. Sedangkan Andra malah berusaha kabur lagi.


"Mau apa lo?" hardiknya.


"Andra. Aku baru tahu alasan kenapa kamu gak mau menerima aku."


"Bagus deh kalau udah tahu. Terus sekarang ngapain lagi ke sini?" balasnya ketus.


"Aku mau bantuin kamu buat berubah. Aku akan berusaha semampuku agar kamu mau menyukai laki-laki," bebernya.


"APA?!" Andra terlonjak kaget.


"Iya. Kata mereka kamu gak suka sama laki-laki. Makanya kamu tolak semua cowok kan?"


"Hah?! Kata siapa itu?" jeritnya tak percaya.


"Sudahlah itu gak penting. Sekarang gimana caranya mengubah kamu jadi cewek normal lagi. Aku tahu kamu pernah sakit hati karena laki-laki. Tapi bukan berarti semua laki-laki itu brengsek. Aku bisa buktikan kalau aku berbeda," ujarnya sok bijaksana.


Pikiran Andra jadi bingung. Entah siapa yang mengatakan bahwa dia tidak suka laki-laki. Padahal jelas saat ini dia sedang merasakan getaran cinta itu lagi dari seorang laki-laki. Seandainya mereka tahu.


"Andra, ayo ikut aku!" ajak Agung sambil mengulurkan tangan.


"Mau ke mana? Gue mau pulang tahu." Uluran tangan itu terlihat menjijikkan.


"Tentu saja ke Pak Ustadz. Beliau bisa meruqyah seseorang. Siapa tahu kelainan kamu itu akibat gangguan jin," paparnya.


"Gila lo ya! Gue masih normal tahu gak?"


"Sudahlah Andra. Lebih baik kamu ikut aja saran Agung," celetuk Merry entah kapan datangnya.


"Iya betul. Lagian mana mungkin mau ngaku. Kan malu," temannya menimpali.


"Please deh. Kalian salah paham. Aku ini masih normal. Alasanku bukan seperti yang kalian kira tahu gak?"


Kini semua mahasiswa mulai berdatangan di mana Andra dan Agung berbicara. Adu mulut itu menarik perhatian mereka. Termasuk Aydan dan Imelda yang baru saja turun dari perpustakaan.


"Jeruk makan jeruk mana mau ngaku. Itu kan aib," sindir teman Merry.


"Jeruk makan jeruk?" tanya Imelda pada Aydan. "Ada apaan ya?"


"Jangan sembarangan nuduh ya! Gue gak seperti itu. Gue masih normal. Gue cuma gak mau punya cowok sampai lulus . Itu saja. Apa kurang masuk akal?" sanggah Andra mulai naik pitam.


Sementara Agung tetap berkeyakinan jika Andra hanya mengelak. Ia memaksanya untuk ikut, tapi gadis itu menolak keras. Aydan ikut geram melihat sikap Agung yang memaksa. Ia turun tangan melerai pertikaian itu.


"Sebaiknya pergi aja, Mas! Tolong jangan bikin ribut di sini. Kalau enggak aku panggil sekuriti," ancam Aydan menyela.


"Aku memang mau pergi, tapi harus sama Diandra," balas Agung kesal.


"Kalau dia gak mau gimana?"


"Pokoknya dia harus ikut kalau ingin sembuh. Dia gak normal, Mas."


"Enak aja ngatain gue gak normal. Elo tuh yang gak normal!" balas Andra berang.


"Mas jangan percaya kata mereka. Aku ini masih 100% normal," akunya pada Aydan. Ia tak mau pikiran lelaki itu ikut terkontaminasi.


Sayangnya wajah Aydan tampak kebingungan. Di satu sisi Agung dan Merry bilang sebaliknya. Tak mendapatkan kepercayaan dari siapapun akhirnya Andra memutuskan pergi dengan sangat kecewa.


Ia berlari kencang menuju motornya.

__ADS_1


Menyalakannya buru-buru lalu melaju cepat. Meninggalkan kampusnya yang sudah mengisi hari-harinya lebih berwarna dan kini berubah jadi mengerikan. Selama perjalanan pulang, air matanya tak henti berderai.


***


__ADS_2