Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Bukit Cinta


__ADS_3

Andra terkekeh sendiri di kamar kostnya  Tak pernah disangkanya sama sekali jika tugas kelompoknya kali ini membuka tabir lain. Sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Wajar saja jika orang lain menyukai orang yang sama dengan kita bukan.


Yang membuatnya tak menyangka adalah sosok Sekar yang notabene seorang gadis lemah lembut dan kalem ternyata begitu memuja Aydan hanya karena ada kemiripan dengan idolanya.


Ah, Andra berusaha untuk tidak ambil pusing. Siapapun berhak untuk menyukai dan mengidolakan siapa saja. Selama masih dalam tahap wajar. Pikirnya. Toh orang yang bersangkutan pun belum tentu tahu dan peduli. Siapa tahu Aydan sendiri bersikap masa bodoh selama tidak mengganggunya.


Sekarang yang menjadi ganjalan Andra adalah bagaimana meredam gosip dan fitnah menyebalkan itu di kampus. Dia tidak mungkin bolos kuliah hanya karena gosip. Tentu saja hal itu jangan sampai mengganggu kegiatan kuliahnya. Apalagi targetnya adalah ingin cepat lulus kuliah dan mewujudkan cita-citanya menjadi arsitek kaya akan karya.


"Bismillahirrahmanirrahim. Semoga gak ada hal yang mengganggu hari ini," harapnya ketika menjejakkan kaki di halaman kampus.


Pagi itu suasana kampus belum terlalu ramai. Mahasiswa belum banyak yang datang, tapi sudah ada beberapa yang duduk menunggu jam kuliah dimulai.


Mendadak bahunya ada yang menyenggol. Ia menoleh ke belakang. Ada Riko tengah tersenyum lebar.


"Met pagi, Diandra Sayang," ujarnya sambil cengengesan.


"Apaan sih lo? Pake sayang segala. Jijik banget."


"Duh kita kan cuma pura-pura aja," ungkapnya.


"Pura-pura gimana?" tanya Andra ketus.


"Ya pura-pura pacaran. Emangnya Widia gak ngasih tau?" Kini Riko yang kebingungan.


"Enggak tuh. Emang seharusnya dia ngasih tau apa ya?"


"Ya itu tadi yang baru aja gue bilang. Kita itu harus pura-pura pacaran. Biar mereka percaya kalau elo itu masih normal dan bukan 'jeruk makan jeruk' seperti kata mereka."


"Ya ampun. Jadi Widia masih tetap yakin kalau cara ini berhasil? Padahal kan gue belum bilang setuju apa enggak, Ko," sanggahnya kesal.


"Gue kira elo udah setuju. Makanya gue sih gak keberatan dengan usul ini," balas Riko tersenyum bahagia. Jelas dia bahagia karena ide Widia ibarat kesempatan langka untuk mencuri hati Diandra selama ini.


Melihat bibir Andra berubah masam, Riko jadi khawatir sendiri.


"Kenapa sih elo gak setuju? Gue cuma mau bantu meredam gosip dan fitnah itu aja. Gue tahu kok siapa elo," tukasnya.


Andra hanya menghela napas lelah.


"Jangan-jangan elo takut ya jadi jatuh cinta beneran sama gue," tebak Riko sambil terkikik.


"Itu sih maunya elo. Jangan harap ya! Ingat kita cuma teman biasa," ancam Andra khawatir.


Sedang kesal-kesalnya dengan ide konyol Widia tanpa persetujuannya, tiba-tiba Aydan datang dan sedang berjalan ke arahnya. Ia terkesima saat tubuh Riko mendadak merapat ke tubuh Andra. Tangan kanannya sedikit merangkul pinggul gadis itu. Andra terkejut dengan sikap berani Riko. Bahkan Aydan pun tercengang sesaat. Sampai akhirnya ia berlalu begitu saja dengan tatapan dingin dan cuek. Seolah Andra tak ada di sampingnya. Hatinya mencelos kecewa.


Buugh! Tangannya langsung meninju lengan Riko. Pemuda kurus itu kesakitan.


"Kok tiba-tiba gue dipukul sih?"


"Jangan pernah kayak gitu lagi!" ancamnya sambil menunjuk hidung Riko.


"Gue kan cuma pura-pura. Ingat kita lagi sandiwara," dalihnya sambil mengusap lengan.

__ADS_1


"Sandiwara juga lihat sikonnya dong. Bukan berarti di depan semua orang kampus elo seenaknya aja nempel dan merangkul gue. Yang ada mereka pikir kita pasangan mesum. Najong banget."


Selesai mengucapkan keberatannya, Andra segera meninggalkan Riko yang terpana. Tak lama Widia dan Ivane datang juga.


"Hai Riko. Udah ketemu Andra?" tanya Widia.


"Udah," jawabnya agak ketus.


"Napa elo? Kok kayak orang kesel gitu?"


"Habis ditinju sama dia."


"Kok bisa?" Dahi Widia mengernyit heran.


"Tanya sendiri deh sama orangnya," balasnya sambil melenggang pergi.


Widia bertanya pada Ivane apa maksudnya. Ivane juga tak tahu sambil mengangkat bahu.


Saat masuk ruang kuliah, hampir semua mahasiswa di dalamnya mendelik ke arah mulut pintu di mana Andra baru saja datang. Selanjutnya ada yang kembali melakukan aktivitasnya. Ada yang malah berbisik-bisik seperti Merry dan kawanannya.


Tak lama Riko datang menyusul lalu duduk di sebelah Andra. Di sebelahnya juga duduk Widia dan Ivane.


"Andra, maaf banget deh kalau elo keberatan. Tapi percaya deh kalau kita punya maksud baik buat elo," bisik Widia merasa bersalah.


"Iya gue paham. Cuma gak perlu nempel-nempel kayak gitu lah. Udah deh biarin gue sendiri aja. Gue gak mau peduli lagi mereka mau mikir apa. Gue cuma mau fokus kuliah. Titik," beber Andra menahan kecewa.


Sayangnya, rumor itu ternyata tak juga cepat reda. Padahal Widia, Ivane, dan juga kini dibantu Riko berusaha menjelaskan yang sebenarnya. Malahan Riko kerap mengaku-aku berpacaran dengan Diandra diam-diam hanya untuk membuat mereka percaya Andra itu gadis normal.


Ia sampai bolos kuliah selama beberapa hari karena merasa depresi dan tidak nyaman lagi berada di kampus. Widia dan Ivane sudah berusaha membujuknya, tapi sia-sia. Malamnya Andra nongkrong di warnet. Berharap menemukan seseorang yang bisa mendengarkan keluh kesahnya tanpa memandang siapa dia seperti biasanya.


Beruntung ternyata akun sedang aktif. Sudah cukup lama juga dia tidak ngobrol dengannya di chat room.


Maka malam itu ia tumpahkan segala beban dan permasalahan yang sedang dihadapinya pada sosok misterius itu. Andra sampai menangis. Dadanya terasa sesak saat orang-orang menatapnya seolah dirinya adalah aib yang berjalan.


pokoknya elo harus kuat. apapun yang mereka pikir tentang elo, jangan ambil pusing. fokus aja sama kuliah elo sampai lulus.


makasih banyak ya. alhamdulillah banget ada yang percaya sama gue. asli deh gue hampir aja kehilangan semangat kuliah.


jangan begitu. gue juga sedang berjuang mencapai impian kok. jangan patah semangat. elo harus tahan banting. apalagi nanti di dunia kerja bakal makin keras lagi ujiannya.


iya juga ya. ya udah bismillah gue pasti bisa.


nah gitu dong. :)


Setelah percakapan itu, Andra memberanikan diri untuk masuk kuliah lagi. Ia tutup telinganya rapat-rapat dari degungan tak sedap tentang dirinya. Matanya difokuskan untuk membaca hal-hal yang berguna. Ia berusaha untuk bersikap seperti biasanya lagi.


Bahkan saat pergantian mata kuliah ia jadi makin sering berdiam diri di perpustakaan. Menutup wajahnya dengan setumpuk buku-buku untuk menghindari tatapan sinis orang-orang. Aydan yang berada di sana pun hanya bisa diam memperhatikan dengan sorot mata sedih tanpa disadari Andra.


"Rupanya dia ngumpet di sini?" cemooh Merry seraya terkekeh sambil berlalu melewati Andra. Tumben sekali ratu gosip itu datang ke perpustakaan bersama teman-temannya.


Di salah satu meja, Merry kembali membicarakan keburukan Andra. Telinganya jadi panas. Sepertinya mereka tak akan puas sampai korban gosip mereka bertekuk lutut.

__ADS_1


Ocehan dan sindiran menyebalkan itu membuat perasaan Andra terluka makin dalam. Air matanya tak bisa dibendung lagi. Ia menangis di balik tumpukan buku tebal. Aydan melihat dan mendengar isak tangisnya.


Tiba-tiba pemuda itu bangkit. Ia melangkah mendekati Merry lalu menggebrak mejanya.


"Sampai kapan kalian berhenti makan daging saudara kalian sendiri, hah? Sampai mereka benar-benar mati?" hardik Aydan. Ia menatap sinis pada mereka.


Merry dan teman satu gengnya terperanjat didatangi senior yang membela Andra. Setelah itu Aydan menarik tangan Andra untuk pergi. Gadis itu terkesima. Ia seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Mengikuti ke mana Aydan membawanya pergi.  Sementara Merry makin tercengang melihat keduanya pergi bergandengan tangan.


"Ada hubungan apa di antara mereka?"


Gadis-gadis itu menggeleng.


"Bukannya Andra pacaran dengan Riko? Kok kayaknya dia deket juga sama Mas Aydan?" tanya Merry bingung.


Sayangnya kejadian itu menjadi tambahan bahan gosip mereka lagi. Sindiran tadi sepertinya tak cukup membuat mereka berhenti membicarakan tentang orang lain.


Beberapa meja di belakang meja Merry, ternyata ada Sekar yang sorot matanya terlihat sendu dan sedih. Ia terkejut melihat Aydan menarik tangan Andra untuk pergi.


"Mas, Mas. Tolong lepasin tangannya!" pinta Andra merasa sungkan. Ia jadi malu sendiri saat turun dari perpustakaan diperhatikan orang-orang.


"Biarin aja. Biar mereka tahu kamu itu normal." Aydan terus saja menarik tangan Andra. Ia membawanya ke tempat parkir motor. Rupanya pemuda berkulit sawo matang itu hendak membawanya pergi naik motornya lagi.


"Iya, tapi kita mau ke mana?"


"Ke mana aja. Pokoknya bikin kamu senang," jawabnya.


Aydan sudah naik motor dan memakai helm full face-nya. Ia menyuruh juniornya cepat naik motor juga. Sejurus kemudian motor itu sudah meluncur cepat ke jalanan.


"Pegangan yang kuat! Aku mau ngebut," titahnya sambil menyetir.


"Apa?!" Andra tak mendengar jelas.


"Pegangan yang kuat kalau kamu gak mau jatuh. Aku mau ngebut," teriaknya.


Andra jelas kebingungan harus berpegangan pada apa. Akhirnya ia memilih berpegangan pada motor lagi.


"Jangan pegangan ke situ. Nanti jatuh. Pegang pinggangku!" titah Aydan tanpa ragu.


"Hah? Pegang pinggang?" Andra takut salah mendengar.


"Iya. Peluk aja pinggangku. Aku gak keberatan kok." 


"Gak mau ah."


"Ini bukan permintaan. Ini perintah! Ya udah kalau gak mau. Jangan salahkan aku kalau kamu terjatuh."


Aydan menekan pedal gas motor makin kuat sampai Andra terlonjak kaget dan nyaris terjengkang ke belakang. Mau tak mau akhirnya ia peluk pinggang lelaki itu. Terasa hangat dan mendebarkan.  Aydan tersenyum di balik helmnya. Sementara jantung Andra justru berdecak hebat.


***


Siapa yang udah pernah ke Bukit Cinta Semarang? Authornya aja belum. hiks...

__ADS_1


__ADS_2