
Bagai menemukan oase di gurun Sahara yang tandus. Kehadiran Aydan dengan motornya ibarat penyelamat bagi Andra ketika seniornya itu datang menawarkan tumpangan gratis. Tanpa pikir panjang lagi ia menerima tawaran itu.
Sebelum menaiki motor, Andra sempat melirik sesaat ke arah Agung yang terlihat makin kecewa saat ada lelaki lain datang. Tak mau berlama-lama dengannya, Andra meminta Aydan untuk cepat pergi.
Setelah memakai kembali helmnya dan gigi motor diinjak, Aydan secepatnya melepaskan kopling dan menarik gas. Motor langsung melesat cepat. Menderu di jalanan aspal yang panas. Membawa keduanya pergi dari Agung yang kini patah hati.
Tangan Andra tak berani berpegangan pada pinggang lelaki di depannya. Jadi ia memilih berpegangan pada bagian jok belakang motor.
Matanya menatap takjub pada punggung Aydan tampak lebar dan bidang di depan Andra. Terlihat nyaman jika kepalanya bersandar di sana, tapi itu tak mungkin ia lakukan. Aroma maskulin tubuhnya menguar di udara. Membuat debar jantung Andra tak karuan jadinya. Tak pernah sama sekali menyangka jika ia akan duduk sedekat ini dengan seniornya itu. Hanya berjarak beberapa sentimeter. Padahal sebelumnya ia hanya bisa memandangi saja dari jauh.
"Kita mau ke mana?" tanyanya membuyarkan lamunan gadis itu.
'Kita?' batin Andra. 'Gue aja kali yang mau pulang.'
"Tolong antar aku ke kostan aja, Mas," pinta Andra lemas.
"Tapi kamu udah makan belum? Mukamu pucat begitu. Kita makan dulu yuk!"
'Ya ampun. Ternyata dia merhatiin gue,' batin Andra lagi. Seketika hatinya sedikit berbunga.
"Tapi aku mau rebahan aja, Mas. Lagi sakit perut juga."
"Sakit perut karena maag atau apa?" Nada suara Aydan khawatir.
'Masa gue harus jujur kalau lagi datang bulan hari pertama sih? Kan malu,' ucap Andra dalam hati.
"Sakit perut yang lain, Mas. Aku lagi migrain juga. Jadi maunya tiduran aja. Makannya nanti aja deh kalau udah enakan," kilahnya.
"Yakin gak mau makan dulu?"
"Iya. Antar ke kostan aja. Tuh di depan sana tinggal belok kanan sedikit udah nyampe, Mas." Andra menunjuk ke arah depan.
Motor pun berbelok dan tak kurang dari 30 meter, motor berhenti di depan sebuah rumah kost bernomor 8. Andra segera turun perlahan. Sementara Aydan melepaskan helmnya.
"Makasih banyak atas tumpangannya, Mas."
"Iya sama-sama. Kalau butuh sesuatu kasih tahu aja ya!" Alis Aydan tampak melengkung ke bawah. Ia cemas.
Andra mengangguk sebelum masuk ke pekarangan rumah. Menyempatkan untuk tersenyum ramah sebagai balas jasa. Lalu ia masuk rumah tanpa tahu jika lelaki itu masih memperhatikannya dari atas motor hingga ia benar-benar tak terlihat lagi.
Bruuukkk!
Andra menjatuhkan diri ke kasur sebelum tasnya dilepaskan begitu saja di lantai. Sementara maketnya ia pindahkan ke atas kursi. Kamarnya masih berantakan. Ia tak peduli. Tubuhnya sudah lemas.
Dia meringkuk menahan nyeri di perut bagian bawah. Kepala sebelah kanan pun masih berdenyut-denyut hebat. Sementara perih yang lain mulai terasa. Ia lapar. Tadi pagi hanya minum segelas air putih saja akibat Widia dan Ivane terlalu cepat menjemputnya.
Ah, dia jadi ingat kedua sahabatnya itu. Di mana mereka di saat ia butuh? Kenapa mereka malah membiarkan Andra dipermalukan oleh lelaki yang tak dikenalnya sama sekali. Ada rasa geram terhadap keduanya. Apalagi saat tahu mereka malah terkekeh-kekeh melihat Andra naik ke panggung.
Tak lama kekesalannya terlupakan. Perlahan ia tertidur tanpa berganti baju dan tanpa makan terlebih dahulu. Yang ia ingat berikutnya adalah aroma maskulin yang mendadak tercium lagi di inderanya. Terasa damai hingga ia terbuai mimpi.
__ADS_1
Dua jam kemudian.
Mata Andra terbuka perlahan. Terasa begitu berat saat dibuka. Perih di perut bagian bawah sedikit berkurang, tapi migrainnya masih terasa. Sedangkan sisi perut lainnya menabuh genderang perang. Ia kelaparan.
Setelah duduk di pinggir ranjang, matanya menyisir ruangan yang masih berantakan dengan kertas dan buku modul kuliah. Ia pikir akan membereskannya nanti setelah ia merasa lebih baik.
Lalu matanya melihat sebuah kresek hitam di meja. Andra mengecek apa isinya. Seingatnya tadi tak ada benda itu di sana. Saat dibuka ternyata isinya nasi bungkus lengkap dengan minumannya serta buah pisang yang menguning.
Pintu kamar kost tiba-tiba terbuka. Widia dan Ivane langsung masuk tanpa permisi seperti biasa.
"Andra elo udah bangun. Alhamdulillah," ujar Widia lega.
"Kalian berdua kenapa baru nongol?"
"Tadi kami nyusul elo pulang, ternyata elo udah tidur. Jadi kami pulang ke kostan dulu."
"Tega ya kalian ngebiarin gue jadi tontonan. Sumpah gue malu banget. Pengen terbang aja ke bulan kalau bisa," hardiknya kesal.
"Maaf, Ndra. Kami gak tahu kalau Agung bakal kayak gitu?" ungkap Ivane menyesal.
"Jadi kalian udah kenal sama dia?" tuduhnya.
Kedua mata sahabatnya itu kini tak berani memandangnya. Mereka menunduk resah.
"Apa ada sesuatu yang enggak gue tahu?" Tangan Andra berkacak pinggang.
Mulanya Widia dan Ivane bungkam. Setelah didesak akhirnya mereka mengakui semuanya. Bahwa mereka lah yang sudah memberi informasi tentang Andra pada Agung selama ini. Mereka lah yang mendukung Agung untuk mendekati Andra. Mereka juga yang berusaha jadi mak comblang selama ini secara diam-diam.
Keduanya mengangguk pelan. Andra menepuk dahinya kecewa
"Emangnya semudah itu? Kalau emang yakin bisa berhasil dengan punya cowok baru, ya ngapain juga gue nolakin cowok-cowok yang nembak gue? Ngapain gue antipati sama cowok yang deketin gue. Bisa aja kan gue nerima salah satu dari mereka buat uji coba nyembuhin trauma psikis gue. Iya gak?" beber Andra kesal.
Keduanya mengangguk lagi.
"Tapi bukan itu juga alasan gue gak mau punya cowok dulu, temanku sayang."
Kini kedua sahabatnya saling pandang keheranan.
"Kan elo tahu, gue cuma mau fokus kuliah aja sampai gue lulus. Bukan apa-apa. Gue gak mau pusing mikirin cowok gue kayak dulu. Gak mau pusing ngurusin cowok gue udah makan belum, udah kerjain tugas belum, udah mandi belum, dan bla bla bla. Gue gak mau buang-buang waktu untuk laki-laki yang belum tentu setia sama gue dan jadi jodoh gue. Jadi lebih baik waktu gue yang amat sangat berharga ini gue manfaatin buat belajar. Daripada gue menyesal di belakang hari. Ya walaupun memang itu cara gue juga buat nyembuhin luka. Jadi bukan dengan pacaran lagi. It's big no," paparnya panjang kali lebar kali tinggi.
Kini raut wajah Widia dan Ivane jadi sedih. Pastinya mereka merasa bersalah.
"Sorry banget ya, Ndra. Kita sebenarnya cuma pengen elo bahagia aja kok. Kami sedih aja lihat elo masih suka mimpi buruk gara-gara Nathan," ungkap Widia.
"Iya. Apalagi gue pernah jadi korban mimpi buruk elo. Sakit tau ditendang-tendang. Salah gue apa coba," tambah Ivane dengan bibir merengut.
Andra jadi teringat peristiwa itu. Ia jadi tertawa membayangkan Ivane yang nyaris jatuh dari ranjang karena dipukul dan ditendangi olehnya hanya karena mimpi.
"Sorry ya. Gue gak sengaja," sesal Andra sambil memeluk Ivane. Widia pun ikutan memeluk keduanya. Ketiganya saling berpelukan seperti boneka besar Teletubbies di televisi. Persahabatan mereka kembali terjalin lebih erat.
__ADS_1
Ketika rasa haru menyelimuti hati, mereka menangis bersama dan berjanji untuk saling terbuka dan menghargai. Andra memaafkan ulah mereka lagi.
"Udah ya, Ne. Mulai sekarang kita gak usah piknik ke kantin jurusan lain lagi. Capek tau muter-muter terus. Mana cowoknya gak jelas semua," aku Widia.
"Hah?! Maksudnya apa nih? Bukannya karena mau nyobain menu kantin lain?" Kening Andra mengernyit.
Lantas kedua sahabatnya cuma mesem-mesem. Setelah didesak lagi, akhirnya mengakui bahwa makan ke kantin jurusan lain adalah awal usaha mereka untuk mencari cowok buat Andra sampai mereka menemukan kandidatnya dan mencari trik agar Andra bisa berkenalan dengan mereka.
"Wuah kalian berdua bener-bener deh kurang kerjaan banget. Parah. Bukannya mikirin konsep bangunan kek, ngerjain tugas kek, malah sibuk mikirin trik. Ampun deh." Andra menepuk dahinya lagi.
"Idenya Ivane nih. Gue mah cuma bantuin doang," dalih Widia tak mau disalahkan.
"Tapi bagian trik elo yang paling semangat," sanggah Ivane.
"Udah deh. Mending kalian pergi aja deh. Gue masih mau istirahat dan makan. Eh, tapi makasih udah beliin gue makanan. Tumben beliin gue nasi."
Andra mengambil kresek hitam itu. Nasi bungkus di dalamnya ia letakkan di piring. Ternyata isinya nasi Padang dengan lauk rendang dan telor balado.
"Elo beliin Andra nasi Padang? Kenapa gue gak dibeliin juga?" Widia menyikut pinggang Ivane. Protes.
"Siapa? Bukan gue kok. Mana mungkin gue yang uang bulanannya selalu cekak ini beliin kalian nasi Padang. Gue aja jarang makan itu," sanggah Ivane.
Andra yang sudah makan sesuap langsung berhenti makan. Memperlihatkan sikap kedua sahabatnya yang juga kebingungan sama seperti dirinya.
"Terus yang beliin gue nasi Padang siapa dong?"
Widia dan Ivane angkat bahu.
"Eh, Mbak Andra udah bangun toh?" sela seorang anak kostan yang sedang lewat.
"Iya, Gin. Makan Gin?" Andra berbasa-basi menawari makan.
"Iya, Mbak. Makasih. Enak toh, Mbak nasinya?"
"Iya enak banget. Ini dari siapa ya? Apa ada anak kost yang ulang tahun?"
"Oh bukan. Tadi waktu Mbak tidur, ada mas-mas yang datang ngasih itu. Pacarnya ya, Mbak?" tanyanya kepo.
"Pacar?" tanya Widia dan Ivane kompak.
"Kayak gimana orangnya?"
"Orangnya pakai kacamata sama naik motor sport, Mbak. Hitam manis gitu deh, kayak brownies."
"Siapa dia, Ndra?" tanya Ivane makin kepo.
"Kayaknya Mas Aydan deh. Tadi dia yang nganterin gue pulang," jawab Andra tercengang. Sekali lagi dia tidak menyangka bahwa seniornya itu ternyata begitu perhatian padanya.
"Serius dia?" bisik Widia tak percaya pada Ivane.
__ADS_1
"Target kita berikutnya," balas Ivane pelan di telinga Widia. Keduanya terkikik diam-diam.
***