Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Upaya Penculikan


__ADS_3

Ada yang menepuk bahu Diandra saat ia tengah mencari sosok pria bertopi merah. Ia balik badan dan betapa terkejutnya melihat ada seorang pria asing yang tersenyum lebar padanya. Satu tangannya sedang memapah temannya yang tampak sedang kesakitan. Pria asing itu memiliki rambut sedikit gondrong dan ditindik pada telinga kirinya. Sedangkan temannya berambut cepak dengan kalung emas di leher.


"Excuse me. Do you know where the health clinic is?" tanya si bule pria.


"Oh, sorry, Sir. I don't know," jawab Andra sambil menggelengkan kepala.


"Can you find out for us?  My friend seems unwell," pintanya memelas.


"To be honest, I'm not a resident here.  But maybe I can ask them," jawab Andra berusaha menolongnya.


"Oh, you're a tourist too.  I'm sorry we bothered you, but I don't know what to do. We don't see any lifeguards here.  So, can you help us?" Wajah pria asing itu makin kebingungan dan memelas. Apalagi temannya terus menunduk dan lemas.


Akhirnya Andra tak tega juga. Ia batalkan usahanya mencari Cheeky di pantai. Lalu membawa dua turis asing itu ke jalan. Rencananya ia akan memanggilkan taksi dan membawa mereka ke rumah sakit atau klinik terdekat.


"Okay. Then come with me, Sir!" ajak Andra.


Ia berjalan lebih dulu. Kedua turis asing itu mengikuti di belakang, tapi belum juga sampai ke jalanan, ketika mereka berada di area yang sepi, tiba-tiba mulutnya dibekap dari belakang. Andra terkejut dan meronta-ronta. Lalu pandangannya seketika memudar dan gelap.


Dua turis asing itu senang ketika Andra berhasil dibuat pingsan. Kemudian keduanya memapah Andra ke tempat parkir mobil. Salah satunya membuka pintu mobil, sementara yang satunya lagi masih memapah Andra.


Beberapa orang di sana yang melihat mereka hanya berlalu begitu saja. Apalagi saat turis asing itu bilang, jika temannya sedang mabuk. Aksi mereka tampak meyakinkan dan tidak dicurigai sebagai upaya penculikan.


"Instead of paying prostitutes, it's better like this, right?" celoteh si turis asing  yang kini berusaha memasukkan Andra ke mobilnya.


"But I'm afraid we'll be found out," ucap temannya yang berpura-pura sakit. Ia khawatir aksinya ketahuan sambil tangannya membantu meletakkan gadis itu ke jok belakang mobil. Andra sendiri tampak seperti tertidur pulas.


"It will not happen. She will forget us," balasnya merasa yakin jika ulahnya tak akan ketahuan dan merasa wajar jika turis asing membawa perempuan nakal ke hotel. Ya. Rencananya mereka akan membawa Diandra ke hotel dan melakukan aksi bejatnya untuk memenuhi syahwatnya secara gratis.


Ketika mobil siap pergi, tiba-tiba seorang pria memakai topi merah dan berkacamata datang menghampiri mereka dan mengetuk kaca jendela. Si turis asing yang duduk di bagian setir membuka kaca jendela mobil.


"Do you have a lighter?" tanyanya sambil membungkuk di samping mobil.

__ADS_1


"Sorry. We didn't have. Left on the beach," jawab turis asing itu berusaha tenang.


"Then can i take your picture?  You guys are like Hollywood artists," ujar pria bertopi itu. Ia mengeluarkan ponselnya dan langsung memotret kedua turis asing itu. Bahkan Diandra yang sedang pingsan di jok belakang juga.


Dua turis asing itu langsung keberatan saat pria bertopi itu memotretnya. Mereka marah-marah karena khawatir aksinya ketahuan. Pria asing yang di bagian kanan mobil mengusir pria bertopi itu. Ia pun sudah menyalakan mobil dan siap kabur, tapi ....


Bruuuk!


Sebuah batu besar tiba-tiba dijatuhkan di atas kap mobil hingga penyok. Seketika keduanya tercengang. Mesin mobil mati. Dua turis asing itu langsung keluar dari mobil dan mencak-mencak.


"What are you doing, as$h0le?!" teriaknya emosi.  


"Let go of my friend or i will report to the police," ancam pria bertopi itu dengan tatapan tajam dan menahan amarah sambil menunjukkan bukti foto kejahatan mereka di ponselnya. Mulai dari bertemu Diandra di pantai hingga dimasukkan ke mobil. Keduanya terperanjat.


"Your friend? You mean her?" Ia menunjuk pada gadis di belakangnya.


"Yes. She's my friend. Let her go!" hardik pria bertopi itu geram.


"I told you," bisik temannya cemas yang berambut cepak.


"Calm down. I can handle it," balasnya.


Turis asing berambut gondrong itu mencoba menjelaskan jika gadis yg dibelakangnya tadi mabuk, jadi mereka hendak membawanya ke klinik. Sayangnya, pria bertopi itu tidak percaya begitu saja. Sebuah batu besar pun ia angkat lagi dari pinggir jalan. Bersiap untuk menjatuhkan lagi ke atas mobil.


"Before I drop this rock again, you better let go of my friend.  You're free to dodge.  The evidence I have is enough to put you in jail for attempted kidnapping," ungkap pria bertopi itu nyaris hilang kesabaran. Ia menunjukkan keseriusannya dengan meletakkan batu besar itu tepat di atas kaca mobil bagian depan.


Tentu saja mereka makin ketakutan. Apalagi itu mobil rental dan mereka tak mau dijebloskan ke penjara seperti katanya. Niatnya untuk bersenang-senang dengan perempuan muda terpaksa gagal. Namun, pria asing itu masih berusaha bernegosiasi. Ia keluar dari mobil dan mencoba merayunya untuk ikut bersenang-senang di hotel.


Pria bertopi itu memikirkan tawarannya. Ia meletakkan batu besar di tanah. Turis asing itu tampak senang usahanya untuk tetap bisa menikmati tubuh gadis temuannya akan tetap terlaksana.


Ia kembali masuk mobil dan mengajak pria bertopi itu juga dengan wajah semringah, tapi ....

__ADS_1


Bruuuuk!


Sebuah batu besar kembali dilemparkan ke atas mobil dengan tiba-tiba lagi. Keduanya terperanjat bukan main. Kap mobil makin rusak bahkan kaca mobilnya pun pecah.


"Damn it! What the hell?!" umpatnya emosi. Keduanya cepat-cepat keluar dari mobil.


Suara gaduhnya menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Satu persatu pengunjung pantai berdatangan. Dua turis asing itu keluar dari mobil dan marah-marah pada pria bertopi itu. Adu mulut pun terjadi. Bahkan mereka saling baku hantam. Sampai akhirnya seorang polisi pantai datang dan melerai pertikaian itu.


***


Andra tengah terbaring di ranjang berseprei putih. Matanya terbuka perlahan. Langit-langit kamar berwarna putih dan interior kamar hotel membuat matanya makin terbuka lebar. Ia kebingungan. Celingukan ke sana kemari.


"Kok aku bisa ada di kamar hotel? Bukannya tadi ada di pantai?" gumamnya keheranan.


Ia segera bangkit dan duduk di pinggir ranjang. Berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Yang masih ia ingat adalah saat bahunya ditepuk seorang turis asing dan bertanya di mana klinik kesehatan berada.


Jantungnya langsung berdebar-debar saat melihat topi merah di meja. Perasaan cemas mendadak datang. Membuatnya ketakutan dan menduga jika ia sudah diculik. Namun, melihat tas dan koper miliknya ada di kamar hotel itu, sedikit membuatnya lega.


"Ternyata ini kamar hotelku. Tapi siapa yang sudah membawaku ke sini? Apa mungkin Cheeky?" batinnya.


Andra beranjak dari ranjang dan mendekati meja di depannya. Topi merah itu diambil dan diamati. Tak ada inisial apapun di dalamnya.


"Apa yang terjadi sebenarnya?"


Dalam kebingungan itu, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Andra terkesiap. Matanya terbelalak saat seorang pria baru saja masuk dan tersenyum. Membuatnya hatinya berdebar-debar.


"Kamu sudah sadar?" tanyanya.


Bukannya menjawab. Ia malah tertegun. Lidahnya mendadak kaku dan tak sanggup bicara. Hatinya berdesir saat pria itu berdiri tepat di depannya dan kembali tersenyum manis dengan tatapan lembut.


"Elo Cheeky?" tanya Andra akhirnya.

__ADS_1


***


__ADS_2