Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Pulang Kampung


__ADS_3

Sejak pagi buta, Andra sudah menyiapkan beberapa potong pakaian yang dijejerkan di atas kasur, sebuah novel yang masih dibaca, dan laptop. Setelah mandi dan salat shubuh, dia segera membereskan barang bawaannya itu ke dalam dua tas yaitu tas gendong dan tas laptop. Rupanya ia sedang bersiap-siap untuk pulang kampung di minggu pagi itu.


Sejak sabtu kemarin, ibunya meminta dia pulang karena ada acara keluarga. Kakak pertama Andra hendak melamar kekasihnya hari senin besok. Tak ingin membuat keluarganya kecewa, Andra terpaksa minta cuti mendadak pada atasannya. Namun, ia lupa tak memberitahu Aydan.


Rencananya sebelum ibunya menghubungi tadi, Andra ingin membuat iklan orang hilang tentang Irvan. Terpaksa ia tunda. Termasuk rencana lainnya untuk mengusir Kalina pergi dari apartemen Aydan. Padahal sebuah rencana matang sudah dibuat. Maka  setelah berpamitan pada kedua sahabatnya, ia segera pergi menggunakan mobil travel jemputan.


Di tengah perjalanan Aydan meneleponnya dan mengeluh, mengapa ia tidak ada di kosan saat ia datang berkunjung. Ketiadaannya justru diketahuinya dari penghuni kosan lain.


"Kenapa gak ngomong sih kalau mau ke Bandung? Tau gitu kan, aku bisa antar kamu," keluh Aydan kecewa saat ia meneleponnya.


"Maaf, aku lupa. Tadi buru-buru. Lagi pula aku belum siap memperkenalkan kamu sama keluargaku, Mas," dalihnya.


"Ya bilang aja aku teman kantor kamu."


"Sabar, Mas. Masih ada waktu untuk ketemu keluargaku. Udah gak sabar ya mau ketemu camer?" kelakar Andra.


"Ya iya dong. Aku mau tahu seperti apa keluargamu. Terutama ibumu yang sudah membuat hubungan kita terpaksa mandeg."


"Tapi nyambung lagi, kan? Kalau jodoh gak akan ke mana, kan?" kelakarnya.


"Pinter ngomong kamu."


Terdengar teriakan Kalina meminta tolong dari seberang telepon. Pria itu menyahut lantang. "Iya, sebentar. Yang, sorry. Udah dulu ya. Nanti nyambung lagi," ucapnya.


Andra mendesah kecewa karena perempuan itu telah mengganggu pembicaraannya. "Ingat ya! Jaga jarak sama Kalina. Jangan terpancing sama dia buat mesum!" pesannya khawatir sebelum mengakhiri telepon.


"Siap, Komandan!" serunya.


Meski sebal dan terkadang kasihan juga, Andra terpaksa membiarkan gadis muda itu tinggal sementara bersama Aydan hingga eksekusi pemisahan keduanya direncanakan setelah pulang dari Bandung.


Akhirnya selama tiga jam perjalanan via toll yang lebih lama dari biasanya karena banyaknya mobil-mobil plat B menuju Bandung di akhir pekan itu, membuat jalan toll dan pintu keluar toll macet parah. Mobil travel tiba juga di tempat tujuan setengah jam kemudian. Rumah Andra berada di dekat universitas swasta. Sehingga banyaknya  mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang di sana sudah tak asing lagi.

__ADS_1


Ia segera masuk rumah dan mendapati Ningsih, ibunya, sedang menyiapkan aneka hantaran di ruang tamu untuk calon istri anak tertuanya.


"Assalamu'alaikum, Ma," sapa Andra di mulut pintu.


"Wa'alaikumussalam," jawab Ningsih sambil menoleh ke arah pintu. Ia terkejut anak gadis satu-satunya itu sudah datang. Andra sungkem pada ibunya dan berpelukan hangat. Lalu duduk di sofa.


"Kenapa dadakan begini, sih?" tanyanya tanpa basa basi sambil memperhatikan semua hantaran itu.


"Sebenarnya gak dadakan. Memang udah dari sejak kamu lulus kakakmu mau melamar Yunita, tapi terpaksa mundur karena katanya pamali kalau ngelangkahi kakaknya Yunita yang belum nikah. Jadi ya nunggu kakaknya menikah duluan," ungkap Ningsih.


"Ah, lagi-lagi pamali. Duduk di depan pintu pamali. Potong kuku malam-malam pamali. Bersiul malam hari pamali. Ada-ada aja. Kalau jodohnya udah ketemu bukannya lebih baik segera menikah, kan? Dilama-lamain malah rawan diembat orang," sahut Andra yang sebal dengan adat budaya itu yang baginya tidak logis. Andra dan kedua kakaknya memang besar di Jakarta yang terbiasa hidup moderen dan penduduknya sangat beraneka ragam. Jadi ia merasa aneh dan tak biasa.


"Bukan begitu. Kita harus menghormati dan menghargai kebudayaan di sini. Lagipula kakakmu juga gak keberatan ditunda. Hitung-hitung sambil ngumpulin biaya pernikahan. Kamu tahu sendiri kan, Mama gak bisa bantu membiayai pernikahan kakakmu," papar Ningsih.


Andra menghela napas pasrah sembari mengangkat kedua bahu. Ia melanjutkan langkah ke kamarnya yang sudah lama tidak ditiduri. Kembali merasakan nikmatnya tidur di kasur kapuk yang sudah mulai jarang dipakai orang.


"Baru datang, Dek?" Ibnu, kakak tertua Diandra muncul dibalik pintu menyapanya.


"Syukur deh kamu bisa datang. Tadinya aku takut kamu gak bisa datang karena acara ini dadakan. Tadinya mau akhir bulan, tapi ternyata kesehatan ayahnya Yunita malah semakin turun," ungkap Ibnu yang telah masuk kamar dan duduk di kursi belajar.


"Untung aku masih punya jatah cuti yang belum diambil, Kak. Memangnya ayah Yunita sakit apa?"


"Komplikasi diabetes. Jadi takut makin parah dan gak ada waktu lagi, makanya dipercepat nikahnya. Do'ain lancar ya!" pintanya penuh harap meskipun sebenarnya wajahnya cemas.


"Aamiin. Mudah-mudahan lancar sampai hari H. Rencananya nikah kapan?"


"Tiga bulan setelah lamaran."


"Wah harus cepat persiapannya, tuh. Untuk biaya juga udah siap, Kak?"


Air muka Ibnu berubah lesu. Sempat terdiam, tapi akhirnya tersenyum. "Insyaa Allah siap. Udah ada temanku yang mau bantu," ungkapnya.

__ADS_1


"Jadi sebenarnya...?" Andra menatap curiga.


Ibnu terpaksa bercerita jika sebenarnya dia belum cukup uang untuk biaya pernikahan yang sesuai dengan permintaan pihak perempuan. Yunita tidak meminta macam-macam, tapi orang tua dan keluarga besarnya yang menuntut lebih karena Yunita adalah anak terakhir. Ibnu sempat kebingungan mencari tambahan uang. Tabungannya selama ini tidak bertambah banyak secara signifikan. Andra merasa bersalah. Karena dialah, Ibnu harus menjadi tulang punggung keluarga dan membantu membiayai kuliahnya.


"Maafin aku, Kak. Gara-gara kuliah Andra, Kak Ibnu jadi repot," ucapnya lirih.


"Jangan ngomong begitu. Ini kan udah kewajibanku sebagai kakak tertua. Lagian Alfian juga ikut bantu, kok. Udah gak usah ngerasa bersalah gitu." Ibnu mengacak-acak rambut panjang Andra seraya tersenyum. Mencoba menghapus keresahan hati adik perempuannya. Meskipun begitu, Andra tetap merasa tak enak hati.


Hingga pembicaraan harus terhenti karena Ningsih memanggil keduanya untuk makan. Tak lama kemudian, Alfian, kakak kedua Andra datang membawakan makanan. Keempatnya berkumpul bersama di meja makan setelah sekian lama jarang berkumpul.


"Kak Ibnu sebentar lagi mau nikah. Kak Alfian calonnya juga udah ada. Nah, tinggal kamu aja, Dian. Udah ada belum?" ujar Ningsih tiba-tiba. Ia mendelik pada anak gadisnya yang masih menikmati makanan.


Diandra langsung terbatuk-batuk dan gelagapan. Diminumnya air untuk meredakan dadanya yang sesak. Kedua kakaknya sampai terkekeh geli.


"Kenapa kaget begitu? Udah punya gandengan ya?" tebak Alfian menggodanya. "Cieee yang udah gak dilarang lagi."


"Ih, apaan, sih? Lagian kalau udah ada juga aku gak mau buru-buru menikah. Masih mau menikmati uang gajiku dulu dan senang-senang," dalihnya berusaha tetap kalem.


"Ah, yang bener. Nanti tahu-tahu keburu tua lho," seloroh Alfian.


"Kalau kamu mau, aku bisa carikan jodoh. Temanku banyak yang udah siap menikah. Tinggal pilih aja. Mau karyawan swasta, pengusaha muda, atau PNS. Mau yang kayak oppa atau orang lokal," imbuh Ibnu.


"Dih, emangnya aku gak bisa cari jodoh sendiri," gerutu Andra sebal.


Ia bersungut-sungut sesudahnya karena terus digoda oleh kedua kakaknya soal jodoh. Ningsih tertawa melihat keakraban ketiga anaknya. Ada perasaan hangat di hati. Ia yang berusaha keras sendirian menjadikan anak-anaknya sukses tanpa suami, kini sedang menikmati hasilnya. Namun, raut wajahnya berubah sedih kala ia teringat mantan suaminya yang sudah meninggal dan menyisakan perih yang masih melekat erat.


"Seandainya kamu tidak mendua dan pergi, seharusnya saat seperti ini bisa kamu rasakan juga, Mas," batin Ningsih penuh sesal. Matanya berkaca-kaca. Andra menyadari itu.


"Ada apa, Ma?" tanyanya curiga.


Ningsih menggeleng cepat sembari tersenyum lebar. "Gak ada apa-apa. Ayo selesaikan makannya. Habis ini bantuin Mama beresin kekurangan hantarannya!" serunya.

__ADS_1


༺༻


__ADS_2