Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Eksekusi Kalina


__ADS_3

Kalina sedang bermalas-malasan di depan televisi saat terdengar suara ketukan keras di pintu apartemen. Ia merasa ada yang janggal karena ketukannya kasar. Aydan tidak mungkin mengetuk pintu apartemenya sendiri. Pastinya akan langsung masuk sendiri. Lagipula sekarang masih siang. Belum waktunya lelaki berkacamata itu pulang kerja. Jadi siapakah yang siang bolong begini datang bertamu? Pikir Kalina bingung.


Sebenarnya ia jadi separuh ragu dan ketakutan untuk membuka pintu di saat sendirian, tapi karena terus digedor akhirnya Kalina mengintip dari lubang pintu. Ada dua orang pria bertubuh besar di depan sana. Yang satu memiliki codet di wajahnya dan berambut cepak. Yang satu lagi rambutnya gondrong dan penuh tato. Perasaannya jadi khawatir. Ia bertanya melalui interkom.


"Siapa?" tanyanya dengan perasaan takut.


"Kami mencari Aydan Rafardhan," jawab salah satu dari pria itu.


"Dia belum pulang."


"Kami membawakan paket untuknya," ungkapnya sambil menunjukkan sebuah kotak sebesar kardus mie instan ke depan lubang pintu.


"Paket? Paket apa ya?" Kalina bertanya-tanya dalam hati. Biasanya Aydan akan mengirimkan paket atau surat ke alamat kantornya.


"Mohon diterima, Mba! Kami harus pergi ke tempat lain," pintanya sedikit memaksa.


"Sebentar."


Gadis itu makin merasa ada yang aneh. Dua pria itu tidak seperti kurir ekspedisi. Pakaiannya pun biasa saja tanpa seragam kurir. Ia berinisiatif untuk menelepon Aydan dan memastikan apakah benar sudah memesan sesuatu.


"Ada apa, Kal?" tanya Aydan di telepon.


"Ada orang yang datang mau ngantar paket untukmu, Bang."


"Paket apa?"


"Mana aku tahu, Bang. Bisa pulang dulu? Aku takut. Penampilannya seram. Seperti bukan kurir ekspedisi. Biasanya mereka akan menaruh paket di satpam apartemen, kan?" ujar Kalina curiga.


"Oh, mungkin paket makanan yang aku minta dari kampung. Memang mudah basi. Makanya aku minta segera dikirim langsung ke apartemenku. Kan ada kamu yang menerima. Kalau dititipkan ke satpam dulu terlalu lama. Aku kan suka pulang dini hari. Tolong masukkan ke kulkas ya!" pinta Aydan.


Akhirnya kecurigaan Kalina pudar. Meskipun masih ada keraguan dan kekhawatiran ia mau membukakan pintu apartemen dengan jantung berdebar.


Dua pria bertubuh kekar dan berotot itu tersenyum menyeringai sambil menyerahkan paket kardus itu. Kalina menerimanya dan meletakkannya di lantai. Namun, dua pria itu tidak segera pergi. Alih-alih malah memberikan sebuah amplop surat berwarna cokelat. Kalina diminta membaca isinya dan ia langsung terperanjat.


                              ❀❀❀


Disambarnya kunci mobil di meja kerja. Aydan segera berlari terburu-buru ke luar kantor hingga menarik perhatian rekan-rekan kerjanya.


"Ada apa, Mas?" tanya Yuda heran dari balik mejanya.


"Ada masalah di apartemenku. Aku harus pulang!" jawabnya cepat.


Andra yang melihatnya pergi tergesa-gesa hanya bisa diam dengan dahi mengernyit. Ia ingin ikut membantu, tapi pekerjaannya sedang tak bisa diajak kompromi. Akhirnya hanya bisa diam menunggu kabar.

__ADS_1


Satu jam kemudian, Aydan sudah sampai di apartemennya yang berantakan. Di dalam sana, Kalina sedang menangis ketakutan. Ia memohon-mohon pada dua pria itu agar menghentikan aksi gilanya mengobrak-abrik barang-barang milik Aydan. Sebagian barang sudah dibawa keluar.


"Apa yang terjadi?" tanya Aydan khawatir dan keheranan.


Kalina segera menghampiri lelaki itu dengan air mata yang sudah banjir.


"Bang Aydan, mereka mau mengusir kita," ungkap Kalina sambil menangis.


"Oh, jadi kamu yang namanya Aydan?" tunjuk si pria dengan codet di wajahnya.


"Kamu siapa? Seenaknya saja ngacak-ngacak apartemenku," protes Aydan marah.


"Nih baca!" Selembar kertas diberikan padanya. Ia terbelalak lalu diam mematung.


Pria itu tersenyum menyeringai lagi dan merasa kelakuannya benar.


"Tolong beri aku waktu untuk membayar!" rayu Aydan. Berharap masih bisa dinegosiasikan.


"Kami sudah banyak memberikan kelonggaran, tapi Anda yang selalu mangkir dari tanggung-jawab. Sekarang sudah terlalu banyak toleransi. Batas kesabaran kami sudah habis, Bung!" hardiknya.


"Tapi kan gak perlu sampai mengacak-acak barangku seperti ini!" protes Aydan sengit.


"Kalau gak mau diacak-acak sebaiknya segera bereskan sendiri barang-barangmu hari ini juga!" hardik pria berambut gondrong.


"Mana bisa dalam sehari? Setidaknya beri aku waktu dua hari," pinta Aydan keberatan.


"Bang, gimana, nih?" tanya Kalina bingung. Ia memandang Aydan yang juga sama bingungnya. Surat sita dari sebuah bank swasta memaksanya untuk segera hengkang dari apartemen miliknya dan masih digenggam erat. Aydan hanya bisa pasrah.


"Kamu tidur di sini dulu ya! Besok aku akan pesan tiket pesawat untukmu," ujar Aydan setelah mengantarkan Kalina masuk kamar hotel yang baru saja dipesan.


"Terus kamu tidur di mana?" Mata Kalina sembab setelah menangis terus sejak diusir dari apartemen Aydan tadi siang.


"Aku tidur di mess kantor untuk sementara sampai aku mendapatkan kosan."


"Ya udah nanti aku ikut ke kosan saja ya. Gak usah pulang," rengeknya.


"Mana bisa. Aku akan tinggal di kosan khusus pria. Mana boleh membawa perempuan lain untuk tinggal," protes Aydan. Ia mulai jengkel lagi dengan kegigihan perempuan itu dalam usahanya agar tetap dekat dengannya.


"Jadi... aku harus pulang?" tanyanya tak percaya.


"Tentu saja, Kal. Lebih baik kamu pulang dan berkumpul sama keluargamu. Di sini aku selalu sibuk dan gak bisa menemanimu."


"Tapi... Bang?"

__ADS_1


"Jangan membantah lagi, deh! Cepat istirahat. Matamu sudah seperti mata panda," tegurnya.


"Aku nggak akan nangis kenceng kalau kamu gak bermasalah sama kartu kreditmu, Bang. Kenapa gak bilang sih kalau kamu punya hutang besar?" cecarnya kecewa.


"Ini Jakarta, Kalina. Biaya hidup di sini tinggi. Mana cukup hanya mengandalkan gaji bulanan. Kadang-kadang aku butuh dana lebih buat bayar cicilan apartemen dan mobil juga. Jadi inilah resikonya. Aku gak bisa apa-apa," ungkap Aydan merana.


"Nanti aku akan bilang sama ayah biar bisa bantu melunasi tagihan kartu kreditmu, Bang," cetusnya.


"Nggak perlu. Ini masalahku sendiri. Sudahlah cepat masuk dan tidur! Aku harus kembali ke kantor dan menitipkan barang-barangku di sana." Aydan mendorong tubuh Kalina masuk kamar.  Tak peduli wajahnya cemberut dan berharap lelaki berkacamata itu ikut menemaninya.


Setelah itu, dia segera kembali ke kantor. Di sana Andra sudah menunggu dengan harap-harap cemas. Begitu melihat sosoknya dengan wajah merana, Andra langsung menghampiri.


"Bagaimana?" tanyanya tak sabar sambil mengekor masuk ke ruang kerja Aydan.


Seketika wajah sedih Aydan berubah senang. Ia cekikikan dan tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata. Andra yang semula tegang ikutan tertawa.


"Jadi berhasil rupanya?"


"Tentu saja. Ternyata aku berbakat juga jadi aktor," puji Aydan bangga pada dirinya sendiri.


"Lebay. Kalau bukan karena rencana brilian kami, mana mungkin Kalina bisa diusir pergi," tukas Andra senang.


Aydan yang masih terkekeh-kekeh memeluk Andra saking senangnya. "Pacarku memang cerdas."


"Kamunya saja yang kurang galak sama Kalina, Mas. Kalau dia gak hamil, udah aku ihih dia," ujar Andra sembari menirukan gerakan menyayat leher.


"Sorry. Sorry. Besok dia akan pulang dan malam ini aku lembur. Kamu mau menemaniku, Sayang? Aku tidur di mess karyawan, lho," rayunya. Berharap malam ini bisa berduaan dengan Andra.


Mata Andra mendelik ke atas mencoba mempertimbangkan ajakan seniornya. Lalu ia tersenyum lebar. Hati Aydan langsung berbunga.


"Yes. Kamu mau menemaniku, kan?"


"Tadinya sih mau, tapi aku baru ingat kalau malam di kantor ini suka ada roh gentayangan. Jadi maaf aku mau pulang saja," ungkap Andra merinding.


"Kata siapa woi?!" Aydan tak percaya gosip itu.


"Kata satpam yang suka jaga malam. Sorry, Mas. Aku pulang duluan ya!" Andra mohon diri untuk pulang sambil melambaikan tangan. Meninggalkan Aydan yang kecewa batal berkencan sambil mengerjakan tugas.


"Kok belum pulang? Mau ngelembur?" Tiba-tiba Anton muncul dari balik pintu. Rupanya dia pun belum pulang meski hari sudah gelap.


"Iya. Bete nih sendirian," keluhnya.


"Tenang, Mas. Masih ada aku dan Yuda. Kita lembur bareng sambil nonton bola," ungkap Anton bahagia.

__ADS_1


Aydan menghela napas pasrah di balik komputer canggihnya. "Sepet bener lembur sama laki-laki semua," keluhnya sebal.


                            ༺༻


__ADS_2