Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Hadiah Istimewa Aydan 1


__ADS_3

Widia dan Ivane numpang pulang dengan mobil Aydan. Keduanya duduk di jok belakang. Mengingat Andra juga diantar olehnya. Selama perjalanan pulang dari hotel, ketiganya ramai membahas pesta ulang tahun yang diawali dengan keisengan menyebalkan yang membuat Andra ketakutan dan menangis. Aydan yang menyetir hanya diam mendengarkan dengan perasaan agak kesal.


"Mas Aydan, kok diam aja, sih?" goda Widia.


"Gak apa-apa. Kalian aja yang ngobrol. Aku capek," sahutnya malas.


"Aku gak nyangka tadi ada Mas Aydan masuk kamar hotel, lho," ungkapnya.


"Iya. Aku juga gak nyangka kalau kalian mengerjai Andra. Termasuk aku juga kena."


"Ciee... panik banget ya tadi dikira Andra mau diapain sama Mas Erik di hotel," celetuk Ivane. Ia terkikik geli.


"Ya begitulah," sahutnya tak bersemangat.


"Lagian mana mungkin bisa. Andra itu bisa karate apa taekwondo gitu, lho. Pasti bakal langsung dihajar kalau beneran macem-macem," ungkap Ivane.


"Bisa karate, tapi sama setan ketakutan gitu. Cemen," ledek Ivane. Andra tak terima dengan ejekan itu. Ia mencubit lengan Ivane karena sebal. Temannya langsung meringis sakit.


"Maaf, Mas. Tadinya kita mau ngajak Mas Aydan. Eh, malah ada meeting dadakan," imbuh Widia merasa tidak enak.


"Tapi jadinya tambah seru. Ada baku hantam segala. Untung tadi sempat videoin, lho," ungkap Ivane lagi sambil mengusap lengannya.


"Oh, iya ya. Kamu tadi bawa handycam. Nanti aku minta videonya. Mau aku share di Facebook," pintar Widia semangat.


"Facebook? Apaan, tuh?" tanya Andra dan Aydan kompak.


"Ya ampun. Kalian belum tahu?" tanya Ivane heran.


"Nggak tahu. Emangnya apa, sih?" balas Andra penasaran.


"Ya semacam media sosial seperti Friendster, tapi ini lebih baru dan lagi populer. Kamu harus bikin akun juga di sana," usul Ivane.


"Buat apa kalau sama aja kayak Friendster," dalih Aydan.


"Wah, belum tahu ya. Ini sih beda. Kita posting apa aja yang kita mau di beranda. Bisa buat curhat, cerita, kirim foto, video, cari kenalan baru, dan macem-macem deh pokoknya. Coba deh nanti dicek," saran Ivane lagi.


"Dan yang pasti kita bisa cari seseorang juga. Seperti teman lama atau kerabat jauh. Bisa saling terhubung kembali. Kalau dia punya akun Facebook juga syaratnya," papar Widia semangat.


"Wah, asyik tuh. Bisa reunian sama teman sekolah," komentar Andra jadi antusias.


"Bisa banget. Cari info soal mantan elo juga, Ndra," celoteh Ivane sambil terkekeh.


Widia langsung menepuk baju Ivane untuk menegur. Ia lupa ada pacar Andra di sebelahnya.


"Eh, maaf, Mas. Cuma bercanda. Tenang aja. Andra tipe cewek setia, kok. Alias setiap pengkolan ada," koreksi Ivane seraya terkikik sendiri.


"Emang ada apaan, Ne?" sambung Widia.


"Ada tukang bakso," jawabnya yang kini malah tertawa terbahak-bahak bersama Widia.

__ADS_1


Andra langsung mendengkus pada sahabatnya di belakang. "Diem elo! Banyak bacot!"


Untung saja tanggapan Aydan hanya tersenyum. Ia sudah bisa memaklumi kebiasaan kedua sahabat kekasihnya yang suka bercanda.


Begitu mobil Aydan sampai di depan kosan, ketiga perempuan itu segera turun dari mobil.


"Makasih tumpangannya, Mas Senior," teriak Widia dan Ivane kompak sambil ngeloyor pergi.


"Sama-sama," sahut Aydan.


Andra yang masih sibuk mengambil barang bawaannya di bagasi tampak kerepotan. Tak lupa kotak hadiah dari Erik dibawa Andra di dalam pelukannya karena banyaknya barang bawaan yang ia bawa. Aydan baru menyadari hadiah itu. Tadi ia sempat melihat saingannya itu memberikan hadiah pada Andra di hotel. Mau protes pun tak bisa. Jadi ia hanya bisa menahan gejolak rasa cemburu dalam hati.


"Biar aku bawakan laptopnya," ujar Aydan sambil menghampiri Andra yang kerepotan.


"Eh, gak usah. Laki-laki gak boleh masuk ke kosan. Aku bisa sendiri, kok."


"Yakin?" tanyanya ragu. Andra mengangguk lalu segera membuka gerbang kosan dibantu olehnya.


"Hadiah ultah dariku menyusul ya. Maaf aku lupa," lanjut Aydan sedih.


"Nyantai aja, Mas. Aku masuk dulu ya. Selamat istirahat," balas Andra dengan senyum manisnya. Aydan membalas senyum itu dengan perasaan senang.


Di dalam kamar kosannya, Andra langsung merebahkan tubuhnya yang lelah. Matanya melirik pada hadiah Erik yang tergeletak di atas kasur. Ia jadi penasaran apa isinya. Akhirnya dibukanya hadiah itu. Andra terbelalak melihat isinya yang ternyata sebuah perhiasan kalung dengan bandul hati bermata berlian.


"Ya Allah. Berapa harganya, nih?" gumam Andra tak menyangka dihadiahi barang mewah oleh kliennya.


Lantas ia mencoba memakainya di depan cermin dan terkesima dengan keindahannya.


"Apanya yang terlalu bagus?" sela Widia yang tiba-tiba muncul di pintu sambil membawa hadiah. Andra terperanjat. Lalu menceritakan hadiah dari Erik itu. Tentu saja Widia juga terpana melihatnya.


"Ajiiib bener, Ndra. Ivane harus tahu, nih." Widia langsung berlari keluar kamar dan kembali bersama Ivane. Ia pun terpesona dengan kalung indah itu.


"Wah, pasti mahal. Ah, Andra. Gue jadi iri sama elo," ungkap Ivane sambil menabok bahu Andra gemas.


"Iri apanya?" tanya Andra tak mengerti.


"Elo tuh ya selalu banyak yang naksir. Semua cowok-cowok yang pedekate sama elo selalu ngasih barang-barang bagus. Dan menurut gue, ini yang paling luar biasa," ungkap Ivane dengan wajah irinya.


"Iya bener," imbuh Widia setuju.


"Ini cuma hadiah ulang tahun. Bukan buat pedekate. Hadiah elo mana?" desaknya sambil menyodorkan tangan meminta.


"Masih ada di kamar. Nanti gue ambil," jawab Ivane.


"Awas ya kalau ngasih barang gak jelas," keluhnya karena pernah diberi hadiah kodok hijau.


"Iya. Dasar rewel," sungut Ivane.


"Kalau Mas Aydan ngasih apa, Ndra?" tanya Widia kepo.

__ADS_1


"Belum ngasih. Kan dia lupa kalau hari ini gue ultah. Menyusul katanya. Mudah-mudahan lamaran," ucap Andra berharap.


"Lho, bukannya dia harus cari kakaknya dulu ya? Emangnya udah ketemu?" selidik Ivane.


"Belum. Masih nyari-nyari."


"Kayak gimana sih orangnya? Elo udah tahu?" cecar Widia.


Andra menggelengkan kepala. "Gue cuma tahu namanya doang. Bang Irvan."


"Yah... sayang banget. Seandainya elo tahu, bisa cari di Facebook. Soalnya kalau cuma berdasarkan nama doang agak susah. Nama Irvan kan pasaran," timpal Widia. Penjelasan Widia diamini oleh Ivane.


"Nanti deh gue minta fotonya. Soalnya suka lupa dan gak sempat terus gara-gara kerjaan numpuk," dalihnya.


"Oh, iya. Kalau elo gak naksir sama Erik, buat gue aja ya?" Mata Ivane berbinar-binar sambil menyenggol tubuh Andra. Andra sendiri malah terkesiap.


"Iya kalau dia mau sama elo," ejek Widia.


"Jangan gitu, dong. Bantuin gue cari jodoh napa. Masa umur udah mau kepala tiga masih sendiri aja. Bantu comblangin sama Mas Erik juga boleh. Gue gak nolak," pintar Ivane dengan wajah sangat berharap.


"Mandi kembang dulu gih sana!" seru Andra. Widia terkikik dengan kelakarnya. Namun, Ivane malah cemberut.


                              ❁❁❁


Hadiah kalung dari Erik, tetap disimpan di dalam wadahnya. Lalu ditaruh di dalam lemari. Ia tak berani memakainya. Apalagi di hadapan Aydan. Namun, yang paling ia harapkan adalah hadiah dari Aydan. Jadi pagi itu Andra tampak senang karena saat dijemput seniornya tadi, ia bilang akan memberikan hadiah istimewa nanti malam.


Selama kerja, pikirannya terus bertanya-tanya kira-kira apakah hadiahnya nanti malam. Apakah makan malam romantis, nonton di bioskop, atau sebuah hadiah yang tak pernah ia duga?


"Yang, udah selesai kerjaannya?" tanya Aydan saat jam kerja usai. Andra langsung mengangguk. Ia sudah tak sabar.


"Kalau gitu tunggu sebentar ya. Aku masih belum beres. Nanti kita pulangnya habis maghrib aja," tukas Aydan sambil ngeloyor pergi. Andra pun termangu melihat sikapnya yang dingin.


Jadi komputer yang tadinya sudah akan dimatikan terpaksa dibuka lagi untuk melanjutkan pekerjaannya. Andra  berusaha tetap sabar menunggu. Hingga tiba saatnya Aydan mengajaknya pulang. Hatinya langsung bahagia.


Andra terperangah dan kebingungan saat mobil Aydan justeru membawa mereka ke gedung apartemennya.


"Mungkin dia mau ngajak makan malam romantis di apartemennya," pikir Andra.


Nyatanya begitu masuk ke kamar apartemen Aydan, tak ada meja makan yang dilengkapi makan malam mewah yang dihiasi lilin. Andra dipersilakan duduk menunggu di sofa sementara Aydan masuk ke dalam kamarnya. Andra jadi kecewa, tapi ia berusaha berpikir positif.


"Mungkin ada kado spesial yang udah disiapin di kamar," pikir Andra lagi.


Selama beberapa menit menunggu sambil menonton televisi, akhirnya Aydan kembali dengan rambut basah dan hanya mengenakan celana boxer. Bahkan tanpa memakai kacamata. Dada bidangnya pun terlihat. Rupanya lelaki itu baru saja mandi. Andra terkesima melihat penampilannya yang jarang ia lihat itu. Mata tajamnya yang selalu terhalang kacamata kini bisa Andra lihat dengan jelas. Kini lelaki berwajah manis itu duduk di hadapannya. Jantung Andra langsung berdegup kencang ditatapnya.


"Malam ini kamu tidur di sini aja ya! Aku ingin berduaan denganmu semalaman," ujar Aydan lembut.


Aroma sabun mandinya terendus. Membuat darahnya berdesir tak karuan. Andra jadi gugup dan salah tingkah. Tak menyangka sama sekali jika seniornya mengajaknya bermalam dalam satu atap.


'Jangan-jangan hadiah istimewa yang dia maksud adalah ini?' batin Andra jadi gelisah.

__ADS_1


                                   ❁❁❁ 


__ADS_2