Awas Jatuh Cinta

Awas Jatuh Cinta
Rumor 2


__ADS_3

"Diandraaaa ....!!!" Aydan berteriak memanggil juniornya yang baru saja berlari kencang ke arah tempat parkir.


Sayangnya, gadis itu tak menggubris. Ia terus pergi dengan motornya. Rasa luka dan malu berhasil ditorehkan oleh Agung. Lelaki yang telah ia tolak cintanya seminggu yang lalu.


Di kamar kost, Andra menangis tanpa jeda. Dadanya terasa begitu sesak dan menghimpit. Ia tak mengerti apa yang salah dengan keputusannya. Mengapa orang-orang jadi menuduhnya tidak normal? Entah mulut siapa yang memulai.


Terlebih lagi Aydan tampak meragukan kejujuran Andra. Ia kecewa. Sungguh sangat kecewa. Ia pikir Aydan sosok yang berbeda. Kini hatinya yang sempat bergetar karena laki-laki itu terasa hampa.


"Mel, aku pulang duluan ya," ujar Aydan pada Imelda.


"Lho kok pulang? Kan sebentar lagi mau masuk kuliah?"


"Iya. Aku tahu. Titip absen aja ya!"


"Kamu mau bolos?"


"Iya. Aku ada urusan."


"Tapi hari ini ada kuis, Ay. Sebaiknya jangan bolos. Lumayan buat nambah nilai lho," usul Imelda.


"Tapi aku ...." Pandangan Aydan mengarah ke mana tadi Diandra pergi.


Niatnya untuk bolos kuliah jadi gagal setelah Yoga dan Ryan datang dan mengajaknya masuk kuliah bersama. Ia hanya bisa berdoa semoga Diandra baik-baik saja.


***


Panggilan telepon dari Diandra pada ponsel Widia dan Ivane tak juga diangkat. Sudah beberapa kali mencoba menelpon mereka. Ia harus mencari tahu kenapa dirinya digosipkan yang bukan-bukan.


"Halo, Ivane. Elo masih survey PDA? Please nanti kalau udah pulang, mampir dulu ke kost gue ya!" pintanya saat Ivane menjawabnya.


"Emang ada apaan, Ndra?"


"Nanti gue jelasin."


Hal yang sama juga dilakukan saat Widia menjawab teleponnya.


Sementara sore itu di depan rumah kost nomor 8, seorang pemuda yang mengendarai motor sport berwarna merah dan hitam tengah terpaku menatap rumah itu. Bias kecemasan nampak di sorot matanya. Ingin sekali ia masuk ke sana dan menemui Diandra, tapi entah kenapa akhirnya malah memilih pergi.


***


"Ya ampun. Kok tega banget sih si Agung bilang begitu?" ujar Widia kesal.


Malam itu Trio Jomblowati berkumpul di kost Diandra. Dia menjelaskan kejadian tadi siang di kampus. Tentu saja kedua sahabatnya jadi geram.


"Ini pasti kerjaannya si bigos Merry," tuduh Ivane jengkel.


"Gak tau deh. Gue gak tau siapa yang mulai duluan menganggap gue suka 'jeruk makan jeruk'. Pokoknya orang itu harus minta maaf dan ngejelasin semuanya!" cecar Andra kecewa.


"Agak susah deh kayak kalau harus menelusurinya, Ndra. Sekarang sih yang penting tuduhan itu 100% gak benar dan elo harus membuktikan itu sama teman-teman kampus," usul Ivane.

__ADS_1


"Bagaimana caranya? Dengan punya cowok lagi? Please deh. Itu bukan solusi yang keren," bantah Andra keberatan.


"Ya terus gimana? Kan mereka ngiranya elo tuh gak suka cowok. Benci cowok. Sikap galak dan dinginnya elo sama mereka bikin gosip itu jadi ada," papar Ivane.


Suasana mendadak hening. Ketiganya diam untuk berpikir.


"Gimana kalau elo pura-pura aja punya cowoknya, Ndra? Sama siapa gitu. Sampai gosip itu menghilang sendiri," cetus Widia.


"Nah ide bagus tuh. Gue setuju. Cuma pura-pura aja. Gak beneran. Ya syukur-syukur kalau jadi beneran sih." Ivane terkikik.


"Males ah," jawab Andra dingin.


"Tuh elo sih gitu. Dikasih solusi yang bagus, elonya ogah. Jadi mau gimana lagi?" protes Widia kesal.


"Ya lihat nanti deh. Gue pikir-pikir dulu. Gue harap gosip itu bisa reda dengan sendirinya tanpa harus berpura-pura punya cowok," balas Andra ragu-ragu.


"Ya terserah elo deh," sahut Widia pasrah.


"Kalau ternyata gak berhasil redam sendiri, emangnya siapa yang mau pura-pura jadi cowoknya Andra nanti?" celetuk Ivane bingung.


Andra dan Widia saling melempar pandangan.


***


"Ndra, sampeyan ora apa-apa?" tanya Sekar, salah satu teman di kelompok mata kuliah PDA menegurnya yang tampak murung sejak tadi.


Sore itu Diandra terpaksa datang ke salah satu kost temannya untuk mengerjakan tugas PDA bersama. Setelah survey di salah satu sudut kota Semarang, kelompok yang terdiri dari 6 orang itu berkumpul di kost Sekar.


"Aku weruh yen sampeyan lagi ngalamun. Apa masalahe?" desaknya.


Andra hanya menggeleng. Sebisa mungkin ia berusaha bersikap biasa saja. Beruntung tak ada satupun dari teman satu kelompoknya itu yang tahu tentang peristiwa tadi siang di kampus. Sampai tugas kelompok pun berakhir malam itu. Andra dan salah satu teman lainnya paling terakhir pergi. Ia masih beres-beres barang bawaannya.


"Ndra, kowe luwe?" tanya Sekar saat merasakan perutnya keroncongan.


"Iya. Aku udah lapar. Beli makan bareng?"


"Makan di sini aja ya. Biar aku traktir kalian."


Sekar langsung pergi ke luar. Tak berapa lama ia sudah kembali dengan tiga nasi bungkus di tangan kanan.


"Ayo mangan dhisik ben ora kesel," ujarnya.


"Matur nuwun, Kar. Kamu baik banget sih. Baru dikirim duit ya?"


"Alhamdulillah. Rejeki anak kost sholeh." Nindita teman lainnya menimpali.


"Ih bukan gitu. Aku kasihan sama kamu, Ndra. Maaf ya. Tadi aku sempat lihat kejadian di kampus. Kok bisa-bisanya Merry dan cowok itu, siapa namanya, nuduh kamu gak normal. Kok iso toh?" ucapnya terus terang.


Sejenak Andra terdiam. Ia menghela napas panjang. Selera makannya mendadak berkurang. Rasa penasaran Sekar memaksanya untuk bercerita yang sebenarnya.

__ADS_1


"Oh ngono yo. Menurutku yo, iku sih kerjaane si Agung wae. Barisan patah hati. Ditambah mulut Merry ratu bigos. Wis makin klop," ujar Sekar terbawa kesal.


"Masa sih mereka gitu sama teman sendiri?" tanya Nindita tak percaya. Saat kejadian dia sudah pulang.


"Iya. Beneran. Aku jadi kesel sama mereka. Padahal aku masih suka laki-laki," ungkap Andra sedih.


"Ya udah cuekin aja. Nanti lama-lama juga hilang gosipnya. Yuk kita makan dulu!" ajaknya sambil menyerahkan sebungkus nasi campur.


Sambil menikmati makan malam itu, mata Andra berkelana menyusuri dinding-dinding kamar Sekar yang tertata rapih. Ada banyak poster grup band asal Yogyakarta. Poster vokalisnya bernama Duta, banyak terpajang di sana sini. Grup band yang sedang naik daun karena lagu-lagunya enak didengar dan syair-syairnya begitu menarik.


"Kamu ngefans banget ya sama SO7?"


"Iya, Ndra. Banget."


"Bahkan di kampus juga ada senior kita yang mukanya mirip Duta. Sampai dia ngefans senior itu juga," ungkap Nindita sambil terkekeh. Wajah Sekar jadi tersipu malu.


"Senior? Emang ada senior kita mukanya kayak Duta SO7? Angkatan berapa?" Andra jadi berpikir keras siapa kira-kira orang yang dimaksud itu.


"Gak tahu nih, Sekar. Bagi dia sih mirip. Ya walaupun gak mirip-mirip amat," 


sambung Nindita.


"Emang siapa sih senior itu?" tanya Andra menyerah. Ia tak bisa menebak siapa orang yang dimaksud.


"Itu lho angkatan 2001 yang pakai kacamata," papar Nindita.


"Kan ada beberapa senior yang pakai kacamata," tukas Andra tidak puas dengan jawabannya.


"Yang warna kulitnya juga sama kayak Duta. Sawo matang, cukup tinggi, dan rambutnya suka berantakan gitu. Suka pakai ipod," beber Nindita lagi.


Andra tersentak. Semua ciri-ciri itu mengingatkannya pada satu orang yang tak asing. Yang sudah membuat hatinya bergetar kembali selama bertahun-tahun hampa.


"Maksud kamu senior kita yang mirip Duta itu ...."


"Mas Aydan. Dia orangnya. Menurutmu mirip gak secara sekilas?" timpal Sekar.


Sekar menatap Andra dengan tatapan penuh arti. Matanya berbinar-binar. Tampak jelas jika dia menyukai Aydan juga.


"I-iya mirip sih sekilas."


"Cakepan mana? Duta apa Mas Aydan?" cecar Sekar padanya.


Andra tersenyum canggung. Baginya masalah rupawan itu relatif. Tapi untuk kali ini ia ingin bilang lebih menarik Mas Aydan, tapi ia khawatir Sekar bakal tersinggung.


"Kalau menurutku sih cakepan Mas Aydan, deh. Jadi kalau kamu gak mungkin deketin Duta asli ya udah deketin aja Mas Aydan," usul Nindita mengompori.


"Iya ya. Tapi piye carane?" tanya Sekar yang nampaknya setuju dengan usul Nindita.


Andra hanya bisa terdiam. Ia sendiri tak tahu harus bagaimana. Mau melarang pun tak bisa. Dia sendiri tidak punya hubungan apapun dengan seniornya itu. Mungkin posisinya sama dengan Sekar. Hanya sebagai pengagum rahasia.

__ADS_1


***


__ADS_2