
Pulang dari kampus sore itu, Andra mampir dulu ke warnet. Dengan berselancar di dunia maya diharapkan bisa memberikan ide segar untuk tugas-tugasnya terutama tugas STUPA yang sempat dicela oleh dosen.
Ia duduk di bilik nomor tujuh seperti biasa. Setelah log in, hal pertama yang ia buka adalah situs chatting online yaitu mIRC. mIRC merupakan perangkat lunak berbayar untuk Internet Relay Chat atau percakapan daring yang beroperasi di sistem operasi Windows. mIRC berguna untuk berbincang antar sesama pengguna mIRC di seluruh dunia. Jadi siapapun bisa berkenalan dengan siapapun tanpa penghalang jarak dan waktu.
Chatting dengan teman baru secara daring adalah salah satu kegiatan rutinnya bila berkunjung ke warnet. Hanya sekedar iseng-iseng pada awalnya dan tanpa sadar jadi hiburan tersendiri bagi Andra. Terkadang ia merasa jenuh dengan segala kegiatan kuliahnya. Setelahnya ia akan merasa bersemangat lagi. Di sanalah ia bisa bercerita tentang dirinya dan kesehariannya tanpa beban. Meski tidak tahu siapa mereka sebenarnya. Namun, baginya itu bukan masalah. Selama mereka pun tidak tahu siapa jati dirinya sebenarnya.
Di layar monitor tabung berukuran 17 inchi terlihat sudah masuk ke situs percakapan daring. Terdapat dua bagian di sana. Kotak kiri tempat untuk percakapan. Kotak kanan menunjukkan siapa saja pengguna yang sedang aktif menggunakan miRC. Mereka tidak pernah menggunakan nama asli. Hanya berupa nama daring, bisa berupa singkatan nama ataupun benar-benar jauh berbeda dari nama aslinya sebagai identitas diri.
Termasuk Andra yang biasa menggunakan nama daring 'miss_bear07'. Ia memang suka dengan boneka beruang. Baginya sifat beruang mirip dengannya.
Baru beberapa detik masuk ke situs itu, seseorang baru saja mengajaknya berkenalan. Disusul lagi oleh akun lain. Perkenalan pun terjadi. Saling bertanya jenis kelamin dan asal kota pada awalnya. Kebanyakan jika lawan bicaranya sesama jenis percakapan akan berhenti dengan sendirinya. Mayoritas penggunanya khususnya bila laki-laki akan mencari lawan bicara perempuan. Namun, bagi Andra baik laki-laki ataupun perempuan tidak masalah.
Pembicaraan basa basi menanyakan identitas diri terjadi beberapa kali setiap ada akun lain yang masuk. Andra mulai jenuh. Tidak ada satupun yang serius mengajaknya bicara. Ia butuh tempat curhat. Meski sudah memiliki dua sahabat yang bisa dipercaya, kadang ia ingin bebas mengekspresikan uneg-unegnya tanpa beban.
Pada menit ketiga puluh dua, satu akun lagi baru saja masuk. Nama akun itu 'cheeky_tarou'. Andra terkekeh saat membaca namanya. Mengingatkannya pada cemilan favoritnya saat kecil. Ia pun mulai meladeninya.
hai, miss bear
hai
asl
Indonesia
sama. kota mana?
yang ada gedung satenya
ooh bandung.
yup dan kamu?
aku dari Sumatera.
wow jauh juga. kota mana ya?
yang biasa jual empek-empek
ooh Palembang. aku suka empek-empek lho.
yah memang banyak yg suka. one of the best culinary.
btw, kamu cow apa cew ya?
apa itu penting?
gak juga sih. apa kamu keberatan?
gak jg dan tergantung buat kamu bagaimana. kecuali kamu sedang mencari jodoh. hihihi
cari jodoh? hahaha aku masih kuliah. belum waktunya cari jodoh. biarkan dia datang sendiri. aku gak mau capek-capek cari jodoh.
jadi kamu mahasiswa?
yup. kamu sendiri?
aku penjaga operator warnet
serius? berarti kamu cowo dong?
memangnya penjaga operator warnet selalu cowo? cewe juga bisa kan? ini cuma kerja sambilan.
iya sih. jadi pekerjaan utamamu apa?
Belum sempat menjawab tiba-tiba teleponnya berdering. Ivane menelpon. Dia bilang ada di depan kostannya. Andra mendesah kecewa. Percakapan daring itu harus diakhiri.
maaf aku harus pergi. kamu hutang jawaban padaku
pekerjaan utamaku pengangguran hahaha
serius dong?
yup. serius. aku belum punya pekerjaan mapan. penjaga warnet cuma sampingan.
oke wtf. bye.
Secepatnya Andra keluar dari situs itu lalu log out dari layanan internet berbayar. Ia bergegas pergi karena Ivane terus menelepon dan menyuruhnya segera pulang ke kostan.
"Duh mau ngapain sih tuh bocah? Ganggu aja sukanya," gerutunya sambil berjalan keluar ruangan.
__ADS_1
Di teras kostan, Ivane sedang duduk dengan wajah murung. Begitu melihat kedatangan Andra, senyum sumringah merekah.
"Ndra, gue numpang nginep di kostan Lo ya," pintanya.
"Eh? Kenapa? Kan kita udah bagi-bagi tugas kelompok."
"Gue takut di kostan. Belakangan ini suka ada yang aneh-aneh."
"Aneh-aneh gimana?" Andra mengernyitkan dahi.
"Ya aneh aja kalau habis makan gue suka ngantuk. Jadinya tugas gue gak dikerjain deh. Kalau ada temen ngobrol kan bisa bikin gue melek terus," ungkapnya absurd.
"Yeee itu mah elo aja kebanyakan makan jadi kekenyangan. Emangnya kita semalaman mau ngobrol terus?"
Andra meneruskan langkahnya masuk ke kostan. Diikuti Ivane sambil menenteng tas dan maketnya.
"Ngapain sih bawa maket segala?" protes Andra heran.
"Kan gue mau numpang bikin maket di sini," jawab Ivane polos.
"Awas ya kalau kamar gue jadi kotor gak diberesin lagi!" ancamnya.
"Siap, Gan!" jawab Ivane cepat. Hatinya seketika berbunga-bunga. Malam nanti ada teman untuk lembur membuat maket. Tak lupa selepas Maghrib, keduanya membeli beberapa cemilan untuk begadang bersama.
Menjelang tengah malam, keduanya masih bertahan mengerjakan tugas. Diiringi alunan musik yang sedang populer saat itu dari komputer yaitu sebuah band dari Bandung, Peterpan.
"Ne, elo udah kelar belum? Gue udah mulai ngantuk," celetuk Andra sembao menguap.
"Yah, jangan dulu! Belum juga jam dua belas malam. Kita ngobrol apa kek biar gak ngantuk," usul Ivane.
"Ngobrol apa lagi? Tiap hari juga udah ngobrol di kampus."
"Soal cowok misalnya," cetus Ivane nyengir.
Andra menghela napas. "Elo mau bahas gebetan baru ya?"
"Gebetan gue masih yang lama, Pak Ridwan. Mendingan bahas gebetan elo aja deh. Gue gak pernah tau siapa gebetan elo, Ndra."
"Ya emang gak punya," jawab Andra dingin.
"Bohong ah. Kata Widia belakangan ini elo sering ngelihatin senior kita. Siapa tuh yang pake kacamata."
"Widia cerita apa soal gue?"
Andra hanya terdiam. Ia pura-pura memejamkan mata. Malas membahasnya.
"Yeee diajak ngobrol malah molor." Gadis berambut pendek sebahu itu kecewa. Ivane memutuskan segera menyudahi membuat maketnya lalu menyusul Andra tidur di sebelahnya. Meskipun kasurnya kecil.
"Ndra ...,"lirih Ivane lirih.
"Hhhmmm ...."
"Tuh kan elo pura-pura tidur. Gue mau curhat nih."
"Curhat apaan?"
"Soal Pak Ridwan. Menurut elo gue bakal berjodoh gak ya sama dia?"
"Mana gue tahu. Jodoh gue siapa aja gak tahu."
"Tahu gak yang bikin gue semangat kuliah itu dia lho. Kalau elo apaan, Ndra?"
"Gue cuma mau cepat lulus dengan nilai bagus. Biar gue bisa cepat kerja dan jadi arsitek hebat," ungkap Andra sambil tetap memejamkan mata.
"Gue gak tahu apa bisa jadi arsitek hebat. Secara nilai gue aja kayak gitu. Kayaknya gue salah jurusan deh."
"Terus kenapa bisa milih jurusan ini?" tanya Andra heran.
"Ya waktu itu gue cuma uji coba aja sih. Nyari jurusan yang kemungkinan gue lolos seleksi. Kalau lolos masuk PTN ya Alhamdulillah. Kalau enggak ya udah gue masuk PTS."
"Ya ampun. Elo tau gak di luar sana ada begitu banyak orang yang lolos seleksi. Elo termasuk beruntung, Ne."
"Gue tahu itu. Makanya gue sempat gak bergairah sama jurusan ini. Bukan passion gue. Jujur aja. Sebenarnya gue masu masuk jurusan Bahasa, tapi ortu gak setuju. Jadi demi ortu gue aja gue rela masuk sini. Anehnya pas gue lihat Pak Ridwan, gue seperti merasakan gairah baru. Gue ingin terlihat keren di matanya. Biar dia bisa menyadari kehadiran gue, Ndra. Menurut elo gimana? Masalahnya dia itu dosen mata kuliah Mekanika Teknik. Gue oon banget sama matkul itu. Sedih jadinya. Siapa ya yang bisa ngajarin gue matkul itu," cerocos Ivane.
Tak ada sahutan dari teman sebelahnya. Ivane melirik ke sebelah. Andra sedang mendengkur. Ternyata dia benar-benar sudah tertidur pulas.
"Sialan! Malah molor. Dikira gue lagi dongeng sebelum tidur apa," ujarnya kecewa.
Ia pun menyusul Andra tidur. Memiringkan tubuhnya yang langsing agar cukup di kasur kecil itu. Perlahan terdengar dengkurannya beberapa menit kemudian.
__ADS_1
***
Sebuah kue ulang tahun dengan lilin-lilin kecil berjejer rapih di atasnya. Api kecilnya menari-nari lucu ketika Andra membawanya pelan-pelan.
Dengan hati-hati kue itu dibawa ke sebuah ruangan. Andra tersenyum bahagia akan memberikan kejutan manis untuk Nathan. Lelaki tampan itu pasti akan sangat terkejut dengan kemunculannya bersama beberapa teman sekolah.
Tibalah Andra di depan kamar Nathan. Seseorang mengetuk pintu itu. Pintu pun terbuka. Lalu mereka semua berteriak, "Happy Birthday!!!" dengan wajah ceria. Sayangnya keceriaan itu langsung berubah. Andra ternganga ketika yang muncul bukan Nathan. Melainkan seorang gadis yang sama terkejutnya dengan kehadiran mereka. Lalu Nathan muncul di belakang gadis itu. Ia tercengang.
"Sayang, apa hari ini ulang tahunmu?" tanya gadis itu lembut.
"I-iya ...," jawab Nathan gagap. Ia menghindari kontak mata dengan Andra yang kini air matanya sudah menggenang.
"Bagus. Kedokmu terbuka ya. Selamat ulang tahun, Nat. Semoga kamu mendapatkan balasannya!" hardik Andra kecewa.
Kue ulang tahun itu diserahkan dengan kasar pada Nathan. Lelaki itu kebingungan dan merasa tidak enak.
"Parah Lo, Nat. Cewek elo udah bikin surprise party, elo malah enak-enak sama cewek lain," celetuk temannya.
"****** nih Nathan!" tambah temannya yang lain. Mereka sama kecewanya dengan Andra.
Sementara air mata Andra tak bisa ditahan lagi. Keributan pun terjadi ketika salah satu teman menumpahkan kue itu ke wajah Nathan yang berusaha menjelaskan. Kue itu pun jatuh berantakan di lantai. Gadis selingkuhan Nathan menjerit.
Seseorang malah mendorong dadanya hingga ia mundur. Tak percaya dengan dalihnya yang mengatakan jika gadis itu sepupunya. Andra pun tak percaya. Ia juga mendorong kencang lelaki itu hingga jatuh terjengkang. Disusul yang lainnya malah memukuli dan menendang tubuh Nathan yang terbaring di lantai. Andra tak segan-segan ikut menendanginya. Kekecewaannya membuat ia murka dan hilang kendali.
"Dasar tukang selingkuh! Gue pura-pura pergi ke luar kota, elo malah asyik sama cewek lain! Dasar sialan!" umpat Andra berang.
"Maaf, Yang. Maaf. Dia ini sepupu gue kok. Sumpah!"
"Udah tukang selingkuh tambah tukang bohong juga. Mati aja lo!" teriak Andra kesal. Ia terus menendangi Nathan yang meringkuk kesakitan di lantai.
"Mati aja lo! Dasar anj*ng!"
"Auw... auw... auw...!!!"
"Senengnya nyakitin gue mulu! Pergi aja sana ke laut!"
"Auw! Andra! Apa-apaan sih kamu?" jerit Ivane kesakitan. Ia sampai terbangun karena ditendangi oleh Andra dengan mata tertutup.
Sayangnya, Andra masih juga tidur dan kini tangannya ikut main memukuli tubuh Ivane di sebelahnya.
Tak tahan dengan sakitnya, air minum pun terpaksa disiramkan ke wajah Andra. Sontak saja dia gelagapan dan kebingungan. Matanya menyisir ruangan.
"Udah puas mukulin gue? Mimpi apa sih lo?" ujar Ivane kesal dengan gelas masih di tangan.
"Kok gue disiram air sih?" Andra mengusap wajahnya yang basah.
"Ya elo tadi mukulin dan nendangin gue sambil tidur. Dikira gue gak kesakitan apa?"
"Ya ampun! Yang bener?"
"Ya bener dong. Ngapain gue bohong. Iseng amat gue nyiram elo pake air. Mending siram tanaman," balas Ivane dengan wajah kesal.
Andra diam sesaat. Berusaha mengingat lagi mimpinya.
"Astaghfirullah. Lagi-lagi gue mimpi buruk soal Nathan," lirihnya sedih.
"Lagi-lagi? Elo sering mimpi tentang dia?"
Andra mengangguk.
"Ya ampun, Ndra. Masih membekas aja ya sakit hati lo?"
Andra mengangguk lagi dengan wajah sedih. Ivane jadi merasa iba. Ia memeluk erat sahabatnya itu. Air mata pun jatuh. Andra menangis merasakan kembali sakit hati itu. Meski gara-gara mimpinya.
"Elo harus bisa ngelupain dia, Ndra. Lupain semua tentang dia! Gak ada gunanya mimpiin dia," saran Ivane lembut.
"Andai gua bisa milih mimpi gue, Ne. Gue mau mimpiin yang lain aja," isak Andra merana. "Sejak gue pisah sama dia, gue selalu mimpi buruk. Kadang gue terbangun sampai nangis. Kenapa rasa sakit ini gak juga hilang sih?"
"Elo masih belum bisa maafin dia ya?" Ivane mengelus punggung Andra.
"Gak ngerti, Ne. Gue selalu ingat kejadian itu. Padahal gue pengen banget lupa tentang dia, tapi hati ini kayak belum rela dikhianati dia."
"Iya gue paham. Andai gue bisa melakukan sesuatu, Ndra. Pasti gue sudah bantu elo."
Andra menyeka air matanya saat pelukan itu terurai.
"Sorry ya. Gue gak sengaja nendang elo, Ne."
"Gak apa-apa. Lain kali gue tidur di lantai aja deh daripada gue bonyok."
__ADS_1
Keduanya lantas terkekeh.
***